Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 30


__ADS_3

Tanpa terasa karena kesedihanku. Aku menekan nomor menelepon Henry. Aku tidak tahu perbedaan waktu di Indonesia dan di tempat Henry. Tapi panggilanku diterima oleh Henry. Tanpa berkata apa - apa aku hanya menangis.


" Mbak.......kenapa menangis ?"


" Sayang...... kenapa ?"


" Henry........"


" Iya......Mbak..........."


" Kenapa menangis ?"


" Henry........."


" Iya aku juga kangen........"


" Sayang gak boleh nangis....."


" Henry........"


" Sayang kenapa........jangan buat aku bingung."


" Maaf........ Henry......maaf.......aku melukaimu"


" Sayang......aku tidak apa - apa...."


" Aku kuat.......Sayang gak boleh nangis,"


Aku menutup telepon karena terkejut sebuah tissue dan air dalam kemasan botol diulurkan padaku. Jantungku langsung berdetak kencang, walau tidak aku gunakan pengeras suara. Percakapanku dengan Henry dapat terdengar dengan jelas karena malam ini sangat hening. Aku menoleh dan memandangi tanpa berkedip. Tangan Adrian masih mengulurkan tissue dan air, tetap tanpa suara. Aku gelagapan salah tingkah karena ketahuan menelepon Henry. Bisa aku pastikan besuk Pak Satrio akan marah padaku karena mendapat aduan dari Adrian. Tak pantas memang aku menelepon Henry. Tetapi, karena kesedihanku aku tidak kuasa untuk menahan tidak menghubunginya. Aku meraih apa yang diberikan Adrian padaku. Tutup botol yang sudah lepas dari pengaitnya memudahkan aku membukanya. Aku minum seteguk dan menutupnya kembali. Belum sempat aku mengucapkan terima kasih. Adrian berkata


" Mariage de amor ? "


Aku tidak mengetahui maksudnya, kembali aku menoleh ke arahnya. Seakan mengerti dengan tatapan mataku yang bertanya - tanya dia berkata lagi dengan tersenyum


" Mariage de amor ?"

__ADS_1


Baru kali ini aku melihatnya tersenyum walau hanya tipis sekali. Adrian melangkahkan kakinya menuju piano kemudian memainkan musik. Aku langsung mengetahui irama yang dimainkan Adrian. Irama ini yang sering dimainkan Henry ketika di taman. Aku hanya memandangi Adrian dari balik kaca yang jernih. wajahnya terlihat jelas dari samping bila aku melihat dari tempat aku duduk. aku menangisi diriku sendiri. Irama piano ini kembali mengusik kenangan ku dengan Henry. Tetap aku tidak beranjak dari dudukku. Aku menikmati Adrian memainkan pianonya. Aku menyukai irama lagu ini. Mungkin yang dikatakan Adrian tadi adalah judul irama ini. Aku memang tidak mengetahui judulnya. Dua kali Adrian memainkan lagu ini setelah selesai tanpa menoleh padaku. Adrian berjalan menuju tangga ke lantai dua dimana kamar tidurnya berada. Setelah dia tak terlihat lagi, aku masuk ke kamarku. Ada perasaan tenang menyelimuti malam ini. Aku mendengar suara Henry dan mendengarkan lagu kesukaan Henry walau bukan Henry sendiri yang memainkannya. Aku tersenyum dalam gundah ku, entah apa yang terjadi besuk aku pasrah. Karena aku yakin, Adrian mendengar percakapanku dengan Henry. Kuselimuti badanku dengan bad cover putih ini. Aku ingin bermimpi bertemu Henry.


Pagi ini aku kesulitan untuk bangun. Aku merasa badanku menggigil. Aku semakin rapat memeluk guling dan menyelimuti badanku. Aku tidak tahu kenapa badanku seperti menggigil. Apa karena angin malam ? Karena aku berada di luar saat malam hari ? Atau karena aku ketakutan Adrian bicara dengan Pak Satrio yang mengetahui aku menelepon pria lain. Aku tidak menghiraukan suara pintu terbuka dan langkah kaki yang semakin mendekat. Tangannya mengusap - usap rambutku. Kemudian ditempelkannya pada keningku berkali - kali.


" Dik Arin.........badanmu kok panas," Seru Pak Satrio kaget.


" Gak mas. Mungkin cuma kurang tidur," jawabku tetap dalam posisi berbaring, karena aku enggan menggerakkan badan untuk duduk dan berdiri.


Pak Satrio keluar kamar dan kembali membawa termometer menempelkan pada ketiakku. Setelah berbunyi suhu tubuhku mencapai tiga puluh sembilan, beliau terkejut.


" Ayo ke dokter.......pasti gara - gara tadi malam Dik Arin duduk di luar"


" Gak mas.......aku tidak apa - apa.....," aku berusaha menenangkan Pak Satrio yang panik.


Pak Satrio sangat cekatan mengambil waslap dan air, lembut beliau membasuh tubuhku. Menggantikan pakaianku, dengan pakaian baru yang beliau ambil di lemari. Tidak ada pandangan - pandangan negatif kelelakiannya. Walau aku dalam keadaan seperti ini. Walau dengan bebas beliau memandangi semua yang kumiliki. Pasif dan dingin walau beliau menyentuh semua bagian dari diriku.


Aku sangat heran dengan sikap beliau yang selalu berubah - ubah padaku. Kadang mencampakkan aku begitu saja di tempat tidur. Kadang baik seperti yang barusan beliau lakukan. Kembali Pak Satrio keluar kamar untuk mengambilkan sarapanku. Menyuapiku penuh kasih sayang. Membersihkan bibirku dengan tissue dan memberikan aku minum.


" Tidurlah ! ........ Kau pasti sakit. Aku kerja dulu...........," saran beliau padaku.


" Aku akan pulang cepat," pamit beliau ketika sampai di bibir pintu kamar hendak keluar.


Aku menyuguhkan senyuman sebagai balasan. Aku benar - benar sakit sekarang. Mataku sangat berat. Aku ingin tidur lagi untuk memulihkan kesehatanku. Rasa kantukku yang sulit aku lawan berkali - kali membuat aku menguap. Apa karena pengaruh obat ? Ah sudahlah aku tidak tahu. Yang pasti aku hanya ingin tidur.


Kelopak mataku, aku gerakkan untuk membuka mataku. Aku seperti mendapatkan tenaga baru, karena tidurku yang benar - benar membuat aku merasa nyaman. Mataku seakan terhipnotis untuk menoleh ke arah nakas di samping kananku. Ada sebuah kotak besar dan kecil ada di sana. Aaaaahhhh itu mainan mobil remote control. Aku mengambilnya untuk melihat lebih dekat. Ya benar ini mobil remote control sesuai dengan pesanan Jhoji keponakanku, jenis mobil Jeep warna hitam. Aku meletakkan kembali dan mengambil kotak kecil. Kotak seperti tempat perhiasan, perlahan ku buka kotak perhiasan ini. Terbelalak aku dengan isinya, ada satu set perhiasan. Kalung, gelang, cincin dan anting - anting.


Aku tersenyum, tidak menyangka Pak Satrio ternyata orang yang sangat romantis. Aku mencoba menggenakan perhiasan yang beliau berikan padaku sebagai tanda terima kasih.


" Sudah sehat......?" Sapa Pak Satrio dan memberikan ciuman di keningku.


" waaah istriku yang cantik sudah baikan. Ayo makan malam, Adrian dan Adry sudah duduk untuk bersiap makan malam."


" Iya mas.............. saya akan menyusul. Saya membersihkan badan dulu mas,"


" Perlu bantuan ?"

__ADS_1


" Tidak mas, saya bisa sendiri"


" Aku tunggu di meja makan ya...."


Kembali pak Satrio mencium keningku dengan gemas lalu keluar kamar. Aku turun dari ranjang menuju kamar mandi menggosok gigi dan membasuh tubuhku. Setelah bertukar pakaian, aku menuju meja makan.


" Halo mama Arin......Katanya sakit ? Sudah enakan ?" suara Adry ceria menyambutku di ruang makan.


" Sudah mas Adry.......Terima kasih banyak perhatiannya "


" Jangan - jangan mama hamil ya ? La belum seminggu kok sudah hamil muda ? Waaah jangan - jangan papa dan mama Arin menikah karena MBA ya ? " tanya Adry tanpa merasa malu dengan pertanyaannya.


" Adry.......jaga bicaramu pada yang lebih tua"


Pak Satrio menegur putra keduanya.


Aku hanya tersenyum, tapi dalam hatiku aku juga berpikir apa aku hamil ? Kalau benar hamil bagaimana ? Bukankah Pak Satrio belum pernah menyentuhku ? Berarti anak ini anak Henry. Badanku langsung lemas seketika mengingatnya...........ya......dua Minggu sebelum aku menikah...............


" Kalung dan gelang yang cantik. Cocok untukmu dik Rin," ucap Pak Satrio


Aku tersenyum, Pak Satrio pandai mengalihkan pembicaraan. Sementara aku tersentak karena ucapan beliau. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Sungguh aku benar - benar takut dengan ucapan Adry yang memang mengenai sasaran.


Sementara aku melihat ke Adrian dia tampak tenang seperti biasa tanpa memperdulikan sekitar yang ramai karena perbincangan. Adrian selalu asik makan tanpa mengeluarkan suaranya. Wajah dinginnya seolah tidak perduli dengan kehadiranku.


bersambung.......................


Author memberikan visual Adrian putra pertama pak Satrio. Pianis klasik muda berbakat Dmitry Shishkin asal Rusia. Cocok menjadi tokoh Adrian. Karena wajahnya yang cool abis dan jago main piano seperti karakter Adrian.




Untuk Visual Adry. putra kedua pak Satrio. author menggambarkan penyanyi asal Korea Selatan Huningkai. Wajahnya juga cool abis tapi agak - agak manja.


__ADS_1



__ADS_2