Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 95


__ADS_3

" Mbak Arin..........sudah mulai masukkah hari ini ? Aku kangen Mbak ! " sambut Dita dengan ceria menyapaku.


" Kau tambah cantik saja Dit," seruku menyapa Dita.


" Mbak Arin kerasan ya.... dirumah Om Satrio ?" tanya Dita


" Ya....begitulah Dit, Tangguh dan Thavisa masih disana dengan neneknya," jawabku dengan tersenyum.


" Apa bos kecil ada ?" tanyaku pada Dita.


" Masih di gudang belakang Mbak, cek barang. Sebentar lagi juga datang," jawab Dita ceria.


" Mbak......Ih Mbak Arin habis ML ya... ? Itu dileher Mbak Arin banyak tanda merahnya ? tanya Dita sambil tersenyum menggodaku dan menunjukkan bagian yang dimaksud Dita.


" Yang benar kamu Dit....." aku balik bertanya tidak percaya dengan perkataan Dita.


" Waaah Om Satrio, dibalik wajah pekerja kerasnya, garang juga ? " celoteh Dita sambil tertawa.


Bersamaan dengan Dita yang belum selesai tertawa Henry datang dan langsung ikut bertanya, " Kenapa tertawa sangat keras Dit ? " Suara Ceria Henry menoleh padaku dengan terkejut seperti tidak mengira aku akan datang hari ini. Kemeja putih bergaris abu - abu dipadu celana kerja berwarna abu - abu juga membuatnya terlihat sangat cool dan bersahaja.


" Hai Mbak.....Mbak masuk kerja hari ini ?" sapanya padaku.


" Ini.....Mbak Arin habis ML......itu tanda merahnya masih ada di leher." dasar Dita tidak bisa menyimpan rahasia apapun kalau masalah seperti ini.


Henry spontan menoleh kearah yang di maksud Dita. Wajahnya yang semula ceria berganti aura menjadi serius dan senyumnya memudar secara cepat. Dia menatapku tajam secara kasar, membuat aku salah tingkah. Sementara Dita masih dengan tawa khasnya yang selalu membuat suasana kerja menjadi ramai.


" Ko Henry.....bisa kita bicara di ruanganmu ? aku ingin menyampaikan surat pengunduran diri. " Ucapku untuk mengubah perbincangan Dita.


" Mbak Arin mau mengundurkan diri ? tanya Dita dan Henry hampir bersamaan.


" Mbak......Mbak Arin kok tega, terus teman kerjaku siapa ? Aku sudah kengen hampir tiga bulan tidak ada Mbak Arin. Kenapa malah mengundurkan diri ? tanya Dita sambil mendekat dan mengguncang - goncangkan kedua lenganku. Henry yang terkejut memilih diam tapi dengan sorot mata tajam tak berkedip ke arahku. Wajahnya semakin memucat, bibir merahnya bergetar seperti akan berkata - kata tapi tidak bisa.


" Ada banyak hal sehingga keputusanku sampai aku harus mengundurkan diri Dit," jawabku lirih.


Kami, aku dan Dita berpelukan.


" Kalau aku tahu akhirnya seperti ini, aku tidak akan mengenalkan Mbak Arin dan Om Satrio," ratap Dita.


Henry hanya memandangi apa yang aku dan Dita lakukan. Kemudian berlalu pergi meninggalkan kami menuju ruangan pribadinya. Setelah kami puas menangis dan berpelukan aku menuju ruangan Henry. Henry duduk dengan menunduk selayaknya seseorang yang sedang berdoa dengan kedua tangan menggenggam.

__ADS_1


" Masuklah ! " jawabnya setelah mendengar ketukan pintuku.


" Aku merindukan Mbak Arin, tapi mbak Arin memilih pergi meninggalkan aku," Sapa Henry padaku langsung tanpa basa - basi.


" Henry.....aku yakin suatu hari kau pasti bertemu dengan perempuan yang bisa membuatmu bahagia,"


" Jangan memaksaku untuk menjalin hubungan dengan perempuan lain jika aku tidak bisa membahagiakan dia. Saat ini lebih baik aku fokus bekerja untuk melupakan Mbak Arin dulu, tapi untuk melupakan Mbak Arin........itu membuat aku semakin sakit hati," ucap Henry melirih. Suaranya samar menyapa telingaku nyaris tidak terdengar.


Aku duduk dihadapannya tersekat meja kantor miliknya. Wajah Henry muram, tanpa tersenyum padaku.


" Apa Mbak Arin tidak bisa untuk tinggal disini saja ?" tanya Henry padaku


" Tangguh dan Thavisa ada di rumah ibu mertuaku. Aku tidak bisa membawanya pulang. Karena itulah aku yang mengalah pindah ke sana," jawabku untuk menenangkan Henry.


" Apa hanya itu saja ? Mbak Arin tidak menghindar dariku ? Atau Mbak Arin sudah sepenuhnya mencintai suami Mbak ? cerca Henry.


" Henry sudahlah...... bukankah kita tahu kalau kita tidak mungkin bersama. Ada banyak perbedaan diantara kita," jawabku dengan suara terbata.


Selama ini aku sudah berusaha melupakan apa yang terjadi antara aku dan Henry, tapi kenapa ketika bertemu dan bertatap muka seperti ini hatiku tidak dapat berbohong ? Ada suatu harapan kecil dan perasaan yang tetap tersimpan untuknya.


" Henry tolong.....jangan membuat aku semakin menyesal dengan meninggalkanmu seperti ini," ucapku lirih. Air mataku harus tetap di posisinya. Ku tahan.......ku tahan sekuat aku memalingkan wajahku dari tatapan Henry.


Aku kembali memandang wajahnya dengan tatapan penuh arti. Jika kita tidak berbeda ? Jika kita .......ah sudahlah aku tidak mau berandai-andai. Aku ingin bahagia siapapun suamiku. Yang terpenting sekarang adalah anak - anakku.


" Kalau aku masih sangat mencintai dan mengharapkan Mbak Arin," ucap Henry tegas.


" Henry............."


" Jangan memintaku untuk melupakan Mbak Arin, itu sulit. Mbak Arin segalanya yang pertama untukku."


" Henry......."


" Tanganku masih terentang siap menyambut dan memeluk Mbak, jika Mbak ingin kembali padaku," Diam sesaat diantara kami. Henry tetap memandang ke arahku walau tidak bersuara.


" Mbak bisa datang padaku atau meneleponku kapan saja jika Mbak Arin merasa sedih dan putus asa. Aku akan selalu ada untuk Mbak. Aku hidup dan bekerja keras untuk Mbak," tutur Henry.


" Henry....jangan bicara seperti itu. Itu sangat melukaiku, kau pemuda yang tampan dan baik. Aku yakin banyak yang ingin memilikimu,"


" Apa Mbak Arin lihat rekening gaji Mbak ? Aku selalu transfer kalau ada pendapatan. Aku selalu membaginya dengan Mbak jika aku mendapatkan penghasilan, " jelasnya tenang padaku.

__ADS_1


Di rekening gajiku aku memang tidak memberi layanan notif SMS atau Mobil banking. Karena setiap awal bulan gajian, langsung aku ambil tanpa tersisa. Ketika aku cuti, tidak terpikirkan olehku untuk melihat isi rekening gajiku.


" Henry jangan.....tidak perlu ! "


" Apa kerena suami Mbak orang berada ? Mbak tidak perlu uang dariku ? "


" Bukan.....bukan seperti itu, aku.....aku merasa bukan kewajibanmu,"


" Sudah aku katakan sampai kapanpun Mbak Arin tetap tanggung jawabku,"


" Henry........kau sangat baik dengan apa aku membalasnya,"


" Dengan hidup bahagia....Aku akan bahagia jika melihat Mbak Arin bahagia dalam segala hal, anak - anak Mbak tumbuh dengan baik, finansial Mbak cukup bahkan lebih." itu harapanku.


" Aku akan banyak bekerja keras agar Mbak Arin menyesal sudah meninggalkan aku," lantang, tegas dan jelas Henry berujar padaku.


" Aku akan bekerja keras agar Mbak Arin bisa membeli sesuai keinginan Mbak Arin tanpa memikirkan harga. Hanya dengan cara itu aku bisa membahagiakan Mbak Arin."


" Henry jangan berlebihan, Kau hanya merasa bersalah denganku bukan karena mencintaiku."


" Justru karena aku mencintai Mbak Arin, aku selalu merasa berdosa tidak bisa memenuhi tanggung jawabku, menikahi Mbak Arin," Seloroh Henry dengan suara datar.


" Henry.....tolong jangan seperti ini ! Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku,"


" Bisa............tentu saja aku bisa, tapi aku hanya menginginkan Mbak dan yang lebih baik tadi apa bisa seperti Mbak Arin ?"


Aku menghembuskan nafas kasar. Tidak bisa lagi bermain kata mengimbangi Henry yang sangat pandai.


Dita mengetuk Pintu dan membukanya. Aku dan Henry saling berpandang, khawatir pembicaraan kami terdengar oleh Dita. Tapi melihat wajah Dita yang biasa saja, sepertinya tidak mendengar apapun pembicaraan kami.


" Mbak Arin.....Om Satrio menunggu Mbak Arin di ruang tamu. Katanya terburu karena ada acara," tutur Dita memberitahu kami.


" Aku sedang membujuk Mbak Arin agar tetap tinggal disini," jawab Henry secara wajar . Tak tampak di wajah Henry yang kebingungan.


" Kita akan mengadakan makan malam bersama besuk malam untuk perpisahan Mbak Arin, dan Mbak Arin setuju itu." sambung Henry membuat alasan.


Aku terkejut dengan alasan yang dilontarkan Henry, kapan aku setuju untuk acara makan malam itu ? Besuk pagi aku sudah harus kembali ke kota asal Pak Satrio.


Bersambung.........

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novel Author. Pembaca yang baik, tolong beri komentar dan like agar Author senang.


__ADS_2