Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 88


__ADS_3

Kami saling terjaga, karena suara notif Wastapp di Handphoneku berbunyi.


" Dari siapa pagi buta seperti ini," tanya Pak Satrio padaku.


" Apa dari keluargamu ? " sambung beliau bertanya lagi.


Ku raih HP dan membukanya.....Dari Mbak Asri. mengirim foto padaku. Posisi tidur kami, Pak Satrio memelukku dari belakang. memungkinkan Pak Satrio melihat pesan Mbak Asri spontan mengambil handphone yang ku pegang.


" Ini tidak benar, foto ini diambil sebelum aku menjatuhkan talak, sebelum surat cerai turun. Ini tidak benar, kalau dia menulis tadi malam aku kerumahnya. " tandas Pak Satrio padaku.


Foto Pak Satrio dan Mbak Asri ( maaf ) bertelanjang dada. Mereka tersenyum bahagia. Pak Satrio sedang memeluk Mbak Asri dengan mesra dari belakang sama persis seperti posisiku sekarang dengan Pak Satrio. Pak Satrio bergegas duduk dari pembaringan dan terbelalak membaca semua pesan Wastapp yang Mbak Asri tulis untukku. Termasuk pesan tadi sore yang membuat aku semakin merasa tidak terima,"


Mbak Asri


( Apa kau sangat ingin dipeluk dan dicumbu seorang pria sampai suami orang yang kau rebut ? Owh tentu usiamu sudah terlalu tua untuk mendapatkan seorang perjaka jadi yang kau kejar suami orang. )


" Percayalah padaku.....ini tidak benar. Aku sudah berjanji padamu demi keluarga kita. Aku tidak akan berurusan lagi dengan Asri.


Pak Satrio berkata dengan meyakinkan aku. Aku yang sudah terlanjur emosi menolak sentuhan tangan beliau yang ingin memelukku.


" Percayalah.....Demi Tangguh dan Thavisa. Aku tidak akan mempermainkanmu, aku tidak berbohong padamu."


Plaaaaakkkkk........ plaaaaakkkkk dua tamparan tanganku tiba - tiba melayang begitu saja tanpa aku sadari di kedua pipi Pak Satrio. Pak Satrio memandangiku dengan wajah kalut. Tak ada perlawanan atau gerakan akan membalas tamparanku hanya terdiam seolah tidak percaya aku mampu melakukan tamparan tersebut.


" Ya....lakukanlah kalau itu membuat kau lega. Tapi percayalah.......Sungguh aku tidak pernah punya niatan mengkhianati pernikahan kita. Aku sudah berjanji padamu. Akan aku buktikan, besuk kalau perlu sekarang ku bawa Asri di hadapanmu agar clear semuanya," " Pak Satrio bergegas berdiri dan bertukar pakaian. Aku hanya terdiam kembali merebahkan diriku,tidak perduli apa yang dilakuan Pak Satrio.


" Siapa yang ditampar......cepat buka pintunya," teriakan Bu Elly sambil mengetuk pintu kamar dengan kuat.

__ADS_1


Pak Satrio membuka pintu kamar.


" Kenapa.....siapa yang di tampar dengan keras ? tanya Bu Elly pada kami. Kami saling terdiam tidak menjawab pertanyaan Bu Elly. Tapi jejak tamparanku tidak bisa disembunyikan. Wajah Pak Satrio yang putih kemerahan terlihat jelas ada gambaran tanganku di sana.


" Rin.......apa yang kau lakukan pada anakku.......Aku saja tidak pernah melakukannya pada Satrio," Bu Elly menjerit histeris memegang kedua pipi Pak Satrio, tak kuasa menahan tangis luruh, jatuh dan duduk bersimpuh sambil terus meratapi anak semata wayangnya yang mengalami kekerasan fisik. Setidaknya begitulah dari sudut pandang Bu Elly. Pak Hardian mencoba menenangkan Bu Elly.


" Tega kau Rin...... Satrio saja diam, mengetahui kau bermalam di rumah pria lain. Kenapa kau menamparnya ? Apa salah Satrio ? Suara tangis Bu Elly semakin kencang menderu - deru.


" Dik Arin tidak percaya padaku karena foto ini ma.....," Pak Satrio menunjukkan foto di handphone ku pada Bu Elly.


" Ini dari siapa ? Dari Asri ? Dan kau mau kemana dengan baju seperi ini di jam dua dini hari seperti ini ? Kau mau ke rumah Asri ?" tanya beruntun Bu Elly pada Pak Satrio.


" Iyaa ma akan ku buktikan ini tidak benar, tadi malam aku tidak ke rumahnya. "


" Tidak.... biar mama yang ke rumah Asri jangan sampai kau ke sana. Besar kepala dia kalau kau datang. Sudahlah kembali tidur......besuk mama yang akan menyelesaikan ! Perintah Bu Elly pada kami.


........


" Seorang pencuri tidak akan mengaku kalau dia pencuri. Kalau banyak yang mengaku, tentu polisi tidak repot mencari pencuri." ucapku ketus pada Pak Satrio.


" Apa hubungannya aku dengan pencuri ? tanya Pak Satrio kebingungan.


" Apa seharian ini Asri mengganggumu dengan pesan - pesannya ?" tanya Pak Satrio melunak


" Kau pasti sangat marah dan emosi melalui harimu ? "


Tidak ku jawab.....aku selimuti diriku dengan bad cover dan berpaling dari Pak Satrio. Sungguh aku masih kecewa pada Pak Satrio terlepas dari benar tidaknya foto tersebut. Tapi aku sudah terbakar cemburu melihat foto mesra mereka. Entah kenapa aku tidak menangis, mungkin sudah terlatih untuk tidak berharap dari Pak Satrio walau sekarang hubungan kami sudah membaik.

__ADS_1


Pak Satrio mendekatkan diri dan merapat. Tangan Pak Satrio kembali memelukku.


" Jangan pernah menjauh, Apa kau tidak kasihan padaku. Aku benar-benar berharap pernikahanku denganmu adalah yang terakhir untuk selamanya," Aku membiarkan Pak Satrio berbincang sendiri tanpa aku tanggapi.


" Sungguh tidak ada wanita lain dalam hidupku, selain istriku saja. Semula memang Asri yang mengisi dan sekarang kau Dik Rin. Aku tidak memiliki wanita lain, baik untuk bersenda mengisi kekosongan atau serius dalam hubungan diluar pernikahan. Sudah kukatakan bagiku pernikahan adalah sakral."


..............


" Satrio ! jangan sekali - sekali kau ke rumah Asri akan jadi masalah kalau kau kesana, Biar mama yang kesana untuk masalah tadi malam ! perintah Bu Elly dengan tegas ketika kami sarapan bersama pagi ini.


" Ma.....Arin, ingin keluar jalan - jalan dengan Tangguh pagi ini," ijinku pada Bu Elly. Aku sengaja tidak berbicara dengan Pak Satrio karena masih merasa ahhh.....aku tidak tahu aku cemburu atau kecewa.


" Kau mau kemana Dik Rin ? tanya Pak Satrio berusaha memecah perang dingin diantara kami.


" Saya ingin keluar dengan Tangguh, saya ingin merayakan ulang tahun Tangguh walau sudah terlewat beberapa hari." jawabku melihat Bu Elly tanpa menoleh pada Pak Satrio.


Pak Satrio terkejut mendengar alasanku ingin keluar dengan Tangguh.


" Ya Tuhan ayah macam apa aku ini, yang lupa dengan tanggal lahir anakku sendiri. Tangguh dan Thavisa terpaut sebelas bulan, sekarang Thavisa sudah dua bulan lebih," Seru Pak Satrio memperolok diri sendiri.


" Itu karena Mas tidak menemani saya ketika melahirkan," jawabku dengan berani walau di depanku juga ada Bu Elly dan Pak Hardian. Mereka semua, Pak Satrio, Pak Hardian dan Bu Elly tersentak dengan apa yang aku ucapkan.


" Dik Rin tolong, jangan kau ungkit lagi kesalahanku. Kita sudah sepakat membuka lembaran baru, memaafkan semua kesalahan kita di masa lalu. " Ucap Pak Satrio merendah dengan nada yang benar - benar halus. Suara yang berintonasi datar seolah hanya pembicaraan biasa bukan sebuah pertengkaran.


" Nak Arin......tidak baik mengungkit yang sudah - sudah. Rumah tangga kalian akan selalu terbebani salah dimasa lalu, dan kalian sulit untuk menjadi bahagia. " Pak Hardian membuka suara memberi nasehat beliau padaku.


Aku tertunduk salah bertingkah dan berucap. bukankah ini di keluarga Pak Satrio ? Dan aku berjuang sendiri. Tentu semua membela Pak Satrio bukan aku.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2