Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Episode Spesial 7


__ADS_3

" Sayang ! Kita sudah satu jam lebih disini tanpa melakukan kegiatan yang berarti. Hanya berdebat dan membahas Bayu. Aku ingin lebih dari sekedar mengobrol."


" Bukankah mas ingin berlibur dan mengobrol sepanjang hari denganku ?"


" Iya kau benar, maaf sayang. Ini baru pertama kalinya aku memberi cuti untuk diriku sendiri. Dari usiaku dua belas tahun hingga sekarang aku tidak pernah merasakan liburan. Kalau aku ke suatu daerah pasti berkaitan dengan pekerjaan. "


" Saya juga mas tidak pernah kemana - mana. Bukan karena sibuk bekerja, tapi karena tidak ada uang untuk berlibur. "


" Sayang. Bagaimana kalau diawali hari ini, kita melakukan yang disarankan Bayu. Kita sesekali meluangkan waktu hanya berdua saja, seperti hari ini check-in di hotel, nonton bioskop berdua, makan malam yang romantis atau makan malam kuliner di pinggir jalan. Apa kau setuju ? "


Aku mengangguk dan tersenyum.


" Juga mengantarku berbelanja ? "


" Tidak ! Aku angkat tangan dan berkata " tidak" untuk mengantarmu berbelanja. Kata rekan - rekan kerjaku, mereka semula ikhlas tapi berujung dengan perdebatan panjang dengan pasangannya karena terlalu lama dan menyia - nyiakan waktu. Barang yang dibeli hanya satu atau dua item saja, mencarinya harus berputar dan berganti toko sampai memporak-porandakan jadwal kerja.


" Kalau berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari ?"


" Iya bolehlah bukankah hanya mengambil barang kemudian pulang ? "


" Janji ! "


" Janji. Kalau untuk menemanimu membeli kebutuhan pribadi masih aku pertimbangkan."


" Seperti surat keputusan saja, harus mengingat dan menimbang. Apa saya juga harus mengajukan proposal ?"


" Ha....ha.....Aku masih berusaha dan belajar sayang ! Kata Bayu itu bisa merekatkan hubungan."


Diam sejenak dan mengambil nafas


" Bocah ingusan itu ( yang dimaksud adalah Bayu ) ternyata lebih pintar dariku soal hubungan dengan wanita. Apa aku yang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak pernah melakukan semua itu ? "

__ADS_1


" Karena mas terlalu sibuk bekerja,"


" Ha.....ha....kau benar. Bagiku itu membuang - buang waktu saja. Tapi tidak kali ini, aku akan melakukannya demi hubungan kita."


" Apa mas tidak lelah selalu bekerja tanpa berlibur ?


Pak Satrio menganggat bahunya dan menjawab pertanyaanku. " Kalau aku jenuh bekerja, aku lampiaskan dengan berolah raga dan berhubungan intim, itu sudah menurunkan kelelahan bekerja. "


" Berhubungan intim ? tanyaku seperti sulit menelan salivaku sendiri.


" Iya yang seperti ini," ucapnya dibarengi dengan tindakan mengurungku dengan kedua tangannya.


" Sebentar ! "


" Apalagi ?" tanya Pak Satrio tidak sabar dan merasa kesal.


" Apa mas tidak malu berhubungan intim dengan anak kemarin sore ? tanyaku berusaha menolak dengan kedua tangan pada dada Pak Satrio.


" Benarkah ?"


" Banyak omong ! "


* * * * * * * *


" Mas aku ingin membeli susu untuk anak - anak," pintaku ketika kami sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.


" Bukankah dirumah masih ada stok ? Kenapa beli lagi ? Bukankah mama ( yang dimaksud adalah Bu Elly ) kemarin sudah membeli untuk kebutuhan sebulan ? tanya Pak Satrio keheranan padaku.


" Aku ingin beli sendiri dengan uang belanja dari mas."


Selama aku berdiam dirumah orang tua Pak Satrio. Semua kebutuhan rumah tangga memang dihandle dan di backup Bu Elly dan Pak Hardian mertuaku. Dari kebutuhan sehari - hari sampai kebutuhan anak - anak seperti susu, diapers dan lain - lain. Kadang aku mencari barang apa yang harus aku beli ? ternyata semua sudah tersedia, sampai untuk makanan ringan kesukaanku pun sudah ada. Itu dilakukan oleh Bu Elly, mungkin karena Pak Satrio putra semata wayangnya jadi pengeluaran beliau hanya terpusat pada kebutuhan Pak Satrio. Tugasku di rumah ini hanya sekedar membantu Bik Ipa memasak dan mengurus anak - anak. Selain membantu Bu Elly mengurus usaha home industri batik milik beliau.

__ADS_1


Uang belanja dari Pak Satrio hanya aku gunakan untuk membeli makanan pesanan Pak Satrio ketika ingin berganti menu dari luar rumah.


" Bukankah membeli di mini market juga ada ? Kenapa harus ke sini ? tanya Pak Satrio heran ketika aku memintanya masuk di sebuah mall di kota ini.


" Aku ingin membeli disini," jawabku santai.


" Nyonya dengar ! Jangan pernah membandingkan harga yang terpaut lima ratus atau seribu rupiah kemudian kita berpindah toko. Itu membuang waktu bagiku harga seribu rupiah tidak bisa menghilangkan rasa capek seharian karena berpindah-pindah toko."


" Kalau yang dibeli sepuluh, bukankah terpaut sepuluh ribu ? Bisa buat beli es mas. "


" Nyonya, harga itu sudah dipikirkan oleh bagian penjualan dan perusahaan. Sudah sesuai dengan pengeluaran dan pajak yang mereka tanggung. Lebih baik aku membayar sepuluh ribu daripada aku harus kehilangan tiga jam waktu kerjaku. Dengan waktu tiga jam, aku bisa menghasilkan lebih dari sepuluh ribu. Uang sepuluh ribu itu, aku anggap sebagai tip untuk karyawan berupa kelebihan harga dan salah satu bagian dari siklus ekonomi agar tetap berputar."


" Mas.....Kita kesini hanya untuk membeli susu bukan untuk membicarakan masalah ekonomi." ucapku kesal.


" Iya sayang, maaf." jawab Pak Satrio pelan.


Semakin lebih dekat dan dalam mengenal Pak Satrio. Aku semakin mempelajari beliau. Mempelajari dan berusaha memahami Pak Satrio. Berusaha mencari dimana letak renggangnya hubungan Pak Satrio dan Mbak Asri agar tidak terjadi padaku dan Pak Satrio. Sama dengan keinginan Pak Satrio, aku juga menginginkan ikatan pernikahanku dengan beliau langgeng selamanya.


Memang membosankan jika banyak mengobrol dengan Pak Satrio karena yang dibahas hanya seputar pekerjaan, bisnis, ekonomi, pohon kopi, pohon kakao, tembakau, hasil tambak yah seputar itulah. Berbanding terbalik dengan aku yang lebih suka berbicara tentang makanan, drama, berita artis yang sedang hit. Dalam mengobrol atau berbincang, masalah Pak Satrio lah yang lebih dominan kita bicarakan. Ketika aku memulai membahas masalah yang aku suka, seperti membahas artis yang sedang viral beliau mengelak.


" Mas.... ini loh ternyata artis A itu punya hubungan sama artis B sekarang mau menikah," ucapku suatu hari pada Pak Satrio.


" Terus apa kaitannya denganmu. Biarkan mereka menjalani kehidupannya. Bukankah tidak menggangu uang belanjamu ? " jawabnya ketus bahkan tanpa menoleh padaku. Padahal yang aku inginkan, Pak Satrio akan bertanya," iya .....terus bagaimana kelanjutannya ? Apa jadi menikah ?


Kadang hal kecil semacam itu membuat aku merasa jengkel dan masygul. Sehingga memicu pertengkaran kecil karena menganggap pembicaraan kita tidak berarti.


Atau kadang ketika aku bertanya. " Mas baju ini cocok tidak untukku ? dengan harapan aku mendapat pujian tapi jawaban Pak Satrio diluar perkiraanku. "Pakai apa saja cocok yang penting tidak telanjang." Dan kembali Pak Satrio tidak menoleh padaku netranya fokus pada laptop di depannya.


Ternyata aku harus banyak bersabar, begitulah sikap suamiku. Tidak mungkin aku menuntutnya sempurna sementara Pak Satrio tidak pernah menuntutku sempurna menjadi istri. Tidak pernah menuntutku untuk memasak buat dirinya. Tidak pernah memintaku membuatkan kopi untuknya. Tidak pernah menyuruhku merapikan bajunya atau mengemas baju kotornya. Semua beliau lakukan sendiri, meletakkan baju kotor di rak baju kotor. Meletakkan sepatu di almari sampai membuat sendiri kopi untuk dirinya sendiri.


Bersambung......

__ADS_1


Like, Vote dan komentar adalah harapan author. Terima kasih sudah membaca novel Author.


__ADS_2