
" Mas tidak kembali ke kantor ? " tanyaku lirih pada Pak Satrio ketika berhasil menidurkan Thavisa dan dengan perlahan meletakkan di ranjang kami.
Tangan Thavisa masih menggenggam erat baju Pak Satrio. Membuat Pak Satrio harus ikut berbaring disisi Thavisa. Sesaat kemudian dengan perlahan Pak Satrio melepaskan genggaman tangan Thavisa yang mulai melemah karena terlalu pulas tertidur.
" Tidak, aku sudah memberitahu Bayu kalau Thavisa sakit dan aku tidak ada jadwal penting. Semua bisa diatasi oleh Bayu, " jawabnya sambil membuka bajunya untuk bertukar pakaian.
Kulit badannya yang putih kemerahan bersih tanpa ada bekas luka sedikitpun. Mungkin aku kalah putih dan bersih dibanding Pak Satrio. Kulitku seperti orang Indonesia pada umumnya agak kecoklatan. Selama ini aku kurang begitu memperhatikan setiap detail dari tubuh suamiku sendiri. Perutnya rata tanpa timbunan lemak, Punggungnya lebar dengan dada yang bidang. Lingkar pinggangnya mungkin dikisaran 70 sampai 80 centimeter. Ukuran ideal untuk laki - laki. Badannya tegap apalagi tinggi badannya seratus delapan puluh lima. Tidak tampak usia awal lima puluhan di badan dan wajahnya.
Tanpa aku sadari pikiranku menerawang jauh melihat Pak Satrio bertelanjang dada di depanku. Kalau boleh aku jujur, baru pertama kali ini aku melihat Pak Satrio hanya menggunakan ( maaf ) ****** ***** saja. Karena ada ruangan sendiri untuk bertukar baju. Disana terdapat almari untuk tempat baju, sepatu dan perlengkapan lain milik Pak Satrio. Terletak di sebelah kamar yang aku tempati dan terhubung melalui pintu antara kamar ini dan kamar ganti. Selama kami melakukan hubungan suami istri, selalu ada baju yang tetap melekat pada tubuh Pak Satrio, entah itu hanya pakaian dalam saja.
Rasanya aku ingin bergelayut manja di lengan berototnya yang tidak terlalu kekar mencolok, tapi seimbang dengan postur tubuh yang dimiliki Pak Satrio. Aaaahhhh kenapa siang hari aku memikirkan hal demikian ? Aku mencoba membuyarkan lamunanku sendiri dengan mengedip - ngedipkan kedua mataku berkali - kali.
Pak Satrio menyadari aku memperhatikan setiap jengkal dari tubuhnya tanpa berkedip sedikitpun. Tersenyum berjalan mendekat padaku, kemudian dengan cepat menyentil dahiku.
" Otakmu mesum melihatku bertelanjang dada, hanya menggunakan ****** ***** saja ? " terka Pak Satrio kemudian tertawa lirih.
Aku tergelagap dengan ucapan Pak Satrio, sehingga salah tingkah tidak tahu apa yang akan aku katakan.
" Jangan sekarang, aku masih lelah." ucap Pak Satrio dengan tersenyum menggodaku, tapi tetap berdiam diri di depanku. Seakan memberi aku kesempatan untuk memandangi semua yang ada pada dirinya.
" Bisa kau ambilkan baju dan celana pendek untukku ! Aku benar - benar lelah dan ingin merebahkan badanku.
" I.......iya mas.....," jawabku bergegas melangkah karena tak ingin terlihat gugup di depan Pak Satrio.
__ADS_1
Aku membantu Pak Satrio memakaikan baju untuknya. Setiap kali aku menyentuh kulit badan Pak Satrio untuk membantunya berpakaian, seakan hatiku terbakar keinginan yang sulit aku bendung. Yah......aku menginginkan pelukan dari laki - laki di depanku saat ini, suamiku sendiri.
" Mas.....Terima kasih banyak perhatiannya untukku dan anak - anak. " Ucapku pada Pak Satrio. Sebenarnya kuucapkan kalimat itu hanya untuk mencairkan suasana canggung yang terasa pada diriku.
Pak Satrio memalingkan badannya kearahku dan tersenyum.
" Iya sayang sama. Aku juga berterima kasih atas semua kebahagiaan dan pengertian yang sudah kau berikan padaku," jawabnya tenang.
" Apa sebaiknya kita menambah pengasuh anak ? " tanyaku tiba - tiba. Pikiranku masih bingung saja karena malu Pak Satrio mengetahui apa yang ada dalam pikiranku. Sehingga aku berusaha mencari pembicaraan dengannya untuk menutupi salah tingkahku.
" Apa kau letih dengan empat anakku ? "
" Tidak mereka juga anakku. Anak kita,"
" Aku terserah kau saja, karena yang merasakan merawat anak - anak lebih banyak kau daripada aku. Aku hanya tidak mau kehilangan moment emas pertumbuhan mereka. Sebisaku dan semampuku, jika mereka sakit dan senang ada dalam dekapanku. Aku hanya ingin anak - anak tumbuh dengan bahagia seperti masa kecilku, yang tidak pernah melihat kedua orang tuaku bertikai. Tidak pernah melihat mereka memasang wajah masam saat bersamaku. "
" Jika kita menginginkan anak - anak tumbuh dalam kebahagiaan harus diawali dari kita. Kita harus saling mencintai, dan menerima kekurangan satu sama lain. Kita harus bahagia dalam rumah tangga ini agar dapat tersalurkan pada anak- anak kita. "
Aku tersenyum tanda setuju dengan alasan yang diberikan Pak Satrio padaku. Demikian Pak Satrio juga tersenyum kepadaku memberikan ciuman pada keningku dan puncak kepalaku berkali - kali.
* * * * * *
Aku menggeliat karena tangisan Ziancha, Aku menoleh di sampingku tidak ada Pak Satrio, lekas aku terjaga meraih Ziancha dan memberikan ASI padanya. Masih jam sebelas malam, karena rasa ingin tahu di mana Pak Satrio aku keluar kamar mencarinya.
__ADS_1
Suara tawa Tangguh masih ceria bermain dengan Pak Satrio dan Thavisa dalam gendongan Pak Satrio memeluk erat dengan mata nanar karena merasakan sakit dalam tubuhnya.
" Kenapa belum tidur ? tanyaku pada Tangguh dan Pak Satrio.
" Tangguh terbangun saat Thavisa menangis kencang." jawab Pak Satrio tenang memandang padaku.
" Nak Arin......bagaimana sudah baikan ? kata Satrio kau sakit. " tanya Bu Elly yang datang dari arah dapur membawa irisan buah apel. Mungkin untuk Pak Satrio dan Tangguh. Sudah menjadi kebiasaan Pak Satrio jika malam hari, masih terasa lapar beliau selalu memakan buah - buahan segar untuk menutupi rasa laparnya.
" Iya ma sudah agak membaik." jawabku
Pak Satrio mendekat padaku sambil membawa potongan buah apel padaku dan bertanya, " Kau mau ? " tanpa ku jawab Pak Satrio berusaha menyuapiku.
* * * * *
Kembali aku terjaga dari tidurku, bukan karena tangisan Zeeshan dan Ziancha. Tapi ketika kurasa tidak ada Pak Satrio di sampingku. Aku berusaha duduk dalam rasa kantuk yang melanda. Jam setengah tiga dini hari. Ternyata, aku sudah terbiasa tidur dalam pelukan Pak Satrio. Semalam saja membuat aku terjaga berkali - kali.
Pak Satrio tertidur di kursi dengan tetap menggendong Thavisa dalam dekapannya. Thavisa sangat terlelap dalam buaian ayah kandungnya. Aku tersenyum dan terharu melihat pemandangan indah di depanku. Yang selalu aku inginkan adalah seperti ini. Aku ingin anak - anakku mendapatkan seorang ayah yang sangat menyayangi mereka. Aku perlahan turun seakan-akan aku enggan melepas pemandangan indah di depanku. Aku cepat mengambil handphone dan mengabadikannya berkali - kali.
Aku mendekat ke arah mereka, mencium kening Pak Satrio dengan sangat lembut. Pak Satrio terbangun karena sentuhan ciumanku, membuka netranya walau rasa kantuk menyerangnya.
Tersenyum padaku dan berkata, " Maaf sayang aku ketiduran menjaga Thavisa." sesal Pak Satrio kepadaku sambil membenarkan posisinya yang semula bersandar di sandaran kursi.
" Tidak mas, aku sangat senang mas sangat baik pada Thavisa." jawabku lembut pada Pak Satrio.
__ADS_1
Sekarang aku tahu kenapa Mbak Asri sangat berat kehilangan dan melepas Pak Satrio, inilah jawabannya. Pak Satrio benar seperti yang dikatakan Sebastian, ketika Pak Satrio sudah mencintai dia akan melakukan apapun dan berkorban apapun. Walaupun terlihat sepele apa yang aku lihat sekarang, tapi bagiku itu sangat luar biasa.
Bersambung..........