Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 83


__ADS_3

Harap bijak dalam membaca.......


Bab ini disarankan untuk yang sudah menikah !


Rasa senangku ternyata bisa melebihi dan melampaui apapun yang terjadi di sepanjang pagi dan malam ini. Aku merasakan Tangguh dan Thavisa dalam dekapanku. Tangguh terlelap dengan tersenyum. Aku pandangi wajah putra tercintaku, semua rasa tertumpah untuknya. Sementara Thavisa masih belum terlelap dengan sempurna. Pak Satrio masuk dengan wajah yang sedikit muram.


," Mama meminta Tangguh tidur dengan beliau. Mama berkata sudah terbiasa tidur dengan Tangguh. " Ucap Pak Satrio padaku.


Aku hendak mengangkat badanku yang berbaring miring ke arah Thavisa. Serba salah untukku, ingin ku cegah Pak Satrio yang menggendong Tangguh dan membawanya ke kamar ibu mertuaku, tapi tidak bisa karena Thavisa masih membutuhkan aku.


" Mas...... apa tidak boleh Tangguh semalam saja tidur dengan saya ? " tanyaku dengan suara berbisik pada Pak Satrio.


Pak Satrio tersenyum dan berkata lembut," Kasian mama Dik Rin, kita ikuti saja apa mau mama.Toh besuk pagi kita bisa bermain lagi dengan Tangguh."


" Mas......aku ingin tidur dengan Tangguh," pintaku lagi pada Pak Satrio yang sudah berada diambang pintu hendak keluar dari kamar.


" Dik Rin......ada baiknya kita mengalah pada mama, kasian beliau selalu sendirian putranya hanya aku saja. Tentu beliau sangat senang punya banyak cucu. Bentuk kasih sayangnya ya seperti ini, ingin selalu dekat dengan cucunda beliau." Pak Satrio kemudian melangkah keluar kamar.


Ada rasa masygul di hati yang tiba - tiba datang. Aku ibunya, aku juga ingin tidur dengan Tangguh setelah seminggu aku tidak mendekap Tangguh. Apa Pak Satrio tidak bisa berkata, " kasian dik Arin sudah seminggu tidak tidur dan mendekap Tangguh ? "


Pak Satrio kembali kali ini dengan Mampan yang berisi nasi dan segelas air putih.


" Makanlah, kau pasti lapar setelah memberi ASI pada Thavisa !" Perintah Pak Satrio padaku dengan suara lembut, karena Thavisa yang sudah tertidur dengan Pulas.


" Aku sudah panaskan rawonnya agar kau lebih berselera saat makan."


" Emmm, sebentar lagi," jawabku pendek sambil memalingkan badan kearah yang berlawan dengan beliau yang mengarah padaku. Walau diantara kami ada Thavisa sebagai pembatas, tapi jarak kami sangat dekat sekali. Tangan beliau mengelus rambutku dengan lembut.


," Aku meminta kesediaanmu bersabar menghadapi mama, beliau merasa sendiri. Jadi kadang - kadang bersikap sedikit berlebihan untuk meminta perhatian kita," cerita Pak Satrio merajuk agar aku mau memahami sikap beliau pada Bu Elly.


" Mama sangat ingin mempunyai keturunan lagi, tapi Tuhan tidak mengijinkan. Sekarang beliau diberi cucu yang banyak untuk kebahagiaan beliau. Sudah sepatutnya kita memberinya peluang untuk beliau mencurahkan kasih sayangnya yang tertunda," Pak Satrio meneruskan mengulas alasan beliau agar aku mau mengerti keadaan Bu Elly.


" Kalau seperti ini terus, bagaimana kita bisa membawa Tangguh dan Thavisa pulang ?"tanyaku.


Ada rasa ketakutan besar mendera di hatiku. Aku ingin anak - anakku bersama denganku saja, walau keluarga Pak Satrio bisa menjamin kelangsungan hidup Tangguh dan Thavisa.


" Apa Thavisa benar - benar sudah terlelap ? tanya Pak Satrio seolah mengalihkan pembicaraan kami, tentang keinginan Bu Elly mengasuh Tangguh dan Thavisa. Kemudian berlalu keluar setelah aku selesai makan rawon yang beliau bawakan untukku.


" Apa Thavisa sudah nyenyak ? " tanya Pak Satrio lagi setelah kembali di kamar ini.


Aku terdiam tetap membelakangi beliau. Suara gerakan membuat aku terpaksa membalikkan badan kembali berhadapan dengan Pak Satrio. Pak Satrio menggendong Thavisa untuk ditidurkan dalam box bayi yang ada di kamar ini. Pak Satrio pernah bercerita kalau box bayi tersebut adalah milik beliau ketika masih bayi. Box tersebut terbuat dari kayu yang sangat kuat dan terawat, sehingga masih bisa difungsikan sampai kepada Adrian, Adry dan sekarang Tangguh dan Thavisa.

__ADS_1


" Apa kau tidak ingin melanjutkan aktivitas yang tertunda ?" tanya Pak Satrio padaku dengan wajah dan suara yang datar tanpa beban.


Aku mengerti maksud Pak Satrio dengan kata " Aktivitas yang tertunda,". Aku berpura mengabaikan pertanyaan beliau dengan meraih HP yang berada di nakas di samping ranjang ini. Semakin merasa geram aku pada Pak Satrio, walau sentuhan bibir Pak Satrio tadi siang mampu menggoyahkan hatiku. Ciuman itu bergejolak di awal namun lambat laun menjadi sangat halus dan lama berkepanjangan. Bukan hanya karena keinginan biologis saja tapi karena perasaan kasih sayang yang ingin tercurahkan dengan pertautan yang indah. Tangan Pak Satrio kembali berada di ujung - ujung rambutku. memainkannya dengan lembut.


" Apa kau tak pernah menginginkannya ? " tanya Pak Satrio. Suara beratnya tertahan tapi lugas tersampaikan padaku.


" Aku berharap kau melakukan bukan karena terpaksa atau karena kewajiban saja, tapi karena dalam hatimu juga menginginkan," tukas Pak Satrio lembut. Jari - jari Pak Satrio menyusup lembut memberikan sentuhan - sentuhan yang ternyata mampu membakar kulitku dengan setiap jengkal yang dilalui.


," Semula aku ingin mengabaikanmu agar kau yang meminta terlebih dahulu, aku terus saja menunggumu ternyata dugaanku keliru. Kau tak pernah memintanya dariku, sampai di detik ini sekalipun." sesal Pak Satrio dengan kalimat lirih diucapkan.


Bukan tanpa alasan aku bersikap dingin pada Pak Satrio dalam urusan di tempat tidur. Aku pernah terluka dan sakit hati di awal pernikahan . Pak Satrio yang berulang kali menghinaku tidak bisa aku lupakan dengan mudah.


" Apa mas lupa di awal perni........,"


Kalimat yang ku ucapkan belum selesai dengan mendaratnya bibir Pak Satrio padaku. Dengan halus menikmati semua apa yang aku miliki. Menjejali keindahan yang sudah diciptakan oleh Sang Kuasa untuk saling dimiliki.


" Katakan apa kau juga menginginkannya ?" tanya beliau di sela - sela aktivitasnya. Aku hanya mengangguk merasakan apa yang membendung tersimpan selama ini.


" Kau juga berkeinginan ? bukan hanya aku ? " Kali ini Pak Satrio menghentikan semuanya. Mengungkungku dengan kedua tangan beliau.


" Mas......." seruku yang sebenarnya adalah meminta Pak Satrio agar tidak berhenti. Aku memberi isyarat dengan tanganku agar Pak Satrio mendekat kembali padaku


" Tidak..... kalau kau tidak berkata Iya....," Jawab Pak Satrio tegas.


" Katakan Iya....! perintah Pak Satrio lembut di antara dekapan dan kembali menelusuri semuanya.


" Saya....."


" Katakan iya....." kali ini Pak Satrio berpindah


" Mas.....disini....." rajukku lirih.


" Disini.....hem....disini......? " Pak Satrio bertanya tanpa memulai.


" Kau suka.....? "


Tak kujawab pertanyaan Pak Satrio kembali aku menggeliat. Pak Satrio tersenyum penuh kemenangan yang melihatku seperti memohon.


" Kau suka ....? " Kali ini dengan nada memaksa menjawab pertanyaan yang dilontarkan padaku.


" Kau suka....? " pertanyaan paksaan dengan dibarengi cengkraman yang kuat. Mau tidak mau mengharuskan aku menjawab.

__ADS_1


" Iyaa......"


" Katakan lagi !"


" Iyaa."


" Lebih keras, aku tidak mendengar."


" Iyaa...."


" Kau juga ingin kan ? Bukan hanya aku ?


" Iyaa.....saya juga sama dengan mas selalu menginginkan kehangatan," aku sudah tidak kuasa dengan aliran - aliran gelora yang terus dan terus Pak Satrio berikan padaku.


" Bagus itu yang ingin aku dengar selama ini."


"Apa kau juga merasakan senang ? "


" Iyaa,"


" Lain kali berkata Iyaa dengan tindakan, bukan hanya dengan kata. Kau mau melakukan semua ?"


" Iyaaa."


" Sekarang atau besuk pembuktiannya ? "


" Saya tidak tahuu......," Aku sudah hilang kendali terhipnotis oleh Pak Satrio yang dengan lembut memperlakukan aku dengan aktivitasnya.


" Sekarang ! " perintah Pak Satrio tepat menggema di telingaku.


" Saya......," aku terkaget. Jujur aku tidak bisa, selama ini aku hanya menerima tidak memberi.


Pak Satrio tersenyum mengerti kalau aku tidak bisa mengimbangi aktivitas yang dilakukan.


" Aku seperti pria muda berumur dua puluhan atau tiga puluhan yang terpacu dengan hasrat. Ketika di dekatmu, aku terus menginginkan lagi, lagi dan lagi." Ucap Pak Satrio yang menyelimutiku dengan bad cover bermotif abstrak kemudian merebahkan diri di sampingku. Kami saling terdiam dalam pelukan yang hangat. Kemudian Pak Satrio bangkit dan keluar kamar setelah merapikan diri.


Aku hanya terdiam melihat Pak Satrio berlalu hanya tatapan mata kosong dan menerawang. Aku sangat letih, tapi keletihan yang membuat aku senang dan berharap lagi.


Sesaat kemudian Pak Satrio datang dengan membawa susu hangat dan roti dalam kemasan untukku. " Makan dan minumlah kau pasti lelah ! " Sambil duduk menyerong di pinggir ranjang menghadapkan badan kearahku. Pak Satrio meletakkan nampan di nakas, menuntunku meminum susu hangat buatan beliau kemudian menyuapi roti kemasan padaku.


Bersambung......

__ADS_1


Semoga suka dengan novel Author. Mohon memberi like dan komentar agar Author juga bersemangat.


__ADS_2