Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 57


__ADS_3

Selamat membaca......Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.


Dita dan adikku datang hampir bersamaan. Mereka sibuk berusaha membuat aku ceria lagi. Berusaha agar aku kuat. Aku ikut tersenyum tatkala Dita berceloteh tentang Rian yang selalu cemburu karena Dita selalu tampak cantik dan ceria. Dita memang selalu terlihat cantik dengan make up yang natural. Semua yang Dita miliki sudah sempurna dari lahir, wajah yang mungil, mata yang hitam dan bulat, rambut ikal bergelombang. Wajar kalau Rian selalu cemburu. Benar kata pepatah, bumi ini terasa amat lama dan terlalu lama bagiku yang menderita dan cepat bagi yang bahagia seperti Dita. Mungkin seperti Pak Satrio sekarang. Kembali pikiranku melayang membayangkan bagaimana suasana rumah Pak Satrio sekarang. Pasti ada banyak bunga anyelir berwarna warni kesukaan Mbak Asri. Ketika aku dulu menginap dirumah Pak Satrio hampir setiap hari Bik Ina selalu membeli rangkaian bunga Anyelir dan polianthes tuberosa untuk diletakkan di kamar Pak Satrio.


," Bunga ini kesukaan Bu Asri," begitu jawaban bik Ina, ketika aku tertarik bertanya kenapa selalu membeli rangkaian bunga anyelir dan tidak berganti bunga. Seperti ada yang bergaris lurus tajam dihati ketika mendengar jawaban Bik Ina waktu itu. Aku tersenyum dan mempersilahkan Bik Ina melanjutkan pekerjaannya.


Ruangan kembali sepi ketika Dita dan adikku pulang. Di ruangan yang cukup luas ini ada tiga tempat tidur, hanya saja cuma aku yang berada disini. Suasana sepi inilah yang membuat aku semakin mengingat semua.....semua tentang Pak Satrio. Tak ada suara notif HP sepagi dan siang hari ini. Ternyata ......aku sangat mengharap beliau menghubungi aku, walau hanya sebuah kalimat walau hanya sebuah kata. Aku seperti seorang yang menantikan pelangi datang. Merindukan warna warninya yang begitu memikat, tapi sangat menderita karena hujan dan petir. Ternyata aku tidak sanggup dengan hujan, petir dan angin yang datang begitu lebat. Aku hanya merindukan pelangi, bukan hujan, bukan petir, bukan kilat. Aku tidak sanggup dengan proses terjadinya pelangi yang melewati hujan lebat ini. Tidak adakah cara lain selain air hujan yang mengalami pembiasan cahaya karena matahari ? Sungguh aku tidak sanggup dengan hujan ini. Aku sungguh menantikan beliau memberi kabar padaku walau hanya bertanya kabar tentang Tangguh. Haruskan aku yang menelepon beliau, mengatasnamakan Tangguh ? Aaaaahhhh kenapa sangat sakit tapi hati ini meronta ingin mengetahui kabar beliau ? Aku berharap beliau tetap ingat aku, walau hari ini adalah hari pernikahan beliau.


Aku tahu aku bukan yang beliau harapkan berada disamping beliau. Aku tahu langkahku tak bisa sejajar dengan beliau karena jangkauan langkah kita yang tidak sama. Aku tak bisa berjalan disisi beliau, tapi setidaknya kita melangkah dan berjalan dengan tujuan yang sama. Mencari kebahagian dalam rumah tangga. Tak bisakah langkah beliau, perlahan-lahan sedikit saja dari langkah yang biasa beliau langkahkan agar aku bisa melangkah berjalan disebelah Beliau. Aku lelah setengah berlari agar bisa berjalan disamping Beliau. Tapi.........jika kita bisa berjalan berarak beriringan, akankah perasaan kita sama ? Bukankah kita melangkah dengan rasa yang berbeda ? Sebelah menyebelah yang saling tak sama dalam rasa ? Aku hanya ingin berumah tangga seperti yang lain. Aku hanya ingin bersandar pada bahu beliau. Aku hanya mengharap beliau mengulurkan tangan beliau kala aku tertatih sendiri seperti ini.


Saat kukatupkan mata seperti ini, tak terasa air mataku berderai perlahan. terus saja aku tutup mataku dan terus saja air mata ini menetes meremang. Sebuah ciuman merendah di pipiku yang basah karena air mata. Kusingkap perlahan mata yang sudah membengkak karena hujan tangis. Hamparan harapan ada disana, senyuman berwibawa tersimpul disana, sebuah wajah dewasa berkharisma memirsa disana. Benarkah....beliau yang seharian ini aku hendakkan ada disini ? Di sampingku ? Mengusap air mata di pipiku dengan pipi Beliau ? Ya.......Beliau Pak Satrio sekarang beliau duduk disisi ranjang ku menghadapkan tubuh Beliau padaku yang masih berbaring. Aku bergerak ingin duduk membenarkan posisiku yang merasa kurang sopan dihadapan beliau. Isyarat tangan beliau mengatakan beliau baik - baik saja dengan keadaanku.


" Aku sudah ada disini, menunggumu," bisik beliau, intonasi yang rendah dan suara bass milik beliau mengalirkan gelora yang berlebih pada diriku. Suara beliau menyerukan kegairahan semangat yang kosong menjadi timbunan timbunan energi baru. Tangan beliau yang meraih halus tanganku dengan kasih sayang menjalar memberi nuansa berbeda. Sebuah sentuhan yang menyangkal pikiranku bahwa pria dewasa di depanku ini hanya milik wanita lain. Kubiarkan kami beradu dalam pelukan, merasakan panasnya suhu tubuh beliau yang masih berbalut rapi dengan kemeja biru muda dipadu jaket jeans. Kami, Beliau masih memeluk erat tubuhku yang berbaring di ranjang ini. Mengangkat sedikit dengan kedua tangan beliau sehingga hanya tersekat baju yang kami pakai. Pelukan yang beliau berikan padaku sebuah pelukan kasih yang teramat dalam. Bagai air sendang yang selalu dan selalu mengalir tanpa henti, jernih dan suam tapi tak meradangkan yang menikmati air sendangnya.


" Apa sangat sakit ? Apa anakku membuat kau letih ?" bisik beliau lagi di telingaku.


" Tidak.....saya yang kurang bisa merawatnya, sampai seperti ini. Maaf...."

__ADS_1


" Tak apa yang penting kau dan dia sekarang sudah membaik." Diturunkannya tubuhku perlahan kembali berbaring di ranjang. Tangan beliau bergerak mengusap perutku perlahan dan berkali - kali. Kemudian berdiri dari tempat duduk membungkukkan badan menciumi bayi kami yang masih berada dalam tubuhku, dalam rahimku dalam perutku.


Tapi hujan sehari tak mampu menghapus panas setahun. Ku surutkan hatiku yang bergairah dan bergelora karena rindu dan pengharapan yang besar pada beliau.


" Mbak Asri ? " tanyaku melesat begitu cepat. secepat kilat cahaya menjelang petir terdengar.


," Selesai acara aku langsung kesini." santun beliau mengarahkan pandangan netra padaku.


" Bapak yang memberi kabar ?"


" Yah....beliau bilang kau masuk rumah sakit karena kontraksi, kenapa tidak bilang kau hamil ?"


" Ya..... Begitu penting bagiku."


" Mbak Asri ?"


Netra beliau menyembilu mengarah padaku. Seolah jangan bertanya hal seperti itu padaku. Jangan memberi celah untuk bertengkar. Seolah berkata aku juga memilikinya selain memilikimu, jadi jangan berbantah lagi. Tatapan Beliau memukau dan tajam tanpa berkedip. sesaat kemudian memberikan ciuman pada kedua pipiku yang masih basah.

__ADS_1


" Mbak Asri ?" Ku diamkan beberapa detik sesaat agar beliau menjawab pertanyaanku.


" Mbak Asri ?" Kuulang lagi pertanyaan yang membuat beliau harus berpikir dan berdilema dengan hati beliau sendiri. Menyudutkan Beliau dengan pertanyaan sangat sulit untuk dijawab. Menghempaskan beliau pada perang rasa untuk mengetahui siapa pemenangnya. Seolah terpuruk beliau disudut kebimbangan yang berpasung pada kalimat.


" Jangan meminta cerai ketika kau masih merindu. Apalagi kau sedang hamil, " elak Beliau mengalihkan pembicaraan. Mencoba mencari jalan terang di tengah - tengah hutan pertanyaan yang aku ajukan. Mencoba mencari perlindungan di gua - gua terdekat karena hujan meteor pertanyaan dariku.


" Mbak Asri ?" tuntutku pada beliau yang masih enggan menjawab. Memalingkan wajah beliau saat kami beradu dalam pandangan. wajah kami yang semula dekat sedikit berjedah karena beliau perlahan surut menjauh menegapkan kembali badan Beliau.


" Apa masih belum tampak, aku kesini begitu acara selesai karena mendengar kau masuk IGD. Apalagi bapak memberitahu kau hamil."


" Seandainya saya tidak hamil, dan hanya sakit apa mas juga kesini melihat saya ?"


Beliau menghela nafas. Membiarkan pertanyaanku berlalu begitu saja seperti daun jatuh yang tak beliau butuhkan.


" Pertanyaan yang tak patut di jawab." urai Beliau menyamankan posisi duduk di kursi plastik sebelah ranjangku.


Aku terjebak rasa marah karena pertanyaanku sendiri. Bermain dan bersengit dengan rasa yang harus aku kendalikan sendiri. Melihat wajah tenang beliau membuat aku semakin berpeluk dengan amarahku sendiri.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2