Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 33


__ADS_3

Lebih dari satu bulan setelah kepulangan ku dari rumah pak Satrio. Aku memang baru kali ini mengunjungi rumah beliau lagi. Itupun karena aku dijemput oleh Pak Sumadi. Melalui sambungan telepon Pak Satrio memintaku datang ke rumah beliau karena ada acara. Beliau ingin makan bersama denganku. Memintaku untuk berakhir pekan di rumahnya. Aku memenuhi permintaan beliau untuk ijin hari Jumat dan Sabtu. Ditempat kerjaku memang masuk lima hari kerja. Tiap pegawai diberi libur satu hari dengan jadwal yang sudah diatur. Kebetulan pekan ini hari liburku tepat hari Minggu.


Setelah kepulanganku. Kami memang jarang berkomunikasi hanya seperlunya saja. Tidak seperti pengantin baru pada umumnya yang mungkin setiap hari bahkan mungkin setiap jam memberi kabar. Tidak demikian dengan aku dan Pak Satrio. Pak Satrio sesekali saja menanyakan kabarku. Tidak ada basa basi dalam pesan wa beliau. Tidak ada panggilan khusus untukku. Wajar saja kata - kata beliau


" sudah sampai rumah ?"


" Aku ada acara"


Sangat datar bukan ? demikian jawaban aku berikan pada beliau.


" Ya "


" Hati - hati"


Aku juga tidak punya keinginan memulai dulu berkirim pesan pada beliau. Entah kenapa ada rasa enggan dalam hatiku untuk mendekatkan diriku pada beliau, walau kami sudah menikah. Mungkin karena aku sudah tahu jawabannya. Aku bukan yang beliau ingin kan. Aku bukan wanita yang ada dalam hati dan pikiran beliau. Dan aku, tidak punya keinginan untuk memperjuangkan diriku menjadi yang Pak Satrio cintai. Mungkin karena aku sudah terlatih tidak berharap pada seseorang. Aku pernah berharap tapi terabaikan. Aku pernah bermimpi tapi tak pernah terwujud. Sekarang aku ingin hidup biasa saja dengan menjalani yang ada. Aku memang belum ada rencana untuk mengajukan cerai pada Pak Satrio. Ya.......Kembali pada diriku sendiri. Ternyata aku masih malu jika aku bercerai. Apa kata mas Ravi dan Henry ? Mereka sudah melarangku dan memintaku membatalkan pernikahan ini. apa kata bapakku dan saudara - saudaraku ? Apa kata tetangga dan teman - temannku. Kubiarkan diriku sejenak berada dalam kubangan lumpur, selama aku tidak tenggelam. Mingkin juga karena kalimat pak Satrio. Kami baru saja menikah. dan beliau berjanji akan melepaskanku, jika aku sudah bertemu dengan seseorang yang mungkin mencintaiku kelak. Aku percaya pak Satrio dengan janjinya karena aku tahu. Di dalam hati Pak Satrio aku tidak pernah ada. Di dalam hati Pak Satrio sudah terisi penuh dengan sebuah nama, dan itu bukan Aku.


Tak lupa aku kenakan perhiasan yang beliau berikan padaku. Semuanya aku pakai dari kalung, gelang. cincin dan anting - anting. Sebagai tanda terima kasih untuk beliau. Aku juga ingin membuat beliau senang. Aku baru tahu dari pak Sumadi, hari ini adalah hari ulang tahun Pak Satrio. Perhiasan yang diberikan pak Satrio mungkin tidak mahal hanya perhiasan emas pada umumnya. Tapi bentuknya yang terlihat cantik membuat aku merasa senang. Rambutku yang panjang sepinggang aku ikat biasa dan mungkin untuk mempermudah beliau kalau aku memakai anting - antingnya juga.


Jujur dalam hatiku sebenarnya ada perasaan was - was. Takut kalau mbak Asri juga datang. Tapi aku tepis rasa raguku. Tidak mungkin mbak Asri datang. Bukankah ada bapak dan ibu dari Pak Satrio yang sangat membenci mbak Asri ?


Sore hari ketika aku sampai di rumah beliau. Sambutan hangat dari mertuaku terlihat nyata. Mereka memeluk dan mencium pipiku. Aku juga memeluk ibu mertuaku dan mencium punggung tangan beliau.


Acara makan malam ini diadakan dirumah. hanya sekeluarga saja. Tidak ada yang istimewa. Kenapa aku diminta untuk datang ? Dari pembicaraanku dengan Pak Satrio sebelum makan malam. Bapak dan ibu beliau selalu bertanya kenapa aku tidak pernah datang ? Beliau ingin aku hadir di hari ulang tahun putranya.


" Nak..... Arin. berhenti kerja ya"


" Tidak baik suami istri hidup terpisah"


Bu Elly bertanya ditengah - tengah acara makan malam ini

__ADS_1


" Arin masih ada kontrak kerja ibu. menunggu habis kontraknya"


" Lo kerja di gudang toko juga ada kontraknya ya. Ibu kira cuma di pabrik- pabrik atau di kantor swasta"


" I.....iya ibu ada,"jawabku gugup karena takut ketahuan kalau aku berbohong.


Bukan karena kontrak kerja aku tidak mau hidup seatap dengan Pak Satrio. Sikap Pak Satrio lah yang membuat aku mengambil keputusan seperti ini. Tapi itu semua hanya aku jawab dalam hatiku saja. Tanpa bisa terlontar keluar pada Bu Elly ibu mertuaku.


" Nak Arin.....ini obatnya mas Satrio dari lukanya"


" Yang namanya obat kan harus dekat"


" Jangan seperti Asri sudah berapa kali selingkuh"


Aku hanya mengangguk saja mendengarkan ibu mertuaku. Suasana makan malam yang sangat kaku ini jelas terlihat. Adry yang biasanya rame dengan celotehnya. Malam hari ini diam saja seolah bukan Adry yang aku kenal.


" Oma......ayolah jangan mulai lagi. Jangan rusak suasana makan malam ini"


Aku terkejut dan langsung menoleh pada Adrian. Adrian yang pendiam kali ini berbicara.


" Iya kehidupan yang menyakiti anak laki - lakiku," sengit Bu Elly dengan geram. Terlihat sekali beliau memendam dendam dan amarah yang berlebih - lebihan


" Oma.......kita sedang makan," pinta Adrian. Suaranya mulai meninggi


" Apa kamu tidak kasian lihat papamu yang sampai sakit karena mamamu"


" Ibuu..........."


" Omaaaaa....."

__ADS_1


Pak Satrio, Adrian dan Pak Hardian hampir bersamaan.


" Oma......... bagaimanapun mama Asri wanita yang melahirkan aku dan Adry"


" Aku dan Adry tidak akan ada, kalau papa dan mama tidak menikah," Suara tegas tapi tetap tenang kembali dilontarkan Adrian kepada Omanya.


" Papamu kalau patuh sama Oma. Tidak akan menikah sama perempuan gak punya malu itu," urai Bu Elly ketus mendengar jawaban dari Adrian.


" Ibu jangan diungkit masa laluku. Ada Dik Arin"


Pak Satrio yang duduk di sebelahku menoleh dan memegang tanganku. Aku tersenyum pada beliau memberi isyarat kalau aku baik - baik saja tidak terganggu dengan pembicaraan sengit mereka.


" Oma........tolong berhenti. Jangan berbicara begitu. Kami anak - anak mama juga sedih lihat mama ninggalin papa"


Suara tertahan dan gemetar Adrian sangat jelas terdengar. Dalam hatiku, aku sangat kagum dengan Adrian. Bagaimanpun buruknya, perbuatan mbak Asri mama kandungnya. Dia tetap membela dengan tegas dan tidak perduli dengan siapa lawan bicaranya. Tetapi sikapnya yang menunjukkan kepedulian pada mbak Asri ibu kandungnya. Membuat aku sadar. Sikap dingin dan menganggap seolah - olah aku tidak ada. Apakah karena tidak ingin posisi ibunya tergantikan olehku ? Tapi kenapa disaat tidak ada orang dia juga sangat baik padaku ? Apa maksudnya ? Apakah dia sebenarnya tertawa dan senang jika melihat aku menangis dan menderita Karena sikap Pak Satrio yang sebenarnya tidak perduli padaku ? Dia juga tahu betul aku menelepon Henry waktu itu. Tapi tidak menyampaikannya pada Pak Satrio. Aaaaaahhhhhh..........Aku jadi bingung sendiri dengan sikap dan maksud Adrian yang tidak bisa aku tebak.


Dulu saat aku hampir seminggu di rumah pak Satrio. Adry lah yang paling keras suaranya. Tapi kali ini Adrian lah yang keras. Nada bicaranya sangat tegas. Garis wajahnya yang kuat dan dingin menunjukkan ketidak - sukaannya dengan perkataan - perkataan dari neneknya. Alis tebal dan hitamnya berkerut dan menjadi satu. kami semua terdiam. Walau Adrian masih belia aura kepemimpinannya sangat kuat terlihat. Sikap tegas dan dinginnya juga membuat sang neneknya terdiam tanpa berkata apa - apa lagi.


Suasana kikuk ini terus berlanjut sampai orang tua dari Pak Satrio pulang. Kami mengantar mereka berdua berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman.


" Oma........maafkan Adrian kalau menyinggung perasaan Oma,"


Suara lirih dan merendah Adrian sangat lembut. Kemudian Adrian memeluk dan mencium kening Bu Elly berkali - kali.


" Oma juga minta maaf sayang"


" Maaf Oma belum bisa memaafkan mamaku karena sudah menyakiti anak Oma"


" Iya Oma, Adrian mengerti"

__ADS_1


bersambung...........


__ADS_2