Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Episode Spesial 6


__ADS_3

" Kau bersiaplah kita keluar, aku tunggu sepuluh menit lagi. Aku akan bersama Tangguh dan Thavisa dulu," kata Pak Satrio dengan baju yang sudah rapi dan harum parfum yang khas milik lelaki.


" Kita mau ke......," pertanyaanku tak bisa ku utarakan lagi karena Pak Satrio memberi Isyarat dengan jari telunjuknya di bibirku.


"Bersiaplah. Aku tunggu di luar, aku beri waktu sepuluh menit untukmu." ucap Pak Satrio sambil mencium puncak kepalaku.


" Apa mas akan rapat di hotel ini ? tanyaku ketika memasuki lobby hotel. Kami tetap di dalam kota, jarak dari rumah ke hotel inipun tidak terlalu jauh. Hanya karena lalu lintas yang ramai saja, kami lama di jalan.


" Iya....," jawabnya pelan.


" Kenapa saya harus ikut ? "


" Karena dalam rapat ini aku membutuhkanmu."


" Apakah berkaitan dengan home industri batik ibu ? "


" Kita lihat saja nanti,"


Bayu sudah duduk dengan pakaian rapi menunggu kami. Berdiri menyambut kami yang datang mendekat. Pak Satrio berbicara pelan dengan Bayu agak lama, aku hanya memperhatikan saja. Bayu memperlihatkan tab yang penuh gambar pada Pak Satrio seperti membahas sesuatu.


" Bu Satrio," sapanya padaku sebelum meninggalkan kami berdua di lobby hotel ini.


Pak Satrio tersenyum padaku dan berkata lembut," Ayo sayang kita mulai rapatnya ! "


Aku berdiri dari dudukku mengikutinya melangkah.


" Selamat datang di honeymoon room untuk kita," ucap Pak Satrio setelah membuka pintu dan mempersilahkan aku untuk masuk ke kamar.


" Mas........" seruku terperangah kaget dengan dekorasi kamar ini.


Aku melihat kearah tempat tidur ada banyak bunga mawar menghiasi. Ditata dengan cantik dan terpusat pada rangkaian bunga mawar merah berbentuk lambang cinta.


Aku memasuki kamar ini perlahan dengan tersenyum, Pak Satrio mengikutiku dari belakang tangan kami masih menggenggam erat.


Kamar mandi yang transparan terlihat dari tempat tidur ini. Aku melangkah lagi, bathtub yang terisi air dan hiasan mawar membuat aku semakin terkagum - kagum.


" Apa saya mandi disini ? transparan ? "


" Tepatnya kita sayang. Kau dan aku." jelas Pak Satrio. Bukankah kita belum pernah melakukannya ? tanya Pak Satrio sambil menatap padaku. Wajahku serasa panas mendengar ucapan Pak Satrio.


" Ha....ha.... Aku menyukai wajah tersipumu sayang. Wajahmu langsung memerah karena malu. Kenapa ? kita suami istri." Ucap Pak Satrio.

__ADS_1


Aku tidak bisa berkata-kata lagi hanya senyum menyampaikan semuanya yang ada pada hatiku.


" Bukankah kau menyukai dan memandangku dengan kagum, ketika aku bertelanjang dada ? goda Pak Satrio. Seketika aku lemas dengan kalimat - kalimat Pak Satrio yang terus membuat aku malu.


Pak Satrio mendekat dan memelukku seraya berkata. " Aku ingin selamanya denganmu membesarkan anak - anak kita. Aku ingin memulai dari awal denganmu. Dengan ikatan pernikahan kita yang sebenarnya sudah lama terjalin tapi baru kita rasakan kehangatannya."


Tidak terasa aku menangis entah karena apa penyebabnya, senangkah ? terharukah ? sedihkah ? Tapi aku menangis tak bersuara. Pak Satrio semakin memelukku dengan erat.


" Sayang ! Perlu kau ingat, Kau tidak aku ijinkan lari dari kehidupanku. Akan tetap bersamaku sampai kapanpun,"


Aku mengangguk. Posisi kami, Pak Satrio memelukku dari belakang dan aku memegang tangan Pak Satrio yang sedang memelukku. Kami berdiri di dekat kaca yang bisa membuat kami melihat arus lalu lintas dari kamar ini.


" Sayang aku ada hadiah untukmu," ajak Pak Satrio sambil menggandeng tanganku melangkah ke tempat tidur.


Pak Satrio mengambil kotak perhiasan diantara bunga mawar merah berbentuk love.


" Sebenarnya konsepnya tidak seperti ini, tadi Bayu sudah menjelaskan padaku tapi aku lupa. Kau kan tahu aku paling tidak bisa membuat suasana romantis," Kata Pak Satrio sambil menyerahkan kotak perhiasan padaku. Kami membuka bersama.


Cincin


," Selama kita menikah aku belum pernah memberikan cincin pernikahan untukmu. Maaf aku terlambat memberikannya, tapi aku yakin belum terlambat untuk membuat rumah tangga kita bahagia." tutur Pak Satrio sambil memasangkan cincin tersebut di jari manisku sebelah kiri.


" Maaf kalau hanya itu yang didapat, kata Bayu hanya itu yang ada dan terlihat pas untukmu. Untuk lebih mendetail harus pesan dulu dan itu memakan waktu sampai satu minggu bahkan lebih, semetara aku ingin sekarang hari ini," cerita Pak Satrio jujur padaku.


" Mas jangan ! " seruku pada Pak Satrio


" kenapa ?"


" Aku merasa sayang harus merusaknya,"


" Aku sudah membayar mahal untuk ini. Dimana letak menggunakan jasa hotel ini. Kalau kita membiarkannya itu namanya tindakan irasional. Bukankah tugas kita menggunakan jasa yang sudah kita bayar ?"


" Kenapa harus lari ke teori ekonomi ? Saya hanya merasa sayang saja. Kasihan yang membuat tentu membutuhkan waktu lebih dari hitungan menit bahkan jam untuk membuat terlihat cantik seperti ini, dan kita merusaknya hanya dalam hitungan detik."


" Apa kita harus tidur dilantai ? "


" Kita bisa duduk di pinggir ranjang saja sambil melihatnya,"


" Dengar nyonya, kita konsumen yang membeli jasa hotel ini. Tugas kita menggunakan jasa yang sudah kita bayar, bukan hanya untuk melihat saja. Bukankah tadi sudah aku jelaskan." Ucap Pak Satrio dengan menarikku ke tengah ranjang dan merusak semua hiasan mawar merah berbentuk love


" Mas Satrio ! " Seruku sambil mencubit lengan Pak Satrio

__ADS_1


" Sayang ! kita kesini untuk bermesraan, untuk membuat suasana romantis. Kenapa malah berdebat ? "


" Mas Satrio yang memulai duluan,"


" Aku....kau yang memulai karena hiasan bunga ini. Kalau tahu seperti ini, aku menolak rencana Bayu dan memilih kamar biasa saja tanpa layanan honeymoon," ucap Pak Satrio sambil tertawa lirih.


" Apa semua ini yang mengatur Bayu ? Bukan inisiatif mas Satrio sendiri ?


" Iya begitulah kira-kira tepatnya."


" Dan yang memilih cincin juga Bayu ? "


" Kurang lebihnya seperti itu. Aku yang mengukur jari manismu ketika kau terlelap."


" Kapan ?"


" Tadi jam tiga dini hari. Aku menelepon Bayu untuk mengatur semuanya."


" Jam tiga dini hari ? Dan mas menyuruh Bayu datang ke rumah untuk mengambil ukuran cincin di jari manisku,"


" Tidak begitu persis terkaanmu. Bayu sendiri yang kurang yakin ukuran jarimu aku sudah mengatakannya. "


" Ooooh saya merasa kasian sekali pada Bayu mas, tentu dia sangat menderita menjadi sekretaris mas,"


" Dia sekretaris yang hebat, ketika aku ada masalah tanpa aku suruh dia sigap mengerjakan sesuai apa yang aku inginkan. Kecuali hari ini, dia gagal."


" Gagal ? Kenapa ? "


" Karena tidak berhasil membuat kita seperti di film - film."


" Bukan Bayu yang salah, tapi mas yang tidak bisa romantis."


" Benarkah ? "


" Aku merasa kasihan pada Bayu, mungkin di dalam hatinya sering mengumpat untuk mas,"


" Bukan Bayu yang sering mengeluarkan kalimat umpatan untukku, tapi pacarnya Bayu. " tawa Pak Satrio lepas sekali seakan tanpa beban. Walau lirih tapi sangat membuatnya senang.


" Aku ingin libur sesekali tanpa memikirkan pekerjaan sayang. Dan itu hari ini, menikmati libur denganmu hanya ada kita, walau tetap di kota ini tanpa melakukan perjalanan,"


" Iya itu benar......,"

__ADS_1


Bersambung..........


Vote, like dan komentar tetap menjadi harapan author.


__ADS_2