
Ketika aku remaja hingga aku lulus kuliah aku tidak pernah punya pacar atau teman dekat. kenapa baru sekarang di usiaku yang sudah berkepala tiga, ada tiga pria yang dengan intens menghubungiku tiap hari. Ada pak Satrio yang selalu bertanya kabarku atau sekedar mengingatkan waktu makan. Aku hanya membalas sesukaku. Kalau aku senggang aku balas, kalau tidak ya lossss sampai dia kirim pesan Wastapp lagi pada keesokan harinya. kedua dari mas Ravi yang selalu mengajak aku bertemu dan bercerita masalah rumah tangganya yang selalu bertengkar dengan istrinya. Pesannya tidak pernah aku balas hanya aku baca saja. Terkadang mas Ravi mengirimi aku foto dirinya yang sedang berada di cafe tempat kami biasa bertemu. Kadang dia mengingatkan aku kembali dengan peristiwa yang kami alami bersama. Ketiga dari Henry, dia selalu bertanya bagaimana kegiatanku, barang yang dia pesan untukku sudah sampai belum.
Henry bukan tipe laki - laki romantis yang membawakan bunga untukku atau membelikan aku barang - barang mewah walau dia mampu, tapi perhatiannya sangat luar biasa. Aku tidak tahu apa karena rasa tanggung jawabnya atau apa ? Seperti ketika aku makan, dia dengan suka rela mengambil tissue untukku bahkan mau membersihkan bibirku ketika selesai makan. Atau ketika kami makan bersama di rumahku dia menuangkan minuman untukku dan membantuku mencuci piring. Atau ketika duduk bersama Henry selalu memainkan rambutku atau menciuminya dengan gemas.
Kenapa aku lebih detail menceritakan Henry yang baru beberapa saat denganku kenapa tidak mas Ravi yang sudah tujuh tahun bersamaku. Itu karena walau kami tujuh tahun bersama, jarang sekali aku berkomunikasi dengan mas Ravi. Aku dan mas Ravi bertemu seminggu sekali atau dua kali saja dalam seminggu itupun hanya makan bersama tidak lebih dari itu.
Hari ini, ketiga laki - laki yang aku ceritakan. secara bersamaan mengirim pesan Wastapp padaku, bertanya kabar. Mas Ravi seperti biasa bercerita tentang istrinya yang sangat manja sehingga membuat dia kesal. Aku mengabaikan pesan Wastapp dari pak Satrio dan segera membaca pesan Wastapp dari Henry. Menampilkan Henry yang sedang makan pagi di cafetaria rumah sakit dengan menggunakan kaos Celine putih dipadu jaket kulit warna hitam dan celana jeans biru muda yang robek di bagian lututnya. Aku tersenyum baru kali ini aku lihat Henry memakai baju casual seperti itu. Biasanya kemeja lengan panjang dan celana formal.
Henry
( Pagi Mbak...........Jangan lupa datang tepat waktu di kantor meskipun aku tidak ada )
Aku
( Iya siap, dasar bos workaholic gak bisa lihat karyawannya santai sedikit. )
Henry
( Apa aku seserius itu bekerja ? )
Aku
( Kira anda bagaimana bapak ? Anda sangat ambisius dalam bekerja. )
Aku
( Keadaan Bu Merry bagaimana ? )
Henry
( Mbak, kondisi mama masih tetap sama, doakan ya. )
Aku
( Henry, apa kau membahas masalah kita lagi ? )
Henry
__ADS_1
( Tidak, Mama hanya sedikit mengeluh dan kecewa dengan apa yang aku lakukan. )
Aku
( Henry, apa Bu Merry tahu kalau aku yang kau bicarakan selama ini ? )
Henry
( Tidak Mbak, aku tidak sebodoh itu
Mama cuma ingin aku menikah dengan yang seiman. )
Aku
( Mungkin memang seharusnya begitu. )
Aku tidak sanggup lagi meneruskan chat Watsapp ku dengan Henry, segera aku mengambil handuk dan mandi. Aku tidak ingin membahasnya lagi. Aku tahu terlalu banyak perbedaan diantara aku dan Henry. Mungkin benar nasehat bapak kalau Henry terlalu tinggi bagiku. Mungkin aku yang harus mundur jika kami tidak bisa melangkah untuk maju. Mungkin aku yang harus melupakan asaku terhadap Henry. Mungkin aku yang terlalu berharap pada impian - impianku, aku yang harus sadar diri.
Seminggu lebih Henry merawat ibunya. Keadaan Bu Merry tetap sama. Aku bisa merasakan apa yang Bu Merry rasakan. Beliau khawatir dengan putra bungsu kesayangannya. Seperti ibuku dulu yang sangat khawatir dengan keadaanku. Aku tahu situasi yang Henry hadapi sekarang karena dulu aku pernah di posisi Henry. Mempertahankan keegoisanku tetap merahasiakan hubunganku dengan Mas Ravi atau memilih ibu sebagai wanita yang telah banyak berkorban untuk kita. Aku ........ah apa Henry juga mengambil langkah yang seperti aku ambil, lebih menyayangi ibunya. Tentu dia akan melakukan apapun untuk ibunya daripada aku wanita yang baru saja masuk dalam hatinya.
Ya Allah aku tidak ingin menjadi menyebabkan pertikaian antara ibu dan anak. Aku tidak ingin menjadi penyebab silang pendapat antara ibu dan anak. Aku tidak ingin sebagai penyebab durhakanya seorang anak kepada ibunya wanita yang sudah melahirkan Henry. Aku tidak ingin menjadi penyebab permusuhan dalam keluarga Henry yang sangat harmonis.
Disisi lain, aku mengerti dengan keinginan Bu Merry. Jika aku dalam posisi beliau tentu aku juga mengambil di jalan yang beliau putuskan sekarang menginginkan anaknya memiliki jodoh yang terbaik.
Suasana hatiku yang kacau sampai terbawa pada hariku saat ini. Dari tadi Dita yang bercerita panjang lebar tentang Rian pun tidak aku hiraukan.
" Mbak....... Mbak Arin.......Aduh gimana sih. Mbak ......Arriiiiiiiiiin"
" Iya Dit ada apa ?"
" Laaa dari tadi saya cerita tidak didengerin. Nich ada customer yang komplain warna pesanan tidak sama dengan yang diinginkan".
" Oh sudah ganti topik ? Aku kira masih soal Rian"
" jealous ya.........Pingin kan punya pacar ?"
Aku hanya tersenyum mendengar cuitan Dita. Kalau aku sampai baper dengan Dita itu namanya cari penyakit sendiri.
__ADS_1
" Atas nama siapa ?"
" Bu Andara."
" Bukankah kapan hari anaknya yang minta ganti warna pink ?"
" Oh iya .....Aku lupa iya deh aku jelasin lagi ke Bu Andara."
Kembali aku terhanyut dengan masalahku. Aku harus berbuat apalagi. Kenapa masalah datang silih berganti padaku. Atau akulah yang tidak bersyukur dengan apa yang aku miliki.
Sebuah pesan Wastapp masuk. Aku segera membukanya aku berharap itu dari Henry.
Aku membukanya.......Sebuah kalimat yang membuat aku tercengang membuat aku kaget. Membuat aku mengambil kesimpulan inilah jawaban dari kegalauanku.
Pak Satrio
( Assalamualaikum
Dik Arin, kita sudah lama berkenalan sudah hampir satu bulan. Sudah cukup bagi saya mengenal keluarga dan dik Arin. )
Pak Satrio
( Saya sudah berumur empat puluh delapan tahun. Sudah bukan waktunya lagi untuk pacaran. Saya mencari istri untuk pendamping hidup saya. )
Pak Satrio
( Kalau sekiranya adik bersedia menerima pinangan saya. Insha Allah Minggu depan keluarga saya akan ke rumah adik untuk melamar. )
pak Satrio
( Kalau masalah pelaksanaan pernikahan. Saya serahkan sepenuhnya kapan dik Arin mau. Dik Arin minta cepat atau Agak lama ? )
pak Satrio
( Kalau adik minta cepat bulan depan adalah bulan yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Kalau agak lama setahun lagi, menunggu keadaan ekonomi saya membaik sepenuhnya. )
Jantungku seperti berdetak keras......keras ......keras sekali. Aku tidak menyangka sama sekali hari ini ada laki - laki yang mengatakan padaku ingin menikahi ku.
__ADS_1
bersambung..............