
Berbijaklah dalam membaca. Bab ini mengandung konten dewasa.
Suara pintu kamar terbuka. Aku menoleh kearah pintu. Tampak Pak Satrio di ambang pintu hendak melangkahkan kaki beliau masuk ke kamar. Beliau membawa nampan berisi makan siangku.
" Mas.....tolong saya ingin bertemu Tangguh dan Thavisa," seruku pada beliau sambil beranjak dari ranjang ini. Berusaha mencapai pintu sebelum tertutup kembali. Tapi tidak berhasil beliau terlalu cepat menutup kembali dan mengunci pintu dengan barcode. Beliau melangkah menuju nakas dan meletakkan nampan berisi nasi dan lauk untukku.
" Makanlah ! " suara beliau cepat dan dingin.
" Tidak.....saya tidak lapar. Saya hanya ingin bertemu Tangguh dan Thavisa. "
Seandainya aku jujur, aku sangat lapar dari tadi pagi aku belum sarapan. Sekarang sudah lewat makan siang, bertambah aku menangis hampir seharian. ASI ku, aku buang dengan percuma. Rasa lapar menggerogoti perutku, berbunyi keras dan jelas terdengar oleh beliau.
" Makanlah......." perintah beliau sambil berusaha menyuapiku.
Aku palingkan wajahku ke arah lain menghindari suapan dari beliau. " Tidak.....saya hanya ingin bertemu dengan Tangguh dan Thavisa. "
Beliau berdiri dan meletakkan kembali sendok yang berada di tangan kanan beliau. Membawaku lebih dekat pada beliau.
" Kau lapar yang lain ? tanya beliau mendekatkan wajah beliau padaku. Tanpa centimeter menghalangi diantara kami.
__ADS_1
" Kau lapar yang lain ?" suara serak dan parau beliau dengungkan padaku.
" Kau lapar ini.........?" cepat Pak Satrio memaksaku menerima bibir beliau. Tangan beliau juga bergerak cepat meraih milikku. Aku tak melawan kubiarkan semua apa yang beliau lakukan atas diriku. Bukan karena apa, aku lelah melawan.......Untuk apa melawan ? Jika pada akhirnya aku tetap semakin tersiksa dengan tindakan beliau.
" Katakan ! Sejantan apa dia di ranjang ? sehingga kau bisa berpaling dariku ?" tanya beliau yang tidak aku hiraukan. Tubuhku masih dalam kungkungan beliau.
" Apa dia melakukan ini ? tanya beliau lagi dengan bibir berada di leherku. Beberapa saat setelah puas beliau bertanya lagi. " Apa juga disini ? " kali ini lebih turun. Beliau menatapku dengan kebencian yang tidak bisa dijelaskan dengan kata - kata. Hanya tatapan netra yang tajam seakan ingin menikamku dengan keras dan dalam secara berkali - kali. " Apa disini ? " suara beliau lantang memenuhi ruangan kamar milik beliau. Aku tetap tidak bersuara menjawab pertanyaan beliau. Aku hanya ingin diam dan mungkin memang sebaiknya diam. Tidak akan percaya juga, beliau dengan pembelaanku.
" Keluarkan suara rintahanmu seperti semalam ! Bukankah kau merintih merasakan kenikmatan ? pertanyaan beliau sangat membuat aku terluka dan tersayat. Aku terus diam dan menutup mulutku rapat agar tidak bersuara seperti keinginan beliau. Aku memang tidak bisa melawan, tapi aku juga ingin membalas semua perlakuan beliau.
Beliau keluar kamar setelah melakukan semua padaku. Seperti seorang pria yang mengunakan wanita panggilannya. Tanpa ucapan terima kasih, tanpa menoleh padaku, tanpa merasa aku bukan milik beliau. Rasa laparku menandakan lagi suara. Memberontak ingin mengisi asupan nutrisinya. Hari ini tubuhku lebih banyak mengeluarkan energi daripada menerima asupan energi. Aku yang tidak bisa menahan rasa lapar. Tanpa diminta aku langsung melahap makanan yang tadi dibawa oleh Pak Satrio tadi. Aku habiskan tanpa sisa. Aku harus makan. Harus kuat untuk bisa bertemu kembali dengan anakku.
" Kau mau makan apa malam ini ? Aku belikan. Kau harus banyak makan karena ASI mu sangat diperlukan untuk Thavisa. " suara beliau tetap dingin padaku seakan enggan berbicara tapi membutuhkan. Aku tak menjawab pertanyaan beliau yang menurutku hanya basa basi saja. Aku hanya perduli pada kegiatanku memompa ASI untuk Thavisa. Aku juga sudah lelah memohon pada beliau agar aku boleh keluar untuk bertemu Tangguh dan Thavisa. Suaraku dari pagi tadi sudah parau karena terlalu banyak berteriak.
Malam ini, beliau kembali ke kamar menemuiku dan membawa makanan untukku. Tidak ada percakapan diantara kami. Kami saling terdiam dan tak bertegur sapa walau dalam satu kamar.
Beliau juga enggan bertanya tentang ini dan itu padaku karena sama saja tidak pernah akan aku jawab. Beliau hanya memandangiku yang sedang lahap menyantap makanan yang beliau bawa untukku. Membisu tak berbicara padanya adalah bentuk protesku kepada beliau. Kenapa aku dikurung dikamar ini seharian ?
Aku makan dengan lahap apa saja yang beliau bawakan untukku. Demi Thavisa yang membutuhkan ASI ku. Aku memakannya bercampur air mata yang jatuh di nasi yang aku makan. Beliau hanya mendiamkan saja perbuatanku tanpa berkomentar, hanya memandangiku saja. Dan aku tidak tahu arti tatapan Netra beliau. Selesai memompa ASI aku letakkan begitu saja di nakas samping tempat tidur. Peralatan dan ASI ku yang berada dalam kantong plastik khusus.
__ADS_1
Malam hari menjelang tidur beliau kembali ke kamar untuk beristirahat tetapi sebelumnya beliau memaksaku melakukan kewajibanku. Kembali, tanpa kata aku menerima aktivitas beliau yang dilakukannya dengan sangat berlebihan. Bukan untuk saling mencintai tapi karena dendam beliau padaku, karena kejadian tadi malam.
Hari - hariku selama hampir seminggu tidak banyak, karena terkurung di kamar ini. Menunggu makan yang beliau bawakan untukku. Melayani keinginan biologis beliau yang membuat aku lelah karena setiap hari bahkan setiap kali beliau mengirimkan makanan, memintaku mengimbangi keinginan beliau.
Aku seperti tawanan beliau atau bahkan seperti budak yang ditahan hanya untuk melayani beliau. Ternyata hidupku jauh dari kata bahagia. Kenapa ......kenapa harus terjadi seperti ini ? Aku dan Henry tidak melakukan melebihi batas norma ? Tapi yang kuterima tuduhan yang bukan - bukan. Di sisi lain aku juga tidak bisa menemui kedua anakku.
Sikap beliau sudah membaik padaku, aku merasakannya memalui sentuhan beliau yang biasanya sangat ingin menyakitiku tapi tidak untuk pagi hari ini, Setelah selesai sholat subuh beliau menjamahku dengan lembut.
" Kau bersiaplah hari ini ! Aku akan memberi hadiah yang bagus, karena kau bersikap baik padaku. "
" Apa aku boleh bertemu Tangguh dan Thavisa ? tanyaku yang langsung bisa menebak hadiah dari Pak Satrio.
" Ya, sepulang dari lahan dan tambak aku akan mengantar Tangguh dan Thavisa padamu."
" Terima kasih banyak mas, sudah mengijinkan aku bertemu Tangguh dan Thavisa," tangisku pecah setelah hampir seminggu aku tahan dengan sikap yang kuat dan menantang berani pada beliau.
" Itu hukumanmu karena kau sudah berselingkuh dibelakangku. Itu hukumanmu karena kau sudah berani meninggalkan anak - anakku demi menemui selingkuhkanmu. "
Aku terdiam tanpa membalas perkataan beliau. Aku sedikit memahami sifat beliau. Semakin beliau ditentang semakin banyak pula konsekwensi yang aku terima. Semakin baik dan menuruti perintah dan keinginan beliau, semakin baik pula beliau padaku. Aku hanya perlu bersikap baik pada beliau , agar aku bisa membawa pulang kedua anakku. Ya .....itu satu - satunya jalan terbaik tanpa pertikaian agar aku mencapai tujuanku.
__ADS_1
Bersambung.......