Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Episode Spesial 6


__ADS_3

Aku duduk menunggu penjual makanan mengemas lontong balap yang dipesan oleh Pak Satrio melalui sambungan telepon. Rumah makan lontong balap ini langganan Pak Satrio mulai ketika beliau belum menikah. Jadi sudah kenal betul selera dan porsi Pak Satrio. Kami berjanji bertemu untuk makan siang di kantor Pak Satrio, karena Pak Satrio tidak bisa keluar untuk makan siang.


Di hadapanku duduk sepasang suami istri sedang bertengkar tidak nyaring tapi terdengar olehku.


" Aku masih mencintai mantan istriku kenapa kamu tidak suka ? Iya sudah kita cerai ? " Kata sang lelaki pada perempuan di depannya yang sedang menahan tangis agar tidak tertumpah di pipinya.


" Jangan kak ! kasihan anak kita, aku gak apa - apa kak Rinto tidak memberi uang padaku. Aku bekerja, aku bisa mencari uang sendiri. Aku tidak apa - apa Kak Rinto jarang berkunjung ke rumahku, asal kita tidak bercerai,"


Semula aku mengabaikan pertengkaran mereka, aku lebih memilih memposting untuk penjualan batik tulis di Instagram milikku. Tapi perasaan ini bergetar dengan kalimat perempuan tadi. Aku mendongak memandang wajah perempuan itu. Cantik, muda dan menggenakan baju resmi seperti seorang karyawati di sebuah perusahaan.


Ingin aku berlari dan memeluknya. Mengatakan dan memberi semangat untuknya. Bisa ! kamu bisa bertahan ! Hanya kau pilih bertahanmu ! Bertahan bersama pasanganmu atau bertahan hidup sendiri dengan anakmu !


Beberapa bulan yang lalu posisiku sama persis seperti perempuan itu. Disakiti, dicaci, bahkan tidak dinafkahi secara materi. Berjuang sendiri menafkahi diri sendiri dan anak kita. Beberapa bulan lalu aku juga sama seperti perempuan itu. Andai aku gambarkan dengan kata - kata yang yang tidak pantas untuk didengar. " Mung dadi lumah - lumahane wae". Aku hanya dijadikan penghangat ranjang saja ketika suami kita sedang marah dengan orang tercintanya. Dibutuhkan hanya untuk keinginan biologis saja, tanpa tahu dan mengerti perasaan kita,"


Bukan kita tidak dicintai oleh pasangan kita, atau suami kita. Tetap kita dicintai hanya dalam takaran yang berbeda dan di waktu yang salah. Kita menjadi pasangannya saat pasangan kita masih mencintai mantan terindahnya. Bukankah hal yang paling menyakitkan setelah perceraian adalah kita tetap mencintai pasangan kita walau sudah bercerai ?


Tapi kenapa aku tetap bertahan dengan suami yang bahkan hanya memandang sebelah mata padaku ? Yang hanya membandingkan aku dengan pasangan terdahulu. Karena aku yakin kekuatan doa. Aku menjadi memahami kenapa ibuku tidak bercerai dengan bapakku walau dari puluhan tahun pernikahannya hanya di awal pernikahan saja beliau senang. Karena ibu selalu berkata pada kami. Dan mungkin itu yang tertanam di hatiku dan juga kakakku Mbak Ayunda. " Ing bebrayan timbang bakal karuan nambal." Kalau aku artikan mungkin seperti ini. Dalam rumah tangga daripada kita mencari yang baru lebih baik kita benahi dulu dengan pasangan kita yang sekarang."


Jika kalian bertanya untuk apa aku bertahan, mungkin itulah jawabannya. Aku yakin suatu saat hati manusia akan berubah karena Tuhan maha membolak-balikkan hati. Aku yakin suatu saat sekeras apapun hati yang membenci pasti akan luluh dan mencinta, karena proses pembuatan kita juga karena rasa saling mencintai dan bentuk pencurahan kasih sayang.


No ! Kalimat itu tidak berhenti di situ. " Menawi wadahmu nyanggupi gudone ing rumah tangga. Naliko ora sanggup delehen wae." Kalau aku artikan. Kalau tempatmu ( hatimu ) sanggup menjalani godaan rumah tangga jalani ! Kalau tidak sanggup letakkan, tinggalkan !

__ADS_1


" Mergo kuwi cobaanmu, wes bagian teko uripmu," ( Karena itu cobaanmu sudah menjadi bagian dari kisah hidupmu ).


Kabeh menungso wes duwe lakon Dewe - Dewe. Kito mung sak Dermo nglampahi. ( Setiap manusia mempunyai jalan cerita sendiri - sendiri, kita hanya sekedar menjalani hidup).


Jika aku tidak bertahan dan memilih orang lain sebagai pasanganku. Ujiannya akan tetap sama harta ( ekonomi ) orang ketiga, keluarga dari pasangan kita ataupun dari keluarga kita sendiri, hanya kemasannya saja yang berbeda.


Kenapa aku bertahan, karena aku yakin aku mampu mengubah hati Pak Satrio untuk bertahan denganku dalam membina rumah tangga. Karena aku percaya cinta datang karena kita terbiasa memiliki pasangan kita.


Aku juga tidak tahu sebesar apa suamiku Pak Satrio mencintai aku. Ketika aku bertanya pada Pak Satrio, beliau selalu mengembalikan padaku dengan pertanyaan yang sama.


" Apa mas mencintaiku ? Apa mas masih mengingat Mbak Asri ? "


" Apa kau juga mencintaiku ? Apa kau bisa melupakan Henry ? "


Bahkan jika kami berdua jujur sejujurnya masih ada perasaan cinta untuk mantan pasangan masing - masing. Tapi semua itu terkalahkan dengan keinginan yang sama, membina keluarga bersama, membesarkan anak - anak dan keinginan bahagia walau bukan dengan orang yang kita cintai. karena sejatinya naluri ingin bahagia dimiliki setiap orang.


Aku yakin sebuah ikatan yang melibatkan perasaan pasti akan membaik. Karena aku percaya rasa kasihan melebihi dari pada rasa cinta. Jika kita kasihan pada pasangan kita. Kita tidak akan berpaling, kita tidak akan mampu menyakiti pasangan kita. Saat ini hubunganku dengan Pak Satrio diawali rasa kasihan. Beliau kasihan padaku yang sudah banyak menderita karena sikap dan tingkahnya padaku. Aku kasihan pada Pak Satrio karena rasa sakit hatinya yang mendalam dengan masa lalunya. Aku kasihan pada Pak Satrio kerena dia seorang pekerja keras yang tak memiliki waktu untuk bersantai bahkan untuk membuat dia bahagia.


Aku yakin masih banyak Arin - Arin diluar sana bahkan yang lebih menderita daripada aku. Yang hanya bertahan dalam rumah tangga demi anak - anak mereka. Yang rela mengorbankan kebahagiaannya hanya ingin melihat anaknya tumbuh baik dengan asuhan orang tua kandungnya. Yang bertahan dengan rumah tangga karena menjadi tumpuan keluarganya secara ekonomi.


Aku yakin setiap orang dilahirkan memiliki hati yang baik, jiwa mencintainya sangat tinggi. Jika aku boleh jujur menuliskan sikap Pak Satrio padaku. Aku akui sikap labil Pak Satrio yang kadang membuat aku tidak kuat dengan semua. Aku percaya setiap sikap dan tindakan kita dipengaruhi tekanan eksogen dan endogen. Demikian juga Pak Satrio, jika tekanan eksogen yang dialaminya sangat kuat, Pak Satrio berlaku kasar padaku. Beliau sendiri harus berjuang untuk itu, bertahan dari tekanan - tekanan dari luar dirinya. Tekanan Mbak Asri yang menginginkan memiliki Pak Satrio sepenuhnya. Bertahan dengan tekanan ibundanya yang menginginkan untuk menikah lagi dan membina rumah tangga baru. Antara bertahan dengan pasangan dan pengabdian seorang anak pada ibunya. Sehingga terburu- buru menikah lagi tanpa menyadari tindakannya bisa mematahkan hati seseorang, bisa membuat seseorang tidak percaya pada lembaga pernikahan. Tapi jika tindakannya terdorong oleh dirinya sendiri, beliau berlaku sayang padaku seolah aku adalah segalanya bagi Pak Satrio.

__ADS_1


Yuk......Semangat Arin - Arin seperti aku. Aku yakin kau perempuan hebat dan kuat. Tuhan memilihmu menjalani hidup ini dengan berliku agar kita lebih dekat dengan - Nya. Karena Tuhan percaya kita kuat dan bisa menjalani cobaan ini.


Semoga cerita Arin menjadi semangat dan perasaan nasib yang sama. Bahwa bukan hanya kau yang menjalani hidup seperti ini. Ada banyak Arin yang tetap menutup rapi kisah mereka, hanya bisa bersenandung dalam doa dan tangis tak bersuara ketika malam hari.


Untuk Pembaca yang sampai saat selesai ku tulis novel ini. Terima kasih sudah memberi support, like dan komentarnya.


Author sudah menyiapkan novel baru, tapi masih mempelajari karakter tokoh dan masalahnya.


Ian Veneration as Satrio Adi Panengah




Pan zi Jian as Henry Winata




Untuk Visual Arin, Author masih belum nemu. Arin berwajah umumnya perempuan Indonesia, manis dan berkulit agak kecoklatan.

__ADS_1


Salam untuk orang - orang terkasih pembaca.


Tamat........


__ADS_2