Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 107


__ADS_3

" Mau menemui siapa ibu ? " tanya seorang resepsionis. Aku ingin memberi support pada Pak Satrio dengan membawa bekal makan siang semur daging dan bacem tempe kesukaan beliau. Bukan aku yang memasak, semua Bu Elly yang memasaknya. Bu Elly juga setuju aku mengantar makanan untuk Pak Satrio di kantornya.


Flash black


" Hari ini aku menyelesaikan masalah dengan tamu yang kemarin datang ke rumah kita, doakan semua lancar. Jadi sampai selesai istirahat siang aku berada di kantor........setelahnya aku ke kantor.......... Pulang kantor aku mampir ke tambak. Pulang dari tambak aku mampir ke rumah di.....aku ingin melihat Adrian dan Adry. "


" Apa disana ada Mbak Asri ? "


" Aku tidak tahu,"


" Kalau ternyata ada Mbak Asri ?


" Ya langsung pulang tidak jadi masuk,"


" Bukankah kalau sudah masuk rumah baru tahu kalau ada Mbak Asri ? tanyaku


" Iya sebentar saja lihat Adrian dan Adry. Percaya padaku aku akan selalu menjaga keutuhan rumah tangga kita,"


" Janji ! "


" Janji." jawab tegas Pak Satrio


" Apa aku boleh ke kantor mas ? "


" Tentu saja boleh, kau istriku."


" Kapan ? "


" Sekarang juga boleh,"


Flash off


" Saya mau bertemu......"


" Arina..........Kau Arina kan ? Suara keras memanggilku dari arah pintu masuk kantor ini. Berjalan cepat dan menghampiriku. Wajah yang tidak asing bagiku, tapi sulit aku ingat.


" Arina.......kau lupa ? Aku Tian, Sebastian teman SMP mu. " Serunya lagi mencoba mengingatkan aku tentang dirinya.


" Tian. Benar kau Sebastian. Wajahmu tambah dewasa dan bertambah tampan Tian. Aku tidak mengenalimu." jawabku tersenyum pada Tian.


" He.....kalau wajahmu tetap seperti dulu dan kau tetap pendek tidak bertambah tinggi, mungkin karena dulu kau terlalu banyak membawa beban," cerocos Tian dengan santai.


" Ayo....ayo ke ruanganku. Ini tamuku Mbak, teman SMP ku," seru Tian kepada resepsionis yang terbelalak mendengar jawaban ucapan Tian. Bukan hanya resepsionis yang memandang tidak percaya pada kami, tapi semua pasang mata yang ada di ruangan ini seperti keheranan dan berbisik - bisik.


" Pak Dirga......," seru perempuan berpakaian rapi memanggil Tian dari belakang Tian. Cantik, tinggi, rapi dan tentu saja memakai rok pendek seperti cerita Pak Satrio.


Dirga ? Aaaahhhh aku lupa bukankah nama Tian adalah Dirgantara Sebastian Tjahjadi dan memiliki saudara kembar bernama Dirgantara Demian Tjahjadi.


" Iya......Fe. Tidak apa ini teman lama saya. Jadwal saya kosong kan Fe ? tanya Tian pada perempuan tadi sambil menarik tanganku menuju lift yang sudah terbuka.


" Rumahmu tetap di tempat yang dulu kan ? " tanya Tian tidak mau melepaskan pegangan tangannya di lenganku.

__ADS_1


" Iya......"


" Kau tetap menjalankan usahamu jualan gorengan dan nasi bungkus ? " tanyanya lagi padaku kali ini wajahnya menunduk memandang wajahku.


" Tidak sejak ibu sering sakit dan kami sudah bekerja," jawabku memberi tahu.


" Tian......" panggilku pada Tian yang tetap erat menggenggam lenganku.


" Iya......"


" Aku....."


" Kita bicara diruanganku saja," jawab Tian tersenyum.


Perempuan berpakaian rapi bernama Fe itu hanya terdiam melihat kami tidak mengeluarkan sepatah katapun.


" Fe tolong kalau ada panggilan masuk di tangani dulu ya. Aku ingin bernostalgia dengan Arina ! " Perintah Tian pada Fe dengan ceria.


" Arina.....apa yang membawamu ke kantorku ? Kamu tahu dari mana aku disini ? tanya Tian bertubi padaku.


" Aku tidak pernah tahu kau di sini Tian," jawabku


Oya.... Apa yang membawamu kemari ? "


" Aku mau bertemu Pak Satrio," jawabku.


" Om Satrio ? Apa kau saudaranya Om Satrio ? Apa kenalannya ? Ayok cerita padaku ? tanya Tian lugas padaku.


" Oh.....aku lupa Om Satrio baru saja rapat sama Papaku. Sepertinya penting. Aku tidak ikut, malas...." urai Tian menyamankan posisi duduknya di sofa ruangan ini.


" Apa sangat lama ? "


" Yap....kenapa ? Apa sangat penting ingin bertemu Om Satrio ?


" Tidak, kalau masih lama aku pulang saja Tian." jawabku dengan berdiri dari duduk.


" Arina....kau belum menjawab pertanyaanku ? "


" Yang mana ?"


" Apa kau saudara Om Satrio atau salah satu mitra Om Satrio ? Kok kenal dengan Om Satrio ?


" A.... aku istri beliau," jawabku ragu dan terbata.


" I.....istri Om Satrio ? tanya Tian terkejut. Alisnya menyatu tanda kurang percaya dengan ucapanku.


Arina.......... Kau tidak berbohong padaku ? tanya Tian melanjutkan pertanyaan keingintahuannya.


" Apa aku seperti berbohong ? "


" Arina........Maaf apa kau.....eh......kau......," ucap Tian ragu dan tidak melanjutkan kalimatnya, kemudian memilih diam.

__ADS_1


" Arina........" tangan Tian menghalangi langkahku keluar dari ruangan ini.


" Iya....."


" Sungguh kau istri Om Satrio ?


Aku mengangguk dan tersenyum tipis.


" Arina........" Tian terdiam ragu ingin berkata padaku.


" Apa sudah lama ?


Aku mengangguk pelan tak menjawab.


" Arina kenapa kau hidup ......ah maaf. Arina........apa kau istri simpanan Om Satrio ? tanya Tian padaku dengan ragu dan sangat lembut seolah tidak ingin menyinggung perasaanku.


" Tian......." lirihku menatap Tian tidak percaya apa yang barusan Tian katakan padaku.


" Arina......apa kau ke kantor ini ingin mengajukan pengaduan tentang hubunganmu dengan Om Satrio ? Apa kau sangat kesulitan ekonomi sehingga menjadi istri simpanan Om Satrio ? tanya Tian pelan dengan kalimat yang sangat tajam memotong sendi - sendi di tubuhku.


" Tian.....aku istri sah beliau untuk apa aku mengajukan pengaduan ? " tanyaku tidak mengerti maksud arah bicara Tian.


" Ok.....ok rileks...slow down Arina.


Ok.....kadang istri simpanan juga dinikahi secara resmi."


" Tian......aku istri sah beliau, kami sudah empat tahun bersama. Kami sudah punya dua buah hati dan sekarang aku mengandung anak beliau," jawabku dengan berurai air mata. Aku tidak tahu kenapa arah bicara kami sampai sejauh ini. Aku merasa Tian terlalu memandangku sebelah mata dan menganggap aku hanya bergurau mengaku sebagai istri sah dari Pak Satrio.


" Ok, mungkin aku yang terlalu bicara sangat jauh mencampuri urusanmu. Maaf."


" Boleh aku bertanya......? usul Tian dengan menatap tajam padaku. Sorot matanya hitam pekat seakan ingin masuk dan menyelami semua yang ada dalam dasar hatiku.


" Iya.....," jawabku pelan


" Duduklah dulu, bukankah kau berkata sekarang sedang mengandung," ajak Tian sambil menuntunku duduk di sofa kembali.


" Arina..... dari dulu sejak kita SMP aku melihatmu dengan penuh kasihan


Kau harus berangkat pagi, berjalan kaki mengantarkan makanan dan kue ke kantin dan warung pulang sekolah mengambil semua daganganmu. Kau kuat dan tidak malu melakukan semua itu. Aku kagum padamu."


" Tian....." seruku memberi isyarat agar Tian langsung berbicara langsung pada intinya. Tampaknya Tian mengerti dengan isyaratku.


" Arina....kalau memang kau istri sah Om Satrio ? Tante Asri ? Bukankah dia istri sah Om Satrio ? " tanya Tian dengan halus padaku.


" Tian.....aku tidak mengambil Pak Satrio, tidak. Aku istri sah beliau. Aku tidak merebutnya dari siapapun," jawabku dengan gemetar dan itu dilihat jelas oleh Tian. Mata Tian tertuju pada Tangan dan kakiku yang terlihat gemetar menahan takut dan menahan amarah.


" Ok.....Slow down baby. Arina......tenang." bujuk Tian padaku.


" Pak Satrio sudah bercerai dengan Mbak Asri ketika menikah denganku. Aku melihat sendiri surat cerai mereka ketika aku mengurusi kelengkapan administrasi pernikahan kami," ceritaku Pada Tian dengan menangis tak terbendung.


Bersambung............

__ADS_1


Mohon like, vote dan komentarnya.


__ADS_2