Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 67


__ADS_3

" Semua administrasi sudah selesai, dan ada sisa deposit, " kata Adrian memberikan uang sisa deposit dalam amplop padaku.


" Siang mama.......," suara riang Henry masuk ke kamar dengan menggendong Tangguh.


Adrian yang berdiri dihadapanku membalikkan badannya dengan cepat. Menoleh kearah Henry yang datang dengan Tangguh. Henry langsung tersenyum lebar pada kami, Adrian dan aku.


Jantungku seakan melesat terbang dari tempatnya melihat Adrian dan Henry bertemu. Detak jantungku melebihi normal sampai terasa lemas.


" Ta....Tangguh ," seruku terbata - bata berusaha memecah suasana. Henry yang sangat ekstrover mengulurkan tangannya pada Adrian yang berdiri kaku memandangnya.


" Henry...." ucap Henry pada Adrian.


" Henry.....? " Tak terelakkan dari rasa kaget terlihat di wajah Adrian. Keningnya berkerut, seperti dia mengingat sesuatu. Mata Adrian menyipit. Adrian menoleh padaku kemudian kembali beralih memandang pada Henry sebelum akhirnya Adrian mengulurkan tangannya menyambut tangan Henry.


Mungkin dia teringat di awal pernikahanku dengan Pak Satrio aku pernah menelepon Henry. Berulang kali aku menyebut nama Henry dengan jelas, Adrian pasti mendengarnya.


" Adrian," jawabnya kaku dan menantang.


Dua pemuda yang saling bertolak belakang. bagai bagai kutub Utara dan Selatan. Bagai api dan air, bagai Musin dingin dan musim panas. Mereka saling memandang dengan tatapan yang sulit aku artikan. Berdiri tegak berhadapan dengan tinggi seimbang diantara mereka.


" Aku teman Mbak Arin, bahkan mungkin lebih ," ucap Henry memulai pembicaraan diantara mereka.


Sementara ketegangan jelas terlihat. Aku ingin lari dari kamar ini, menjauh sejauh mungkin dan tidak ingin melihat apa yang akan terjadi pada mereka.


" Apa kau yang membiayai perawatan disini ? " tanya Adrian tanpa basa - basi pada Henry.


" Ya... karena papamu tidak mampu,"


" Jangan bertindak berlebihan. Dia....maksudku mama Arin masih istri sah papaku. Mereka belum bercerai dan tidak akan bercerai,"


Adrian memanggilku ' mama" . Selama aku menikah dengan Pak Satrio ayahnya baru sekali ini Adrian memanggilku mama. Dia hanya memanggilku dengan sebutan " Kau " , " Dia " , " Perempuan itu ". Walaupun berkali - kali Pak Satrio menegur dan memintanya memanggilku mama, ibu, bunda. Adrian tetap tak memperdulikan, tetap memanggilku sesuka hatinya. Selama aku menginap di rumah Pak Satrio Adrian sangat baik padaku, walau sikap dinginnya melebihi es di kutub Utara. hanya satu kekurangannya dia tidak pernah mau mengakui dan memanggilku dengan sebutan " Mama".

__ADS_1


" kenapa tidak mau bercerai ? Bukan karena mencintai Mbak Arin kan ? Tapi karena harga diri dan martabat. "


" Kau....." tangan Adrian mengepalkan dan bersiap memberikan tinju pada Henry. Sikap Henry yang semakin menantang membuat suasana semakin kacau.


" Bahagiakan Mbak Arin kalau tidak mau bercerai, jangan di telantarkan seperti ini. Aku akan merebut paksa dari papamu kalau Mbak Arin terus seperti ini."


" Buuukkk" Suara pukulan keras mengenai rahang Henry yang tetap menggendong Tangguh. Walaupun Henry bisa menangkis pukulan Adrian dengan mundur beberapa langkah, tapi pukulan Adrian mengenai rahang Henry. Tangan kanan Henry tetap menggendong Tangguh sementara yang kiri menolak pukulan Adrian.


Aku menjerit ketakutan melihat mereka. Tangan Tangguh mencengkram baju Henry dan menangis sekencang - kencangnya. Mereka tetap berdiri gagah tak bergerak. Tanpa jeda detik sebuah pukulan juga mendarat di rahang Adrian. " Buuuukkk," suaranya nyaring terdengar.


" Itu untuk papamu yang sudah membuat Mbak Arin menangis," suara lantang Henry menggema di kamar ini.


Adrian tidak menangkis pukulan Henry. Adrian tetap berdiri karena melindungiku. Jika Adrian menggeserkan badannya pukulan mengenaiku yang menggendong Thavisa. Atau kalau Adrian mundur akan mendorongku terjatuh. Itu yang dapat aku tangkap dari tindakan Adrian. Sementara mau membalikkan pukulan pada Henry, ada Tangguh dalam gendongan Henry. Aku berdiri dibelakang Adrian bermaksud memisahkan mereka yang bersitegang. Tapi kalah cepat dengan beberapa pukulan yang sudah terjadi diantara mereka, Adrian dan Henry.


Beberapa langkah kaki berlari kearah kami.


" Ada apa ibu ? " tanya beberapa perawat.


" Tolong, ini rumah sakit. Jangan berkelahi disini. Lebih baik anda berdua keluar !" Perintah perawat paruh baya. Walaupun perempuan, suara perawat tersebut sangat tegas dan keras.


" Henry, tolong bawa Tangguh pulang," pintaku pada Henry. Aku berjalan dipapah oleh salah satu perawat muda. Sementara perawat yang lain mengambil Thavisa dalam gendonganku. Thavisa yang juga ikut menangis kencang menambah riuh memekak, bibirnya membiru dan bergetar.


" Baiklah aku akan membawa Tangguh pulang," jawab Henry.


" Kau dan aku masih ada yang harus dibicarakan," ucap Henry pada Adrian yang tetap berdiri angkuh. Kedua tangannya dimasukkan di kedua saku celana jeans hitamnya. Adrian tetap diam tidak menanggapi perkataan Henry. Membalikkan badan dan berjalan untuk duduk di sofa ruangan ini.


" Ibu, istirahatlah, Setelah kunjungan dokter dan jam makan siang ibu boleh pulang," perintah perawat paruh baya padaku. Netra beliau melotot kesal pada Adrian dan Henry.


Henry berjalan ke arahku mendekatkan Tangguh yang sudah meredakan tangisannya. Aku mencium Tangguh berulang - ulang sebelum Henry membawanya pulang.


Suasana tegang tetap berlangsung bermenit - menit diantara aku dan Adrian. Kami membisu bersama dalam pikiran dan kekacauan masing - masing. Aku berusaha menenangkan diriku dengan memejamkan mataku, tapi tidak bisa. Mataku membelalak dan gusar.

__ADS_1


" Apa masih sakit ? " tanyaku pada Adrian yang masih duduk di sofa menyilangkan kakinya dan tangan yang memainkan HP.


" Sakit ? Tidak. " jawabnya tenang.


" Tapi rahangmu membiru,"


" Tidak usah kau perhatikan, besuk juga hilang. Minumlah, kau pasti masih tegang melihat kami." Adrian berjalan kearah ranjangku dan menyodorkan air mineral dalam botol padaku. Aku hanya tersenyum tipis pada Adrian.


" Apa perempuan sekarang lebih menyukai pria muda ? tanya Adrian. Aku menoleh pada Adrian yang sudah duduk di kursi sebelah ranjangku.


" Apa kau tidak bisa melihat, Dia mungkin seumuran denganku ? suara sinis Adrian semakin membuat aku tersudut dengan pertanyaan yang membuat aku sulit menjawab. Aku diam dalam kubangan pertanyaan yang Adrian berikan. Aku hanya memandanginya dengan tatapan sorot mata memudar. Aku tidak mau menjawab pertanyaan Adrian padaku.


" Kenapa kau mau menikah dengan papa kalau kau punya boyfriend atau kau......... selingkuh dari papa ? Mencari kehangatan ranjang ? "


" Adrian ! " pekikku tidak terima dengan tuduhan Adrian. " Aku tidak pernah selingkuh dari Pak Satrio. Aku mengenal Henry sebelum menikah dengan Pak Satrio," jawabku berapi - api pada Adrian. Adrian hanya menghela nafas dan menghembuskan kuat.


" Aku akan sering mengunjungimu sesuai permintaan papa," kata Adrian lagi memberitahuku.


" Kenapa bukan Pak Satrio sendiri yang mengunjungiku ? "


Adrian diam seolah tidak mau merespon pertanyaanku.


" Kenapa bukan beliau sendiri ? " ulangku, kali ini suaraku lebih jelas. Adrian tetap terdiam tidak mau menjawab pertanyaanku.


" Kenapa beliau tega padaku dan anak - anakku. Kemarin aku sudah terbiasa tanpa beliau, tanpa keluargamu. Sekarang saat aku sudah terbiasa kenapa kau dan keluargamu mengacaukan lagi ketenanganku ," tangisku pecah dalam suara. Aku ingin berontak, aku ingin teriak, ini semua tidak adil padaku. Apa aku tidak diijinkan bahagia ? Apa takdirku harus menderita selamanya ?


Adrian tetap tidak menjawab. Wajahnya datar dan tanpa beban. Dia lebih suka memainkan HP yang dia pegang daripada menjawab pertanyaan - pertanyaan ku.


Masih ingat Adrian kan ?


__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2