
Bab ini mengandung unsur dewasa. Bagi belum menikah harap tidak membaca langsung di skip.
Pak Satrio kembali mendekatkan dirinya padaku. Ketakutanku yang belum hilang bertambah lagi. Aku tidak berani memandangi wajah Pak Satrio, memilih menunduk dengan air mata yang terus berseluncur rapi di kedua pipiku. Wajahnya yang terlihat sangat marah tak mampu disembunyikan dengan baik. Tangannya yang terus mengepal seakan ingin melampiaskan pada tenaganya.
" Larilah yang jauh dengan dia ! Tapi tunggu setelah anakku lahir. Kau....! Akan aku bebaskan memilih dia atau aku. Tapi ingat anak - anak adalah milikku ! Jangan harap bisa bertemu anak - anak lagi setelah kau memilih pergi dengan dia," peringatan Pak Satrio berbisik di telingaku. Menggema...... menyusup masuk sampai ke nadiku. Kemudian berdiri kembali dengan congkak sambil menatapku.
" Tidak mas........ saya memilih bersama anak - anak. Saya tidak akan lari kemanapun. Saya ingin bersama anak - anakku," suara piluku tak mampu mengubah sikap dingin Pak Satrio padaku. Walau nada bicaranya sudah lembut seperti sedia kala namun sikap dinginnya tetap terlihat.
" Apa kau menjamin tidak selingkuh dariku ?" tanya Pak Satrio dengan menyipitkan netranya seakan tak percaya padaku.
" Kenapa kau memilih kata bersama anak - anak daripada bersama denganku ? Kau tidak mencintaiku ? "
" Kau tak mencintaiku ? Kau hanya menginginkan ini ? " sambil berkata dengan cepat kembali mendekatkan bibirnya pada milikku. Meluapkan amarahnya dengan carut padaku. Perlawananku timbul karena rasa sakit yang mendera. Seakan tak perduli, terus dan terus menguasai milikku.
" Bagaimana.....masih kurang ? " tanya tanpa merasa malu atau gugup Pak Satrio sampaikan padaku. Kupalingkan wajahku mengarah pada dinding di kamar ini. Senyum tipis hadir di wajah Pak Satrio.
" Sudah aku katakan aku lebih menyukai membeli wanitaku, agar bisa tergadai padaku. Langkah awal sudah kulakukan padamu, membeli rumah ini. Rumah yang penuh kenangan keluargamu. Aku tidak gratis memberikan rumah ini padamu. Ada harga yang harus kau bayar, setialah padaku sampai kapanpun ! " Ucap Pak Satrio.
" Saya tidak pernah berselingkuh dari mas walau mas sering menyakiti saya, " ku beranikan diri menengadahkan wajahku menatap Pak Satrio yang angkuh di depanku.
" Benarkah.....? Tapi hatimu tidak tertuju padaku. Hatimu kau serahkan pria lain, itu cikal bakal selingkuh," jawab Pak Satrio dingin.
"kenapa mas tidak percaya pada saya ? "
," karena memang aku tidak percaya padamu. Kau mungkin tidak tertarik pada pria lain bahkan mungkin juga padaku. Tapi kau bisa melakukan semua demi dia, aku membenci itu. Aku suamimu bukan dia ! " bentakan - bentakan kalimat terus mengalir dari Pak Satrio.
Pak Satrio duduk di sisi ranjang, punggung lebar itu terlihat menghela nafas panjang berkali-kali, kemudian berpaling padaku memutar badannya mengarah padaku. Aku lelah dan lemah dengan kejadian barusan.
" Tak bisakah kau setia padaku ? Tak adakah perasaan cintamu untukku ? Kita sudah mempunyai Tangguh, Thavisa dan bayi dalam kandunganmu," tanya Pak Satrio dengan mendekat padaku menyandarkan ( maaf ) kepala pada dadaku, melingkarkan tangan pada pinggangku.
" Hari ini aku benar-benar lelah dengan semua yang terjadi. Di lahan, cek cok dengan orang, cemburu padamu. Hari yang sangat melelahkan. " Pak Satrio mengubah posisinya merebahkan badan di ranjang sambil terus tangannya memeluk pinggangku yang duduk di sampingnya.
" Saat perjalanan pulang, aku membayangkan kau menyambutku dengan tersenyum bahagia karena kita akan segera ke ..........( menyebut nama kota asal Pak Satrio ) bertemu Tangguh dan Thavisa. Aku membawa beberapa bungkus bakso untukmu, karena tadi malam kau ingin makan bakso. Tapi aku hancur, saat melihat dia, kau dan bapak keluar dari rumah, kau tersenyum manis memandangnya. Wajahmu tak pernah seceria itu memandangku. Senyuman dan tawamu tak pernah semanis dan semanja itu padaku. " cerita Pak Satrio yang mampu mengubah awan panas di hatiku menjadi gelap gulita.
Perasaan iba tiba - tiba datang. Pria di sampingku ini seperti sosok Pria yang tangguh dalam segala hal, nyatanya dia juga lemah. Sosok pria mapan ini, juga mendambakan cinta dan kesetiaan yang tulus.
Aku tahu, sepenuhnya aku belum bisa mencintainya karena ada sebuah nama yang tidak akan pernah bisa aku hapus dan aku lupakan dalam hatiku. Tapi aku setia pada pernikahan ini, aku tulus mengabdi pada tali kasih ini. Aku juga menginginkan anak - anakku hidup bersama orang tuanya.
__ADS_1
" Terlihat sepele memang, tapi kejadian tadi mampu membuat gempa dahsyat di hatiku. Aku cemburu, marah dan tidak terima melihatmu tersenyum bahagia dengan pria lain. Aku suamimu, tapi kau tak pernah menunjukkan wajah ceriamu untukku, kau tak pernah tersenyum sebahagia itu untukku. "
" Katakan ! Apa aku tak boleh marah ketika melihat semua itu ? Apa aku tidak boleh cemburu karena itu ? Kau istriku, milikku ! " Netra beliau meremang penuh dengan air mata.
" Sayang........tolong, setialah padaku ! Hanya itu yang aku minta. Aku tidak perduli kau mencintai dia, kau merindukan dia. Saat ini kau istriku," suara dingin berpindah dan beralih menjadi pilu dalam berucap.
" Jika kau tetap tidak bisa mencintai aku, lihatlah anak - anak kita. Tangguh, Thavisa dan bayi kita. Mereka membutuhkan orang tua kandungnya untuk menjadi dewasa yang bahagia,"
Kami, aku dan Pak Satrio saling berpelukan. Saling meluruh dalam hati. Pelukan kami sangat erat saling mendekap satu sama lain. Berkali - kali Pak Satrio mencium puncak kepalaku.
" Maaf mas.....salah saya tidak menelepon mas kalau Henry datang bertamu," ucapku lembut pada Pak Satrio.
" Aku juga minta maaf karena terlalu kasar padamu. Aku harap kau memahamiku. Hari ini aku sangat lelah. Ada masalah di tempat kerja dan aku langsung tak terkendali ketika melihat kalian," ucap Pak Satrio sambil terus mencium keningku berkali - kali tanpa jeda.
"Berjanjilah untuk tetap setia padaku ! " pinta Pak Satrio lembut.
" Iya....Mas juga harus berjanji. Mas adalah pria yang tidak pernah melihat perempuan lain selain saya," pintaku juga pada Pak Satrio.
" Waduh.....itu yang sulit," jawabnya sambil melepaskan pelukannya. Diraihnya handphone miliknya yang berada di dalam clutch bag milik beliau.
" kenapa ? " tanyaku tersentak
" Apalagi kalau rok mininya pas dibawah ........dan duduk kaki disilangkan. Ujian terberat untuk tetap berkonsentrasi dan fokus bekerja."
" Maksudnya.....," tanyaku mendesak juga ingin tahu maksud perkataan Pak Satrio
" Dibicarakan nanti lagi, sekarang lakukan tugasmu dengan baik agar aku senang dan melupakan kejadian tadi,"
" Lagi......? " tanyaku seakan tidak percaya
" Iya lagi " jawabnya parau ditelingaku.
" Tidak capek ? "
" Giliranmu yang bekerja,"
" Saya.......? "
__ADS_1
" Iya siapa lagi, kau istriku. Apa iya istri tetangga,"
" Tapi......,"
," Tidak terima penolakan,"
" Baksonya ?
" Sudah aku berikan orang di jalan. "
" Saya ingin,"
" Aku yang lebih ingin, Ayo lekas ! "
" Baksonya dulu,"
," Bisa nanti di jalan kalau kita pulang. Kalau yang ini tidak bisa dilakukan di jalan. Bodoh ! "
" Bo....bodoh ? "
" Jangan banyak bicara, yang penting tindakan !"
" Dimana ? "
" Ya....Tuhan beri aku kesabaran, Disini bodoh !"
" Disini ? "
" Iya ! Lakukan ! Kenapa harus diberi mengarahkan dulu. Tidak kreatif ! "
" Ahhh tidak mau. Mas memperolokku bodoh dan tidak kreatif,"
". Itu kenyataan, kau tidak cerdas urusan ini,"
" Pakai kata yang bagus, saya istri mas,"
" Ah.....sialan, Cepat bodoh. Aku sudah tidak bisa menahannya ! "
__ADS_1
Bersambung........
Jangan lupa like dan komentar. Terima kasih sudah membaca novel Author.