
Aku tidak bisa fokus melakukan pekerjaanku hari ini. Bagaimana mungkin bisa tenang. Dua hari lagi jadwalku Operasi Caesar, hari ini aku belum punya dana yang aku pegang. Selain uang bulanan dari gajiku.
" Mbak Arin......" panggil Dita sambil menuju ke arahku. Aku menoleh kearah Dita dan tersenyum.
" Mbak ini pembayarannya bagaimana ? Diangsur dua belas bulan ? dua puluh empat bulan atau tiga puluh enam bulan ? Maksimal tiga puluh enam bulan dengan bunga nol koma lima persen." Terang Dita padaku.
Aku terdiam memikirkan pertanyaan dari Dita sambil menghitung rencana angsuran yang aku bayarkan tiap bulannya.
"Mbak Arin......sebentar yach. Bu Merry menyuruhku ke rumah beliau. Ada anggaran yang harus aku selesaikan dirumah Bu Merry." pamit Dita padaku setelah beberapa saat menerima panggilan telepon.
" Iya Dit gak apa - apa, sekarang masih jam dua siang. Masih banyak waktu," jawabku berusaha tenang. Tapi........dalam hatiku berkecamuk seperti pergantian lampu kuning ke hijau di lampu di perempatan jalan. Terburu - buru ingin memutar gas dan berlalu pergi.
" Mbak jangan kuatir, Ko Dion dan Bu Merry setuju kok dengan pengajuan pinjaman Mbak Arin. Kelengkapannya sudah ada di meja Ko Dion, tinggal nunggu cairnya."
Keluarga Henry menyerahkan semua urusan keuangan pernikahan Dokter Dandy ke Dita. Mulai pembayaran untuk WO, Catering dan lainnya. Jadi wajar kalau Dita sangat sibuk dalam dua minggu ini. Apalagi keluarga besar Henry belum pernah mengadakan pesta pernikahan.
Aku tersenyum ke arah Dita yang sedang mengambil tas dan melangkah ke luar ruangan. Suara sepatu Dita sudah samar terdengar dan kemudian hilang. Berganti dengan suara motor miliknya yang juga menjauh. Aku kembali menghadap ke arah komputer di depanku. Baru Lima menit Dita keluar, tapi aku sudah cemas. Berkali - kali aku melihat jam dan menoleh kearah luar ruangan menantikan kedatangan Dita. Bayi di dalam perutku juga merasakan yang aku rasakan. menendang ku sangat kuat berkali - kali.
" Untuk apa Mbak Arin pinjam uang sebanyak ini ?" seperti suara milik Henry dari arah ruangan Ko Dion, nyaring bertanya padaku.
Tidak mungkin Henry kan ? Apa aku yang terlalu mengingat Henry. Ku arahkan pandanganku ke sumber suara. Benar itu Henry sedang berjalan ke arahku membawa map biru berisi surat permohonan pinjamanku. Spontan aku berdiri dari tempat dudukku.
" Henry................" Seruku terkejut dengan melihat Henry yang sudah berada di depanku. Menggunakan kaos hitam bergaris putih, jaket dan celana jeans biru terang.
" Kapan kamu datang, aku tidak melihatmu datang ? tanyaku mengalihkan jawaban yang dia inginkan.
" Tadi jam istirahat dan lewat pintu," jawabnya santai dengan mata yang mengarah padaku.
" Maksudku kapan datang dan naik apa ? "
" Kemarin, terbang pinjam jubahnya Superman," jawaban Henry melucu tapi dengan wajah yang datar.
" Aku tanya....... Untuk apa Mbak Arin pinjam uang sebanyak itu ?" tanya Henry mengulang pertanyaan yang belum aku jawab.
__ADS_1
" Mbak ......." Serunya lagi sambil meraih lenganku dan mencoba menunjukkan lembaran berisi pengajuan pinjaman yang aku buat.
Aku berusaha melepaskan pegangan tangan Henry dan duduk di kursi kerjaku.
" Untuk apa bertanya bukankah sudah ada di permohonan pinjaman ? " jawabku tanpa menoleh ke Henry.
Owh.....jadi Dita berlama - lama di ruangan Ko Dion tadi bukan bicara dengan Ko Dion tetapi dengan Henry. Kenapa aku sangat bodoh tidak perduli dengan keadaan sekitarku. Dan kenapa tidak terpikirkan olehku bukankah besuk pernikahan Dokter Dandy, kakak Henry. Tentu saja Henry akan pulang untuk menghadiri pernikahan kakaknya.
" Aku ingin mendengar langsung dari Mbak," desak Henry dengan menguatkan pegangan tangannya di lenganku. Henry mengikutiku tubuhku yang pendek. Duduk di pinggir meja kerjaku dan menghadap padaku.
" Untuk persiapan dana melahirkan. Hanya berjaga - jaga." jawabku tetap tanpa menoleh ke arah Henry.
" Batalkan.....!" Perintah Henry padaku.
" Henry.....ini masalahku,"
" Batalkan....! " perintah Henry lagi sambil menyobek lembaran dalam map biru permohonan pinjamanku.
" Henry.....jangan. Tolong aku benar - benar membutuhkan pinjaman itu." ucapku terisak melihat apa yang dilakukan Henry.
" Apa Mbak tidak dengar. Batalkan ! Telepon mama sekarang. Batalkan !"
" Henry. Tolong aku benar - benar membutuhkan uang tersebut. Aku tidak punya tabungan sama sekali, karena itu aku pinjam uang kantor,"
" Suami Mbak Arin ?"
Aku terdiam menunduk dengan pertanyaan Henry. Aku tak sanggup menjelaskan semuanya pada Henry.
" Kenapa ? Tidak mau tanggung jawab ? Sudah menikah lagi dengan mantan Istrinya ? Mbak Arin ditinggal begitu saja ? cerca Henry padaku.
" Mbak Arin meninggalkan aku demi laki - laki brengsek seperti dia ? "
" Kenapa masih bertanya kalau Dita sudah cerita semuanya padamu," kesalku menjawab semua pertanyaan Henry.
__ADS_1
" Kalau suami Mbak tidak mau bertanggung jawab. Aku yang biayai semuanya. Batalkan pinjaman ke kantor," perintah Henry lagi.
Kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja tempat air minum. Menuangkan air putih di gelas yang dia minum sendiri. Mencoba mengatur nafasnya yang tersengal - sengal karena menahan amarahnya.
Di ruangan kerjaku ada meja yang tersedia dispenser, teh dan kopi yang siap saji. Kami bebas membuat apa saja setiap harinya.
" Itu tidak mungkin Henry. Aku sangat membutuhkan uang itu. Aku tidak mau kau ikut campur masalah rumah tanggaku,"
" Itu urusanku juga, tidak usah membantah. Cepat telepon mama. Batalkan pinjamannya ! " Henry membalikkan badan tetap berdiri di depan meja dispenser. Tangan satunya memegang gelas dan satunya lagi di saku celananya.
" Mbak jangan buat aku tidak sabar dengan semua. Capat telepon mama. Aku yang membiayai kebutuhan Mbak Arin."
" Maaf Henry aku tidak ingin dikasihani oleh siapapun. Aku bisa berdiri sendiri. Walaupun mendapatkan dengan jalan seperti ini."
" Lakukan apa yang aku perintahkan. Batalkan cepat ! "
Kreeekkkk
" Henry.......apa yang kau lakukan...! " Aku menjerit memanggil nama Henry. Aku tidak menyangka yang dilakukan Henry di luar nalar. Dan bukan Henry yang aku kenal sangat periang. Henry dengan mudah meremas gelas yang dia pegang. Kakinya cepat melakukan gerakan lurus keatas kemudian mendaratkan pada meja dispenser.
" Henry.....ini bukan pertandingan Wushu. Apa kata orang kalau melihat kita," aku berbicara dengan gemetar menahan ketakutan yang melanda. Keringat dingin keluar dari seluruh tubuhku. Aku sungguh takut melihat Henry marah tidak terkendali seperti ini.
Henry memang menguasai olah raga Wushu anggar dan renang. Selain menguasai beberapa alat musik. Dimata orang dia adalah laki - laki yang sangat sempurna, semua bidang dia kuasai.
Tanpa memperdulikan tangannya yang terluka Henry berlari ke arahku yang lunglai karena ketakutan melihat apa yang barusan dia lakukan. Aku tidak kuat berdiri karena gemetar, Henry memapahku untuk duduk di sofa tamu kantor ini.
" Maaf .......Mbak harus melihatku marah seperti ini. Maaf......seharusnya aku bisa mengendalikan emosiku."
Setelah membantuku duduk Henry bergegas mencari air kemasan dalam botol. membukakan penutupnya untukku kemudian menyodorkan padaku. Kantor kami berserakan karena Henry memecahkan meja dispenser. Air galon yang tumpah, gelas dan semua teman - temannya berhamburan disekitarnya. Pak Kamil datang tergoboh - gopoh melihat kami.
" Tolong bersihkan Pak dan ganti yang baru," perintah Henry pada Pak Kamil. Dia masih duduk di sebelahku.
Setelah berbicara dengan Pak Kamil Henry menarik tanganku kuat. Mau tidak mau aku mengikuti Henry melangkah keluar kantor. Aku tidak tahu akan kemana Henry melajukan mobilnya. Tangannya masih penuh dengan darah yang mengalir. Kami belum sempat melakukan apa - apa dengan tangan Henry.
__ADS_1
Bersambung......
Tolong beri saran kritik. Jangan lupa like dan komentarnya.