Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 87


__ADS_3

Assalamualaikum Wr Wb.


Selamat membaca novel Author jangan lupa selalu memberi komentvdan like agar Author senang.


Author juga memohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat. Sebisa mungkin Author menghindari penyebutan nama tempat dan kota dalam cerita Author.


*


*


*


*


Belum beberapa menit beliau membuka kembali netra beliau.


" Orang tuaku saling mencintai, tidak ada orang ketiga dalam kehidupan mereka. Keluarga yang sangat bahagia, mama selalu menuruti semua keinginanku karena aku anak semata wayang. Aku mendambakan keluarga seperti papa dan mama yang saling mencintai dan saling mengisi satu sama lain. Aku memilih Asri, karena aku anggap dia bisa mewujudkan keinginanku hidup bahagia sebagai suami istri dan keluarga. Tapi ternyata tidak.....," Pak Satrio kembali bercerita padaku dengan suara yang lirih.


" Aku sudah gagal dalam berumah tangga dengan Asri, denganmu aku tidak ingin gagal lagi. Aku benar-benar menitipkan diriku padamu dik Rin, Sepenuhnya......... Aku benar - benar takut, bercerai lagi. Rasa sakitnya tidak bisa aku ungkapkan. Bukan hanya aku yang terluka tapi Adrian dan Adry juga terpuruk karena perceraian kami," Netra Pak Satrio mengandung awan - awan yang sudah bersiap untuk bersenandung dengan tangisan, tapi beliau tahan. Dikedip - kedipkan netra beliau agar tidak tertumpah di pipi beliau.


" Apa mas menyesal bercerai dari Mbak Asri ? tanyaku tak kuasa dengan ratap Pak Satrio serasa menderita jauh dari Mbak Asri dan keluarganya yang dulu. Aku sadar, aku hanya orang baru bagi beliau.

__ADS_1


" Aku tahu Asri selalu marah padaku karena aku selalu mengutamakan mama dalam segala hal. Suatu hari, mama memintaku menemani beliau karena papa tidak bisa mengantar ke rumah Tante di .......( sebuah kota di luar pulau Jawa di Indonesia bagian tengah ). Aku meninggalkan Asri selama delapan hari dalam keadaan hamil sembilan bulan, Adrian waktu itu menjalani rawat inap di rumah sakit. Usia Asri masih sangat muda, setiap hari dia selalu menangis memintaku untuk segera pulang. Sampai saat ini, aku tidak bisa memaafkan diriku karena rasa bersalah selalu hinggap. "


Aku tidak tahu perasaan apa yang ada di dalam hati Pak Satrio saat ini. Tapi kenapa cerita beliau membuat garis - garis tipis dan halus di hatiku. Aku terluka dengan cerita masa lalu beliau dengan Mbak Asri. Tampak jelas beliau sangat mencintai Mbak Asri, walau seringkali beliau bilang sudah tidak mencintai Mbak Asri lagi. Apa yang harus aku lakukan ? Haruskah aku kembali pada tujuanku semula ? Hidup hanya dengan anak - anakku saja ? Aku tidak mungkin hidup dalam bayang - bayang kenangan mereka, Mbak Asri dan Pak Satrio.


" Jika kau bertanya, apa aku menyesal bercerai dari Asri jawabanku adalah tidak. Bagaimanapun selingkuh tidak dibenarkan dengan alasan apapun. Aku saja yang seorang laki - laki pantang berselingkuh, apalagi dia seorang istri, seorang ibu. Aku bercerai dari Asri karena dia berselingkuh bukan karena aku lebih menyayangi mama seperti perceraian pertamaku dengan Asri. Hanya aku minta pengertianmu, untuk melupakan Asri dengan mudah itu terlalu sulit bagiku."


" Kalau mas masih tidak bisa melupakan Mbak Asri, saya akan tetap kalah mas.....Jadi mungkin sebaiknya saya yang mundur." tegas aku utarakan keinginanku. Karena dari awal aku sudah siap dengan semua.


" Tidak....jangan seperti itu. Tugas kita bersama agar aku bisa lepas dari Asri. Kau bisa lihat sendiri, aku berusaha keras agar tidak lagi bersentuhan dan berhubungan lagi dengan Asri. Kalau kau juga menjauh dariku, aku tidak punya pegangan. Selama ini yang membuat aku kuat adalah karena tanggung jawabku sebagai suamimu dan ayah dari Tangguh dan Thavisa. Sudah aku katakan cukup Adrian dan Adry produk broken home yang sering melihat orang tua mereka bertengkar. Aku tidak ingin Tangguh dan Thavisa mengalami hal sama. Itu janjiku padamu."


" Perceraianku dan Asri sangat mempengaruhi Adrian dan Adry. Walau terlihat cuek tapi sikap Adry sekarang lebih pendiam. Aku juga takut study Adrian terpengaruh. Apalagi saat ini Adrian ikut program percepatan, mengerjakan skripsi dan kuliah S2. Aku tidak ingin karena perceraian kami, study anak - anak merosot." Wajah Pak Satrio memerah tangis sudah tak dapat ditahan keluar bebas dari lumbungnya.


Tangan Pak Satrio meraih Handphone yang berada dalam saku baju beliau. Memijit nomor melakukan panggilan telepon pada Adry tak terjawab kemudian beralih pada Adrian.


" Iyaa....pa," suara Adrian menyapa Pak Satrio dengan santun.


" Apa Adry sudah tidur ? tanya Pak Satrio dengan lembut.


" Iya Pa, sudah....... Adrian sedang mengerjakan tugas pa. Adrian tutup teleponnya," suara Adrian terbata.


" Adrian ......apa kau menangis ? Suaramu parau ?" tanya Pak Satrio dengan suara terkejut. Beliau bangkit dari rebahan dan sandaran di pangkuanku.

__ADS_1


"Tidak pa....hanya mengantuk saja,"


" Jangan berbohong pada papa. Papa kesana sekarang kalau kau tidak jujur,"


" Mama......,"


" Kenapa dengan mamamu ? " tanya Pak Satrio yang seperti kebingungan dengan situasi saat ini. Tapi netra beliau mengarah padaku memohon pengertianku.


" Mama barusan datang dan berkeluh kesah. Pengharapan mama sangat tinggi agar bisa kembali dengan papa. Mama masih sangat mencintai papa," Pak Satrio reflek menoleh ke arahku karena mendengarkan cerita Adrian.


Aku saat ini berada di pusaran air yang dengan kuat mengenggelamkan dengan sekejap. Aku tidak kuasa berada dalam situasi seperti ini. Ingin aku lari dan kabur saja. Seandainya dapat kuputar waktu, aku tak akan pernah memilih menerima pinangan dari Pak Satrio.


" Mama meminta maaf pada kami, karena mama, Papa dan mama bercerai. Mama berjanji, akan mengembalikan keadaan seperti semula, kita menjadi keluarga yang bahagia kembali. Mama.....mama...... berlutut padaku dan Adry memohon maaf." suara tangis juga terdengar berbarengan cerita dari Adrian. Pak Satrio juga tak mampu menahan air mata beliau. Aku......sementara aku hanya mematung tak bergerak tidak tahu apa yang akan aku lakukan.


" Pa...., Papa juga berhak bahagia. Karena itu kami mengijinkan Papa menikah lagi dan bercerai dari mama.Papa jangan khawatirkan mama, Adrian yakin mama masih belum bisa menerima kenyataan papa menceraikan mama. Adrian dan Adry memohon maaf pada papa tanpa mengurangi rasa hormat dan sayang kami pada papa. Kami akan selalu mendukung mama bagaimanapun keadaan mama." suara Adrian tertahan.


" Maaf pa.....Mama benar - benar sendirian hanya memiliki kami. Kalau papa, Adrian yakin papa akan kuat karena memiliki Dia ( yang dimaksud dia adalah aku),Tangguh dan Thavisa apalagi ada Oma Elly dan Opa Hardian yang selalu memberi support untuk papa. "


Pak Satrio duduk di sisi ranjang dengan wajah menunduk dan tangan yang tetap menggenggam Handphone tapi tak berada dalam posisi menelepon. Handphone jatuh perlahan ke bawah. Beliau menunduk....terus menunduk....tangis tersedu tanpa suara. Badan beliau bergetar karena tangis yang berisak tak bersuara. Kenapa aku juga ikut menangis merasakan pilu yang beliau rasakan. Aku juga ingin menjerit seperti beliau.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2