
Sebelum membaca. tolong beri Vote dan Likenya.
Terima kasih........
Selamat membaca ............harapan saya pembaca suka dengan cerita author yang masih pemula.
Dua hari menjelang pernikahanku, Henry pamit pada semua karyawannya kalau dia akan melanjutkan studinya. Untuk sementara kemudi usahanya di kelola bersama oleh keluarga besarnya. Orang tuanya Bu Merry dan Pak Winata serta kedua kakak laki - laki Henry, Dandy dan Dion.
Tidak ada ucapan khusus untukku ketika Henry pergi. Aku juga sangat terkejut dengan keberangkatan Henry yang mendadak apalagi sekarang bukan waktunya penerimaan mahasiswa baru. Tidak ada alasan yang Henry berikan padaku, kenapa begitu cepat dia pergi. walaupun aku sudah mengirimkan pesan lewat Wastapp. Henry seperti sengaja tidak membuka pesan dariku, mengabaikan pesan Wastapp dariku.
Ketika berpamitan Henry memperlakukan aku sama dengan karyawan lainnya. Ingin sekali aku berbicara empat mata dengannya tapi sangat sulit sekali. Entahlah mungkin Henry sengaja tidak memberi kesempatan padaku untuk berbicara dengannya.
Pagi hari, Henry memberitahukan pada kami untuk berkumpul di aula. Setelah itu, dia berpamitan dan menjabat tangan kami semua. dia langsung pulang kerumahnya. Tidak ada tatapan khusus yang dia berikan padaku. Benar - benar seperti tidak pernah terjadi sesuatu diantara kami. Jujur aku sangat kecewa dan terluka dengan sikap Henry padaku saat itu. Tapi, kembali aku sadar diri, akulah yang memulai semua ini, aku yang mengajaknya berkonfrontasi dengan semua yang aku lakukan padanya. Mungkin ini adalah jawaban diplomatis dari Henry, bersikap seolah semua berjalan sesuai dengan rencana yang sudah keluarganya persiapkan. Sikapnya sangat wajar, santun seperti hari - hari yang dia lalui di kantor kami. Senyumnya ceria seperti biasanya, menyapa bersahabat dengan siapa saja.
Akulah yang seperti tidak bisa menjaga keadaanku, berkali - kali aku memandanginya berusaha menyapanya untuk sekedar berbincang. Tapi secara halus Henry mempunyai cara untuk menghindar dariku. Akulah yang seperti salah tingkah sendiri, seperti sedang mencari perhatiannya.
Henry pernah berkata tidak akan hadir di acara pernikahanku, tapi aku tidak menyangka tidak hadirnya Henry adalah dia pergi ke tempat studynya. Aku juga baru tahu kalau Henry memilih melanjutkan studinya di Britania raya bukan di Australia seperti yang sering dia ceritakan padaku. Henry ingin sekali melanjutkan studinya di university of Canberra.
Sampai malam hari pun aku berusaha menghubungi Henry menulis pesan tapi diabaikan begitu saja. Sakit rasanya tidak dihiraukan seperti ini. Aku teringat kembali, mungkin beginilah rasanya dulu mas Ravi menghubungiku sampai berkali - kali dan mengirim pesan padaku tapi tidak aku baca dan langsung aku hapus begitu saja. Apa yang dirasakan mas Ravi, sekarang aku juga merasakannya. Ternyata sakitnya luar biasa mengirim pesan tetapi tidak di balas. Seperti inilah rasanya, menunggu jawaban pesan kita sampai memandangi HP seperti melihat sebuah pusaka yang diturunkan oleh nenek moyang.
Tapi kenapa aku tidak juga jera mengirimkan pesan pada Henry, begitupun Henry juga tidak goyah untuk membalas pesanku. Sakit hatiku semakin bertambah ketika aku lihat Wastapp nya dalam mode online. Sebuah kalimat aku tulis dengan huruf besar karena marahku.
aku
( APA KAMU TIDAK TAHU RASANYA KIRIM PESAN TIDAK DIBALAS TAPI WASTAPP MU ONLINE ??? )
Henry
__ADS_1
( Apa mbak tahu rasanya sakit seperti apa ?Saat aku sedang berjuang malah ditinggal menikah dengan laki - laki lain ? )
Henry
( Sampaikan salam ku pada suami Mbak Arin.
Sakit hatiku sama seperti ketika dia ditinggal pergi istrinya dengan laki - laki lain. )
Aku
( Tolong Henry........
Aku tidak mungkin tergantung pada ketidakpastian darimu. )
Henry
Henry
( Aku hanya berharap kehidupan Mbak Arin jauh lebih baik. )
Henry
( Aku berjanji tiga atau empat tahun lagi, ketika aku kembali akan jadi Henry yang lebih dari sekarang. Agar Mbak Arin bangga melihatku. )
Aku
( Henry.......
__ADS_1
Maaf......maafkan aku.......Aku tidak pantas untukmu.......Aku yang sudah meninggalkanmu
doaku mudah - mudahan kau dapat yang lebih baik dari aku. )
Henry
( Biarlah kuasa Tuhan yang berlaku pada kita Mbak. Aku hanya bisa berdoa mudah - mudahan kita dapat dipersatukan juga dengan kuasa Nya. )
Seperti sebuah bumerang untukku yang aku lempar pada Henry karena aku marah tapi berbalik menyerang ku, tepat mengenai titik nadiku. Benar kata Henry akulah yang bersalah. Aku yang meninggalkan dia ketika kami bersama, akulah yang lari dari kenyataan. Akulah yang takut dengan sesuatu, yang aku juga belum tahu akhir perjuangan Henry bagaimana. Akulah yang terlalu picik menganggap Henry tak akan bisa berjuang untuk kami dan tidak selayaknya aku masih menghubunginya. Mengharap dia tetap baik padaku, mengharap dia masih memperlakukan aku seperti ketika kami masih bersama. Kami sudah sepakat berpisah atas kehendak ku. Akulah yang memaksa perpisahan ini dengan menikamnya dari belakang. Akulah yang membalas air susu dengan air tuba dan akulah yang menciptakan jurang ini disaat Henry berusaha membuat pondasi untuk jembatannya.
Tak bisa aku ungkapkan dengan kata - kata bagaimana menggambarkan perasaan di hatiku, dua hari lagi aku akan menjadi istri sah dari laki - laki lain. Tapi kenapa pikiranku tetap tidak bisa beranjak dari Henry. Tidak ada sedikitpun di dalam sel otakku memikirkan pernikahanku dengan Pak Satrio seolah seperti sebuah bakteri yang menyerang tubuh tapi karena sistem imun yang kuat selalu tertolak. Mungkin ini kata yang tepat kalau aku jabarkan. Ya.......... saat ini tidak sedikitpun aku memikirkan pernikahanku. Aku hanya memikirkan Henry...... Henry dan Henry.
Ku baca berkali - kali kalimat dari pesan Wastapp Henry yang dia berikan padaku. Sebuah pengakuan sakit hati karena aku. Aku bertanya pada diriku sendiri. Kenapa aku tega melakukan ini pada Henry ? Kenapa aku bisa ? Bukankah aku tahu rasanya sakit hati ditinggal menikah dengan orang lain ? Ya pengalaman pahitku dengan mas Ravi. Tapi, kenapa aku juga menjadi pelaku antagonisnya ketika aku dengan Henry ? Berbetuk cakar tak berdarah tergores dalam hatiku. Aku menyakiti diriku sendiri dan juga Henry dengan memilih jalan pintas menikah dengan Pak Satrio.
Tapi.........salahkah aku dengan langkah yang aku ambil sekarang ? Aku juga seorang gadis yang takut akan kata kadaluarsa untuk usia perempuan di daerahku. Pengalaman pahitku dengan mas Ravi mengajarkan aku untuk tidak menunggu lagi, untuk tidak berpegang pada janji - janji lagi, untuk tidak berharap pada yang tidak pasti lagi.
Salahkah aku, disaat aku diombang ambingkan ombak karena angin aku memilih berlabuh pada daratan yang ada. Tanpa melihat kembali tujuanku semula.
Salahkah aku ? Disaat semua ketidak pastian datang padaku ada sebuah sedikit harapan yang mengajak aku membuka lembaran baru. Salahkah aku ? yang memilih mengikuti kata pepatah lebih baik berpijak di bumi daripada mengharapkan terbang ke bulan sementara kita tak bersayap. Bukan tanpa alasan aku memilih kata pepatah tersebut. Aku membuka lebaran kertas yang diberikan Henry padaku yang diselipkan pada bunga mawar putih waktu itu.
" Tidak perlu takut ketika matahari terbenam karena malam akan datang. Masih ada bulan dan bintang yang akan menemani. Ayo........kita bergandengan tangan lari bersama menggapai bintang"
Aku ingin memegang tanganmu Henry, bergandengan, tapi aku tak bisa .......harus dengan apa aku lari denganmu menggapai bintang ? Biarkan lah aku tetap disini, aku tahu kau baik dan sangat baik tapi bukan untukku.
Ku simpan kembali kertas dan bunga mawar putih yang sudah kering pemberian Henry dalam buku yang penuh dengan foto - fotoku dengan Henry.
bersambung.................
__ADS_1
Salam untuk orang - orang terkasih pembaca.............