
Selama dua minggu pak Satrio berada di rumahku. Selama itu juga aku selalu ketakutan berada di sisi beliau. Tidak ada rasa dalam diriku untuk mengimbangi beliau atau merespon apa yang beliau lakukan padaku. Tindakannya yang diluar batas normal semakin membuat aku gemetar kedinginan.
Sudah hampir sepekan berlalu. Setiap kali aku mengingatnya, badanku langsung lemas dan berkeringat dingin, mual dan pusing. Biasanya aku adalah pendengar setia Dita ketika bercerita tentang ciumannya dengan Rian. Tidak untuk saat - saat ini, begitu Dita bercerita badanku langsung lemas dan berkeringat dingin. Bayangan - bayangan pak Satrio yang dengan arogannya melampiaskan semua kemarahannya padaku. Melampiaskan ketidaksukaan padaku. Melampiaskan kecewanya padaku. Melampiaskan tutur kata yang tak tersampaikan padaku, begitu membuat aku ketakutan. Wajah dingin tanpa senyum selalu menghias ketika kebersamaan kami. Tidak ada ucapan terima kasih atau ciuman tanda kasih padaku setiap selesai pelepasannya. Hanya diam kemudian berpaling dariku. Membiarkan aku menangis karena terhina dan terluka. Seakan semakin berkuasa dan semakin menang atas diriku, jika melihat aku meneteskan air mataku. Berusaha dan berusaha aku tahan agar tidak terlihat lemah dihadapannya, tapi sia - sia. Aku bukan wanita lemah, aku kuat dan berusaha kuat. Aku juga tidak tahu, entah kenapa setiap kali beliau melakukannya. Aku selalu gemetar karena takut. Bukan karena siksa fisik, tapi karena............... Beliau memperlakukan aku bukan sebagai wanita yang beliau cintai tapi dengan sengaja melakukannya padaku. Beliau melakukannya bukan atas dasar cinta yang mengantarkan beliau ingin membahagiakan dirinya dan pasangannya karena sebuah ibadah yang indah. Beliau melakukannya bukan karena sebuah keinginan untuk merekatkan sebuah hubungan. Beliau melakukannya hanya ingin menunjukkan " inilah aku yang sudah menjadi pemilikmu". Sekali waktu tanpa sengaja beliau memelukku dengan hangat dan cepat pula berganti dengan arogannya. Seolah tubuh dan nyawa ini tergadai padanya. Tanpa iba, tanpa kasihan, tanpa cinta. Tatapan matanya yang berkilat - kilat ketika kebersamaan kami menunjukan rasa bencinya dan puas memandangku merintih karena sakit yang beliau berikan. Senyuman tipis disudut bibir beliau hanya untuk menunjukkan kalau beliau senang dengan apa yang terjadi pada diriku. Di ragaku yang kecil ini banyak memar bukan karena pukulan tapi karena ................ entah kata apa yang tepat akan aku tuliskan. Tidak ada kata yang santun untuk hal tersebut.
Perasaan gelisah ku semakin menjadi jika tanpa sengaja aku melihat drama romantis. Jangankan beradegan yang lebih. Adegan seorang aktor dan aktris nya saling berdekatan saja sudah membuat aku ketakutan. Semua mengingatkan aku pada beliau, pak Satrio suamiku.
Seumur hidupku dua kali aku terpaksa dan dipaksa melakukan hal ini. Ketika aku dengan Henry, aku juga menolak dengan sekuat tenaga tapi tidak menimbulkan perasaan gelisah dan cemas seperti ini. Tetapi kenapa paksaan dari pak Satrio membuat aku sangat ketakutan yang luar biasa ?
Apa karena waktu aku dengan Henry, aku dalam keadaan putus asa ? Apa karena Henry melakukannya karena rasa cinta ? Apa karena sedikit dalam hatiku juga terbawa emosi, aku juga mendamba setiap kali melihatnya walau hanya dalam hati ? Apa karena tatapan mata Henry yang mengatakan, kalau dia melakukannya atas dasar cinta, bukan hanya karena keinginan semata.
Kenapa berbeda yang aku rasakan ketika pak Satrio yang melakukannya ? Apa karena beliau tidak mencintai aku ? bukan karena keinginan tapi karena ingin melihat aku menangis.
Aku tak bisa melupakan walaupun waktu sudah berputar sebulan lebih dari pak Satrio menginap di rumahku. Aku baru ingat bulan ini aku belum kedatangan tamu rutinku. Sepulang kerja aku membeli alat tes kehamilan. Aku mengikuti saran dari pegawai apotik sebaiknya pagi hari langsung setelah bangun tidur melakukan tes nya.
Perasaan ku bercampur aduk ketika melihat garis dua mulai terbentuk. Ada rasa senang, ada rasa gelisah, ada rasa takut. Dia hadir disaat yang tidak tepat. Saat aku memilih akan menjauh dan berpisah dari ayah biologisnya. Bukankah dia hadir bukan karena Cinta ? Tapi karena rasa dendam, kecewa dan amarah ayahnya. Apakah bayi ini di sebut buah cintaku dengan pak Satrio ? Pak Satrio tidak pernah mencintai aku. Aku juga tidak ikhlas melakukannya. Lebih tepatnya kami melakukan semua karena terpaksa. Disisi lain hatiku. Aku tersenyum, berharap dengan adanya janin ini keadaanku dan pak Satrio akan membaik.
__ADS_1
Aku menulis pesan WA. memberitahukan keadaanku pada pak Satrio.
Aku
Assalamualaikum, mas aku mengandung anak mas.
Sengaja ku pilih kalimat ini yang menurutku tepat. aku Berharap beliau senang dengan berita ini.
Pak Satrio
Jawaban pesan dari pak Satrio seperti panah yang melesat tepat mengenai perasaan luka di hatiku. Bukan jawaban seperti itu yang aku inginkan. Berkali - kali aku ingin berdamai dengan keadaanku, pernikahanku, tapi sia - sia. Kembali dan terulang lagi. Jawaban dan pernyataan dari beliau yang menurutku sangat melukai hatiku. Apakah penilaian ku terhadap beliau terlalu berlebihan ? Apakah aku yang terlalu baper ? Kembali aku tegaskan, aku hanya butuh laki - laki yang mencintai aku dengan tulus. Aku hanya ingin seorang suami yang mencintai aku dan calon anakku. Aku hanya ingin suamiku senang dengan kabar yang aku berikan. Kembali aku tulis kalimat untuk beliau.
Aku
Apakah mas senang aku hamil ?
__ADS_1
Tidak menunggu lama jawaban langsung beliau berikan padaku.
Pak Satrio
Ya. Anak adalah amanah, jangan cuma kwantitas saja tapi kwalitas juga.
Pak Satrio
Kita sudah punya Adrian dan Adry. Aku tidak ingin nambah lagi.
Apa yang harus aku tulis lagi untuk beliau. Seperti tidak ada lagi ungkapan dalam hatiku. begitu jawaban pesan dari pak Satrio aku baca. Aku tidak sanggup lagi meneruskan chat ini. Sekali lagi apa keinginanku terlalu tinggi ? Aku hanya ingin memberi beliau kabar bahagia. Aku hanya ingin beliau ikut merasakan senang seperti aku. Kembali aku teringat bagaimana beliau memperlakukan aku di tempat tidur. Perasaan takut dan kecewa hadir perlahan di hatiku. Ingin keras dan sekeras - kerasnya, aku berteriak. Aku juga tidak ingin anak ini ada. Dia bukan buah cinta. Dia semakin membuat aku sakit jika teringat bagaimana dia hadir di dalam rahimku. Hatiku yang terbelah menjadi dua antara senang dengan kehadirannya dan sedih dengan keadaanya. Tapi bukankah benar kata pak Satrio. Aku juga menginginkan anak ini ada. Tapi kenapa ada sedikit bahkan lebih ada rasa kebencian yang terselip dalam hatiku dengan kehadirannya.
Hari ini aku benar - benar tidak ingin kemana - mana hanya rebahan di kamar dan merenungi semua. Aku tadi juga ijin tidak masuk kerja. Hari ini pergolakan dalam batinku tak dapat dibendung. Aku bersengketa dengan diriku sendiri. Aku bertikai dengan jiwaku sendiri. Aku berperang dengan angan ku sendiri. Antara keinginan dan harapan. Antara kenyataan dan takdir. Antara bertahan atau membiarkan dia berlalu dari hidupku.
bersambung...............
__ADS_1