Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 26


__ADS_3

Selamat membaca..............


Sebelum membaca atau selesai membaca tolong tinggalkan jejak dengan like nya ya...............


Hari yang aku nantikan datang juga. banyak yang berkata hari pernikahan adalah hari dimana kita membuka lembaran baru dengan orang yang bukan sedarah dengan kita tapi dipertemukan dalam suatu ikatan.


Seperti wanita lain pada umumnya, demikian juga aku. Mulai semalam aku tidak bisa tidur, banyak yang aku pikirkan. Bagaimana masa depanku nanti yang akan aku jalani dengan pak Satrio? Apalagi mengingat apa yang di sampaikan dengan mas Ravi. Mau tidak mau, tetap masuk dalam saraf saraf otakku. ku abaikan dan tidak ku hiraukan tetap menjadi sebuah bahan dasar untuk aku melangkah dengan Pak Satrio. Tetap menjadi sebuah problem yang aku pikirkan dalam sadar maupun tak sadarku.


Pagi ini jantungku berdetak antara senang dan sedih. Beberapa jam ke depan aku akan menjadi istri dari laki - laki yang tidak aku cintai. Mataku terpejam saat MUA mendandaniku, bukan pak Satrio yang ada dalam pelupuk mataku. Seakan enggan mataku melukis wajah pria dewasa yang sudah matang itu. Wajah tenang Henry yang tersenyum manis tergambar jelas, seakan ada di depanku. Dia berdiri menatapku dengan baju biru muda bergaris putih kesukaannya. Tak terasa air mataku jatuh seiring dengan ku ingat kembali bagaimana Henry memelukku dan berkata lirih.


" Jangan sakiti aku seperti ini mbak."


Kami saling memeluk dengan perasaan yang enggan untuk melepas. Saling menangis karena tidak bisa melawan takdir. sesekali Henry mengusap air mataku dengan pipinya. Bibirku bergetar menyebut sebuah nama, begitu dalam aku panggil namanya. Aku memanggilnya juga dengan luka yang mungkin tidak sebesar dengannya, yang mungkin tidak sedalam sakitnya....................


" Henryyyyyyyyyyyy"


Sedalam apa goresan yang aku tancapkan padamu ?


Sebesar apa luka yang aku berikan padamu ?


" Maaf.............mudah - mudahan kau mendapatkan yang lebih baik dariku,"


Kembali air mataku jatuh walau sudah aku tahan. Pelupuk mataku penuh dan tak mampu membendung lagi.


" Mbk Arin jangan nangis.....nanti riasannya jadi rusak ! " Perintah Mbak Santi perias pengantinku sambil mengoleskan kembali maskara di mataku.


" Maaf mbak......"

__ADS_1


Bukan hanya karena Henry yang membuat aku menangis, tapi juga karena aku teringat ibuku. Aku sudah bisa mewujudkan keinginan beliau, menikah. Aku yakin ibu juga merasakan apa yang aku rasakan. Sedih, senang, bahagia, terharu menjadi satu. Bagaimanapun aku tetap mendamba suatu pernikahan. Sisi hatiku yang lain aku berharap pernikahanku berjalan lancar dan akan berbahagia dengan pak Satrio, walau didalam ada rongga kecil di hatiku. Aku juga tidak yakin dengan langkah yang aku ambil dan sisi lain hatiku, aku tetap memiliki perasaan pada Henry yang aku simpan dengan rapi.


Ucapan ijab kabul pak Satrio yang tegas dan hanya dalam satu tarikan nafas membuat semua saksi berkata sah pada kami. Tersenyum berwibawa beliau memandangku yang sedang menangis tersedu. ku terima mahar uang dua ratus ribu rupiah yang dirangkai dan dibingkai indah darinya. Mencium puncak kepalaku dengan sangat lama dan berkata lirih


" Terima kasih sudah mau menjadi istriku,"


Membuat aku merasa ada sesuatu yang menyelinap dengan indah di hatiku yang gundah untuk beberapa waktu yang lalu. kucium punggung tangan beliau, aku berusaha tersenyum dengan tangisku. Aku sangat terharu dengan apa yang aku alami, menikah beginilah rasanya membuncah di hati. Memberikan ledakan - ledakan kecil seperti kembang api di tahun baru.


Aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan pak Satrio setelah menikah, aku ikut pak Satrio ke kota asalnya berusaha menjadi istri yang baik untuk beliau. Niat aku mundur dari pekerjaanku memang belum aku ajukan pada keluarga Henry tapi sudah aku persiapkan. Rencanaku selepas cuti aku mengajukannya.


Acara pernikahanku sangat sederhana. Tamu dari pihak keluarga pak Satrio hanya kedua orang tua Pak Satrio dan keluarga Dita serta om Rudi dan istrinya yang menemani Pak Satrio datang ke rumahku. Anak - anak pak Satrio tidak ikut hadir dalam acara pernikahan ini. Pak Satrio bercerita tadi malam melalui sambungan telepon meminta maaf kalau Adrian dan Adry putranya tidak bisa ikut hadir karena Adrian harus mengurusi bisnis menggantikan dirinya dan sedang mengadakan bergaining dengan pengusaha dagang lainnya. Sementara Adry ada acara di sekolahnya dimana dia tidak bisa meninggalkan acara tersebut karena jabatannya sebagai ketua OSIS. Aku hanya mengiyakan saja apa yang pak Satrio sampaikan.


Tidak ada acara lagi setelah ijab kabul ini. Aku melepas riasan ku tepat sebelum sholat dhuhur. Pak Satrio masih asik berbincang dengan bapak dan ipar - iparku. Aku mengemasi beberapa pakaianku karena menjelang sore Pak Satrio menginginkan langsung pulang ke kota asalnya. Selama cuti menikah satu Minggu aku dan beliau sudah sepakat akan menghabiskannya di kota asal beliau. Karena pak Satrio tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, jadi aku yang mengalah mengikuti beliau. Toh bagaimanapun aku juga akan ikut beliau. Aku juga ingin bertemu dengan kedua putra pak Satrio Adrian dan Adry. Menurut cerita pak Satrio Adrian adalah putra pertamanya berumur dua puluh tahun yang sekarang sedang kuliah dan membantu bisnisnya sedangkan putra keduanya yang masih duduk di bangku SMA. aku hanya melihat wajah kedua putra pak Satrio dari foto yang beliau tunjukkan padaku.


Aku mengikuti saran pak Satrio untuk menyapa dan mengirimkan pesan Wastapp pada Adrian dan Adry.


( Assalamualaikum.


Saya ibu Arin mudah - mudahan kita bisa menjadi keluarga. Sudah makan siang ? )


Aku ketik dan aku kirim pada keduanya. beberapa saat ada notif masuk dari Adry


Adry


( Waalaikumsalam......


Halo istri papa yang baru ya?

__ADS_1


waaah cantik juga kalau jadi mama muda.


Baik - baik jadi ibu tiri ya....tuh di contoh Ashanty baik banget sama anak Anang.)


Aku sangat terkejut dengan balasannya yang menurutku sangat jujur dan blak - blakan. Aku bisa memahaminya mungkin sulit baginya menerima keadaan orang tuanya yang tidak harmonis. Perceraian dan pernikahan yang berlangsung secara bertubi - tubi dalam waktu yang tidak lebih dari satu tahun. Surat cerai Pak Satrio baru turun bulan September dan beliau menikah lagi di bulan Desember.


tetapi walau aku memahaminya tetap ada rasa takut dihatiku........ada pesaraan yang sulit aku jelaskan. Akankah aku diterima sebagai ibu baru bagi mereka ? Sedangkan kami tidak mengenal sebelum pernikahan.


Aku coba mengabaikan balasan pesan Wastapp dari Adry dan menunggu jawaban pesan dari Adryan putra sulung pak Satrio. tidak ada jawaban dari Adryan.


" Sudah sore. Ayo kita berangkat ! Besuk pagi aku sudah harus kerja," Pak Satrio membangunkan aku yang tanpa terasa aku terlelap karena kecapekan.


" Iya bapak.....maaf saya tertidur......"


" Kok panggil bapak....."


" Iya mas......maaf"


Aku berpamitan pada bapak dan saudara - saudariku. Ada tangis dalam perpisahan sementara ini. Aku memeluk Jhoji sangat lama.


" Tante seminggu saja kok,"


dan dibalas anggukan tangis oleh Jhoji.


" Nanti Tante bawa oleh - oleh."


bersambung...................

__ADS_1


__ADS_2