
Ku lukis senyum di bibir ketika melihat posisi beliau tertidur. Duduk di kursi dengan badan dicondongkan kearah ranjang. Tangan beliau tak melepaskan tanganku dengan erat. Wajah lelah terlihat disana. Aku terharu dengan semua yang beliau lakukan untukku. Semalam dan pagi ini beliau sibuk memanjakan aku. memijat kakiku, membasuh badanku ketika aku mandi pagi hari tadi. Deringan telepon yang beliau abaikan ketika melihat di layar kemudian kembali berbincang denganku, membuat aku tersenyum penuh kemenangan tapi juga ketakutan yang mendasar. Aku tidak munafik. Ada rasa senang ketika melihat beliau datang dihari yang istimewa untuk beliau. Tapi takut bagaimana kalau Mbak Asri dan keluarga beliau marah dan membenciku.
" Selamat pagi, " sapa Dokter Niken menyapa kami. Setelah memeriksa keadaanku Dokter Niken mengijinkan aku pulang. Pak Satrio keluar mengurus semua administrasi berkaitan dengan rumah sakit.
Wajah mungil Tangguh yang sepenuhnya milik Pak Satrio tersenyum ceria dalam gendongan ayahnya. Aku tersenyum melihat mereka berdua. Seperti ini, yang aku harapkan. Seperti yang aku lihat sekarang yang selalu ada dalam doa - doaku. Kami keluarga yang penuh kebahagiaan. Jika aku memang perempuan kedua yang masuk dalam kehidupan Pak Satrio dan Mbak Asri. Tak bolehkan aku menghiba sedikit saja, ijinkan aku juga bahagia dengan Pak Satrio dan anak - anakku. Jika aku memang wanita yang menjadi semakin hancurnya hubungan Pak Satrio dan Mbak Asri, tolong berilah aku waktu sebentar saja dari semua banyak waktu yang beliau berikan untuk Mbak Asri dan kedua putranya. Aku kah yang merebut Pak Satrio dari Mbak Asri ? Atau Mbak Asri yang merebut Pak Satrio dari Aku ? Tergantung orang, dari sisi mana mereka melihat. Tapi, sekali lagi aku tekankan. Aku benar - benar tidak tahu jika Mbak Asri dan Pak Satrio menikah siri lagi setelah mereka bercerai secara sah. Bukan membela diri, hanya berurai fakta.
" Kita lihat perkembanganmu besuk, kalau sudah sehat, lusa aku pulang ?" Tutur Pak Satrio.
" Secepat itu ? Apa mas tidak suka menemani saya dan Tangguh ?"
" Tidak usah ditanya itu sudah pasti aku suka. Kau istriku, Tangguh anakku."
" Kenapa terkesan bergegas pulang ?"
" ha....ha......ayolah....jangan terlalu berlebih menilai dik Rin. Tidak baik," tutur beliau seraya tertawa lirih menertawakan aku karena pertanyaanku.
" Kau kan tahu tujuh puluh lima persen, hidup dan pekerjaanku ada disana."
" Saya dan Tangguh sisanya ?"
__ADS_1
" Dik Rin tolong, kau mengerti aku. Kau tidak mau ikut aku. Aku harus bagaimana ? " Tolong mengerti keadaanku dengan Dik Asri. Aku merasa berdosa sudah merampas masa mudanya. Aku sudah mencuri masa mudanya yang seharusnya indah dia lalui. Sungguh itu membuat aku merasa tersiksa dan menderita. Dia rela menikah denganku disaat yang lain masih bermain dan belajar. Dia rela mengorbankan masa remajanya untuk menjadi tulang punggung keluarganya, sampai dia lelah dan memilih menikah denganku sebagai sandaran hidupnya," cerita Pak Satrio yang mengharu biru membawa emosi Beliau tidak stabil. Menderu dengan nafas yang berkejaran susul - menyusul memburu.
" Saya tidak ingin seperti perempuan kedua yang mas perhatikan. Mas tidak pernah mencintai saya dan Tangguh."
" Aku juga sangat merasa berdosa denganmu. Membawamu dalam kehidupanku yang rumit, membuat cerita menjadi segitiga."
" Aku juga terjamah sedih karena mu. Kau menerima pinanganku, lelaki yang seharusnya jadi ayahmu, karena keadaanmu hingga dirimu terpaksa menerima duda dua anak sepertiku."
" Setiap kau berkata, kau menyesal menikah denganku. Aku juga sakit bahkan lebih dari sakit yang kau rasakan. Aku....tidak bisa membahagiakan kalian berdua. Tapi untuk berpisah aku juga tidak akan kuat, aku tidak bisa. Tolong, jangan memaksaku memilih salah satu, meninggalkan salah satu." Pak Satrio menengadahkan wajah beliau lama dalam hitungan menit. Berpaling dariku mengajak Tangguh bercengkrama dengan bahasanya sendiri walau Tangguh terlelap dalam dekapan beliau. Sesaat kemudian beliau berpaling lagi ke arahku, melangkah kearah ranjang membaringkan Tangguh perlahan di sebelahku.
" Dik Rin......, Kita bukan hanya aku atau kau. Kita...... Kita yang tidak saling memahami karena kita tidak seatap. Kita tidak pernah pacaran sebelumnya, tidak mengenal satu sama lain. Aku tidak bisa memahami cara yang kau inginkan untuk mencintaimu, memperhatikanmu, dan memperdulikanmu." Tutur Beliau lembut begitu pula tilikan netra beliau sangat lembut dan berluap - luap tumpuan. Agar aku berkenan sepandangan dengan beliau. Bukan hanya aku atau beliau yang salah, tapi kami berdua.
" Kau juga tidak pernah tahu caraku mencintaimu, pengorbananku sampai aku disini menemanimu," Netra Beliau berpendar karena air mata yang tergenang memenuhi permukaan netra Beliau.
" Aku pun sama sepertimu, berangan - angan. Sepulang kerja aku membawakanmu sebungkus nasi goreng karena permintaanmu. Dan kau makan dengan lahap karena senang, aku membawakan pesananmu."
" Aku juga sama sepertimu, berkeinginan kita tidak saling merindu seperti ini. Kita bersama dalam satu rumah yang sama, di kamar yang sama, di satu ranjang sama tidak terpisah seperti ini. "
" Aku juga sama menanggung rindu berlebih - lebih dan tak sanggup menahan hingga bertanya kabar padamu. Jika aku tidak meneleponmu atau kirim kabar karena aku juga berharap, kau merindukan aku. Pernahkah kau berkata kalau kau merindukan aku ? Tidak pernah dik Rin. Kau hanya memberi kabar kalau kau menyesal menikah denganku dan permintaan bercerai saja."
__ADS_1
Sekarang aku yang tidak kuat dengan deskripsi duka Beliau padaku. Bagai Burung yang terkoyak - koyak dan patah sayapnya karena bertarung mempertahankan anak - anaknya dari serangan - serangan burung predator. Bagaikan harimau yang terluka dan tersayat cakar harimau lain karena pertarungan hebat kekuasaan. Begitulah gambaranku tentang Beliau saat ini. Apakah aku sekejam itu pada beliau ? Apa aku setega itu pada beliau ? Itu bukan aku, aku yang tertindas dalam kisah asrama ini. Aku yang terdorong keluar area dalam kisah ini. Kenapa Pak Satrio juga merasa yang terhimpit ? Kenapa Beliau merasa kalau Beliau juga menderita karena aku ?
Wajah gagah beliau berganti muram. Menuntun tubuhku untuk duduk bersandar di sandaran ranjang. Menenggelamkan wajah beliau dalam dadaku. Tersedu dalam tangisan tak bersuara, Isakan yang tertahan membuat tubuh beliau bergetar.
" Kau dan aku terpaut enam belas tahun, tapi ijinkan aku dipeluk olehmu sebagai penenang hatiku. Ijinkan aku beberapa saat menjadi kanak - kanak kembali yang mengadu sedih pada ibunya. Tolong peluk aku...... peluk aku...... peluk aku dengan hangat, sebagai orang yang ingin bersandar. Aku juga letih dengan semua yang terjadi." Tangan beliau memeluk pinggangku sangat kuat. Aku menangis seperti beliau.....Ku gapai beliau dalam rengkuhanku. menopang di atas ( maaf ) kepala beliau, membelai rambut beliau dengan curahan kasih yang dalam.
" Apa kau tak kan pernah meninggalkan aku ?" tanya Beliau dengan suara parau menyayat.
" Apa kau tak kan pernah meninggalkan aku ?" ulang beliau memelas mengulang kata permohonannya padaku.
" Berjanjilah apapun yang terjadi kau tak kan pernah berpaling dan meninggalkan aku ! "
" Berjanjilah.........," pinta beliau. Bajuku basah karena air mata Beliau yang tertumpah tak berarah.
Aku menangis. Sepilu inikah dalam hati beliau ? seluka inikah dalam hati beliau ? Beliau menerjang kharisma yang beliau miliki hanya untuk menangis dan memohon. seiba inikah suamiku yang aku sendiri tidak pernah yakin bisa memiliki Beliau karena perbedaan yang tergaris jelas. Kami dari latar belakang keluarga yang berbeda, kelas yang berbeda dan aturan - aturan yang berbeda. Benarkah semua yang beliau ceritakan ? Bukan sebuah sandiwara kah lakon beliau hari ini. Tapi sedu sedan Beliau, tatapan netra Beliau, tumpahan air mata Beliau, semua......semua....begitu nyata di depanku.
Bersambung.......
Terima kasih sudah mampir membaca novel saya. Jangan lupa tinggalkan like dan komentar.
__ADS_1