
Bu Merry pulang dengan keadaan penuh tangis. Wajah cantik beliau memucat dan lelah. Berjalan seakan tertatih membawa tubuhnya yang lelah dan sakit yang beliau pikul. Menoleh ke arahku ketika hendak berlalu mengendarai mobil beliau.
Sebulan ini Henry sering datang ke rumahku mengantar makanan atau mengajak bermain Tangguh. Sesekali kami berbincang tapi Henry tidak pernah sedikitpun berbicara tentang hubungan kami, hanya tiga hari yang lalu melalui sambungan telepon. Sesekali Henry memang menyatakan ingin terus menemaniku.
Aku bersiap hendak menemui Henry di Villa di daerah puncak.
" Iya Mbak Sebentar lagi aku kesana sekalian menemani bapak. Biar Tangguh dan Thavisa aku yang jaga," jawab adikku Arista ketika aku meminta bantuannya untuk menjaga anak - anakku.
" Hati - hati Rin........," ucap bapak.
" Mudah-mudahan semua berjalan lancar. Bapak juga kasian melihat keluarga Bu Merry. Lekaslah pulang kalau sudah bicara dengan Henry. Tidak baik berlama - lama disana, takut omongan orang," ucap Bapak lagi.
Sepanjang jalan menuju puncak tempat Villa Henry berada. Ingatanku berputar kembali ke masa lalu. Dijalan ini aku pernah menikmati hari - hariku dengan Henry. Melihat indahnya bunga tabebuya yang bermekaran. Semua benda masih tersimpan rapi di Almariku. Mungkin akan tetap aku simpan sampai kapanpun. Aku tidak pernah merasa dicintai begitu dalam oleh seorang laki - laki. Hanya Henry yang melakukan semua yang terbaik padaku dan tulus mencintai aku. Kalaupun kami tidak berjodoh mungkin itu sudah kehendak yang diatas. Kami ditakdirkan saling mencintai tapi tidak untuk memiliki. Suasana Agrowisata milik Henry dan temannya sangat ramai dengan para pekerja yang mempersiapkan acara pernikahan untuk besuk. Bunga - bunga segar seperti Gerbera, sweet pea dan Lily putih terlihat dimana - mana menghiasai dekorasi ruangan ini.
Tampak punggung lebar Henry dari belakang yang sedang memberi penjelasan kepada beberapa kru.
" Henry.....," seruku memanggil Henry. Punggung lebar milik Henry membalikkan badannya dengan cepat seolah tidak percaya aku yang memanggilnya. Henry menoleh ke arahku dan tersenyum.
" Mbak Arin.....," jawab Henry terperanjat melihatku. Rangkaian bunga mawar dulceto ditangannya hampir terjatuh yang ditangkapnya kembali dengan cepat.
" Syukurlah kalau kau sehat dan sedang bekerja ." ucapku pada Henry yang tampak tetap ceria dan semangat.
" Ha....ha....apa Mbak Arin pikir aku berbuat yang aneh - aneh. Ini caraku menghilangkan masalah, dengan banyak bekerja agar Mbak Arin semakin menyesal meninggalkan aku. " Jawabnya sambil melangkah menuju ruangan yang lain.
Diruangan ini, di sofa ini. Aku dan Henry.......Aku hentikan kenanganku dengan Henry dulu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku sudah memiliki Tangguh dan Thavisa.
"Bu Merry kerumah, beliau sangat khawatir padamu."
," Apa Mbak Arin besuk mau datang lagi ? Besuk aku turut andil mengisi acara. Aku memainkan musik," Henry mencoba mengalihkan pembicaraan kami. Dan bodohnya aku terbawa oleh arus pembicaraan Henry.
" Apa kau memainkan saksofon ?"
" Ha....ha....aku tidak bisa. Aku hanya bisa piano, Biola, gitar dan drum. Mungkin sedikit menguasai Cello. Apa Mbak Arin ingin aku belajar saksofon ? Mau aku mainkan lagu... ?
," Mariage de amor ? " tanyaku.
__ADS_1
" Mbak Arin tahu judulnya ? "
" Adrian juga sering memainkannya,"
" Owh.....," Bibir Henry mengerucut. Kemudian duduk di kursi menghadap piano. Tangannya memijit tuts piano tapi terhenti. Kemudian beranjak ke ruangan sebelah.
" Kenapa berhenti ? "
" Sekalian belajar untuk besuk. Pengantinnya minta aku memainkan Cello," Kata Henry yang datang dengan membawa alat musik seperti gitar tapi lebih besar.
" Selama disana aku belajar alat musik ini," penjelasan Henry padaku ," Mereka meminta aku memainkan Lagu Romance de amor dengan gitar dan memintaku membawakan lagu Caruso dengan Cello, " Disaat seperti ini saja yang Henry ingat adalah pekerjaan. Itu yang membuat aku kagum padanya. Hidupnya selama ini dijalani dengan baik dan terarah. Wajar jika Bu Merry sangat shock, ketika mengetahui Henry melakukan hal diluar kebiasaanya.
Suara Cello terdengar syahdu dalam ruangan ornamen Belanda ini. Ditambah dengan gerimis yang mulai mengantarkan suasana berbeda. Suara alunan dari gesekan Cello Henry membuat aku menerawang jauh.....jauh kembali ketika kami bersama.
Henry fokus dengan alat musiknya. Wajahnya yang tampan dan bersih, sungguh tidak bisa aku berkata aku tidak terpesona padanya. Iringan musik lagu Caruso yang Henry mainkan sangat menyentuh hatiku. Nadanya indah dengan rasa sentimentil.
" Caruso itu mencerikan seorang laki - laki yang sangat mencintai kekasihnya. Seperti aku sangat mencintaimu Mbak....,"
" Henry ......," aku mundur beberapa Langkah ketika Henry berjalan ke arahku.
" Mbak tahu bagaimana sakit hatiku sekarang ? Aku sangat ingin memeluk Mbak Arin tapi tidak bisa karena Mbak Arin milik laki - laki lain," Ucapnya sambil terus berjalan ke arahku dengan perlahan.
" Aku bukan laki - laki mesum yang sesuka hati melakukannya dengan istri orang," ucapnya dengan wajah yang dekat dengan wajahku.
" Ya........," suaraku seperti kehabisan karena degup jantungku tidak beraturan dan nafas yang tersengal - sengal.
" Henry........, Bu Merry mencari mu. Pulanglah ! ,"
" Besuk aku pulang setelah acara selesai," jawabnya dengan berjalan ke arah piano.
" Kenapa kau tidak menerima telepon dari Bu Merry,"
," Aku lelah dengan ocehan mama,"
" Itu karena beliau sangat khawatir denganmu,"
__ADS_1
," Kalau khawatir kenapa tidak mau merestui kita,"
," Henry........ karena kita banyak perbedaan,"
" Ayo kita pindah ke daerah yang tidak mengenal perbedaan ,"
," Henry.....jangan mulai lagi....," pintaku dengan nada yang tinggi.
," Kenapa.....? Karena aku sangat mencintai Mbak Arin. Aku tidak bisa mencintai perempuan lain,"
," Mungkin berjalannya waktu akan berubah. Percayalah, kau pria baik pasti akan menemukan perempuan yang baik.
" Apa Mbak Arin tahu ? Bagaimana aku menghabiskan waktuku selama hampir tiga tahun ? Aku menjalin hubungan lebih dari lima kali. Tapi apa yang aku dapat ? Tidak bisa .....! Aku tidak bisa melupakan Mbak Arin."
" Henry.....Maaf kalau aku mengganggu masa depanmu,"
" Aku mungkin tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan wanita lain karena aku membandingkan semuanya denganmu. Mungkin aku memilih jalan sendiri,"
," Henry....,"
," Dengan lelah bekerja. Aku bisa melupakan sejenak tentang Mbak Arin, tapi aku tidak akan pernah lelah mencintai Mbak Arin."
Ingin ku peluk punggung lebar lelaki di depanku. Tapi aku tidak berani melakukanya. Henry saja bisa meredakan gejolaknnya agar tidak melakukan hal negatif padaku. Aku menelan salivaku sendiri. Henry memainkan piano dengan lagu " Mariage de amor"
" Pulanglah kalau hujannya sudah reda," ucap Henry ketika selesai memainkan lagu kesukaannya.
" Ya......,"
" Tidurlah dulu, nanti aku bangunkan. Atau ku antar Mbak Arin pulang ? "
" Tidak ....aku bisa pulang sendiri. Kau sibuk."
," Baiklah....aku meneruskan pekerjaanku dulu,"
Hujan yang semakin deras membuat aku khawatir dengan keadaan anak - anakku. Bagaimana mereka sekarang. Thavisa masih membutuhkan ASI ku. Sekarang sudah pukul Tujuh malam tapi hujan tak kunjung berhenti.
__ADS_1
Henry menambah briket berbentuk kayu memanjang di tungku perapian. Di daerah ini sudah umum menggunakan perapian karena cuaca yang sangat dingin. Kalau penduduk sekitar banyak menggunakan tumang atau gegeni ( terdiri dari tumpukan batu bata untuk memasak atau untuk menghangatkan tubuh ).
Bersambung.......