Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 14


__ADS_3

" Apa yang kamu lihat ? cepat selesaikan terus pulang," aku pura - pura bertanya walau sudah tahu apa yang Henry lihat.


" Tutorial bercinta, kenapa ? " jawabnya dengan tetap melihat HP di tangannya.


" Bukankah hal itu bisa secara otodidak kenapa pakai tutorial," jawabku mencoba menghentikan apa yang Henry lihat. Tapi perkataan ku ini justru membawa aku pada dosa besar.


" Benar kata mbak Arin. Bisa dipelajari secara otodidak. "


Diam sesaat......


" Tadi Mbak Arin bilang ciumanku sepele. Sekarang Mbak Arin berkata seolah - olah aku pria bodoh yang tidak bisa melakukannya," seru Henry padaku.


" Ti..... ti..... tidak, a..... aku tidak bermaksud seperti itu. Ayo pulang ini sudah malam," pintaku menjauh beberapa langkah dari tempat duduk Henry.


Henry berjalan menuju ke arahku setelah melempar HP nya begitu saja di sofa tempat dia duduk tadi.


" Henry..........Henry ........apa yang mau kau lakukan," aku gemetar dengan perbuatan Henry yang tiba - tiba.

__ADS_1


" Melakukan seperti yang ada di pikiran Mbak Arin Dan membuktikan aku bukan pria bodoh seperti dugaan mbak Arin,"


Cepat Henry menyambar bibirku. otakku seakan kosong dengan perlakuan Henry. kenapa aku membiarkan dia melakukan apa yang dia kehendaki begitu saja.


" Jangan......." suaraku parau memohon pada Henry begitu dia melepaskan ciumannya tapi dengan mudah sudah menguasai tubuhku.


" Jangan berhenti maksudnya ?" Henry bertanya balik padaku. Menyipitkan matanya dan membentuk senyuman di bibir. Dengan mudah Henry membawaku ke kamarnya. melakukan hal yang seharusnya tidak boleh kami lakukan. Melakukan yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pria dan wanita yang sudah memiliki ikatan suci.


Aku berontak melawan dengan semua kemampuanku, tapi seperti sia - sia. Apa dia yang terlalu kuat atau aku yang terlalu kecil ? Aku yang hanya memiliki tinggi 145 cm dan berat badan 30 kg sedangkan Henry, laki - laki dengan tinggi badan 187 cm dan berat badan sekitar 73 kg. Tentu ini bukan alasan utama, aku mengaku menyerah. Aku sudah berusaha menolak apa yang dia lakukan, walau pada akhirnya aku menyerah. Aku membiarkan apa yang dia inginkan, karena tenagaku untuk melawan sudah habis. Sementara tubuhku berkata lain. Aku mulai menerima.......... menerimanya, melakukan aktivitas dan fungsinya sebagai bagian dari organ tubuh yang diberikan sang pencipta. Seakan ada dua sisi terbentang luas di hatiku. Antara menolak dan merasakan indahnya surga dunia. Tanganku yang semula melawan kini diam seperti kehilangan tenaga.


Henry menghentikan aktivitasnya setelah berkali - kali aku memohon karena aku merasa sudah sangat letih. Mungkin dia kasian dengan keadaanku yang sudah tidak berdaya. Aku menangis dengan apa yang barusan terjadi padaku. Bagaimana dengan masa depanku ? Hancur sudah semuanya. Diusia ku yang sudah tidak muda lagi ditambah keadaanku sekarang sudah tidak suci lagi. Henry memelukku dari belakang dan menciumi rambutku. Seolah ingin menenangkan aku dengan pelukannya.


Tidak ku balas apapun perkataan Henry. Aku sangat lelah dengan semua. Lelah fisik dan psikis. Kembali, aku menahan dan menahan agar tidak bersuara dan terlontar tangisan sakit dari bibirku. Ternyata Henry hanya memberi jeda untukku beristirahat. Sekarang dia melakukanya lagi. Melakukan untuk kesekian kalinya, tanpa memperdulikan keadaanku yang sudah lelah. Ya aku sangat lelah dengan semua yang yang terjadi padaku.


Aku pasrah dengan semua, apa yang terjadi terjadilah aku hanya wayang yang tugaskan menjalankan perannya di dunia ini. Mungkin ini sudah garis tanganku. Dua kali aku dipermainkan laki - laki. Mas Ravi yang hanya memberi PHP padaku selama tujuh tahun. Sekarang Henry laki - laki yang lebih muda sepuluh tahun dariku. Ibu, aku kangen dengan ibu................. lihatlah anak gadismu ini dengan iba. Aku lelah ibu.....aku ingin dipeluk ibu untuk kekuatanku bertahan hidupku.


Aku mencusikan diriku dengan mandi besar dan mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Bukan hanya perih di tubuhku tapi juga hatiku. Tanda kepemilikan yang Henry berikan sangat banyak di tubuhku membuat aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku seperti gadis murahan yang dengan mudah naik ke tempat tidur laki - laki hanya karena sentuhan - sentuhan kecil. Bukankah tidak dibenarkan, kalau aku berkata ini pelarian karena masalah yang bertubi - tubi datang padaku. Aku akui bukan salah Henry sepenuhnya dalam kejadian tersebut, aku juga turut andil dengan perkataan - perkataan ku yang membuat dia emosi karena merasa disepelekan. Membuat Henry merasa tertantang sebagai laki - laki apalagi diusianya yang masih di awal dua puluhan. Perkataan ku membuat jiwa keegoannya bangkit, jiwa tak terkalahkan dan jiwa petualangannya masih sangat tinggi. Terlebih lagi dalam palung hatiku yang paling dalam. Aku juga mengiyakan dan menerima perlakuan tidak bermoral Henry. Apa aku perawan tua yang kesepian yang butuh belaian laki - laki ? Aku merukuti diriku sendiri dengan sumpah serapah.

__ADS_1


Aku bersimpuh dan menangis setelah sholat subuh. Ibu, siksaan apa yang engkau terima dan rasakan sekarang di sana ? Karena anak gadisnya sudah berbuat dosa besar. Aku beristigfar dengan bersujud memohon ampun pada Allah yang maha pengampun. Masih diterima sholat ku hari ini ? Masihkah Allah melihatku karena aku melanggar perintahnya. Aku takut Allah berpaling dariku. Aku takut membuat ibuku menangis. Sudah cukup beliau menangis di dunia, jangan di sana. Aku ingin ibuku tenang dan tersenyum melihat kami anak - anaknya.


Aku menghela nafas panjang berharap rasa sesak ku di dada berkurang. Bagaimana dengan Henry, dia juga akan mengalami hal yang sama denganku. Dia putra bungsu yang dibanggakan keluarganya. Apa kata keluarga besarnya kalau dia bercerita tentang kejadian tersebut. Orang tuanya menaruh harapan besar dipundaknya. Aku tidak mau dituduh sudah merusak kelakuan putra tercintanya.


Selesai Sholat aku berjalan tertatih menuju tempat tidurku rasa perihnya belum hilang sehingga dengan perlahan aku membaringkan tubuhku.


flas black


" Tidak usah kekantor, Mbak Arin istirahat saja," perintahnya dengan menggendongku turun dari mobil ketika sampai depan rumahku. Aku malas berbicara padanya. Aku hanya memalingkan wajahku tapi bersedia dia gendong, aneh bukan ? Tapi itulah yang terjadi padaku.


" Nanti siang aku kesini lagi, " ucapnya sebelum berlalu pergi dan menciumi keningku berkali - kali. Aku masuk ke rumah setelah Henry menggerakkan mobilnya menjauh dari rumahku, Kami sampai rumah jam empat subuh tadi.


Aku menyelimuti tubuhku dengan bad cover kesayanganku. Mencoba menghangatkan badan karena aku merasa dingin dan menggigil. Terus saja aku melantunkan kalimat kalimat istighfar sampai aku sendiri tidak tahu aku sudah tertidur karena kelelahan. Aku ingin tidur dan bermimpi bertemu ibuku.


bersambung.........


mohon like dan vote nya.

__ADS_1


Terima kasih sudah mau membaca karya novel saya dan saya berharap pembaca suka dengan jalan cerita saya. Tolong beri masukan dan kritik. Salam sayang..........................


__ADS_2