
" Mau cari makan ?" tanya Pak Satrio ketika kami keluar dari pusat perbelanjaan. Tidak banyak yang kami beli hanya beberapa baju untuk Tangguh. Aku menolak untuk dibelikan baju oleh beliau. Aku benar - benar merasa bajuku lebih dari cukup.
" Aku rasa makan di cafe tidak membuatmu merasa lebih baik kan ?"
" Kita cari makan semisal soto atau rawon ?"
" Iya.....," jawabku setuju dengan usul Beliau.
" Apalagi setelah kejadian itu,"
" Ayolah Dik Rin.........jangan di perpanjang......," pinta Pak Satrio sambil mencium puncak kepalaku.
" Saya lebih suka makan di sini daripada.......," kataku ketika kami sudah duduk bersebelahan di sebuah rumah makan.
," Di cafe maksudmu....,"potong beliau.
," Ya......,"
," Baiklah kalau kita makan. Aku mengikuti seleramu. Asal kau bisa nyaman. Kau makanlah dulu."
," Mas .....?"
," Tangguh butuh ASI, Setelahmu saja," sambil mengambil Tangguh. Pak Satrio membiarkan aku makan terlebih dahulu sebelum beliau. Memandangiku dan tidak habis habisnya tersenyum padaku.
," Aku mencintaimu..... dan anak kita," kata- kata beliau yang tiba - tiba mengejutkanku membuat beliau tertawa lirih.
" Mas mimpi ya...?"
Beliau menggeleng pelan sangat pelan. Netra beliau nanar melihatku. Menghela nafas panjang dan menegapkan badan beliau. Perlahan tangan beliau meraih dan memainkan pucuk rambutku.
" Aku sungguh mencintaimu dan anak kita..... Seandainya kita bertemu lebih awal, mungkin hubungan kita tidak seperti ini,"
" Maksud mas ....?"
" Aku sungguh - sungguh berkata mencintaimu dan Tangguh. Jangan tertawa ," bisik beliau dengan mencondongkan badan lebih dekat padaku.
" Sejak kapan mas mencintai saya dan jadi romantis.....?"
" Sejak aku melihatmu di cafe waktu itu. Aku kembali untuk menjemputmu. Tapi........"
" Tapi.....?"
" Dik Asri melarangku..... Aku melihatmu berjalan menuju taksi, tertunduk sambil memeluk Tangguh. Disitulah aku tahu, ternyata aku juga mencintaimu sebesar aku mencintai Dik Asri. Aku ingin memilikimu seperti aku memiliki Dik Asri."
Diam sesaat..... Tangan beliau masih bermain di pucuk rambutku. Helaan nafas kembali terdengar jelas dari bibir beliau.
" Aku sengaja tidak menghubungimu karena aku ingin kau terlebih dulu menghubungiku. Marah, mencaci, atau bahkan mengumpat. Aku akan dengan senang hati menerimanya,"
" Kenapa tidak kau lakukan ? Aku suamimu yang membuat kau luka,"
" Saya.......saya tidak bisa......"
" Kenapa......?"
__ADS_1
" Saya hanya ingin hidup tenang."
" Ya.....aku suami yang tidak bisa memberimu rasa tenang. Tapi untuk bercerai denganmu aku tidak akan bisa."
" Mas punya mbak Asri kenapa harus punya saya juga ?"
" Aku mencintaimu dan Dik Asri."
Aku tersenyum tipis. Mataku berkaca - kaca entah karena apa ? Perasaan sentimentil ini masuk menyelinap begitu saja di hatiku yang kokoh. Benarkah Pak Satrio mencintaiku....? Benarkah beliau mencintai Tangguh anakku ?
Pak Satrio mencium gemas Tangguh karena menggeliat ingin di gendong berdiri.
" Terima kasih sudah melahirkan Tangguh. Buah cinta kita,"
Dadaku sesak dengan kata - kata beliau yang menyebut Tangguh buah cinta kami. Itu harapanku selama ini. Aku ingin Tangguh lahir dari kasih sayang orang tuanya. Tangguh lahir karena orang tuanya saling mencintai. Bukan karena keinginan biologis semata.
Pak Satrio perlahan melajukan mobil untuk parkir di depan rumahku. Membukakan pintu untukku dan mengambil Tangguh agar aku mudah turun dari mobil. Berjalan sambil memegang pundakku. Tangguh tetap terlelap karena kelelahan dalam perjalanan. Bapak sangat senang melihat aku datang dengan Pak Satrio. Mungkin beliau lega melihat anak menantunya kembali hadir di keluarga ini. Diraihnya Tangguh dari gendongan Pak Satrio. Membiarkan aku dan Pak Satrio masuk kamar untuk beristirahat. Aku sudah berusaha mengambil Tangguh agar tidak menggangu bapak, tapi dengan halus beliau melarang.
Pak Satrio memelukku dari belakang dan berkali - kali mencium puncak kepalaku. Kamar ini sudah beliau kunci entah apa alasannya. Mungkin agar kami bebas berbicara.
" Dik Asri ingin kami menikah lagi secara resmi,"
"Oh jadi ini yang membuat mas menjemputku dan baik padaku ? tanyaku sambil melepas pelukan Pak Satrio. Berhasil.......aku terbebas dari beliau.
" Bukan.....bukan itu. Aku sungguh - sungguh mencintaimu. Tadi aku sudah bilang, aku ingin memilikimu dan Dik Asri secara adil. Dik Asri janji tidak akan selingkuh lagi, jika kami menikah resmi."
" Kenapa harus ijin pada saya ? "
" Karena aku butuh ijinmu untuk bilang ke orang tuaku."
" Aku bisa saja menikah tanpa seijinmu. Tapi tidak aku lakukan, karena kau istriku."
" Ceraikan saya dulu."
" Tidak..... tidak akan pernah ."
" Ceraikan saya mas, apa yang dipertahankan dari rumah tangga kita, Kita tidak pernah saling mencintai,"
" Aku mencintaimu sama besar seperti aku mencintai Dik Asri. Kita punya Tangguh buah cinta kita."
" Buah cinta kata mas.....Mas tahu betul....kenapa Tangguh lahir. Apa mas datang selama aku hamil Tangguh ? Apa mas mendampingi aku ketika aku melahirkan ? Tidak ada bukan ?
" Itu masa lalu, sekarang kita bicara masa depan. "
" Masa depan kita hanya ada satu, cerai."
," Kau yakin kita akan ..........?"
," Yakin.....seyakin - yakinnya....."
" Sungguh.......,"
" Sungguh...... jangan mendekat......"
__ADS_1
," Kenapa........ ? kau istriku... sudah sepantasnya kau melakukan kewajibanmu,"
" Masih mau cerai.....? " tanya Beliau beberapa saat setelah kewajibanku selesai.
" Ya......saya mau cerai," perkataanku semakin membuat Pak Satrio leluasa melakukan semua atas diriku. Aku biarkan sampai beliau kelelahan dengan semua tindakannya.
" Besuk....saya mengajukan cerai....."
," Atas dasar apa ? Masalah ekonomi ? Poligami ? Tidak cocok ?
" Iya semuanya. Termasuk pelecehan s*****l," jawabku kesal
" Pelecehan s*****l ?
" Aku...... ? Melakukan padamu ? Seingatku kau juga senang aku melakukan itu, kau juga bergelayut manja padaku. Dan yang kemarin terakhir kali, kau meminta lagi."
Wajahku merah padam menahan malu dan marah menjadi satu.
" Tidak ....saya tidak pernah. Mas yang selalu memaksa,"
" Memaksa.....memaksa katamu. Oh itu......kadang - kadang aku memang meminta sedikit tegas karena kau masih malu, tapi itu bukan memaksa"
" itu sama saja memaksa, itu sinonim namanya,"
" Itu kewajibanmu nyonya, kewajiban seorang istri"
" Ah saya tidak mau tahu. Besuk saya mengajukan cerai,"
Pak Satrio menatap tajam dengan Netra hitam yang berkobar- kobar menyala di tunggu bara api.
" Aku bersungguh - sungguh, jika kau mengajukan cerai. Aku pastikan Tangguh akan menjadi milikku saja. Dan kau.....kau akan seperti orang gila ingin bertemu Tangguh,"
" Saya ibunya....Tangguh ikut saya,"
" Aku ayahnya. Apa kau bisa hamil sendiri tanpa bantuanku ? Apa kau pikir seperti bunga yang bisa hamil dengan bantuan angin membawa serbuk sari ? Harusnya kau berterima kasih padaku. Karena aku, kau bisa hamil dan melahirkan Tangguh. Aku yang berhak atas Tangguh,"
Pertengkaran ini berhenti karena kami sama - sama kelelahan dengan caci makian yang menjadi. Pak Satrio lah yang mengawali pertengkaran. Beliau pula yang mengakhiri. Tidur membelakangi aku dengan bantal menutupi wajah beliau.
" Bicaralah sesukamu. Kita tidak akan pernah cerai. Aku mau tidur. Aku capek karena perjalanan jauh dan karena omelanmu,"
Aku berdiri dan melangkah hendak keluar kamar.
" Jangan tidur diluar. Ambil Tangguh dan tidur disini kalau tidak aku akan menggendongmu dengan paksa untuk tidur disini,"
" Aku berat," jawabku ketus
" Aku masih kuat. Berat badanmu dua kali lipat dari sekarang aku masih kuat."
" Om - om angkuh, keras kepala..."seruku sambil membanting pintu.
Bersambung.......
Jangan lupa meninggalkan like nya.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca novel saya.....