
Assalamualaikum........
Mudahan - mudahan pembaca suka dengan novel yang saya tulis. Mohon maaf kalau ada salah kata. Harapan saya setelah anda membaca memberikan like.......
Salam untuk orang - orang terkasih anda.
Malam ini untuk yang ke empat kalinya pak Satrio memperlakukan aku seperti malam - malam sebelumnya. Lelah sudah aku untuk memikirkan semua. Jika di tanya karena apa ? Aku juga tidak tahu, aku berharap juga tidak akan tersentuh olehnya. Tapi setiap beliau hendak memulainya kemudian begitu saja meninggalkan aku seperti keadaan pada malam pertama membuat aku sangat terluka. Jika memang beliau tidak menginginkan aku tidak perlu mempermalukan aku seperti ini. Dalam keadaan seperti yang sudah - sudah aku menangis sendiri. Aku selalu menghalangi beliau melakukannya tapi jawaban yang aku terima karena kami sudah suami istri. Kemudian berkata lagi jika beliau tidak bisa karena masih sangat mencintai mantan istrinya. Beliau berkata seperti mempunyai perasaan bersalah jika akan melakukan dengan perempuan lain, yang dimaksud perempuan lain adalah aku. Ternyata begitu rendah aku Dimata beliau.
Aku mengambil dan memakai kembali piyama berwarna krem yang berserakan di lantai kamar ini. Aku menangis tanpa suara, begitu sangat luka aku dengan sikap Pak Satrio yang aku anggap sebagai hinaan. Aku tidak tahu orang lain mengganggap apa ? Tapi bagiku suatu hinaan sebagai perempuan dan juga sebagai istrinya. Jangankan menjadi istrinya untuk satu tahun menjadi istrinya sebulan rasanya aku tidak mungkin sanggup melakukannya.
ku raih ponsel yang berada di nakas. Aku ingat tadi pagi Jhoji ingin sekali berbicara denganku. Mudah - mudahan bocah kecil itu belum tidur. Aku keluar kamar untuk mencari udara segar, duduk di serambi ruang keluarga yang menghadap ke taman.
" Halo tante......Jhoji kangen.........."
" Sama sayang, tante juga kangen."
" Kapan Tante pulang ?
" Lusa sayang,"
__ADS_1
" Oleh - olehnya mobil remote control ya tante ! "
" Iya sayang, besuk Tante ke toko beli mobil remote control nya,"
Gerakan lembut tangan mengusap rambutku. aku menengadah berusaha melihat wajah berwibawa Pak Satrio. Tampak tersenyum hangat seolah melupakan apa yang baru saja beliau lakukan padaku. Duduk dan serta Merta memelukku dengan eratnya.
" Maaf dik Rin, aku harap adik mengerti keadaanku ! "
Aku tidak memberi komentar, hanya mendiamkannya dengan tetap memainkan ponselku. Pelukannya semakin erat dan menciumi pipiku. Aku berusaha tersenyum walau terasa getir dalam hatiku, menekan sedalam dalamnya perasaan lukaku agar tak terlihat dengan sikapku.
" Tujuan melakukan hal itu, secara garis besar untuk memperoleh keturunan. Kita sudah punya Adrian dan Adry. Bukankah sudah cukup ? Kita hanya merawatnya saja," urainya tanpa memperdulikan perasaanku.
Tak terpikirkan kah oleh beliau tujuan pernikahan ini ? Aku juga menginginkan hadirnya buah hatiku sendiri. Bukan berarti aku tidak menganggap Adrian dan Adry anakku. Tapi tidak bolehkah aku menginginkan anak yang lahir dari rahimku sendiri ? Anak yang aku kandung sendiri ? Darah dagingku sendiri ? sebuah embrio yang tumbuh selama sembilan bulan dalam tubuhku sendiri ? Sebuah nyawa yang pernah terhubung langsung denganku dalam tali pusar. Aku juga menginginkan hadirnya tangis anakku.
" Tapi saya juga menginginkan seorang anak mas. Anak yang lahir dari rahim saya sendiri "
" Lo dik Rin gak menganggap Adrian dan Adry anak dik Rin sendiri ? "
" Bukan begitu maksud saya mas. saya......."
__ADS_1
" Kita harus berpikir dik, memiliki anak bukan dari kwantitas tapi dari kwalitas nya. Sudah........ aku tidak mau membahas lagi, kita sudah punya Adrian dan Adry."
Sakit hatiku semakin dalam bukan karena pak Satrio melepaskan pelukannya atau menghentikan ciumannya tapi karena pernyataan beliau yang secara tidak langsung melarang aku memiliki anakku sendiri. Secara tidak langsung tidak menginginkan keturunan dariku.
" Tidurlah ! Sudah malam di luar udaranya dingin." Dengan memberikan ciuman di puncak kepalaku pak Satrio masuk ke kamarnya kembali.
Selama aku disini, dirumah Pak Satrio, aku memang tidur terpisah dengan beliau. Jika pengantin baru dalam minggu - minggu pertama adalah manis- manisnya dalam berhubungan tidak demikian denganku. Hanya di luar, beliau memperlakukan aku seperti aku sangat disayang. Seperti yang barusan beliau lakukan mencium puncak kepalaku, sebelum meninggalkan aku yang tidak mau beranjak dari kursi ini.
Suara beliau yang tetap lembut, walau kami sedang perang argumentasi. Tak mematahkan diriku untuk bergerak mengikuti perintahnya beranjak dari kursi. Aku menangis sendiri disini, dengan angin yang terasa dingin menusuk kulit walau hawanya panas. Aku merasa dingin sendiri dalam lamunanku.
Dulu tujuanku menikah mengindari Henry agar hidup kami berjalan dengan baik, tanpa berbenturan dengan norma yang berlaku. Aku juga menginginkan pernikahanku berjalan seperti pasangan lainnya memiliki anak - anak sebagai pengikat tali perkawinan. Mungkin......... aku harus kembali menjadi Arin yang dulu, yang sendiri bersama Jhoji sebelum aku bersama Henry.
Hiang sudah keinginanku untuk mengikuti Pak Satrio di rumah ini. Banyak alasan kenapa aku memilih akan tetap di kota asalku dan tetap bekerja kembali. Rasanya tidak mungkin aku mendapatkan yang aku impikan disini, dirumah ini. Diawalnya saja kehidupan pernikahanku sudah seperti ini, tidak akan mungkin bisa aku bertahan lebih lama dengan beliau. Karena sikapnya yang selalu memperlakukan aku seperti hari ini dan hari - hari kemarin. Dengan kasarnya beliau hanya ingin melepaskan apa yang aku kenakan. Kemudian meninggalkan aku tanpa perduli perasaanku. Tanpa mau tahu apakah aku terluka dengan perbuatannya. Secara terang - terangan, beliau tanpa memperdulikan aku, bisa dengan santainya menerima telepon dari mantan istrinya dan diakhir percakapan diakhiri dengan memberi kissing. kemudian berkata dengan santun padaku.
" Dik Asri tanya kabar Adrian dan Adry. Dik Arin tidak masalahkan ? Aku tidak bisa putus komunikasi dengan dik Asri karena anak - anak tetap mempersatukan kami,"
Harus aku jawab apa jika bukan dengan senyuman yang tawar, dengan senyum yang seharusnya beliau tahu kalau aku sakit hati, kalau aku tidak setuju. Tapi aku bisa apa ? Mereka memang memiliki Adrian dan Adry yang tetap membutuhkan ibu kandung mereka, dari pada aku yang baru beberapa hari hadir di keluarga ini. Jika aku bisa dan mampu. seharusnya aku bisa menjawab dengan lantang menentang kehendak beliau
" Bukankah Adrian dan Adry punya Handphone sendiri ? Kenapa harus tanya kabar mereka lewat bapak ? "
__ADS_1
Pertanyaan - pertanyaan itu hanya sampai di dalam hatiku saja. Tidak mampu keluar dengan suara, hanya aku pendam kembali sebagai pertanyaan yang entah kapan aku jawab sendiri. Tidak terasa air mataku mengalir. aku biarkan saja mereka meluncur membasahi pipiku. Agar jatuh sampai di dadaku dan terserap oleh pori - pori tubuhku, untuk bisa masuk lagi ke hatiku. dan berkata " kamu menangis......kamu menangis tapi tidak ada yang perduli sakit apa tidak ? kamu sendiri yang harus kuat.
bersambung.............