
Bapak berdiri di halaman depan ketika kami sampai. Wajah beliau yang terlihat lelah dan cemas terlihat agak tenang tapi kembali pada muram yang berterang. Netra bapak memerah, mungkin tidak tidur semalaman karena memikirkan kami. Aku merasa sangat berdosa melihat beliau dengan keadaan seperti ini.
" Maaf bapak, Mbak Arin tadi malam tidak bisa pulang karena di daerah puncak hujan deras. Saya memang yang melarang untuk pulang. Ketika hujan reda Mbak Arin ketiduran. Saya tidak tega membangunkan karena Mbak Arin terlihat nyenyak. " Rangkaian panjang penjelasan Henry tak mampu membuat bapak tenang. Beliau hanya manggut - manggut saja.
" Ko Henry, terima kasih sudah mengantar Arin. Tapi tolong lain kali jangan diulangi lagi. Arin sudah menikah dan punya anak." Ucap bapak setelah lama kami terdiam.
Aku tak berani beranjak dari tempat dudukku. Khawatir terjadi adu pendapat antara bapak dan Henry. Tidak ada suara tangis Tangguh dan Thavisa membuat aku merasa tenang. Mungkin mereka sedang tertidur atau berada dirumah adikku. Aku masih duduk disini memastikan bapak dan Henry baik - baik saja.
" Saya mohon bapak percaya pada saya dan Mbak Arin. Tidak ada yang terjadi antara saya dan Mbak Arin. Saya menghormati Mbak Arin dan Pernikahannya."
" Tapi ......"
," Tolong, bapak percaya Mbak Arin. Jika bapak tidak percaya saya. " suara Henry kali ini sangat tegas tapi merendah penuh penekanan memotong kalimat yang akan bapak ucapkan. "
" Tapi....," ucap bapak lagi. Kali ini aku yang memangkas kalimat Bapak.
" Bapak....tolong jangan diperpanjang. Aku hanya ketiduran saja di sana. Henry, tolong pulanglah ! Bukankah acara di Villa jam delapan pagi ? "
" Eh.....Oh.....Saya....," Henry tampak sangat gugup dan tidak enak hati melihat sikap bapak yang ditunjukkan pada Henry pagi ini.
," Henry lekaslah pulang ! sekarang sudah jam setengah tujuh," ulangku lagi meminta Henry untuk segera beranjak pergi dari rumahku.
," Yah..... baiklah ," Henry berdiri dari duduknya mendekati bapak dan mencium punggung tangan beliau.
__ADS_1
," Bapak tolong jangan tegur Mbak Arin. Saya yang salah tidak mengijinkan Mbak Arin pulang tadi malam. Tolong, percaya kami. " Ucap Henry lagi memohon pada Bapak.
Wajah Bapak tetap kaku dan mematung seakan tidak tahu apa yang harus beliau ucapkan. Sesekali bapak mengerutkan keningnya dan memijitnya. Aku merasa bersalah pada bapak. Karena kesalahanku ketiduran di Villa Henry membuat buah pikiran untuk bapak.
," Maafkan Arin pak. Sungguh Arin menyesal. Apa bapak kecewa dengan Arin ? " aku melihat bapak yang terus terdiam tanpa kata.
," Pak.....Apa Tangguh dan Thavisa di rumah dik Arsita ? " Tanyaku sambil melangkah menuju kamar. Bapak hanya menggelengkan kepala Beliau pelan. Aku tidak mengetahui maksud bapak.
," Aku mau ke rumah dik Arsita, mengambil Tangguh dan Thavisa," Kembali aku melangkah ke depan. Bapak menghalauku dengan tangan beliau.
," Anak - anakmu tidak ada di rumah Arsita ," kata bapak dengan suara yang sangat sumbang. Aku seakan tidak percaya dengan gurauan bapak yang menurutku kali ini bukan lelucon. Aku tahu bapak sangat marah padaku karena aku menginap di tempat Henry.
," Bapak jangan gurau, kalau tidak di rumah dik Arsita apa iya di rumah Mbak Ayunda ? aku bertanya dengan cemas dan gugup karena kalimat bapak yang mengatakan anak - anakku tidak berada di rumah adikku Arsita.
Kalimat bapak menghentikan langkahku yang sudah beranjak dari ruang tamu dan hendak melangkah ke teras rumahku. Aku membalikkan badanku mengarah pada bapak yang berada di belakangku. Seperti rumah ini runtuh, bukan.....bukan hanya rumah ini, tapi dunia ini runtuh dengan kalimat berita bapak yang beliau ucapkan dengan sangat jelas, sejelas aku melihat bapak yang berada di depanku.
," Itu tidak mungkin pak, Itu tidak mungkin," ucapku tidak percaya. " Tolong ! Bapak hanya marah padaku karena aku menginap di Villa Henry ? Bapak hanya marah kan ? Tidak mungkin Pak Satrio dan Bu Elly datang kemari ?" Aku bertanya dengan tercengang - cengang tidak percaya. Hari pagiku langsung berubah petang seketika. Aku langsung duduk bersimpuh tidak percaya dengan ucapan bapak.
," Suamimu tadi malam datang dan tadi pagi jam lima pulang. Dia langsung membawa Tangguh dan Thavisa. Bapak sudah berusaha mencegahnya, tapi tidak bisa. Suamimu bilang, dia yang lebih berhak daripada bapak," penjelasan bapak dengan sedih.
," Untuk apa Pak Satrio datang ? Bukankah beliau sudah tidak perduli padaku dan anak - anakku ? Untuk apa beliau datang ? Untuk apa ?," teriakku dengan tangan menggenggam dan memukul lantai. Tangisku memecah hiruk pikuk di pagi ini. Lalu lalang orang lewat yang melihat ke arahku, tak aku perdulikan. Aku terus saja meraung menggila memanggil nama Tangguh dan Thavisa.
," Bapak sudah berusaha menelponmu tapi terputus terus, bapak kirim pesan lewat Wastapp," terang bapak. Ku buka tas yang masih menyelempang di bahuku. Mengambil Handphone dan melihat pesan masuk. Ada banyak panggilan dan pesan masuk dari bapak. Ya Allah, cobaan apa lagi yang engkau berikan padaku. Apakah terlalu salah ? Sungguh aku tidak sengaja menginap di Villa Henry, aku tidak berniat menginap disana. Kenapa balasannya sangat membuat aku sakit dan hilang kendali ?
__ADS_1
," Aku akan mengambil Tangguh dan Thavisa. Aku akan menyusul ke rumah Pak Satrio," ucapku. Aku berdiri dari lantai tempat aku bersimpuh. Aku kuatkan ragaku yang terlalu lemas mendengar Tangguh dan Thavisa diambil Pak Satrio. Aku melangkah cepat ke kamarku untuk mengambil uang simpanan yang ada di almariku. Tadi malam, aku tidak membawa uang lebih hanya beberapa dua puluhan saja untuk berjaga - jaga selama perjalanan ke Villa Henry.
Kamarku berantakan, baju - bajuku banyak tergeletak di tempat tidur. Surat - surat yang sering Henry kirim untukku berserakan. Dulu Henry sering mengirimi aku surat membuatkan aku puisi atau memberikan gambar - gambar tentang kami. Walau sekarang era digital, tapi Henry tetap sering mengirimi aku surat dan gambar yang dia gambar sendiri. Foto - fotoku bersama Henry sudah tersobek - sobek berserakan menyertai sobekan kertas yang juga berserakan di lantai kamarku. Aku tak terlalu menyoalkan ini sekarang. Aku cepat mengambil uang di laci almari dan keluar kamar.
" Bapak, tolong berikan ijin bapak. Arin mau menjemput Tangguh dan Thavisa. ," Pamitku pada bapak.
," Arin, apa sebaiknya kau telepon dulu suamimu. Mungkin ada jalan tengah ? " nasehat bapak padaku. Aku menggeleng cepat.
" Beliau tidak akan mau menerima panggilan teleponku Pak, Arin sudah paham sifat Pak Satrio."
" Apa bapak temani ? " bapak mencoba menawarkan bantuan padaku.
" Tidak Pak, biar Arin sendiri. Arin harus bisa sendiri dan membawa pulang Tangguh dan Thavisa. Mereka anak - anak Arin ,"
" Baiklah kalau seperti itu. Bapak hanya bisa membantumu dengan restu dan doa bapak,"
Kupeluk bapak dengan kuat dan tangis. Seandainya bapak tahu, sekarang ini untuk berdiri di atas kakiku sendiri aku tidak sanggup. Tapi aku harus kuat. Aku tidak rela Pak Satrio membawa anak - anakku, Tangguh dan Thavisa. Selama aku hamil, beliau Pak Satrio tidak banyak menemani. Ketika aku melahirkan beliau tidak mau mengantar dan menungguiku selama di rumah sakit. Dan sekarang......beliau melakukan apa yang beliau mau, mengambil anak - anakku.
Bersambung.........
Tolong beri like dan komentar.
Terima kasih sudah berkunjung ke novel saya.
__ADS_1