Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 21


__ADS_3

" Jadi kau akan menikah dengan duda beranak dua ? Kau dulu pernah bilang cari yang single ? Atau jangan - jangan selama ini kau simpanan om - om ?" cerocos mas Ravi bertubi - tubi padaku. Aku hanya diam saja mendengarkan amarah mas Ravi.


" Rin.......apa kau lupa ibumu menitipkan kamu padaku. Apa sulitnya menunggu satu tahun. Kau tidak mau menghubungiku, rupanya kau mau menikah dengan duda tua itu,"


" Setidaknya Pak Satrio sudah punya surat cerai," tegasku pada Mas Ravi.


" Aku sebentar lagi juga punya surat cerai. Apa yang dibanggakan dari surat cerai,"


" Dia mengajakku menikah tidak seperti mas Ravi yang menyuruhku menunggu,"


" Rin.........apa kau tidak sabar menunggu satu tahun ?"


" Ya aku tidak sabar. Apa mas tahu bagaimana perasaanku menunggu mas selama tujuh tahun, tapi lihat akhirnya aku bagaimana ? Ditinggal menikah dengan perempuan lain. Aku lelah mas. Apa mas tidak bisa melihat pengorbananku ? Aku membuang waktuku selama tujuh tahun dengan mas,"


" Iya aku mengerti. Maaf......." dengan suara yang sangat rendah mas Ravi menahan kata " maaf - nya " padaku. Ada perasaan bersalah dan menyesal pada dirinya. Aku mencoba menatap netra Mas Ravi yang coklat terang. Bola mata yang terisi penuh dengan air mata, tidak mampu dia tumpahkan begitu saja di depanku. Ada perasaan yang lebih tinggi daripada harus menangis di depanku. Aku tahu sifat mas Ravi, dia selalu pandai mengendalikan emosinya.


Aku dan mas Ravi masih tetap duduk mematung setelah pertengkaran kami barusan. Kami sama - sama mengalihkan emosi kami dan pembicaraan ini dengan memainkan ponsel kami sendiri - sendiri.


Sore ini sepulang kerja kami duduk di cafe yang biasa kami datangi dulu ketika kami masih bersama. Kalau bukan karena paksaan mas Ravi, yang mengancamku akan menemui pak Satrio. Aku tidak akan mau menemuinya lagi. Aku tidak mau duduk disini seperti sekarang. Jangankan untuk bertemu, untuk membalas pesan Wastapp - nya atau menerima telepon dari mas Ravi, aku sudah enggan melakukannya. Bagiku sudah pupus perasaan cintaku pada mas Ravi. Tertutupi oleh rasa sakit hatiku yang lebih besar padanya. Sudah cukup sakit hatiku karena dilukai terlalu dalam. Aku tidak mau sakit hati lagi lebih dari yang aku rasakan ketika aku tahu mas Ravi telah menikah. Aku sudah berusaha mengalihkan perhatianku pada masa depanku. Aku juga ingin merasakan bahagia dengan pasanganku.


" Ikut aku........" dengan kasar mas Ravi menarik tanganku setelah meletakkan uang dua ratus ribu di meja makan kami.


" Tidak ..... aku tidak mau........"


" Ikut........."


" Kita mau kemana ?"


" Ke makam ibu,"

__ADS_1


" Buat apa ? Jangan aneh - aneh mas,"


tetap saja aku mengikutinya dari belakang sementara tangan kananku digandeng dengan eratnya oleh mas Ravi.


Netra Mas Ravi berkaca - kaca. Mengemudikan mobil dan kadang - kadang memukul stir mobilnya. Ada rasa pilu melihat sikapnya seperti ini. Apakah benar mas Ravi masih mencintaiku ? Apa benar mas Ravi masih punya perasaan takut kehilanganku ? Ku tepis prasangkaku pada mas Ravi. Ku ingatkan diriku, mas Ravi sudah menjadi suami perempuan lain. Mungkin mas Ravi sekarang masih merasa kecewa, seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Dan itu aku, ya aku hanya mainannya selama tujuh tahun ini.


" Penghianat kamu Rin............Curang kamu Rin.......Aku sakit hati Rin......."serunya keras padaku. Wajahnya merah padam menahan amarah. Nafasnya tersengal - sengal karena berkecamuk.


" Apa lagi nama - nama untukku mas ? Aku belajar banyak dari Mas Ravi. Belajar bagaimana bisa meninggalkan orang yang mencintai kita," jawabku lelah dengan semua. Semua keadaan yang aku alami.


" Aku laki - laki Rin......Aku menikah cuma sementara sampai Hanin melahirkan,"


" Ooohhhh cuma sementara......Lalu kenapa mas sangat mesra ?"


" Apa kau tidak lihat Hanin sedang hamil ?"


" Rin...........lihat aku.....aku sakit hati. Lihat aku............aku sakit, Rin," ratap Mas Rapi tapi tetap dengan suaranya yang keras.


Perdebatan kami terhenti karena sudah sampai di depan area pemakaman ibu. Sampai di depan makam ibu. Mas Ravi menjabat tanganku dengan lantang mengucapkan kalimat sakral selayaknya orang melakukan ijab kabul.


" Kita sudah resmi menikah,"


" Pernikahan ini tidak sah mas. Tidak ada saksi,"


" Kita menikah di depan ibu Rin, sesuai janjiku pada ibu,"


" Ini tidak sah mas, aku tidak ada wali,"


" Kau sudah dewasa, tidak perlu wali,"

__ADS_1


Lelah juga aku berdebat terus dengan mas Ravi. Aku biarkan mas Ravi melakukan apa saja. Terus terang aku takut dengan mas Ravi. Selama kami bersama tujuh tahun. Aku tidak pernah melihat mas Ravi semarah ini. Sikapnya yang sopan santun, hari ini berubah seratus depan puluh derajat.


" Ini uang maharnya...."


" Tidak mas, aku tidak mau,"


" Terima ......" dengan berat aku menerima uang dalam amplop yang aku tidak tahu berapa jumlahnya.


" Kau tidak bisa menikah dengan laki - laki itu, kau resmi istriku,"


Mobil yang dikemudikan mas Ravi sangat lambat. Sebenarnya ada rasa iba dalam hatiku menyelinap seperti air yang mengalir pelan tapi sangat deras kemudian mengisi penuh hingga tumpah dari tempatnya. Beberapa bulan yang lalu, aku juga mengalami yang mas Ravi alami sekarang. Cemburu, marah, dendam tak terkendali menjadi satu. Seakan ingin berteriak kenapa kehidupan mempermainkan aku. Aku melihat mata mas Ravi masih berkaca - kaca menahan amarah dan tangisnya.


" Seandainya aku tidak menikah dengan Hanin. aku pasti yang akan menikah denganmu sekarang Rin........Aku akan melamar mu Rin........" suara parau mas Ravi dapat jelas aku dengar.


Aku juga tidak kuasa menahan tangis ku. Bagaimanapun tujuh tahun aku dengan mas Ravi, sampai takdir yang memisahkan kami. Semakin aku jauh dengan mas Ravi, aku bertemu dengan Henry dan sekarang aku akan menikah dengan laki - laki yang tidak aku kenal.


.......................


Selesai sholat isya', adikku Arsita menelepon menceritakan kalau tadi pagi mas Ravi menemui dia dirumahnya. mencari tahu berita tentang aku.


" Aku ceritakan semua kalau Mbak Arin akan menikah satu bulan lagi dengan Pak Satrio"


" Iya tidak apa - apa dik Ar......."


Ya Allah apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Kenapa mas Ravi datang disaat aku akan menikah. Masa lalu yang sudah aku anggap sebagai kenangan kenapa bisa kembali ? Dan apa yang harus aku katakan pada Henry jika aku bertemu dengannya ? Apa reaksi Henry jika dia tahu aku sudah memilih meninggalkan dia untuk menikah dengan pria lain ?


Ya Allah apa pilihanku salah ? Dari ketiga laki - laki yang mengisi hidupku hanya Pak Satrio yang mudah aku raih, yang tidak menyakiti siapapun. Mas Ravi sudah menikah bagaimanapun suatu hubungan pasti akan melibatkan perasaan. Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang lain. Henry, laki - laki itu, harapan kedua orang tuanya. Anak yang di gadang - gadang akan memiliki masa depan yang cerah. Aku tidak ingin merusak harapan seorang ibu. Hanya pak Satrio yang mau mengajakku menikah tanpa kata " Tunggu aku".


Ya Allah biarlah yang akan terjadi besuk akan terjadi sesuai dengan kehendak MU. Aku memejamkan netra hitam ku. Mencari mimpi yang sangat indah bertemu dengan ibuku. Menjadi gadis kecil lagi yang mengadu pada ibunya.

__ADS_1


__ADS_2