Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 53


__ADS_3

" Apa kau suka suasana disini?" Pak Satrio membuka tirai putih bersih di kamar ini. Membiarkan aku melihat pemandangan di luar jendela. Suara burung saling bersahutan dengan ceria. Aku mengangguk tanda setuju kalau aku juga suka tempat ini. Pandanganku tetap tidak beranjak dari pemandangan di luar sana. Melihat burung yang terbang bebas sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka melayang. Melihat pohon - pohon Pinus dengan pucuk - pucuk dahan yang meliuk - liuk selaras irama dari hembusan angin. Serasa apa yang aku lihat menawarkan keindahan.


" Ketika dulu aku menikah dengan Dik Asri aku berbulan madu disini dan di kamar ini."


Beliau berjalan mendekat padaku yang berdiri menghadap jendela kaca kamar ini. Pak Satrio selalu mengaitkan semua....semua dengan Mbak Asri. Ingin aku lari....lari menjauh sekencang dan sejauh mungkin dari beliau yang sudah memberi banyak duka dalam hari- hari indah ku. Ingin aku berlari sekuat tenaga dan berbicara lantang....Aku juga ingin bahagia walau tanpa beliau sebagai suamiku. Aku sudah senang memiliki Tangguh sebagai anakku.


" Aku mengajakmu kemari agar kau juga merasa aku memperlakukanmu sama dengan Dik Asri. Tolong ijinkan aku menikah lagi secara resmi dengan Dik Asri.....," pinta Pak Satrio dengan nada suara yang rendah dan melunak. Wajah beliau tersapu ketidakpastian yang mendalam. Seakan ingin menerjang semua tapi tak kuasa karena mempunyai titik lemah. Ya.......titik lemah beliau adalah tidak berani menentang dengan keras kedua orang tua beliau. Sekarang beliau meminta ijinku agar memperoleh kemudahan mendapat restu kedua orang tua beliau.


" Ceraikan saya. Saya tidak akan kuat menjalani rumah tangga seperti itu."


" Bisa..... aku yakin kita bisa. Sekarang kau masih belum stabil."


" Mas mengantarkan saya pada pilihan yang sulit. Saya tidak bisa bertahan mas. Jika kemarin saya masih kuat. Lihat saya sekarang saya berada di titik nadir yang mas ciptakan."


"Itu hanya dugaanmu saja Dik....... Itu karena kau merasa yang paling diantara kita. Paling tersakiti, paling terhina, paling disia - siakan. Cobalah mengesampingkan perasaan seperti itu. Kita bisa bahagia."

__ADS_1


" Apa mas sudah membahagiakan saya. Tidak kan ?"


" Aku sudah berusaha membahagiakan mu dengan kemampuanku . Maaf kalau tidak sesuai harapanmu. Kau tidak menerima kebaikan yang aku tawarkan."


" Keputusanku sudah bulat mas. Aku mau cerai."


" Jangan ambil tindakan ketika kau dalam keadaan tidak stabil dan emosi. Cobalah untuk tenang dulu, setelah itu ambil yang terbaik."


Suasana sepanjang sore dan malam yang dingin ini, semakin dingin karena gerimis. Tapi tak mampu memberi kesejukan dan dingin padaku. Pak Satrio yang kukuh tidak ingin bercerai dariku, tapi tetap ingin menikah resmi dengan Mbak Asri.


Aku seperti gua gletser yang terbentuk karena panas bumi. Perasaan panas ini, perasaan cemburu ini, perasaan dikhianati ini, perasaan terhinakan ini mengalir melalui ventilasi vulkanik. Rasa sesak ini, rasa tertekan ini, rasa amarah ini mengantarkan air panas membentuk gua gletser yang rapuh dan rawan akan runtuh. Dari amarah panas didalam hati, tapi tetap harus terlihat tenang diatas, bukan hanya tenang tapi dituntut untuk bersikap manis walau hatiku dingin sedingin es. Aku rapuh dan dan tidak stabil seperti gua gletser dalam hatiku. Aku lelah dengan semua. Aku ingin mengakhiri semua dan kembali ke posisi semula. Pak Satrio dengan Mbak Arin. Sementara aku dengan kehidupanku sendiri.


Kami, aku dan Pak Satrio di ranjang yang sama di bawah selimut yang sama. Dan beliau tetap memelukku seolah hanya aku wanita yang beliau miliki, tapi tidak denganku. Aku sadar aku wanita kedua yang ada dalam hati beliau. Ada wanita lain yang mengisi penuh ruang - ruang hatinya.


Memberikan pelukan yang paling hangat untukku agar bisa meluluhkan hatiku karena emosi. Memberikan sentuhan yang berbeda...... berbeda dan sangat berbeda dari yang sudah - sudah. Seakan menyatakan, semua beliau lakukan juga karena cinta, karena ingin membahagiakan aku, karena ingin kami terus bersama. Seakan ingin membuktikan yang beliau lakukan bukan hanya karena kewajiban.

__ADS_1


" Jika tidak ada jalan lain. Maaf kalau aku menyakitimu sangat dalam. Aku tetap akan menikah resmi dengan Dik Asri," ucap beliau lagi meyakinkan aku. Kali ini ucapan beliau diberengi dengan sebuah hantaman keras tapi terselubung dengan kata " jika" yang menandakan beliau tetap kokoh pada pendirian beliau tapi terpaksa melakukan semua.


" Saya ingin memiliki mas sendiri saja tanpa ada wanita lain, apa keinginan saya berlebihan ? Saya hanya ingin mas mencintai saya saja, tidak ada wanita lain. Terlalu tinggi harapan saya ?"


" Aaaaah itu tidak mungkin, bahkan kau yang hadir diantara kami. Kau ada setelah aku lama bersama dengan dik Asri."


" saya tidak akan hadir di kehidupan Mas Satrio dan Mbak Asri, kalau bukan mas yang meminta saya menikah,"


" Kenapa tidak menolak ?"


" Maaaaas, jadi saya yang salah ? "


" Bukan menyalahkan tapi seharusnya dulu kau bisa menolak kalau kau tidak mau ?"


" Ya.......harusnya saya menolak. Saya menyesal sangat menyesal, karena itu saya ingin cerai," Aku sudah bertahan untuk bersikap sewajarnya. Sekuat tenaga untuk menahan air mata yang bergerak merayu untuk keluar dari lumbung air mataku. Berharap tidak jatuh tercurah, berharap tidak tertumpah kerena di ambang penuh yang mendesak. Berharap terkendali dengan semua sikap santun dan tutur kata lembut yang memikat. Aku menangis dalam diam yang beliau tahu dan sangat tahu. Memandangku dengan merasa bersalah tapi berjaya dengan kalimat beliau yang dilontarkan padaku. Pak Satrio memainkan rambutku dan memandangiku dengan tatapan hampa, tatapan tanpa makna. Netra beliau seolah melayang menerawang jauh entah dimana.

__ADS_1


" Tolong jangan sakit hati karena masalah ini ," diulangnya lagi pinta yang lain oleh beliau. Kali ini sebuah permintaan yang menurutku sangat tidak masuk akal. Aku juga perempuan yang punya hati. Aku juga perempuan yang ingin didamba suami. Dan aku bukan pelakor di situasi ini. Aku datang karena tidak tahu kalau beliau masih menjalin hubungan dengan Mbak Asri. Kalau mereka, Pak Satrio dan Mbak Asri setelah bercerai sudah menikah lagi, secara siri. Siapa yang salah dan dipersalahkan ? Tapi diatas semua masalah ini aku ingin keluar dari putaran yang tak pernah berhenti. Aku lelah .....aku lelah. Aku hanya ingin tenang hidup dengan anakku Tangguh. Apa aku terlalu tinggi berharap ? Apa aku terlalu egois meminta cerai dari beliau ?


Jalan lupa tinggalkan like dan vote. Terima kasih sudah membaca novel saya.


__ADS_2