Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 82


__ADS_3

" False hair ?" oh....aku baru ingat Bik Ina cerita kalau model rambut Mbak Asri tidak beraturan karena dipotong secara acak oleh Pak Satrio. Mungkin sakit hati dan rasa malu Mbak Asri masih membara, apalagi Pak Satrio mengingatkan tentang rambut pada Mbak Asri.


Seorang Waitrees datang di meja kami dengan membawa troly makanan. Menata makanan di meja kami. Selama pembicaraan yang terjadi antara Pak Satrio dan Mbak Asri, Waitrees tersebut hanya diam seolah tak mendengar apa yang menjadi perdebatan antara Pak Satrio dan Mbak Asri. Selesai menata menu, Waitrees membacakan kembali pesanan Pak Satrio.


Ada beberapa menu di meja ini yang semua baru aku lihat disini. Ada irisan daging yang di bentuk bunga di beri roti dan saos, kemudian ada semacam rolade yang berdampingan dengan kentang goreng.


" Selamat makan bapak dan Ibu, silahkan hubungi kami jika ada yang kurang atau membutuhkan sesuatu," sapa Waitrees dengan sopan.


" Tidak ada terima kasih banyak," jawab Pak Satrio kepada Waitrees.


Aku yang sedari tadi hanya terdiam, tetap saja terpaku dengan semua. Rasa marah dan kecewaku juga masih meletup - letup pada Pak Satrio.


" Saya masih kenyang mas, saya tidak makan." ucapku dingin dan pelan pada Pak Satrio.


" Kenapa ? " tanya Pak Satrio mengarahkan badan beliau padaku.


" Tadi dirumah ibu kita sudah makan siang," jawabku tetap dingin pada Pak Satrio.


" Kasian kalau tidak dimakan, ada banyak keringat yang keluar untuk menjadi seperti ini. Jangan menyia-nyiakan makanan." nasehat beliau lembut padaku.


" Saya......,"


," Apa makanannya tidak cocok ? Kau ingin makan apa ? Nasi rawon ? Nasi soto ? Atau nasi pecel ? Ayo aku antar. " cerca Pak Satrio memotong kalimat yang akan aku sampaikan.


" Saya sudah kenyang," jawabku mengulang kembali untuk meyakinkan Pak Satrio.


Pak Satrio memberi kode pada Waitrees untuk datang. Kemudian berbicara dengan Waitrees agar membungkus makanan yang kami pesan.


Pak Satrio menghentikan mobil di depan warung rawon yang ramai dengan pengunjung.


" Makan disini ?" tanya beliau padaku.


Selama perjalan kami tidak saling berbincang. Pak Satrio seperti mengerti jika aku marah pada beliau. Memilih diam dan tidak memulai percakapan adalah jalan bagi Pak Satrio menghindari pertengkaran denganku karena kejadian barusan dengan Mbak Asri.


" Tidak....., saya tidak lapar," jawabku dengan memalingkan wajah ke arah jalan.


" Tapi kau butuh makan karena sedang memberi ASI," saran beliau lagi dengan lembut.


Jujur, sebenarnya aku sangat lapar. Entah aku malu atau segan, aku mengambil sedikit makan siang dirumah ibu. Perutku tak bisa berbohong, bernyanyi sangat kencang. Pak Satrio tersenyum dan membuka pintu mobil. Bahkan ketika kami berjalan masuk ke dalam rumah makan ini beliau tak berhenti tersenyum sambil melirikku.


Sudah ada es teh dan dua piring rawon didepan kami. Aku langsung lahap memakannya, bagiku makanan seperti ini saja sudah sangat istimewa. Atau mungkin aku yang tidak terbiasa makanan dengan menu yang disajikan di cafe tadi. Pak Satrio termangu melihatku makan dengan lahap. Aku melihat piring beliau masih banyak dengan nasi dan kuah rawon.

__ADS_1


" Mas tidak habis ?" tanyaku pada Pak Satrio.


," Oh ini aku sedang berusaha menghabiskan," jawab beliau sambil menyuapi diri beliau sendiri.


" Kenapa masih banyak ya....Padahal tadi aku pesan nasi separuh porsi saja," gerutu beliau seolah berbicara dengan diri sendiri atau mungkin mengadu padaku.


" Apa Mas tidak habis ? Aku habiskan ya...? tanpa menunggu jawaban dari Pak Satrio aku menukar piringku yang sudah bersih tak tersisa makanan dengan milik beliau yang masih banyak. Pak Satrio memandang takjub padaku, tidak percaya aku makan dengan lahap dan porsi yang banyak.


" Kau mau tambah lagi ?" tanya Pak Satrio halus padaku.


" Tidak mas aku sudah terlalu kenyang. Boleh aku jujur pada mas ? "


" Iya silahkan, aku lebih suka kalau kita saling jujur." jawab Pak Satrio


" Saya segan makan terlalu banyak di depan ibu. Karena aku lihat porsi makan Bapak, ibu juga mas Satrio sedikit. Mau tidak mau aku mengikuti porsi mas yang sedikit. " ceritaku yang disambut tawa renyah Pak Satrio.


" Kenapa tidak bilang, kalau lapar boleh tambah nasi dan lauk lagi," jawab Pak Satrio sambil tersenyum.


" Boleh ?"


" Tentu saja boleh. Makanan fungsinya memang untuk dimakan."


" Apa kau mau tambah rawonnya untuk dimakan dirumah ?"


Dalam perjalanan pulang, kami saling terdiam dalam pikiran masing - masing. Entah kenapa pikiranku kembali mengingat ucapan Mbak Asri yang membuat hatiku marah dan gelisah.


" Kenapa mas tega bercerita pada Mbak Asri tentang masalah kita ? Kalau aku ada kurangnya kenapa mas tidak menegurku ? tanyaku pada Pak Satrio saat mobil kami sudah sangat dekat dari rumah.


Pak Satrio hanya diam, pandangannya lurus ke depan. Seakan tak mau mendengar pertanyaanku pada beliau.


" Mas......Apa benar mas berkata seperti itu ?"


" Apa peraturan sudah berubah ? Setahuku penumpang dilarang bicara dengan sopir." jawab Pak Satrio mengalihkan pembicaraan kami.


" Kalau mas tidak menjawab berarti benar, mas bercerita semua pada Mbak Asri ?"


Pak Satrio menghentikan mobil ketika memasuki halaman rumah orang tua beliau. Gerbang besar ini dibuka Pak Sapto tukang kebun keluarga Pak Hardian. Kami masih tidak turun dari mobil, suasana tegang dan canggung masih terasa.


" Maaf......"


" Kenapa mas bercerita hal yang tidak boleh diceritakan ?"

__ADS_1


" Waktu itu.....Asri bertanya. Aku tidak bisa berbohong," jawab Pak Satrio dengan nada menyesal.


" Kenapa mas tega ......."


" Ah sudahlah jangan menjadikan ini pertengkaran buat kita,"


" Mungkin bagi mas itu suatu lelucon, tapi bagiku itu tamparan keras."


" Ahhhh sudahlah aku tidak mau berdebat lagi."


" Apa karena itu, mas sangat mencintai Mbak Asri ?"


Pak Satrio terdiam tidak menjawab. Menghela nafas.


" Itu dulu Sekarang tidak lagi."


" Kenapa harus menceritakan masalah kita ?"


Pak Satrio menoleh ke arahku dengan tatapan yang tajam.


" Bukankah memang benar apa yang aku ceritakan ? Aku tidak mengurangi atau melebihkan yang aku alami denganmu. "


" Apa saya seperti batu ? Apa saya tidak mengerti keinginan mas ?"


" Jawab sendiri di hatimu kenapa bertanya padaku ? "


" Saya......," Aku terhenti tidak meneruskan kata - kataku. Kenapa aku sakit hati ? Memang itulah kenyataannya. Aku tidak pernah menyambut keinginan Pak Satrio selama ini, selama pernikahan ini.


" Kenapa ? Apa kau ingat semua ? "


Aku berpaling dari tatapan beliau yang tajam tanpa berkedip memancarkan sorot mata penuh ambisi dan gelora.


Pak Satrio cepat menggerakkan tangan memegang tengkukku.


" Kau memang lebih suka dipaksa," ucap Pak Satrio parau kemudian dengan cepat memagutkan bibir padaku.


Aku mencoba menghentikan apa yang Pak Satrio lakukan. Mataku jeli memandang sekitar. Ini di halaman rumah, bukan di ruangan tertutup, walau kami di dalam mobil. Deru nafas menggebu terdengar, mencoba untuk mengatur nafas kembali.


" Ah sialan.....kenapa aku bisa melakukan di jalan seperti ini," Seru Pak Satrio mengumpat untuk dirinya sendiri. Pak Satrio tersadar kemudian menjauh dariku dan kembali pada posisi duduk semula.


" Maaf....." ucap Pak Satrio lagi. Kemudian keluar dari mobil tanpa menoleh padaku yang masih terdiam tanpa ekspresi. Masih merasakan apa yang kami alami, Kenapa begitu hangat saat kami berciuman seperti barusan.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2