
Pembaca novelku...............
Setelah membaca tolong tinggalkan jejak dengan like untuk mendukung outhor agar lebih bersemangat.....
Terima kasih banyak...........
Selamat membaca..,...............
Mas Ravi masih duduk manis menungguku walau sudah dua jam berlalu saat aku bilang bersedia untuk menemuinya di cafe yang biasa kami bertemu. Tadi aku sudah bilang tidak bisa keluar karena besuk aku menikah. Dengan berbagai macam cara akhirnya berhasil juga mas Ravi mengajak aku bertemu dengannya. Apalagi kalau bukan suatu ancaman yang diberikan padaku. mas Ravi mengancam akan merusak acara akad nikahku dengan pak Satrio.
Kenapa hidupku jadi rumit seperti ini ? Aku tidak bisa membayangkan kalau menjadi perempuan cantik atau perempuan yang memiliki lebih dari satu pacar. wiiiiih kalang kabutnya bagaimana ? Seperti ini saja jantungku harus terapi terus karena kemarin aku sudah habis - habisan dengan Henry, sekarang dengan Mas Ravi. sebenarnya dengan mas Ravi, aku tidak memiliki hubungan lagi. aku juga tidak tahu kenapa mas Ravi masih terusik dengan rencana pernikahanku dengan Pak Satrio. kalau aku tidak mempunyai perasaan dengan Mas Ravi aku bohong bagaimanapun aku pernah menjalin hubungan selama tujuh tahun. Tapi sekarang semua sudah berlalu. Aku ingin bangkit dari keterpurukan yang sempat aku alami. Hidupku sudah sangat indah dengan hari - hari yang aku lalui dengan Henry, walau pada akhirnya aku juga memilih meninggalkan Henry dan akan menikah dengan laki - laki lain yang jauh lebih dewasa dan lebih matang secara usia.
Mas Ravi berwajah seperti orang Indonesia pada umumnya manis dengan kulit khas Asia. eksotik tidak terlalu hitam dan juga tidak terlalu putih. Dulu dia adalah laki - laki yang paling aku puja, tapi kandas begitu dia menikahi perempuan lain.
Duduk tegap dengan kaki disilangkan ke kiri menggunakan kaos polo berwarna merah maron dan celana jeans hitam kesukaannya membuat mas Ravi tampak segar. Kaos ketatnya semakin membuat dia sangat gagah. kalau aku gambarkan demikian bukan berarti aku masih mencintainya, tidak. Aku hanya menggambarkan sebernanya dia juga sosok pria yang spesial dari segi fisik. Jujur mas Ravi punya kepribadian yang hangat dan benar - benar seperti orang Jawa pada umumnya selalu sabar dan selalu menerima apa yang dia punya dengan lapang dada.
Ketika mas Ravi bercerita kalau dinikahkan secara paksa karena keadaan sejujurnya disisi lain hatiku bisa mengerti keadaan mas Ravi. Dia selalu mau berkorban untuk ibunya, untuk keluarga yang dia cintai.
Senyumannya mengembang berbinar seperti senja berwarna kuning keemasan ketika aku datang. Tidak tampak kesedihan di wajah manisnya. Jika orang lain melihat tentu akan takjup dengan wajahnya. Melihat mas Ravi orang akan berkata " Tampan tak selalu dengan berkulit putih. " Aku duduk setelah mas Ravi mempersilahkan.
" Aku sudah pesankan capjay dan jus alpukat untukmu Rin......."
" Emmmm. Terima kasih banyak," jawabku sambil menganggukkan kepala.
" Rin.........Apa keputusanmu menikah sudah kau pikir dengan benar ?"
Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Tidak percaya saja mas Ravi sangat tenang karena selama perjalanan ke cafe ini aku sangat ketakutan dengan pikiranku sendiri. Takut mas Ravi berbuat yang tidak baik. Takut mas Ravi melakukan hal konyol seperti pertemuan terakhir denganku.
" Rin...........jawab aku ! "
" Aku sudah putuskan mas, tidak mungkin aku mundur."
" Rin..........Apa kamu yakin dia menikahimu karena Cinta ?'
" Apa lagi yang mas Ravi mau........? Mas sudah menggantungku selama tujuh tahun. Mas sudah mencampakkan aku. Apa mas, masih belum puas melihat aku terpuruk ?"
" Aku kenal dengan calon suamimu, istrinya adalah temanku......."
__ADS_1
" Oya........"
Hanya anggukan yang aku terima dari mas Ravi. Aku mengerutkan keningku, tidak tahu apa yang ada dalam hati mas Ravi. Aku memandang mas Ravi tanpa berkedip mencoba masuk dalam netra coklat jernih milik mas Ravi. Dulu ketika aku menatap netra ini, hatiku merasa sejuk seperti melihat embun di daun ketika pagi hari, tapi sekarang kenapa tidak ada perasaan itu lagi.....hanya ada rasa kecewa......sakit........dendam........kecewa......sakit......dendam begitu berulang - ulang. Sesaat aku tersadar karena menatap mas Ravi dengan intens. Aku menunduk mengalihkan pandangan pada jus alpukat di depanku. Mas Ravi tersenyum penuh makna menyadari aku memandanginya tanpa berkedip.
" Nama mantan Istrinya Asri usianya sama denganku sekitar tiga puluh tujuh tahun"
" Terus apa hubungannya denganku mas ?"
" Jelas ada......Rin......"
" Sudahlah mas. Tolong..........kalau mas ingin bertemu denganku hanya untuk mencegah aku menikah dengan Pak Satrio"
ku hentikan sejenak kalimatku untuk mengambil nafas karena tiba - tiba ada perasaan yang memburu di hatiku.
" Itu tidak akan pernah terjadi..........Aku sudah mantap menikah dengan beliau dan tolong, mas jangan ganggu lagi hidupku."
" Rin.......aku kasian denganmu.....Kamu masih punya kesempatan untuk membatalkan acara besuk. Calon suamimu itu seminggu yang lalu masih menginap di rumah Asri. Masih pergi bersama di akhir pekan."
Aku gemetar mendengar kalimat - kalimat yang keluar dari bibir mas Ravi. Tidak........aku tidak akan percaya apa yang mas Ravi katakan. Aku yakin mas Ravi hanya memprovokasi agar aku tidak menikah besuk dengan Pak Satrio.
" Mas Ravi.......jaga bicara mas ! Aku tidak suka mas bicara tidak sopan tentang Pak Satrio."
" Rin.........aku bicara seperti ini karena aku mencintaimu."
" ya............... karena mas masih mencintai aku hingga tidak ingin aku menikah dengan siapapun dan mas Ravi dengan leluasa bisa mempermainkan aku sesuka mas."
" Rin.........aku tidak seperti itu. Kalau aku...........menikah hanya untuk sementara selama Hanin hamil ".
" Selama Hanin hamil...... sebentar lagi dia juga akan hamil anak mas Ravi......"
" Rin............kau....."
" Aku tidak yakin mas tidak melakukannya."
" Rin.....hal seperti itu tidak perlu dibahas. Itu lain, itu kewajiban."
" Kewajiban yang mas suka ?"
__ADS_1
" Rin.........kalau kau mau juga, kita bisa melakukannya. Kita saling mencintai."
" Stop jangan dibahas lagi. Lakukan saja dengan istri mas, jangan denganku ! "
" Kau yang mulai dulu. selalu membahas masalah itu denganku,"
" Karena aku ingin mas sadar, mas juga menyukai istri mas."
" Sudahlah Rin...... sekarang yang terpenting masalahmu bukan masalahku........"
" Mas........aku tidak punya masalah apapun. Apa mas Ravi tidak bisa lihat. Aku bahagia mas. Aku bahagia ada pria yang mau menikah denganku setelah aku dicampakkan mas,"
" Rin.......menikahlah karena saling mencintai bukan karena sakit hati atau karena usiamu."
" Mas Ravi tahu apa soal sakit hati ?"
" Sekarang aku tahu .......Rin.......sakit sekali......."
Intonasi yang melemah dari mas Ravi membuat aku menatap iba padanya. Apakah mas Ravi sekarang juga merasakan apa yang aku rasakan dulu ? Aku sampai hilang kendali. Kalau bukan karena ukuran tangan dari Henry tidak mungkin aku sekuat sekarang. Tidak mungkin aku bisa bisa duduk dengan wajah menghadap ke depan bertatap muka dengan Mas Ravi.
" Rin........ aku minta tolong bersabarlah. Sedikit waktu lagi aku akan bercerai dengan Hanin Kandungan Hanin sudah hampir tujuh bulan,"
Aku hanya tersenyum dengan mata dan wajah tidak melihat kearah mas Ravi. Sangat enggan aku mendengar kalimat yang terus menerus mas Ravi katakan.
"Maaf mas.....aku pulang.......Aku ingin tenang. besuk aku menikah, tolong mas ! Aku juga ingin bahagia walau bukan dengan mas Ravi,"
Aku berdiri dan melangkah pergi meninggalkan mas Ravi yang masih duduk dengan segala permasalahannya dan pikirannya. Di sisi lain aku juga membawa buah permasalahan baru. Benarkah apa yang dikatakan mas Ravi tadi tentang pak Satrio dan mantan istrinya ? Haruskah aku percaya ? Tapi mas Ravi bukan tipe laki - laki yang suka berbohong. Laki - laki yang suka ikut campur masalah orang.
Ibu ........tolong hadirlah dalam tidur anak gadismu ini.......aku kangen ibu......peluk aku ibu.
Ini visual mas Ravi. lagi - lagi menurut kaca mata author yang cocok jadi Ravi. Aktor dan presenter Temy Rahadi......
Salam untuk orang tersayang yang ada disebelah pembaca.
__ADS_1