
Adrian langsung lari ke arahku. Cekatan dia menggendongku menuju kamar. Aku tidak pingsan aku masih kuat hanya bayangan hitam ini berada di pelupuk mataku. Cuma badanku saja yang terasa lemas tak bertenaga. Kemampuan motorik ku seakan hilang begitu saja. Keringat dingin bercucuran dari tubuhku. Aku ingat betul aku pernah mengalami ini. Yaah beberapa bulan yang lalu dan Henry menolongku. Mungkinkah kembali aku mengalami serangan panik ? Aku tidak tahu dengan pasti. Adry yang kaget mengikuti kami dari belakang.
" Waaah bakal ada dua team nich,"
" Mas Adrian team siapa mama Asri apa mama Arin ? "
" gak ada team. Apaan sih....."
" Cepat ambil aroma terapi dan headset mu"
" Iya.....dasar es batu,"
Adrian sangat telaten memberi minyak kayu putih dan memijit kakiku. Sungguh apa yang dilakukan Adrian diluar dugaan ku. Aku sangat terharu. Prasangka ku buruk terhadap Adrian. Ternyata dia memperlakukan aku juga sangat baik.
" Terima kasih banyak," Ucapku terharu.
" iya sama - sama,"
walau dari bibirnya enggan keluar kata mama atau ibu untuk memanggilku. Jika aku simpulkan perlakuannya ternyata sama seperti dia memperlakukan ibu kandungnya sendiri.
Adry datang dengan membawa barang yang dimaksud Adrian. sebuah tungku dan kwali kecil yang sudah terisi air. Lilin yang sudah menyala.
" Aroma bunga lavender sangat bagus untuk relaksasi"
Jelas Adian sambil menuangkan beberapa tetes aroma terapi ke kwali kecil.
" Suara ini akan membantu menenangkan pikiran"
Lanjutnya lagi dibarengi dengan memasangkan headset ke telingaku. Aku hanya mengangguk. Membiarkan saja apa yang dilakukan Adrian.
" Mama semangat. Kalau bisa cari yang muda biar papa marah," celetuk Adry yang membuat aku ingin tertawa tapi tak kuasa karena badanku lemas.
Adrian langsung menoleh pada Adry. Sorot matanya yang tajam dan dingin diarahkan pada Adry. Membuat Adry menciut dan memanyunkan bibirnya.
" Iya......iya .......maaf......,"
" Mama tidur ya.......,"
Tanpa merasa bersalah dan menunjukkan wajah yang ceria Adry berkata. Kemudian mencium keningku dan berjalan keluar kamar.
Sorot mata Adrian mengikuti Adry sampai keluar dari kamar kemudian berpaling dan mengarah padaku. Sorot matanya tajam dan dingin. Sedetik kemudian badan tegap Adrian yang semula mematung menuju mendekat padaku.
" Tidurlah.......Aku ada di ruang keluarga,"
__ADS_1
Suaranya dingin dan berat. Menyelimutiku dengan bad cover. Jantungku seperti akan melesat dari tempatnya. ketakutan ku sama dengan yang dirasakan Adry. Takut seperti anak kecil kepada orang tuanya. Aku memejamkan mataku berharap Adrian segera pergi. Walau Adrian sedikit bicara tapi sorot matanya bisa mengurai lawan bicaranya. Sorot matanya mampu membuat takut dan gemetaran. Bodohnya aku. Bukankah aku ibu tirinya, walau jarak usia kami terpaut dua belas tahun. Tapi kenapa aku bisa ketakutan seperti bocah kecil yang disuruh tidur siang oleh ibu mereka. Aku mendengar suara langkah kaki yang menuju pintu dan keluar kamar. Aku menghela nafas panjang merasa lega keluar dari kekuasaan Adrian. Suara gemercik air dan kicauan burung ini membuat aku merasa berada di pinggir sungai dengan pemandangan yang bagus apalagi ditambah aroma bunga lavender yang segar. Membantu merasa lebih baik. Sesekali aku mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Aku merangkul diriku sendiri untuk memberikan rasa hangat.
Ingin rasanya aku segera pulang meninggalkan rumah ini. Sayang sekali, besuk pagi Bu Elly memintaku untuk berkunjung ke rumah beliau. Sulit menolak bagiku menerima tawaran dari beliau. Jangan terburu - buru untuk menghakimiku.....
" Kalau aku jadi Arin.....sudah pulang."
" Kalau aku Jadi Arin sudah aku tarik tu rambut mbak Asri,"
" Kalau aku jadi Arin sudah aku gampar pak Satrio."
Tidak akan semudah itu. Yang pernah mengalami seperti aku tentu akan merasakan. Mempunyai mertua yang baik sehingga kita simpati bahkan mungkin empati pada beliau tidak lebih. Terlepas dari putra atau putri nya tidak pernah mencintai kita.
Di pertanyaan selanjutnya. kenapa aku tidak berbuat apa - apa pada mbk Asri dan Pak Satrio karena aku istri sahnya. Bagaimana pun juga, aku menghormati diriku sendiri dengan tidak merendahkan diriku berbuat tidak pantas pada mbak Asri. Aku menepatkan posisiku diatas posisi mbak Asri walau yang dicintai tapi aku yang sah. Hanya itu kekuatanku.
Sebuah pelukan hangat dari belakang membuat aku merasa berat untuk menggeliatkan badanku. Aku menoleh ke belakang. Wajah dewasa Pak Satrio memaparkan senyuman manis menyambut subuh hari ini.
" Kok mas disini.........?"
" Dari semalam sudah disini "
" Mbak Asri ?"
" Begitu selesai memberi hadiah langsung pulang, "
" Se.......le......sai....... memberi hadiah ?"
" Ha.......ha.....ha.......jangan punya pikiran yang negatif"
" Tidak mungkin juga aku melepas baju dan mencoba baju pemberian Dik Asri di ruang keluarga,"
Tawanya yang renyah tapi tetap dalam standart kesopanan seolah tanpa beban membuat aku mengerutkan keningku. Tampaknya Pak Satrio menyadari kalau aku sudah berpikir tentang ........? Tahu sendiri apa yang aku maksud kan ?
" Apa iya aku melakukannya saat anak - anak belum tidur ?"
" Seperti tidak ada waktu lain,"
" Ya..... benar ,"
aku juga tersenyum mendengar perkataan beliau. Apa aku yang terlalu baper tadi malam ? Tapi kalau jadi aku, dalam situasi yang tadi malam ? Apa aku keliru kalau prasangka ku buruk ?
" Dik Arin......"
" Iya ........."
__ADS_1
" Dik Arin beli perhiasannya dimana ?"
" Dik Asri ingin perhiasan seperti yang di pakai Dik Arin"
Aku terkejut dengan pertanyaan pak Satrio. Nukankah ini pemberian beliau ? Bukankah beliau yang meletakkan di nakas waktu itu ?
Aku urungkan niatku untuk kembali bertanya pada beliau. Aku hanya diam menunggu apa yang akan beliau katakan lebih lanjut. Tapi, dari siapa ? Siapa yang meletakkan ? Tidak ada orang lain lagi dirumah ini. Selain Pak Satrio, Adrian, Adry, Bik Ina dan suaminya serta pak Sumadi ? Apa mungkin salah satu dari mereka ? Apa Adrian ? Ya........ Kemungkinan besar Adrian yang melakukannya ? Tapi apa dia juga mendengarkan teleponku dengan Jhoji ? Kemudian apa maksudnya dia memberikan perhiasan untukku ?
" Apa perhiasan ini mempunyai arti khusus ?" Selidik Pak Satrio menatap mata ku dengan intens seolah ingin tahu arti perhiasan ini.
Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaan beliau. Tidak berani menatap.
" Dik Asri menginginkan perhiasan yang Dik Rin pakai"
" Kalau Dik Rin ijinkan......."
" Aku akan membelikan Dik Rin yang lebih dari ini"
Aku tidak menjawab. Sebuah luka sedikit demi sedikit menyusup perlahan di hatiku. Seakan menikmati perjalannya luka ini. Di setiap langkah yang dia lewati membuat hatiku teriris. Dalam ........dalam.......dalam.............. harga perhiasan yang aku kenakan mungkin tidak seberapa dibandingkan tas yang dipakai mbak Asri tadi malam. Tapi kenapa dia bisa menginginkan apa yang aku pakai ? Aku tidak iri dengan apa yang mbak Asri pakai walau terlihat mahal dan berkelas. Aku iri posisinya dirumah ini walau status nya bukan lagi nyonya dirumah ini. Tapi kenapa dia meminta apa yang aku pakai ?
" Dik Asri mengira aku yang membelikan perhiasan yang dik Rin pakai,"
" Aku sudah jelaskan kalau Dik Rin beli sendiri tapi tidak percaya,"
" Aku tidak ingin bertengkar dengannya"
Memilih tidak bertengkar dengan mbak Asri tapi memilih menyakitiku. Beliau rela meminta perhiasan yang aku pakai demi mbak Asri. Sebesar itukah perasaan cinta Pak Satrio pada mbak Asri ? Sebesar itukah rasa tidak perduli Pak Satrio dengan diriku ?.
" Dik Asri kehilangan masa remajanya demi menikah denganku,"
" Dik Asri sudah harus menjadi ibu disaat teman - temannya masih suka bermain bersama,"
" Dia rela mengandung dan membesarkan anak - anakku tanpa mengeluh karena hilang masa remajanya,"
Aku hanya diam. Pantaskah seorang suami memuji wanita lain di depan istrinya ? Haruskah aku keluar dari kamar ini ? Atau sekalian keluar dari kehidupan mereka ? Aku menghela nafas perlahan berusaha untuk tenang. Berharap jumlah jam berkurang dari dua puluh empat jam menjadi dua belas jam saja. Agar hari ini cepat berlalu.
" Dulu dia sering menangis. Karena ingin seperti teman - temannya yang bisa bebas bermain tanpa harus repot mengurus dua anak,"
" Aku sangat merasa bersalah dengan merampas masa remajanya,"
" Aku bisa menerima dia selingkuh dengan laki - laki lain karena aku tahu betul. Dia tidak mengenal apa itu pacaran ? Apa itu punya kekasih"
" Aku langsung menikahinya begitu aku tahu aku sangat mencintainya. Tidak melihat dia masih sangat belia ketika menikah denganku. Dan masih remaja ketika melahirkan Adrian,"
__ADS_1
Pak Satrio bercerita dengan netra yang nanar. Terus dan terus memelukku seolah mengadu pada ibunya. Serasa sebuah penyesalan tergambar jelas di wajah beliau. Seolah - olah ingin berkata. Beliau ingin memutar waktu dan kembali ke masa beliau pertama kali bertemu dengan mbk Asri. Untuk membenarkan semua kesalahannya.
bersambung...........