Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 109


__ADS_3

Klik...... Aku membuka pintu ruangan Tian.


" Arina ...... " Seru Tian mengikutiku.


Ketika pintu ku buka di lorong ada Pak Satrio, Mbak Asri yang menggunakan kursi roda dan beberapa orang yang tidak aku kenal akan melewati ruangan Tian. Aku dan Tian terkejut demikian juga mereka.


" Dik Rin.....," sapa Pak Satrio padaku dengan nada terkejut.


Posisiku yang kurang begitu baik untuk dilihat. Tian tanpa jeda berada di belakangku ingin menghalangiku membuka pintu. Sehingga tangan Tian berada di atas tanganku yang sedang memegang gagang pintu ini.


" Papa, Om Satrio aku dan Arina teman SMP jadi saling kenal.


" Kau.......," tanya Pak Satrio tapi tidak dilanjutkan karena melihatku berlari.


" Dik Rin jangan lari kau hamil," Panggil Pak Satrio padaku yang juga berlari mengejarku dari belakang.


" Jangan lari sayang, ingat kau hamil ! " ucap Pak Satrio yang berhasil mendapatkanku dan menghentikan langkahku. Menuntunku kembali pada mereka.


" Saya membenci mas," umpatku sambil berjalan dalam gandengan Pak Satrio. Pak Satrio hanya tersenyum tidak membalas mungkin menjaga wibawa dan nama baiknya di depan semua karyawan dan koleganya.


" Maaf, atas kejadian barusan. Mungkin karena hamil muda, jadi ya....begitulah..... ucap Pak Satrio pada rekannya.


" Yusuf Hendra Tjahjadi, papanya Tian." uluran tangan menyapa dan tersenyum sopan padaku. Aku menyambutnya dengan tersenyum dan membalas jabatan tangannya.


" Dulu Tian banyak bercerita tentang Bu Arina, tidak menyangka bisa bertemu disini," ucapnya lagi. Tian tersenyum sikapnya sangat formal berbeda dengan tadi ketika berbicara padaku.


Aku enggan menyapa Mbak Asri demikian pula mungkin Mbak Asri dia juga tak berniat menyapaku. Kami saling tak bertegur sapa walau dalam jarak yang dekat. Tiga orang pria juga berpakaian rapi tidak ku kenal saling tersenyum pada kami, kemudian berpamitan. Seseorang dari mereka membantu Mbak Asri mendorong kursi roda.


" Silahkan.... Dik Satrio kalau mau makan dengan istri. Saya dan Tian akan makan siang juga," Ucap Pak Yusuf pada kami.


" Iya mas....." Jawab Pak Satrio kemudian mengajakku menuju ruangannya sendiri.


" Saya membenci mas," umpatku lagi saat kami berjalan menuju ruangan Pak Satrio.


" Aku mencintaimu," balas Pak Satrio padaku.


" Saya sangat membenci mas,"


" Aku sangat mencintaimu,"


" Saya tidak perduli, Saya membenci mas,"


" Aku juga tidak perduli, kau membenciku yang terpenting aku tetap mencintaimu dan anak - anak kita,"


Pak Satrio membuka pintu sebuah ruangan yang sangat besar, Diluar ada dua meja berjajar rapi mungkin itu meja milik Bayu. Sekarang jam istirahat siang, tentu pemilik meja sedang menikmati menu makan siangnya.


Dengan pelan Pak Satrio membuka kotak makanan yang aku bawa.


" Kau tidak mau makan siang ?"


" Tidak, malas...." jawabku ketus.


" Kenapa mas tidak bilang kalau Mbak Asri ke sini juga ?"

__ADS_1


" Itu masalah pekerjaan. Kau juga tidak bilang superhero mu Sebastian,"


" Aku juga baru tahu kalau Sebastian ada disini. Mas yang bohong, kenapa ada Mbak Asri dalam pekerjaan mas ? "


" Rumit untuk dijelaskan, yang pasti ada kaitannya dengan pekerjaan."


" Mas ingin menutupi dariku agar bisa bertemu lagi dengan Mbak Asri ? "


" Tidak, ini berkaitan dengan pekerjaan. Asri banyak menerima hadiah dari perusahaan media tanaman. Dia menjanjikan akan memakai perusahaan tersebut untuk pemasok media tanaman disini, sedangkan..........,"


" Cukup mas saya pusing. Intinya saja saya tidak tahu masalah seperti itu," aku memotong cerita Pak Satrio karena menurutku terlalu rumit.


" Ya intinya aku harus mengembalikan apa yang sudah diterima Asri, kalau tidak mau sampai ke meja hijau dan nama baik serta saham perusahaan ini menurun,"


" Tentang Family Gathering ? Kenapa mas tidak pernah cerita pada saya ? Bahkan mas berciuman dengan Mbak Asri."


" Aku tidak ingin membuatmu terlalu berpikir berat dik Rin. Sudahlah apa yang aku lakukan semua demi kebaikan rumah tangga kita,"


" Termasuk berciuman dengan Mbak Asri didepan umum ?


" Aku tidak berciuman dengan Asri. Kami hanya bersentuhan bibir, dia yang melakukannya dan aku menolaknya. "


" Itu namanya berciuman mas,"


" Tidak. Kami hanya bersentuhan bibir, kecupan saja. Kalau berciuman saling berpagutan, bermain lidah," elak Pak Satrio.


" Menjijikkan !"


" Berbicaralah yang baik - baik saja dik Rin, kau sedang mengandung tidak baik di dengar bayinya," ucap Pak Satrio pelan


" Aku tidak semurah itu mas !"


" Baguslah," sambil menciumku dengan cepat


" Itu tadi namanya kecupan, Kau ingin praktek berciuman ?


" Tidak ......," aku menjauh dari Pak Satrio. Pak Satrio semakin tersenyum lebar melihatku.


" Takut dilihat orang ? "


" Iya....,"


"Yang lihat hanya Bayu bahkan mungkin Cantika ( Sekretaris Pak Satrio khusus di kantor ini. Berbeda dengan Bayu yang selalu ikut Pak Satrio baik di kantor ini maupun di kantor usaha milik pribadi Pak Satrio ).


" Apa mas sering melakukan disini,"


" Iya ," jawab Pak Satrio tenang.


" Dengan siapa ?


" Dengan siapa lagi, tentu saja dengan istriku. Aku tidak pernah melakukannya dengan wanita yang bukan milikku. "


" Mbak Asri ? "

__ADS_1


" Dulu sebelum menjadi mantan."


" Tidak tahu malu."


Pak Satrio tertawa kecil mendengar umpatanku.


" Kau tidak ingin kunjungan makan siangmu lebih berkesan ? "


" Bukankah mas makan dengan lahap ? "


" Maksudku..... Kau tak ingin membuat waktu kita lebih berkualitas ? "


" Oh ya....aku harus segera pulang, kasian Tangguh dan Thavisa. Hari ini mama banyak kegiatan ada acara reuni dengan teman - teman beliau.


" Waktu istirahat sisa dua puluh lima menit lagi. Bagaimana kalau kita gunakan dengan sebaik-baiknya ?"


" Ya baiklah saya akan segera pulang, kalau mas mau bekerja lagi."


" Kau ini bodoh atau bagaimana ? Bagaimana kau bisa naik kelas kalau nilai Bahasa Indonesiamu sangat jelek ? "


" Maksud mas ? "


" Apa IQ mu di bawah 100 ? Atau kau tak kenal majas metafora ? suara Pak Satrio meninggi karena merasa jengkel padaku. Terus terang aku juga tidak tahu maksud Pak Satrio. Aku hanya takut mengganggu waktu kerja beliau itu saja.


" Kenapa mas marah ? " tanyaku keheranan melihat Pak Satrio yang seperti kebingungan dan kehilangan kesabaran padaku.


" Aku ingin bercinta denganmu disisa waktu istirahatku ! " dengan kasar Pak Satrio menarikku untuk mendekat padanya.


" Kenapa mas meminta dengan kasar begitu ? Saya istri mas ! "


" Aku tadi sudah memintamu secara baik - baik tapi kau yang tidak mengerti karena kebodohanmu,"


" Mas tidak mengatakannya ? "


Pak Satrio menghela nafas panjang kemudian melihat jam di tangan kanannya. Secara cepat mendaratkan bibirnya pada bibirku memaksaku menerima yang dilakukannya. Sesaat kemudian bergerak turun kebawah memberi udara segar padaku.


" Bagaimana kalau Bayu masuk dan melihat kita ?"


" Biar jadi tontonan gratis bagi dia. Bukankah dia sudah dewasa ?


" Tapi mas ......!"


" Tidak ada kata " tapi" untuk hari ini."


" Bagaimana kalau bukan hanya Bayu yang melihat kita ? "


" Satu kantor sekalian aku tidak perduli."


" Otak mesum."


" Yang kau bilang otak mesum itu suamimu,"


" Yang mas bilang bodoh, itu istri mas."

__ADS_1


Bersambung..............


Mohon dukungannya like dan komentarnya.


__ADS_2