Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 73


__ADS_3

Aku berjalan akan melalui beliau, hendak ke rumah ibu mertuaku. Tangan beliau mendorong kasar agar aku tidak melangkah lagi.


" Apa kau tidak merasa bersalah dan malu ? Kau muncul di depan suamimu seolah tidak terjadi apa - apa semalam. Kau benar - benar perempuan murahan ! "


" Saya tidak pernah selingkuh dari mas. Saya tidak pernah melakukan hal yang tidak bermoral selama saya menikah dengan mas,"


" Apa yang tadi malam tidak cukup kuat alasanku mengambil Tangguh dan Thavisa dari rumahmu ?"


" Mas salah paham.......," suaraku sudah habis di kerongkongan. Aku lelah menghadapi sikap angkuh dan tidak percaya beliau padaku.


" Sudah kukatakan, tidak aku ijinkan kau bertemu Tangguh dan Thavisa. Sekarang mungkin mereka masih dirumah ibu, sekali kau kesana besuk meraka sudah pindah tempat, kecuali kau meminta maaf dengan mencium kakiku,"


Aku tidak percaya dengan ucapan keras beliau. Hanya bergurau kan beliau mengatakan itu semua. Tapi bagaimana jika benar ? Jika beliau memang menginginkan aku memohon maaf dengan mencium kaki beliau ?


" Baiklah kalau mas menginginkan aku meminta maaf dengan mencium kaki mas.....Akan aku lakukan. Tolong aku ingin bertemu Tangguh dan Thavisa."


Hanya melakukan ini harapanku. Mudah-mudahan hati beliau tergerak untuk mengijinkan aku bertemu dengan Tangguh dan Thavisa. Aku hanya ingin kembali bersama dengan anak - anakku. Aku hendak berlutut sesuai dengan keinginan beliau. Kuturunkan badanku menghadap beliau yang berdiri gagah dan angkuh dihadapanku.

__ADS_1


Kedua tangan menyentuhku dan menuntunku untuk berdiri kembali. Aku menoleh, Adrian menghalangi aku melakukan keinginan Pak Satrio.


" Jangan lakukan. Kau masih punya harga diri, tidak serendah ini," suara Adrian lembut di belakangku. Kedua tangannya masih berada di pundakku. Aku menangis tak tertahan dengan tak bersuara tapi pilu yang teramat sakit di hatiku. Aku sungguh tidak menyangka hidupku serumit ini setelah menikah dengan beliau.


" Pa.....jangan membuat dia ( yang dimaksud Adrian " dia" adalah aku ) semakin membenci papa. Sudah cukup papa mengambil adik - adik tanpa ijin dia." Adrian berbicara dengan suara dingin pada Pak Satrio.


" Antar mamamu ke kamar," perintah Pak Satrio pada Adrian yang menuntunku ke kamar. Aku sangat letih dengan semua polemik ini. Kakiku lemah untuk melangkah. Langkah - langkah kakiku terhuyung tak beraturan mengikuti Adrian yang menuntunku.


" Kamar papa ! " Perintah Pak Satrio lagi pada Adrian yang tidak di jawab oleh Adrian.


" Adrian.......Aku ingin bertemu dengan Tangguh dan Thavisa. Aku ingin bersama mereka." ungkapku pada Adrian yang menuntunku ke kamar Pak Satrio.


Adrian membuka pintu kamar Pak Satrio. Kamar ini milik Pak Satrio dan Mbak Asri. Dulu aku pernah masuk sekali di kamar ini, untuk membuktikan kebenaran tentang cerita Bik Ina yang mengatakan kamar Pak Satrio masih seperti dulu ketika menikah dengan Mbak Asri. Foto, baju - baju dan semua milik Mbak Asri masih di tempatnya. Ranjang yang luas ukuran big size dengan warna dinding dan penataan sesuai keinginan Mbak Asri.


Aku melangkah masuk ke kamar ini, semua berubah. Tidak ada almari tas dan sepatu milik Mbak Asri, tidak ada meja rias penuh dengan alat make up Mbak Asri. Desain kamar yang diubah total sangat membuat kamar ini berbeda. Dulu ranjang tidur ini, memiliki tirai diatas yang bisa menutup ranjang dengan motif bunga senada dengan sprei dan bad cover. Warna cat dinding hijau muda terkesan pemiliknya adalah perempuan.


Sekarang semua berubah.....Kamar tidur tetap dengan ranjang ukuran big size tapi tanpa tirai. Sprei dan bad cover sekarang berwarna putih bersih. Desain kamar yang bernuansa putih dan emas membawa kesan berbeda. Diatas ranjang dinding berupa kayu yang dihiasi foto Pak Satrio dengan Adrian dan Adry tidak ada Mbak Asri. Foto besar mereka bertiga menggunakan tuxedo hitam, Pak Satrio duduk di kursi tinggi dengan tangan di masukkan ke saku, sementara Adrian dan Adry berdiri di samping beliau dengan gaya yang elegan dan berwibawa.

__ADS_1


Kemana Mbak Asri ? Bukankah belum genap setahun mereka, Pak Satrio dan Mbak Asri rujuk kembali. Aku ingin bertanya karena melihat keadaan kamar Pak Satrio yang berubah dan tidak menunjukkan keberadaan Mbak Asri di rumah ini. Tapi aku urungkan karena masalahku lebih penting dari semua ini. Lebih penting dari rasa penasaranku tentang Mbak Asri.


" Adrian.....aku mohon percaya padaku. Tidak terjadi apa - apa dengan aku dan Henry, walau aku bermalam di Villa Henry. " tuturku pada Adrian yang hendak keluar dari kamar.


" Sebaiknya kau selesaikan sendiri dengan papa. Aku tidak ingin ikut campur masalah itu," jawab Adrian. Adrian berpaling lagi kearahku. Mencium keningku dan tersenyum tipis.


" Aku tetap menghormatimu karena kau istri papa dan ibu dari adik - adikku," Adrian kemudian melangkah keluar kamar dan menutup pintu. Sesaat aku terdiam membiarkan Adrian berlalu agak berselang. Kemudian aku juga melangkah ingin keluar dari kamar ini. Aku ingin ke rumah Bu Elly, ibu mertuaku menemui anak - anakku Tangguh dan Thavisa. Aku memegang gagang pintu kamar ini hendak membukanya ternyata tidak bisa. Pintu ini sudah terkunci dari luar.


" Mas Satrio.....Adrian.....tolong buka pintunya saya ingin bertemu Tangguh dan Thavisa." Teriakku berulang kali, agar mereka mau membukakan pintu untukku.


" Tolong buka pintunya...... Mas Satrio, Thavisa butuh ASI ku. Tolong aku ingin bertemu mereka," Kembali aku berteriak dan menggedor - gedor pintu dengan keras.


Aku sudah berusaha keluar dari kamar ini tapi tidak bisa. Jendela yang diberi teralis besi minimalis menghalangiku untuk keluar. Jendela kamar tidak seperti dulu tanpa teralis. Kenapa sekarang berteralis besi seperti sekarang ? Tenagaku sudah habis berusaha mengkoyak besi jendela tapi tidak berhasil. Untuk beralasan membuang air kecil itu tidak mungkin, dikamar ini sudah ada kamar mandi lengkap dengan bathtubnya.


Sekarang aku hanya bisa duduk di tengah ranjang kamar ini. Bersendekap kaki dan memeluk diriku sendiri. Aku benar - benar putus asa, tapi tidak untuk bunuh diri. keinginanku untuk hidup dan berjuang semakin tinggi, semua karena anak - anakku. Aku harus tetap hidup dan sehat untuk anak - anakku. Semakin sulit aku berhubungan dengan dunia luar karena HP dan tasku tadi aku letakkan dimeja ketika aku duduk di dekat Pak Satrio. Kenapa kebodohanku selalu berulang ? Seandainya tas tetap ada di bahuku. Mungkin aku bisa menghubungi siapapun yang ada dalam kontak HP ku. Selama perjalanan kemari aku sama sekali tidak menghubungi Henry, karena aku tidak ingin keadaan semakin kacau.


Sekarang aku menangis sendiri di kamar ini. Aku benar - benar ingin bertemu dengan kedua anakku, Tangguh dan Thavisa.

__ADS_1


Bersambung.........


Tolong beri like dan komentar.


__ADS_2