
Tangguh ceria menyambut kami. Dia berlari kearah kami dan berteriak kencang," Papa.... papa...... Guh........" Kedua tangannya langsung direntangkan ingin memeluk Pak Satrio.
Pak Satrio yang baru turun dari mobil langsung menyambut Tangguh dengan ceria. Tangannya juga direntangkan seperti Tangguh. Meletakkan lututnya di tanah, duduk menunggu Tangguh berlari ke arahnya. Jujur aku bersedih hati, semenjak Tangguh disini yang selalu diingat adalah Pak Satrio. Seperti hari ini, empat hari kami tidak bertemu. Pak Satrio lah yang di sambut dengan pelukan oleh Tangguh. Mereka tersenyum dan tertawa bahagia melepas rindu. Seperti tak mengenal lelah setelah mengemudi lima jam dalam perjalanan, Pak Satrio langsung bermain dengan Tangguh. Berkali - kali terdengar gelak tawa diantara mereka.
Aku memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua Pak Satrio karena Tangguh dan Thavisa ada di sini. Selain itu ada yang membuat aku enggan untuk tinggal di rumah Pak Satrio. Dirumah itu, ada kenangan pahit yang tidak bisa aku lupakan. Mungkin sedikit egois, karena di rumah ini Pak Satrio dan Mbak Asri tidak pernah tinggal atau bermalam. Setelah mereka menikah, mereka langsung menepati rumah yang sekarang di diami oleh Adrian dan Adry. Pak Satrio, setuju dengan usulku untuk tinggal di rumah orang tuanya. Beliau bilang itu harapannya dari dulu, karena Pak Satrio putra tunggal keluarga ini.
" Hallo sayang.........tidurmu nyenyak semalam ? " sapa Pak Satrio padaku dengan mencium keningku berkali - kali.
Aku menggeliat dan mengangguk.
" Kalau masih capek, habis sholat tidur lagi. Anak - anak biar aku dan Mbak Puji yang urus, "
" Jam berapa sekarang ?"
" Jam lima. Yok Sholat dulu, habis sholat boleh tidur lagi. " ajak Pak Satrio lembut padaku
" Saya pingin tidur lagi, tapi takut mama marah, saya masih ngantuk mas," jawabku enggan membuka mata.
" Mama sudah tahu kau hamil, bawaannya pingin tidur dan makan saja," jawab Pak Satrio tenang.
" Tidak.....tidak hanya saya lelah habis perjalanan." elakku pada Pak Satrio.
Pak Satrio tersenyum dan memegang dagu milikku. Memandangiku masih dengan tersenyum.
" Itu benar, hanya kau yang tidak merasa. Selama dirumah bapak, setiap dua puluh empat jam, delapan belas jam kau habiskan untuk tidur. Selama perjalanan lima jam, mungkin cuma dua puluh menit kau membuka mata selebihnya kau terlelap. Aku tawarkan bakso jawabanmu selalu " Kalau ada warung lagi."
" Aku berangkat pagi, karena masih harus ke lahan di luar kota. Setelah itu aku ke kantor......... ( kantor pusat dengan rekan kerjanya ). Siang selepas istirahat aku ke kantor ........( kantor milik beliau sendiri ) sampai sore." jelas Pak Satrio padaku ketika kami selesai sholat berjamaah.
" Kalau ada masalah kau telepon....kalau aku tak sempat menerima teleponmu kau bisa telepon Bayu," Perintah Pak Satrio.
" Papa......." Seru Adrian masuk ke kamar kami dan memeluk Pak Satrio kemudian berkali - kali mencium punggung tangan Pak Satrio.
" Maafkan Adrian Pa, Kalau Adrian terlalu keras berbicara pada Papa waktu itu," berkata lagi dengan memeluk Pak Satrio dengan erat.
" Papa memaafkanmu nak. Selalu ada maaf untuk anak papa, Bagaimana kabar mamamu ? " tanya Pak Satrio
" Sudah membaik, kakinya sudah bisa bergerak tapi untuk berjalan masih kesulitan," jawab Adrian.
" Maaf, kalau aku menyinggungmu," ucap Adrian padaku dan menjabat tanganku. kemudian cepat berpaling pada Pak Satrio kembali. Ada rasa enggan untuk berkata maaf padaku, tapi dihalau halus olehnya.
" Mau sarapan bareng kami ? Oma sudah menyiapkan Pastry dan susu hangat," tawar Pak Satrio pada Adrian.
" Iya pa.....Adrian mau,"
Ada berbagai macam roti panggang yang menurut Pak Satrio adalah Pastry dan susu hangat dimeja.
" Rin makanlah yang banyak kehamilanmu masih sangat muda, kau harus sehat, agar cucu mama tumbuh dengan baik ! perintah Bu Elly padaku.
Adrian yang biasanya cuek dengan pembicaraan kali ini menoleh padaku kemudian pada Pak Satrio, kami duduk berhadapan. Pak Hardian di meja kursi utama. Aku bersebelahan dengan Pak Satrio sementara Adrian dan Bu Elly berhadapan denganku.
__ADS_1
" Selamat Pa. Sebentar lagi Tangguh dan Thavisa punya adik baru," ucap Adrian pada Pak Satrio tanpa menoleh padaku. Pak Satrio tersenyum dan berkata," Terima kasih banyak."
*. *. *. *.
" Mas......saya masih lapar. " rengekku pada Pak Satrio dalam sambungan telepon.
" Bukankah tadi malam kita banyak membeli makanan untuk persediaan ? "
Tadi malam, Pak Satrio memang membeli makanan seperti roti dan biskuit untukku, karena rasa laparku yang berlebihan. Diletakkan dalam kamar kami, agar aku mudah mengambil dan memakannya.
" Tapi saya tidak biasa makan roti, saya ingin nasi pecel,"
" Minta tolong Bik Ipa atau Pak Sapto suaminya membelikan nasi pecel untukmu,"
" Apa boleh ? "
" Boleh....kau sedang hamil, mama pasti mengerti,"
" Iya baiklah. Saya minta Pak Sapto beli nasi pecel.
1 jam kemudian
" Mas, aku ingin tahu petis tapi tidak diijinkan mama. Aku ingin sekali. Tolong belikan ! "
" Belinya di mana ? "
" Kok tanya saya ? Mas kan yang asli sini. "
" Apa mas tidak pernah beli tahu petis ? "
" Aku tidak pernah membelinya. Mama selalu menyediakan di rumah."
" Tapi aku ingin mas,"
" Iya nanti aku minta tolong Bayu membeli untukmu,"
" Kok Bayu, Apa suami saya Bayu ?
" Iya...aku yang beli, tunggu pulang kerja.
" Harus mas ! Nanti kirim fotonya kalau mas yang beli,"
" Iya baik nyonya. Aku kerja dulu !"
3 jam kemudian
" Mas......aku ingin sayur lodeh rebung ( lodeh rebung adalah sayur santan berbahan bambu muda ), mama tidak ijinkan. Kata beliau wanita hamil tidak boleh makan sayur santan." pintaku pada Pak Satrio.
" Mama dari mana dapat sayur lodeh rebung ? "
__ADS_1
" Dari bulek Ninuk ( adik sepupu Bu Elly yang biasa main ke rumah ). "
" Kenapa tak langsung kau makan ?"
" Aku sudah mau makan tapi dilarang, saya ingin sekali mas....,"
" Iya aku belikan nanti pulang kerja,"
" Sungguh ? "
" Dik Rin.....kau ingin aku beli apa ? Tahu petis apa sayur lodeh ? "
" Dua - duanya mas. Sayur lodeh dan tahu petis. Mas sudah tahu penjual tahu petisnya dimana ?
" Sudah. Aku tanya Bayu di Bratang gede nanti pulang kerja aku kesana,"
" Petisnya yang banyak ! "
" Iya nyonya. Aku kerja dulu !"
1 Jam kemudian
" Apalagi nyonya......! suara Pak Satrio seperti menahan kesal padaku.
" Tidak, cuma ingin telepon mas. Kapan pulang ?
" Saat ini saja baru selesai istirahat siang,"
" Kenapa lama sekali ?
" Waktu kerja delapan sampai sembilan jam nyonya ! Itu belum kalau lembur."
" Apa tidak bisa pulang dulu ? " aku ingin lekas makan tahu petisnya."
" Sabar dulu.....kau tak ingin Bayu yang membeli. Kalau menungguku lama,"
" Iya baiklah saya menunggu mas."
" Nah....gitu jadi istri yang baik,"
" Tapi......!"
" Apalagi ? Ah.....aku lebih suka memimpin rapat tiga atau lima jam sekalian jadi presentator tidak masalah, daripada harus berdebat denganmu," gerutu Pak Satrio yang mungkin sudah tidak kuat menghadapi kemanjaan dan rengekanku.
Bersambung..........
Catatan;
Tipe suami seperti Pak Satrio adalah suami yang selalu menyampaikan bahasa cintanya dengan sentuhan fisik, seperti suka mencium, memeluk atau yang lainnya. Biasanya lebih sering mengajak berhubungan intim dan paling tidak suka kalau ajakannya ditolak karena dianggap penting. Biasanya tipe seperti ini akan sangat baik kepada kita ketika keinginan biologisnya terpenuhi dengan baik. Tipe ini memiliki kelemahan rawan selingkuh jika kita sering mengabaikan bahasa sentuhannya karena merasa tersinggung pelukan, dan ciumannya ditolak.
__ADS_1
Maaf....... yang Author baca hanya tipe ini untuk mendukung karakter Pak Satrio.
Jangan lupa like dan komentar serta vote agar Author senang.