
" Aku ingin semua bermula dihari ini. Dan kehangatan akan terus selamanya terjadi diantara kita," Ucap Pak Satrio kembali mendekapku. Kami berpelukan saling menghangatkan satu sama lain. Seakan saling memberi energi karena saling membutuhkan satu dengan yang lain. Saling melengkapi apa yang kurang pada diri kita.
" Apa kau mencintaiku ?" tanya Pak Satrio sambil mencium puncak kepalaku.
Aku menenggelamkan wajahku dalam dekapan Pak Satrio. Aku tersenyum tapi tak terlihat oleh Pak Satrio.
" Apa kau mencintaiku ? " suara serak terdengar menggema di telingaku.
" Sangat......," jawabku menengadahkan wajah mendekat pada wajah Pak Satrio. Pak Satrio tersenyum manis padaku.
" Sungguh......?" tanya Pak Satrio seakaan kurang begitu yakin dengan jawaban yang aku berikan. Netra Pak Satrio menyipit, dengan penuh tanda tanya.
" Iyaa sangat mencintai mas," jawabku malu dengan suara lirih.
" Terimah kasih banyak sudah mencintaiku. Owh syukurlah, aku juga mencintaimu, anak - anak kita dan keluarga kita." ucap Pak Satrio.
Semalam yang indah kami lalui, berpelukan dan saling menyayangi. Sampai pagi menunjukkan senyumnya dengan matahari yang memberikan kesejukan kami tetap berpelukan walau kadang terjeda dengan tangis Thavisa yang meminta ASI atau karena dia tak nyaman dengan popok yang basah.
" Akan kubawakan pakaian untukmu, kalau kau benar masih mau disini ?" tanya Pak Satrio ketika hendak pergi bekerja.
" Iya mas saya disini saja, ada Tangguh dan Thavisa disini." jawabku pada Pak Satrio.
" Kau mau aku bawakan apa ? Aku ke resto hari ini. Ada pengiriman ikan dari tambak. Kau mau lobster ? "
" Iya apa saja yang mas bawa, pasti saya senang."
Notif HP Pak Satrio berbunyi. Tanpa melihat layar Pak Satrio langsung menerima sambungan panggilan telepon.
" Mas Satrio....... kenapa Pesanku tidak dijawab ?" suara lembut Mbak Asri terdengar mendayu dari sebrang sana melalui saluran telepon. Aku dan Pak Satrio saling memandang. Pak Satrio terdiam kaku, bibir beliau tidak bergerak. pundaknya terangkat.
__ADS_1
" Mas.....apa ada Arin ? Mas tidak bisa menjawab teleponku ? " tanya Mbak Asri.
" Iya ada di sebelahku," jawab Pak Satrio seperti salah tingkah dan gugup di depanku.
" Apa dia marah kalau aku telepon mas Satrio ? Apa mas Satrio bisa menjauh sebentar dari Arin ? Aku ingin bicara tanpa di dengar Arin."
" Menurutmu bagaimana ? kalau ada telepon dari perempuan lain bukan urusan kerja. Apa tidak menimbulkan curiga dan pertengkaran ?"
" Tapi kita tetap tidak akan berpisah mas, kita sudah dipersatukan buah cinta kita. Adrian dan Adry yang mengikat kita."
Jantungku langsung terpacu melesat cepat mendengar kalimat Mbak Asri yang merayu Pak Satrio dengan manja. Aku tidak sanggup mendengarnya lagi. Aku berdiri hendak keluar dari kamar ini, membebaskan Pak Satrio berbicara dengan Mbak Asri. Pak Satrio mencegahku dengan mendekapku dari belakang. Semakin erat mendekap semakin terdengar pula suara Mbak Asri di telepon.
" Aku tahu mas sudah memiliki kehidupan lain, dan kita sudah bercerai. Tapi aku tidak mau berpisah dari mas Satrio selamanya. Aku tetap ibu dari anak - anak mas. Kita hidup bersama lebih dari sepuluh tahun. Aku tetap bisa merasakan bagaimana mas memperlakukan aku. Baik itu di ranjang mas selalu yang terhebat,"
Pak Satrio hanya terdiam, tidak membalas ucapan dari Mbak Asri. Jika ditanya bagaimana perasaanku. Mungkin sama dengan istri - istri diluar sana yang selalu merasa tidak nyaman dengan mantan istri suami kita. Tidak perlu aku jelaskan lebih rinci, tapi aku tahu pasti bagaimana nasib perempuan seperti aku. Bukan pelakor, tapi selalu merasa resah dengan hadirnya mantan istri yang datang bukan untuk silahturahmi tapi ingin merebut kembali suami kita.
" Bajumu sudah ku bakar. Nanti siang aku ada kepentingan tidak bisa ke rumahmu."
" Tidak mungkin mas Satrio melakukan, itu tidak benar kan mas ? Aku memasak Semur dan tempe bacem untuk mas. Aku tunggu nanti siang. Aku tidak mau tahu mas harus datang," Perintah Mbak Asri pada Pak Satrio. Klik, suara sambungan telepon tertutup tanpa pamit dan Pak Satrio tetap terdiam. Aku menghela nafas kasar dalam dekapan Pak Satrio. Pak Satrio memutar badanku hingga kami berhadapan sangat dekat. Mengangkat wajahku dengan tangan beliau.
" Apa kau marah ?" tanya Pak Satrio tanpa ragu padaku.
" Apa mas mau ke tempat Mbak Asri nanti siang ?"
" Tidak ada alasan aku ke rumah Asri. Aku empat kali kesana, dan tidak akan lagi. Pertama ketika membeli sebagai mahar pernikahan. kedua ketika mengisi furniture, ketiga dan keempat karena kami bermalam disana."
" Mahar......Mahar pernikahan ?" tanyaku kaget terbelalak pada Pak Satrio. Kutelan salivaku seperti tercegat di kerongkongan. Saat itu Pak Satrio menghentikan biaya bulanan untukku tapi membelikan rumah untuk Mbak Asri.
" Katakan....apa kau marah ? " tanya Pak Satrio terus mendorongku hingga kami terbaring di ranjang.
__ADS_1
" Tidak ....cuma aku terkejut saja. " jawabku sambil berpaling dari tatapan mata Pak Satrio.
" Aku terobsesi denganmu," ucap Pak Satrio kemudian menciumku dengan halus.
" Aaaaah....waktu yang tidak tepat. Aku harus kerja, sudah ditunggu rekan kerjaku. Tapi nanti malam aku tagih janjimu, beri aku yang terbaik."
" Tidak ....aku tidak pernah menjanjikan apa - apa untuk mas ? "
" Kau ingin dipaksa ? Sekarang ! tanya Pak Satrio sudah mempersiapkan diri.
Berhasil.......aku lolos dari kungkungan Pak Satrio dan keluar dari kamar. Tampak Bu Elly bermain dengan Tangguh dan Thavisa dalam gendongan beliau.
" Ma aku berangkat......." sopan Pak Satrio berpamitan pada Bu Elly. Menciumi Tangguh dan Thavisa bergantian.
" Dik Arin aku kerja. Nanti aku telepon ketika aku sudah sampai," tutur Pak Satrio padaku dengan mencium puncak kepalaku.
Bu Elly berpaling padaku ketika Pak Satrio sudah berlalu pergi ke kantor.
" Nak Arin kemarilah....ikuti mama ! " perintah Bu Elly padaku. Kuraih Tangguh untuk bergandengan tangan. Tangguh sekarang tidak mau digendong, dia lebih suka berjalan.
Dihalaman belakang luas Bu Elly ini ada koridor panjang yang menghubungkan ke ruangan seperti pendopo. Ada sekitar dua puluhan wanita yang sedang membatik tangan. Aku terkesima melihatnya. Pak Satrio tidak pernah bercerita kalau Bu Elly mempunyai usaha membatik.
" Tidakkah kau ingin meneruskan usaha mama ? Sebaiknya kau juga disini mengikuti Satrio suamimu. Tidak baik berbeda rumah bahkan berbeda tempat dengan suami."
" Iyaa ma ..... akan Arin pikirkan,"
" Tidak usah kau pikirkan langsung kau lakukan. Suamimu itu banyak yang suka, apalagi mantan istrinya yang terus mengganggu. Mama tidak memuji Satrio karena anak mama. Tapi tidak baik membiarkan dia sendiri, namanya juga laki - laki tidak bisa memendam hasrat seperti kita. Nak .....kau harus pikirkan itu. "
Ada benarnya juga apa yang dikatakan Bu Elly padaku. Aku tidak mungkin terus berjauhan seperti ini dengan suamiku. Ku akui Pak Satrio adalah pria dewasa yang mapan dengan berjuta kharisma. Tentu tidak sedikit yang ingin dekat dengan beliau. Wajahnya masih sangat tampan diusianya yang sudah matang.
__ADS_1