
Aku kemasi barang - barangku karena waktu sudah menunjukkan pukul empat sore sudah waktunya untuk pulang. Dita sudah duduk manis dengan make up yang baru saja di poles ulang karena akan di jemput Rian pacarnya. Aku memang tidak pernah cerita apapun permasalahanku dengan Pak Satrio. Selama ini Dita menganggap aku baik - baik saja dengan beliau. Aku pendam sendiri. Aku tidak mau Dita merasa bersalah dengan apa yang aku alami. Terutama kejadian dua bulan yang lalu yang membuat aku harus pulang terburu - buru. yaaaaah...........tidak terasa bulan ini memasuki bulan keempat pernikahanku dengan pak Satrio. Tapi jangan ditanya soal nafkah lahir batin. Aku belum melakukan aktivitas suami istri dengan beliau. Hanya ciuman yang beliau berikan tidak lebih. Soal nafkah lahir, sampai detik ini aku makan dari gajiku sendiri. Tidak sepeser uang pun yang aku terima dari beliau. Hanya satu juta dulu diawal kami menikah Itupun untuk keperluan acara pernikahan.
" Mbak say.......aku pulang dulu ya. Rian sudah datang"
" Aku juga mau pulang. Ngantuk......"
jawabku berjalan bersama Dita menuju tempat parkir sepeda motor. Aku melajukan dengan kecepatan sedang dan masih mampir ke pasar sore membeli sayur untuk keperluan besuk. Rumahku memang dekat dengan pasar induk pukul satu siang para penjual sayur sudah berdatangan untuk pendistribusian sayuran dan lauk pauk. Aku ingin masak tumis tongkol kemangi kesukaanku dan kesukaan Henry laki - laki yang aku cintai. Kembali aku melajukan motor matic ku menuju rumah.
Aku memarkir motor dan masuk rumah. Jhoji sudah tampan dengan rambutnya yang basah tersisir rapi. Bocah kecil kelas lima SD ini sudah duduk bersila melihat film kesukaannya.
" Te.......ada om Satrio di kamar,"
sapanya melihatku dan menunjukkan tangan ke arah kamarku. Aku membelalakkan mataku tidak percaya apa yang dikatakan Jhoji bergegas aku menuju kamar setelah meletakkan bahan di kulkas. Aku membuka pintu. Ya benar pak Satrio tertidur pulas di tempat tidurku.
" Kapan datang ? " tanyaku begitu Pak Satrio mengetahui kedatanganku
" Tadi jam tiga," Netra beliau tetap terpejam ketika menjawab pertanyaanku.
aaaaahhhh aku baru ingat. Kenapa tadi aku tidak sadar ada mobil hitam milik pak Satrio terparkir di seberang jalan. Aku membiarkan beliau tidur dengan pulas nya. Mungkin kecapekan karena harus menyetir sendiri dengan perjalanan selama lima jam dari kota asalnya.
Setelah memasak untuk makan malam aku mandi dan bertukar pakaian. Menghadap kaca di kamarku. Pak Satrio bangun dan langsung memelukku.
" Maaf untuk kejadian itu"
" Apa dik Rin bisa mengerti aku ?"
" Kenapa semua nomor keluarga di blokir ?"
" Maaf mas, saya tidak bisa memaafkan perbuatan mas,"
" Saya sangat terluka. Saya sangat malu pada diri saya sendiri,"
" Ibu sering bertanya dik Rin, kenapa tidak datang sudah dua bulan lebih,"
" Apalagi waktu itu dik Rin tidak pamit ke bapak dan ibu kalau pulang."
" Mas tahu betul kenapa aku tidak pamit"
" Maaf, aku benar - benar khilaf tidak bisa menahan keinginanku,"
" Bukan khilaf kalau saling mencintai, "
" Apalagi mas dan mbk Arin memang suami istri"
" tidak seharusnya aku melakukan hari itu"
" maaf"
" Saya tidak bisa mas. Maaf........"
" Aku ingin kita seatap dik. Seperti keinginan ibu"
__ADS_1
" Maaf............Saya benar - benar tidak bisa memenuhi keinginan ibu"
" Kasian ibu dik. Beliau sudah lanjut. Aku ingin memberikan kebahagiaan di hari - hari senja beliau"
" Apa dik Arin tidak kasian ibu ?"
" Ya saya kasian, Tapi saya lebih mengasihani diri saya sendiri.
" Sedikit berbelas kasihlah dengan melihat ibu. Kalau dik Rin tidak mau melihatku"
" Saya benar - benar tidak bisa mas. Sungguh........"
" Saya tidak bisa seatap dengan mas"
Apa pak Satrio tidak pernah tahu alasanku menolak keinginan beliau ? Jika permintaan beliau atas dasar dirinya mencintaiku. Aku akan dengan suka rela meninggalkan semua yang ada di sini. ikut beliau menjadi istri yang baik. Tapi ini.......hanya untuk memenuhi keinginan ibunya. Bukan aku tidak ingin berbakti pada mertuaku. Tapi aku takut dan sangat takut dengan apa yang akan aku alami. Aku yakin bukan hanya sekali aku akan melihat, seperti kejadian dua bulan yang lalu. Aku tidak akan sanggup menanggung luka dan terhina seperti itu lagi.
" Jangan pernah berpikir untuk bercerai dariku,"
" Aku tidak akan melepas dik Rin sampai kapanpun,"
" Ibu sudah terlanjur menyayangi dik Rin sebagai menantunya,"
" Apa mas Satrio juga menganggap saya sebagai istri mas ?"
Pak Satrio terdiam tapi tetap memelukku. bahkan semakin erat.
" Apa mas mencintai aku ? "
Seperti gemuruh aku mendengar jawaban jujur beliau. Aku harus senang atau sedih dengan jawaban polos dari beliau. Tidak bisakah beliau berkata " sangat mencintaiku " walau cuma di bibir saja untuk membohongiku. Hanya sekedar membuat aku senang dan terharu. Jawaban itu bagai petir yang langsung menggelegar tanpa memberi cahaya dan kilat terlebih dahulu. Dalam hal ini ternyata kecepatan cahaya kalah oleh kecepatan bunyi dan suara.
" Sedikit .........?"
" Maaf aku belum bisa mencintai dik Arin sepenuhnya,"
" Tolong mengerti aku dik,"
" Aku dua puluh tahun lebih dengan Dik Asri"
" Sulit bagiku menerima perempuan lain untuk masuk ke hatiku"
Suara berat dan tertahan pak Satrio menggema di telingaku. Ada netra yang aku tatap di kaca ini sangat mengiba padaku. Seorang anak laki - laki yang menjadi harapan dan tumpuan ibundanya. Sedang berjuang untuk kebahagiaan bundanya. Seorang suami yang sangat mencintai istrinya sedang mempertahankan perasaan yang dia miliki. Tapi bukan kepadaku. Aku hanya dijadikan sebagai alat untuk harapan orang tuanya. aku hanya tameng untuk menutupi rasa cintanya pada wanita yang beliau cintai.
" Saya juga minta tolong mas"
" Kenapa mas melakukan semuanya pada saya ?"
Pak Satrio melepaskan pelukannya dan memutar badanku sehingga berhadapan dengannya.
" Apa dik Rin menyesal menikah denganku ?"
" Sangat.........Saya sangat menyesal menikah dengan mas,"
__ADS_1
" Saya cuma ingin dicintai mas.....,"
" Saya ingin punya suami yang baik mas......,"
" Kalau dik Rin ingin aku cintai. Kita harus satu atap"
" Sulit timbul perasaan cinta kalau kita saling berjauhan"
" Peluang ku sedikit untuk lebih mencintai Dik Arin"
" Yang ada aku semakin mencintai Dik Asri yang selalu berada di dekatku"
Mungkin benar yang dikatakan pak Satrio peluangku sedikit untuk dicintai karena kami tidak seatap. Kami juga tidak pernah berkomunikasi. Tapi tidak bolehkah aku sakit hati ? Diawal pernikahan saja. Aku sudah terlontar keluar dengan sendirinya dari area pak Satrio.
" Apa mas tidak tahu kenapa saya lebih memilih disini"
" Karena mas sangat mencintai mbak Asri"
" Karena ada tempat untuk mbak Asri "
" Karena itu kita harus satu rumah Dik. " tegas beliau padaku.
" Gak ........gak .......Aku gak sanggup mas,"
jawabku dengan menangis. Tidak kuat lagi aku dengan air mata yang sudah siap meluncur dari sudut pelupuk mataku.
" Dik Arin tahu konsekuensinya jika tidak mau hidup serumah denganku ?" Tanya beliau dengan tegas padaku.
" Saya tidak tahu,"
" Jangan pernah mengharap mendapat uang bulanan dariku,"
" Apa mas memberi aku uang selama ini ?"
" Apa dik Rin pernah mencuci dan menyetrika bajuku ?"
Kami sama - sama terdiam mencoba menelaah. Berusaha menjabarkan jawaban dari pertanyaan - pertanyaan yang tidak sengaja terlontar.
" Jangan pernah mengharapkan aku datang kesini kalau bukan aku yang ingin kesini sendiri,"
" Ya......"
" Jangan pernah meminta uang padaku meskipun dik Rin sangat butuh"
" Ya........"
" Jangan pernah meminta bantuan ku dalam bentuk apapun, "
" Ya........."
Tegas aku jawab semua......... semua pernyataan tidak masuk akal dari beliau. Aku bisa sendiri tanpa beliau. Aku bisa, aku yakin. Aku bisa tanpa beliau. Dulu lima bulan yang lalu hidupku baik - baik saja tanpa beliau menjadi suamiku.
__ADS_1
bersambung.......