Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 99


__ADS_3

Acara makan malam yang diadakan Henry, di Villa miliknya di daerah puncak di kotaku.


" Apakah kau menginap disini malam itu ? tanya Pak Satrio setengah berbisik di telingaku.


Sengaja tidak ku jawab seolah tidak mendengar apa yang beliau tanyakan padaku.


" katakan ! Apa kau menginap disini ? " ulang Pak Satrio tetap berbisik lirih di telingaku.


" Tidak terjadi apa-apa antara saya dan Henry," jawabku juga melirih di telinga Pak Satrio.


" Aku bertanya apa kau menginap di Villa ini malam itu ? Kenapa jawabannya berbeda ?


" Iya .........sungguh mas tidak terjadi apa-apa," elakku meyakinkan Pak Satrio.


Sekilas aku melihat Henry yang tak mau melepaskan pandangannya pada kami. Kadang dia berbincang dengan teman kami, juga seorang pegawai di toko Henry. Tetapi mata Henry terus terarah pada kami. Hal tersebut juga disadari oleh Pak Satrio.


" Suruh pacarmu jangan melihat kita terus menerus, apa tidak bosan ? " masygul Pak Satrio tidak suka melihat Henry yang selalu terlihat memandang kami.


" Jangan merasa seperti itu mas. Apa benar dia melihat kita ? kalau tidak ? Kita yang malu." sahutku menenangkan Pak Satrio


" Terserah lah, tapi yang kulihat seperti itu," Pak Satrio tetap dengan kesal mengutarakan argumennya padaku.


Seolah ingin memberi kesan agar Henry cemburu Pak Satrio. Pak Satrio berusaha menyuapiku. Serba salah untukku menolak suapan dari Pak Satrio, menerima suapan juga membuat aku tidak rela karena Henry akan terluka. Bukan karena ada perasaan cinta, tapi tak ingin menyakiti hati Henry terlalu dalam. Henry sudah terluka karena aku meninggalkannya dan aku tak ingin menambah lukanya karena melihatku dengan Pak Satrio.


Aku semakin tak kuasa kala Henry menyumbangkan suaranya menyanyikan lagu milik Josh Groban broken vow dan milik Cakra Khan mencari cinta sejati.


Mataku berusaha membendung semua rasa dan derasnya air mata. Aku tidak kuat melihat Henry menderita karena aku. Betapa aku bukan aku, kalau aku tega menyakiti orang yang sudah meraih tanganku saat aku jatuh dan terluka.


" Jangan menangis, jangan kau tunjukkan perasaan cintamu padanya. Itu akan membuatnya berharap lagi," nasehat Pak Satrio sambil membenamkan kelapaku dalam dekapannya.


" Kalau kau merasa perasaan cintamu padaku kurang kuat, ingat ada Tangguh, Thavisa yang membutuhkan orang tua kandungnya untuk bertumbuh menjadi pribadi - pribadi yang mengagumkan karena melihat orang tuanya bahagia," sambung nasehat Pak Satrio lagi.


Tarikan nafas dan degup jantung Pak Satrio berdetak melebihi kencang diatas standar. Begitu cepat, begitu keras. Aku meletakkan tanganku tepat di jantung beliau.

__ADS_1


" Ada bayi di rahimmu yang tak ingin kau sedih karena berpengaruh pada pertumbuhannya, dan bayi itu milikku. Aku tidak mengijinkan kau menangis karena menderita, apalagi masalah cinta dengan anak ingusan seperti pacarmu itu ! " suara Pak Satrio masih lirih bersumber di atas puncak kepalaku.


" Berjanjilah kau akan setia padaku sampai kapanpun itu ! " pinta Pak Satrio.


Sementara aku masih menangis tak tertahan. Berusaha menyekanya dengan denims milik Pak Satrio.


Kali ini Pak Satrio menggunakan denims jeans biru muda di padu kaos warna Dongker dan kemeja tidak di kancing warna biru senada dengan celananya yang sobek di bagian lutut. Outfitnya yang tidak senada denganku terlihat bagai siang dan malam. Aku menggenakan kebaya model Encim dan rok panjang warna senada dengan kebayaku.


" Mbak Arin kenapa Om Satrio ? Saya perhatikan dari tadi seperti menangis ? tanya Dita yang datang menghampiri kami yang sedang duduk di kursi agak menjauh dari meja layanan menu makanan.


" Tidak apa-apa hanya merasa agak mual saja. maklum hamil muda," jawab Pak Satrio tenang.


" Apa.......Mbak Arin hamil lagi ? Benar Om, Mbak Arin sekarang hamil lagi ? suara keras Dita membuat aku berusaha melepaskan dekapan Pak Satrio yang menenggelamkan kepalaku pada dada Beliau.


" Mbak Arin.......selamat ya........ ," seru Dita sambil memelukku. Ku lihat Henry sejenak dalam riuh rendah semua temanku yang menoleh ke arah kami karena teriakan Dita yang mampu menggemakan halaman villa Henry.


Henry masih terpatung melihatku dan Dita yang berpelukan karena ucapan selamat Dita. Sambil memeluk Dita, tatapan mata kami, aku dan Henry bertemu dalam jarak yang terbentang. Tapi tatapan Henry mampu menenggelamkan aku dalam rasa bersalah yang kian mendalam, kian memberi rasa sakit untuknya.


Sesaat Henry tersadar dari lamunannya. Dia berjalan kearah kami dengan tersenyum yang semakin melebar saat mendekat.


" Kapan rencana berangkat ke.....( menyebut nama kota asal Pak Satrio.) " tanya Henry pada kami sambil memposisikan dirinya duduk di kursi tempat kami.


Halaman Villa ini memang dipenuhi meja bundar atau persegi panjang dan di beri kursi karena di desain untuk acara - acara outdoor seperti ini.


" Besuk pagi, selepas fajar kami berangkat," jawab Pak Satrio tenang pada Henry.


" Mengemudi sendiri atau membawa asisten ? " tanya Henry yang berusaha akrab.


" Aku mengemudi sendiri selain itu kami bisa menikmati waktu hanya berdua saja tanpa kehadiran orang lain," jawab Pak Satrio tersenyum penuh kemenangan atas pertanyaan Henry.


Henry tersenyum tanpa terbebani. Memandang sekilas ke arahku, kemudian bertanya lagi," Apa Mbak Arin disana akan berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja atau ada aktivitas lain ?"


" Aku lebih suka Dik Arin menjadi ibu rumah tangga saja, biar aku yang bekerja. Aku lebih suka dia hanya fokus membesarkan anak - anakku dan menyambutku dengan senyum ketika aku datang. Buatku ada kebanggaan tersendiri bisa menghidupi anak dan istri tanpa bantuan dari istri yang juga harus bekerja di luar rumah," jawab Pak Satrio tenang tapi terlihat jelas sangat tegang. Wajah dingin dan serius mulai ditampakkannya tanda tidak menyukai mengobrol dengan Henry.

__ADS_1


" Dik Arin, bisa membantu ibuku di griya batik milik beliau itupun kalau Dik Arin mau," tambah Pak Satrio memperjelas kalimat sebelumnya.


" Pandangan kita berbeda, bukan karena suatu kebanggan kalau menurutku, aku lebih suka membebaskan wanitaku bekerja atau jadi ibu rumah tangga, kalau bekerja mungkin dia juga ingin berkarir kalau menjadi ibu rumah tangga dia ingin fokus memberikan kasih sayangnya tanpa campur tangan orang lain, termasuk orang dalam," ucap Henry dan kali ini tepat sasaran untuk Pak Satrio.


" Owh itu salah besar Bung ! menurutku penting sekali adanya orang dalam yang mungkin maksudmu adalah Kakek nenek dari pihak ayah atau ibu dalam mengasuh anak ? Itu tetap diperlukan untuk harmoni pembentukan mental anak. Pikirkan, persepsi, perasaan dan ingatan. Kalau mereka tumbuh di semua orang yang menyayangi mereka aku yakin pembentukan id, ego dan superego mereka akan mengarah pada kepribadian yang baik selain adanya faktor pendorong dan faktor penekan," jawab Pak Satrio panjaaaaaaannnnnnggggggg sekali.


Aku tidak mengerti arah kalimatnya, yang aku tahu kalau aku masih berlama - lama disini akan terjadi debat pendapat yang berkepanjangan dan tidak akan selesai sampai besuk pagi ketika ayam jantan berkokok.


"Mas, bisakah kita pulang sekarang ? Saya sangat lelah. Bukankah acara juga sudah usai ? tanya dan ajakku pada Pak Satrio untuk menghentikan mereka yang saling melontarkan argumen. Terus terang otakku tidak sampai disitu. Aku pusing dengan kalimat - kalimat yang mereka lontarkan. Maaf tidak semua yang aku tulis karena lupa apa saja istilah dan kalimat mereka, saat mereka perang argumentasi.


" Lain kali kita sambung lagi Bung Henry, Istriku sudah letih hari ini. Bisakah sekalian kami berpamitan ? Terima kasih banyak atas jamuan makan malamnya yang sangat luar biasa untuk melepas Dik Arin dari tempat kerja," pamit Pak Satrio pada Henry dan mungkin juga pada semua.


" Iya baiklah.....senang mengobrol dengan bapak, kalau waktu tidak berbatas dan tidak di sekat oleh detik dan menit. Aku yakin kita akan tetap semangat berbincang tentang apa saja, mulai dari politik, olah raga sampai musik,"


" Iya tentu, aku menyuka musik Jazz," kata Pak Satrio dengan senyum kali ini tidak memaksa tersenyum.


" Aku suka musik klasik dan romantis, aku suka memainkan milik Frederick chopin walau pianis favoritku Sergey Rahmaninoff," jawab Henry.


" Ahhhh, aku tidak begitu spesifik terhadap mereka, tapi aku menguasai beberapa milik Paganini dan Vivaldi juga milik Beethoven." jawab Pak Satrio membanggakan diri.


Ya Tuhan mulai lagi.........aku ingin kabur saja dari mereka yang terus, dan terus tidak berhenti saling berargumentasi.


" Mas.....saya benar - benar sudah mengantuk," pintaku lagi karena ingin pertikaian atau mungkin semacam konfrontasi pendapat ini segera berhenti.


" Ok....baiklah kami permisi undur diri. Sekali lagi terima kasih untuk acara malam ini yang sangat terkesan buat kami," pamit Pak Satrio yang kedua kalinya pada Henry.


Aku sangat berharap, ini berpamitan yang sesungguhnya tanpa debat lagi, tanpa argument lagi.


Pak Satrio dan Henry berdua saling ingin membuka percakapan lagi. Lengan Pak Satrio kutarik halus dan ku lingkarkan tanganku pada lengan beliau agar mau keluar dari halaman villa ini. Kami akhirnya berjalan keluar dari area outdoor ini menuju tempat parkir.


Ya Tuhan.......beginikah kalau laki- laki sedang berdebat dan mengobrol ? Kenapa pokok bahasannya sangat tidak masuk akal dan menurutku terlalu tinggi. Bukankah lebih ringan pembahasan kita kaum perempuan kalau sedang mengobrol ? Yang dibicarakan cerita selebritis, membahas episode sinetron yang tadi malam baru tayang, atau membahas makanan. Betulkan ?


Bersambung..........

__ADS_1


Mohon like dan dukungannya terhadap novel saya.


__ADS_2