
"Rin.......Kenapa kau tidak bilang dari dulu, kalau Henry yang melakukan semua...... Kenapa baru sekarang semua terbuka. Bagaimana aku menjelaskan pada papanya Henry. Henry meminta padaku untuk mendukungnya menikahimu. Apa yang harus aku lakukan ? " ucap bu Merry bercampur tangis padaku.
" Rin...... Kenapa kau tidak bilang ? Jujur aku malu menemuimu ? Aku tidak menyangka Henry bisa melakukan semuanya padamu Rin.... Kau sudah seperti anak bagiku. " sambung Bu Merry sambil terus terisak. Air mata beliau jatuh tidak terbendung bagai air yang keluar dari bendungan.
Aku menghela nafas berat. Merasakan apa yang beliau rasakan. Ketakutan ku menjadi nyata Bu Merry tahu tentang aku dan Henry.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Aku sungguh tidak percaya Henry bisa berbuat seperti itu padamu ? ucap Bu Merry meneruskan kalimat beliau yang terputus dengan tangisan beliau. Bu Merry berdiri dari duduk beliau berjalan padaku yang berada dihadapan beliau.
" Kenapa waktu itu kamu tidak langsung cerita padaku Rin ? " tanya Bu Merry.
" Maaf ibu saya juga bingung waktu itu. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tapi bukan sepenuhnya salah Henry. Kami melakukannya atas dasar saling menyukai ibu. Saya yang minta maaf ," kalimat sesalku perlahan mungkin nyaris tak terdengar oleh beliau.
" Seandainya dari dulu Henry cerita mungkin masih bisa diperbaiki. Tapi sekarang harus bagaimana ? Kau sudah menikah. Tidak baik juga menyarankan kau untuk bercerai ? " tanya Bu Merry kebingungan.
" Saya sudah menutup masa lalu ibu. Biarlah itu menjadi kenangan indah bagi saya dan Henry. Sekarang saya sudah menjalani hidup tenang dengan suami saya. " jawabku kembali terisak.
" Kau jangan bohong Rin.....!' Henry cerita sebaliknya, Dia bersikeras ingin menikahimu karena tidak tega melihat keadaan rumah tanggamu."
" Seandainya dulu Henry cerita kalau mempunyai hubungan denganmu dan sedang terjadi hal yang tidak boleh terjadi. Mungkin masih ada jalan tengah," ucap Bu Merry mengulang kalimat beliau. Seolah sebuah penyesalan ada pada dirinya dan Henry.
" Maaf ibu, dulu Henry sudah cerita tapi.....tidak berhasil,"
" Seandainya Henry cerita jujur...... Setiap orang tua selalu menginginkan anaknya yang terbaik Rin.... Mudah-mudahan kau mengerti keadaanku waktu itu," sapu tangan Bu Merry sudah basah dengan air mata beliau. Tapi beliau masih saja belum bisa berhenti dari tangisannya yang menyayat.
" Iya ibu saya paham.....Karena itu saya meninggalkan Henry menikah dengan pria lain,"
" Rin.....kenapa kau sangat baik. Ingin menyelamatkan anak ibu dari tanggung jawabnya. Kenapa kau merelakan dirimu sendiri yang terluka ? " Bu Merry berjalan cepat ke arahku, memelukku dengan erat. " Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Kau sudah menikah. Henry menginginkan menikah denganmu ? Bukankah tidak mungkin bagi Henry memilikimu,"
" Ibu, bisa saya tahu sekarang Henry dimana ? Dua hari ini juga tidak kemari ? " tanyaku pada Bu Merry.
" Dia di Villa katanya ada acara pernikahan disana. Henry juga tidak pulang setelah aku menasehatinya."
" Bolehkan saya menemui Henry Bu ? "
" Iya Rin..... tolong. Temuilah Henry. Ibu tidak membela siapa - siapa. Kau sudah aku anggap seperti anakku. Maukah kau selamanya jadi anakku ? Walau kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang ? "
" Iya ibu.....saya anak ibu...." pelukku semakin erat pada beliau. Wajah lelah tampak dalam raut beliau.
" Tolong jaga Henry untuk ibu Rin...." pinta beliau lagi. " Aku tidak tega melihat Henry yang selalu berada di kamar dan berdoa agar bisa memilikimu. Aku tidak ingin Henry menyalahkan hidupnya. Aku tidak ingin Dia menyalahkan Tuhan dengan semua yang terjadi. "
" Rin....aku tahu Henry salah padamu. Sungguh aku akan menebusnya dengan baik padamu. Aku tahu kau sakit hati padaku, karena tidak merestuimu,"
" Tidak ibu, tolong jangan berkata seperti itu. Mungkin saya dan Henry tidak berjodoh,"
Flash black
Tiga hari yang lalu.
Notif HP tanda Watsapp berbunyi.
Henry
__ADS_1
( Mbak, aku tidak tidak bisa tenang melihat keadaan Mbak Arin seperti ini. Aku ingin menikahi Mbak Arin )
Aku
( Henry.....aku sudah menikah. Mungkin takdirku saja seperti ini. Tapi aku sudah bahagia mempunyai Tangguh dan Thavisa )
Henry
( Seharusnya mbak menikah dengan laki - laki yang sangat mencintai Mbak Arin. Bukan dengan dia )
Henry
( Aku rela jika Mbak Arin meninggalkan aku dan kehidupan Mbak Arin lebih bahagia ketika bersamaku )
Henry
( Tapi.....tidak dengan kehidupan Mbak Arin. Mbak terlihat sangat menderita )
Aku
( Henry.......Mungkin Pak Satrio sekarang masih marah padaku )
Henry
( Kenapa ....Mbak tidak bercerai saja. Lebih baik bercerai daripada hidup dengan hubungan yang digantung seperti ini. )
Aku
Henry
( Kalau Mbak mau aku bantu cari pengacara )
Aku
( tidak usah Henry.....aku tidak ingin merepotkan )
Henry
( Seandainya peristiwa itu tidak terjadi. Mungkin Mbak Arin bisa mencari laki-laki yang baik dan mencintai Mbak Arin )
Henry
( Aku salah satu penyebab kehidupan Mbak Arin menderita )
Aku
( Tidak Henry.....jalan setiap orang berbeda. Mungkin ini sudah jalan takdirku. Aku kuat )
Henry
( Aku akan cerita ke Mama semuanya.....semua tentang kita Mbak )
__ADS_1
Aku
( Henry.....jangan. Kasian Bu Merry pasti akan sedih )
Tidak terjawab. Aku mencoba menelepon Henry.
" Henry tolong.....itu sudah masa lalu. Sudah tertutupi dengan baik jangan kau ungkit lagi" kataku ketika Henry menerima panggilanku.
" Aku tidak rela Mbak Arin menderita seperti ini. Akan aku lakukan apapun untuk mendapat Mbak Arin,"
" Henry....aku bukan barang yang bisa diambil" jawabku kesal
" Apa Mbak Arin tidak mencintai aku lagi ?" tanya Henry intonasi dengan jelas padaku
" Henry ....aku sudah menikah !"
" Pernikahan Mbak Arin tidak bahagia lebih baik cerai, dan kembali padaku."
" Henry itu tidak mungkin........ Kita memiliki banyak perbedaan"
" Itu bisa diselesaikan. Kita bisa ketempat lain yang bisa menerima perbedaan kita !"
" Henry.....aku punya keluarga yang harus aku bantu,"
" Aku juga punya keluarga yang sangat mencintai aku ,"
" Aku punya Tangguh dan Thavisa. Mereka bukan darah dagingmu,"
" Mereka anak Mbak Arin berarti anakku juga,"
" Henry......."
" Apa Mbak Arin tidak mau berjuang denganku ? "
" Henry....."
" Dulu aku mengalah demi kebaikan Mbak Arin ingin mendapatkan yang lebih baik dari aku. Tidak untuk saat ini,"
" Henry tolong......,"
," Kenapa Mbak Arin tidak mau berjuang denganku ? Baiklah aku berjuang sendiri demi kita ,"
" Henry.....," Lidahku keluh dengan semua. Aku tidak tahu apa yang aku katakan lagi dengan Henry. Henry memang sangat teguh kalau sudah berkehendak. Suara Henry bagai lahar panas yang siap menghancurkan segalanya. Henry yang selalu tertawa dan riang seolah berganti menjadi Henry yang penuh dengan ambisi dan dendam.
" Apa Mbak sudah tidak mencintai aku ? Apa Mbak sudah lupa akulah lelaki yang memulai segalanya dengan Mbak Arin ? Aku hanya ingin bertanggung jawab,"
" Henry.......tolong. Biarkan keadaan seperti ini saja. Bukankah kau masih ingin melanjutkan studimu ,"
," Study ku sudah selesai. Dan sekarang aku mengejar cintaku. Aku akan mendapatkan Mbak Arin," sambungan telepon ditutup sepihak oleh Henry. Nada suaranya yang marah terdengar jelas olehku. Ku hempaskan tubuhku di ranjang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mudah-mudahan ini hanya kemarahan Henry sesaat saja.
Flash off
__ADS_1