
Pak Satrio memberikan HP ku yang selama ini ternyata beliau pegang.
" Kalau dia masih menghubungimu, kau selamanya akan berada disini," ucap Pak Satrio memberikan HP padaku.
" Aku loloskan kan kau kali ini, tapi tidak yang kedua kalinya. Kau akan lihat apa yang akan aku lakukan." beliau terdiam sejenak. Duduk di tepi ranjang sambil memandangiku, yang membuka HP ku.
Ada pesan dari bapak yang bertanya bagaimana keadaanku. Tapi pesan itu sudah terbalaskan, mengatakan keadaanku baik - baik saja. Ku buka lagi.....ada beberapa temanku yang ingin melihat Thavisa. Dan aku juga melihat ada beberapa pesan masuk dari Henry. Aku arahkan pandangan mataku tertuju pada beliau yang tetap memandangku dengan instensif.
" Kenapa tidak kau lihat pesan dari dia ? " tanya beliau, rupanya beliau memperhatikan apa yang aku lihat di layar HP. " Buka saja, aku tidak ingin ada yang ditutupi diantara kita," sambung beliau dengan mendekat padaku.
" Bukankah mas sudah membaca pesan dari Henry ? "
" Sudah tapi tidak aku balas. Kau baca dan balas pesan dari dia. "
" Tapi mas.....,"
," Balas saja, dari pada kau membalas pesannya di belakangku, aku lebih suka kau membalas pesannya di depanku,"
" Iya mas......," suaraku lirih ketika menjawab permintaan atau perintah beliau.
Tak ada pesan khusus yang Henry kirim untukku. Bahkan mungkin sebagai kalimat yang membuat aku bisa bernafas lega. Setidaknya begitu di mata orang lain. Mungkin juga, karena kalimat Henry yang wajar - wajar saja membuat Pak Satrio menjadi baik padaku.
__ADS_1
( Apa Mbak Arin sudah sampai ? Mudah-mudahan Mbak Arin selalu sehat dan terlindungi )
( Aku harap Mbak Arin hidup dengan senang dengan suami dan anak - anak Mbak )
( Jika Mbak Arin hidup senang, finansial tercukupi rasa bersalahku tidak akan membuat aku terlalu terpuruk )
( Tidak apa Mbak Arin tidak mau membalas pesanku, yang terpenting adalah kesehatan Mbak Arin )
( Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan Mbak Arin dan keluarga Mbak Arin )
Bagi orang lain yang membaca kalimat pesan dari Henry memang sebuah kalimat biasa. Mungkin kalimatnya seperti kalimat yang menyelematkan aku dari prasangka Pak Satrio. Tapi bagiku, kalimat - kalimat Henry sangat bermakna dalam. Aku mengerti dan memahami kalimat yang dia tulis penuh dengan harapan agar aku bahagia, karena Henry merasa rumah tanggaku seperti ini karena masa laluku bersama Henry. Henry, merasa Dialah yang harus bertanggung jawab atas semua derita yang aku alami. Mungkin Henry memang mencintaiku tapi mungkin lebih karena rasa bersalahnya padaku.
Aku menjawabnya dengan ringkas.
Aku melirik sekilas pada Pak Satrio yang berpura tak melihat jawaban yang aku tulis untuk Henry. Tangan beliau juga sibuk menulis pesan entah untuk siapa.
" Makan pagi ini, bergabunglah dengan kami," beliau beranjak dari ranjang dan berjalan keluar kamar.
.................
Jujur, aku merasa canggung duduk bersama sarapan pagi di meja makan ini. Pak Satrio sudah duduk di kursi beliau. Kursi yang menghadap lurus ke arah dapur, membuat aku bisa melihat beliau yang tetap sibuk memandangi HP milik beliau. Sama seperti tadi sebelum sarapan beliau seperti serius dengan HP beliau. Aku masih membantu buk Ina menyiapkan sarapan pagi ini Adry menginginkan sarapan pagi dengan Laksa dan jus buah. " Laksa " mengingatkan aku dengan Henry. Laksa juga menu favorit keluarga Henry, terkadang dia juga mengeluh karena mamanya sering sekali membuatkan sarapan dengan Laksa. " Lama - lama wajahku seperti mie.....," gerutunya dengan wajah kesal. Aku dan Dita akan tertawa melihat Henry yang cemberut. Setelahnya pasti Henry akan memesan lontong pecel di warung depan pinggir jalan.
__ADS_1
" Dik Rin.....duduklah disini, biar Bik Ina yang meneruskan." panggil Pak Satrio kepadaku ketika Adrian dan Adry sudah datang.
" Hai ma......," Sapa Adry yang menyambutku dengan ceria dan mengerlingkan mata kanannya. Seperti biasa Adrian selalu dingin tanpa menoleh padaku seperti menganggap aku tidak ada. Jujur, aku merasa canggung duduk diantara mereka, keluarga Pak Satrio. Apalagi selama hampir seminggu ini, walau Adrian dan Adry bersikap biasa tapi aku yakin mereka tahu tentang aku yang " dikurung " dikamar Pak Satrio.
...........
," Bu Asri selingkuh lagi Bu. Bahkan selingkuhannya di bawa ke rumah ini, ya ketemu lah sama bapak. " cerita Bik Ina ketika Pak Satrio, Adrian dan Adry sudah berangkat ke tempat aktivitas mereka.
," Beda orang lagi bu, bukan yang dulu. Saya pas pulang dari pasar. Waktu itu, bapak tiba - tiba juga pulang. sampai rumah bersamaan dengan saya. Eh......pas masuk kamar lihat Bu Asri sama selingkuhannya." cerita Bik Asri dengan menggebu seperti pembaca cerita untuk anak kecil.
" Apa bapak marah ?" tanyaku. Entah kenapa tiba - tiba pertanyaan itu keluar.
" Bukan hanya marah Bu, Pacarnya Bu Asri dipukul berkali - kali sama bapak. Untung ada Pak Sumadi yang bisa menghalangi bapak bertindak lebih. Wah.....kalau Bu Asri rambutnya hampir habis karena dipotong sama bapak, mau di gunduli. "
Teh yang mau ku telan tersembur begitu saja dari mulutku. Aku terbelalak mendengar cerita Bik Ina. ," Mau digunduli ? Digunduli bagaimana bik ? Bapak tega melakukan itu ? " tanyaku ingin mendengar kelanjutan cerita Bik Ina. Aku benar - benar tidak menyangka Pak Satrio ternyata juga bisa tega berbuat seperti itu pada Mbak Asri. Bukankah Pak Satrio sangat mencintai Mbak Asri ?
," Ya digunduli bu........bapak marah - marah rambut Bu Asri di pegang langsung di gunting - gunting. Bapak sebenarnya orang baik Bu, mungkin karena jengkel sama Bu Asri sudah berkali-kali diselingkuhi."
," Bapak marah - marah sambil teriak keras. Aku sudah menuruti keinginanmu tidak menemui Dik Arin lagi, mengabaikan Dik Arin. Ternyata ini balasanmu...," Bik Ina bercerita sambil memeragakan gerakan Pak Satrio yang menggunting rambut Mbak Asri. Aku tersenyum tipis mendengar cerita Bik Ina. Mungkin inilah jawaban dari semua sikap Pak Satrio yang tidak mau menemuiku lagi, memblokir kartu Debit yang beliau berikan padaku dan tidak mau menemaniku melahirkan.
Aku menghela nafas panjang. Ternyata beliau memang sangat mencintai Mbak Asri hingga lupa jika beliau juga memilikiku. Hatiku menciut, apakah beliau sampai sekarang juga mencintai Mbak Asri ? Jika dibandingkan dengan Mbak Asri aku kalah jauh....jauh sekali dan segalanya lebih unggul Mbak Asri yang selalu terlihat ceria dan awet muda. Tinggi badan dan bentuk tubuh, aku mengaku kalah jauh. Mbak Asri mempunyai tinggi sekitar 160 an centimeter, walau sudah memiliki dua anak remaja, Mbak Asri tetap memiliki postur tubuh yang bagus. Apalagi dari segi stylis.....jangan ditanya. Jika aku bersanding dengan Mbak Asri, bagai langit dan bumi. Jika orang melihat kami berdua, pasti yang dituju adalah Mbak Asri.
__ADS_1
Bersambung.........