
" Salah orang bagaimana ma.....Dik Arin, mama kandung Tangguh dan Thavisa," tanya Pak Satrio pada Bu Elly.
" Mama tidak ingin Tangguh dan Thavisa tumbuh dilingkungan yang tidak sehat. Bukankah kau cerita sendiri kalau ayahnya dulu selingkuh, saudara iparnya selingkuh ? Mamanya ( yang dimaksud adalah aku ) mungkin juga selingkuh. Mama tidak rela cucu mama tumbuh dilingkungan seperti itu. Tangguh dan Thavisa tetap disini." Bu Elly tegas mengatakan dan membuat aku semakin terpojok dengan ucapan beliau.
" Sa........ya...... ti.......dak...... se....lingkuh ma......," suaraku terbata - bata menyangkal pernyataan Bu Elly.
Aku tidak terima, jika aku dituduh selingkuh. Aku dan Henry saling menghormati satu sama lain, walau kami saling mencintai. Henry menghormati karena aku sudah menikah dan aku tidak ingin memberi harapan palsu pada Henry.
" Ah dulu Asri juga begitu tidak mau mengaku, setelah Satrio mengetahui sendiri baru mengaku kalau selingkuh." Tatapan Bu Elly tajam padaku tidak mau terlepas. Aku kembali menundukkan wajahku tak berani memandang beliau.
" Semua karena ulahmu, tidak melihat bibit, bebet dan bobot kalau memilih istri. Ketemu langsung saja terburu - buru menikah, tanpa pertimbangan nasehat mama dan papa," nasehat Bu Elly pada Pak Satrio.
" Dan kau, mama sangat mengharapkan kau menjadi obat untuk Satrio, tapi kenyataannya apa ? Sebaliknya, ternyata kau juga menjadi racun untuk anakku," nada suara Bu Elly yang tetap tenang tapi sangat menghujam untukku.
" Sudahlah ma....jangan dibahas lagi masalah itu, kita hanya salah paham," pasrah Pak Satrio menegur Bu Elly tetap tanpa meninggikan suara beliau.
"Jeng...... Bagaimanapun Tangguh dan Thavisa lebih baik diasuh Nak Arin sendiri," kali ini suara Pak Hardian yang memberi usul.
," Tidak, sekali tidak ya tidak. Apa papa tidak lihat perbedaan unggah - ungguh ( sikap sopan dan santun ) Adrian dan Adry ? Karena mereka dibesarkan di lingkungan yang berbeda dan ibu yang punya banyak masalah. Adrian tumbuh, ada campur tangan kita. Lihat Adry sikapnya bagaimana ? kembali Bu Elly berceloteh sangat panjang.
" Apa papa mau melihat Tangguh dan Thavisa berada dalam lingkungan seperti ibu kandungnya ? Bagaimana perkembangan psikologisnya ? Aku ingin cucu - cucuku tumbuh dengan perasaan senang dan bahagia," Bu Elly meneruskan pergulatan bicara beliau.
__ADS_1
" Apalagi Thavisa perempuan, tidak baik tumbuh di lingkungan yang tidak harmonis, bisa berpengaruh terhadap pola pikirnya," kali ini Bu Elly menambah kata penguatnya agar semakin lengkap analisis beliau.
Kami, terutama aku tidak bisa lagi bersuara. Aku tidak kuat berada di lingkaran keluarga ini. Makan bersama yang sangat identik dengan kebersamaan, kenapa menjadi pengadilan keluarga ? Aku menjadi terdakwa disini, tanpa seorang pembela. Pak Satrio satu - satunya harapanku, ternyata juga tak bisa melawan Bu Elly. Beliau juga patuh dan taat pada ibunda beliau.
Keluargaku memang keluarga dari ekonomi biasa mungkin ekonomi bawah, tapi kami juga hidup rukun. Aku tidak pernah meminta atau berharap ayahku selingkuh. Aku juga tidak menginginkan keluargaku berantakan dan perekonomian keluargaku jauh di bawah standar sosial. Atau kakakku, tentu tidak berharap suaminya berselingkuh. Siapa yang bisa dan berani menolak takdir yang sudah digariskan untuk kita ?
Kenapa latar belakang keluargaku dijadikan masalah yang sangat polemik di keluarga ini ? Aku memang tidak bisa menjanjikan kekayaan untuk anak-anakku, hanya kasih sayang seorang ibu.
Aku terus saja menunduk tidak berani mengangkat wajahku. Aku menangis kenapa rumit seperti ini ? Bukankah aku ibu kandungnya ? Seburuk apapun aku, sekurang - kurangnya aku dalam masalah ekonomi, tentu tetap akan memberikan yang terbaik untuk anak - anakku.
," Iyaa kami mengikuti keinginan mama, " suara Pak Satrio datar kepada Bu Elly. Makanan di piring beliau masih tersisa, dan itu bukan kebiasaan Pak Satrio. Beliau selalu menghabiskan apa yang beliau ambil, walau makanan ternyata tidak sesuai dengan keinginan dan rasa yang beliau harapkan.
," Mas........tapi........saya ibu kandungnya," suaraku lirih setengah berbisik pada Pak Satrio yang duduk di sebelahku. Pak Satrio menoleh padaku dan meraih tangan kiri ku untuk beliau genggam, kemudian mengusap dengan perlahan.
," Sudahlah......kita ikuti permintaan mama, biar Tangguh dan Thavisa disini. Toh masa cutimu masih lama." jawab Pak Satrio lembut padaku. Tangan beliau masih menggenggam dan mengusap jemariku.
" Mas.....saya ibunya.....," bisikku lagi dengan lirih dan memelas.
" Apalagi yang kau mau, suamimu sudah setuju Tangguh dan Thavisa ada disini," Sergap Bu Elly sebelum Pak Satrio menjawab permintaanku.
Aku hendak bangkit untuk berdiri karena tidak kuat dengan perkataan Bu Elly, ibu mertuaku. Aku ingin segera mengambil Tangguh dan Thavisa dan lari dari rumah ini. Pak Satrio mengetahui maksudku untuk berdiri. Beliau semakin menggenggam erat tanganku.
__ADS_1
" Ma.....ijinkan anak - anak aku bawa malam ini saja, Dik Arin ingin tidur dan memeluk Tangguh dan Thavisa." pinta Pak Satrio lembut pada Bu Elly.
," Kalian saja yang menginap disini," jawab Bu Elly dingin pada Pak Satrio tapi tatapan netra beliau tertuju padaku. Sungguh tatapan mata yang serasa ingin mengajak perang pada lawan dihadapannya.
Diam sesaat, Kami tidak meneruskan pembicaraan. Aku berusaha fokus pada makananku, tapi sulit sekali aku telan makanan yang sudah terlanjur aku kunyah dengan baik.
Aku bukan ingin menginap disini, tapi aku ingin membawa anak - anak bersamaku. Mereka anak-anakku, aku yang melahirkan. Kenapa harus hidup terpisah denganku kalau aku masih mampu merawatnya ?
" Ya kami akan menginap di rumah mama," jawab Pak Satrio. " suara santun Pak Satrio mengiyakan kemauan ibu beliau.
Makan siang yang penuh dengan drama ini selesai. Pak Hardian berdiri dari kursi beliau, tanpa berkata sepatah katapun. Langkah beliau tetap tenang kemudian menghampiri Tangguh yang sedang bermain dengan mbak Puji. Aku dan Pak Satrio mengikuti berdiri setelah Bu Elly berdiri, beliau juga mengarahkan langkah menuju mbak Puji dan mengambil Thavisa. Aku ingin berlari mengambil Thavisa, kembali Pak Satrio melarangku. Tangan beliau kembali meraih lenganku dan menuntunku ke sofa semula kami duduk.
" Mas......," seruku pelan mungkin hanya Pak Satrio yang mendengar. Aku berharap Pak Satrio membantuku untuk membawa Tangguh dan Thavisa.
" Biarkan saja dulu, nanti kalau marah mama sudah reda padamu. Aku yakin mama berubah pikiran," usul Pak Satrio padaku.
Disaat seperti ini suara getar dari HP milik Pak Satrio terdengar. Pak Satrio meraih Clutch bag dan mengeluarkan HP, Mbak Asri menelepon. Pak Satrio menghela nafas panjang.
" Tidak reda usaha dia menghubungiku," ucap Pak Satrio dengan menyandarkan ( maaf ) kepala beliau di Sandaran sofa tempat duduk kami.
Bersambung............
__ADS_1