Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Kisah - kisah di balik layar yang seharusnya ada di paragraf.


__ADS_3

Termin 1


Rasa ingin makan jagung bakar begitu bergejolak didalam hatiku. Menunggu istirahat siang sangatlah lama. Dita yang sudah siap mengantarkan aku berkeliling mencari jagung bakar, mulai berdandan melengkapi make up nya yang mulai memudar karena selama kerja tidak berhenti makan camilan. Yesssss istirahat siang. Aku dan Dita pamit pada Ko Dion yang asik dengan laptopnya. Tersenyum dan berkata, " Saya belikan juga ya Mbak rasa pedas manis." Matanya kembali tertuju pada laptop setelah memandang kami. Kehamilan pertamaku membuat Dita juga ikut merasakan ngidam juga. Aku ingin batagor Dita juga ikut ingin batagor. Aku pesan dimsum Dita lebih jago makannya daripada aku. Kali ini aku ingin jagung bakar, Dita juga ingin makan jagung bakar. Aku pesan dua jagung bakar rasa pedas manis dan manis saja, Dita pesan empat.


," Apa muat perutmu Dit ?" tanyaku heran pada Dita yang masih teliti memilih jagung untuk dibakar. ,"Kalau jagungnya kan sedikit, yang besar itu tangkai jagungnya mbak."


Aku tertawa dengan penjelasan Dita yang masuk akal. Kami membeli beberapa jagung juga untuk Pak Kamil dan kawan - kawan beliau yang ada di gudang. Setelah selesai kami pun segera kembali ke kantor.


" Mbak bensin motor mau habis ni...., kita isi bensin dulu ya....," seru Dita sambil membelokkan gagang setir ke area pom bensin.


Ramai suasana di pom ini. Ada lima stan untuk pembelian mobil dan motor. Pembelian pun di bagi lagi, pertalite dan pertamax. Dita memilih ke stan Pertalite. Di depan kami ada dua pemuda mengendarai motor jenis CB terbaru. Dita cuek dengan dua pemuda tadi. Dialihkan pandangannya ke berbagai tempat. Posisiku yang berdiri mengarah pada dua pemuda tadi tidak dapat menghindari kontak mata dengannya. Tersenyum dan berkali kali tersenyum, " Mbak.....beli bensin ?" sambil menganggukkan kepalanya dan tetap tersenyum. Aku merasa dia tidak sopan karena itu aku hanya tersenyum dan menjawab dengan suara datar, " Iya ."


" Mbak kenal dia ? " tanya Dita menoleh padaku karena salah satu dari pemuda menyapaku.


" Gak kenal, aku kira temanmu atau pacar baru mungkin ?" balikku bertanya pada Dita.


," Gak ....ih....gak.... mas Rian masih ganteng."


Kami berhenti berkomentar ketika mereka sampai di depan pengisian bahan bakar.


" Tiga ribu saja pak lagi gak ada duit, maklum anak kos," Kata pemuda tadi sambil tersipu memandang ke arah kami. Spontan Dita tertawa keras tak terkendali. Aku juga menahan tawa melihat ulah mereka. Jadi kami yang baper....mereka hanya malu karena membeli pertalite tiga ribu rupiah.


" Mbak ....aku tandai nomor platnya. Lain kali aku traktir beli pertalite full," Kata salah satu dari mereka sambil tersenyum.


" Ya ditabung dulu...uang sakunya," seru Dita yang tidak bisa berhenti menahan tawanya.


Termin 2


Waitrees cantik tersenyum datang kearah kami yang duduk di sofa berhadapan dengan meja bartender.


" Pak Satrio......tumben tidak dengan ibu ?" sapa Waitrees cantik bertag name Lestari

__ADS_1


" Lagi sibuk aja,"


" Ya ampun dedek bayinya lucu... Cucunya Pak ?,"


" Anak saya mbak, yang paling kecil," sungut Pak Satrio tidak terima dengan ucapan spontan Waitrees Lestari.


" Maaf bapak kalau saya tidak sopan,"


"Gak bisa lihat apa wajah kita sama,"


" Iya bapak maaf, Mau pesan apa bapak ," Waitrees Lestari mencoba mengalihkan pembicaraan agar Pak Satrio tidak terlihat kesal. Berbicara sopan dengan senyum, melihatku dan Tangguh kemudian bergantian ke arah Pak Satrio yang membacakan menu yang beliau pesan.


" Anak papa kok dibilang cucu.....," masih terlihat kesal Pak Satrio mencoba berbicara dengan Tangguh yang sudah ada dalam gendongan beliau. Berdiri....duduk .....berdiri lagi karena tangguh rewel entah karena apa.


Termin 3


Kami, lebih tepatnya Pak Satrio yang memilihkan baju untuk Tangguh dari pemilihan warna, bahan dan model baju.


" Mas ini bagus, warnanya juga soft."


" Mas ini gambarnya lucu ....."


" Gak kelihatan macho, yang lain saja."


Aku menyerah pada akhirnya. Membiarkan beliau memilih pakaian sendiri untuk Tangguh. Aku hanya melihat saja apa yang beliau pilih untuk Tangguh.


" Mungkin ini cocok untuk cucu bapak, bahannya bagus full kaos," urai Pramuniaga berjas hitam menyarankan pada Pak Satrio.


" Ini anak saya mbak, bukan cucu. Apa gak bisa lihat wajah kami sama," jawaban ketus Pak Satrio membuat nyali pramuniaga tersebut menciut sehingga mundur dua langkah kebelakang. Takut karena kami melangkah pergi tidak jadi membeli pakaian. Jika benar itu terjadi, itu adalah kesalahan dia. Mungkin begitu kira - kita yang ada dalam pikiran pramuniaga ini.


Mencoba menguasai keadaan agar tetap terlihat tidak gugup. " Maaf bapak, saya ulangi mungkin cocok untuk putra bapak,"

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dengan tawa yang ingin keluar. Melihat ekspresi Pak Satrio yang tidak terima dikatakan sebagai kakek dari putranya. Melihat pramuniaga ber tagname Melinda yang langsung merasa gugup dan salah tingkah karena penilaiannya yang keliru.


Termin 4


Dua Soto ayam Lamongan, es jeruk dan teh hangat sudah tersedia di meja sesuai dengan pesanan kami. Tangguh yang terus menangis dan rewel tidak mau digendong sambil duduk. Pak Satrio mengambil Tangguh dari gendonganku membiarkan aku makan terlebih dulu.


Di sebelah meja kami, berdampingan sepasang suami istri mungkin seusia beliau.


" Cucunya rewel Pak, cucu saya juga seusia adik," sapa ibu tadi pada Pak Satrio. Pak Satrio menghembuskan nafas kasar.


" Iya cucu pertama, ibunya masih makan," suara beliau terlihat menahan amarah karena perkataan ibu - ibu yang menyatakan Tangguh cucu beliau. Aku kembali ingin tertawa dengan pemandangan barusan. Dua kali dalam sehari beliau menahan marah.


" Apa hari ini, hari cucu internasional ? Setiap bayi yang digendong adalah cucu bukan anak ? Aaaaah hari yang menjengkelkan ? gerutu beliau ketika kami sudah melaju didalam mobil.


" Mereka kan hanya menerka jadi tidak salah juga mas. " Ucapku berusaha menenangkan beliau. Dalam hatiku aku juga tertawa dengan kelucuan tadi.


" Apa wajahku terlalu tua ?"


" Seusia mas memang selayaknya punya cucu,"


" Kau.....aaaah kau juga sama seperti mereka ."


" Sabar mas yang penting Tangguh kan anak mas, bukan cucu mas."


" Lain kali kau juga bantu jawab kalau Tangguh anak kita, jangan diam saja malah ikut senyum - senyum mengolok-olok"


" Siapa yang mengolok - olok. " Jawabku sambil tersenyum. Beliau melirikku dengan tersenyum juga, kemudian kami tertawa bersama.


Assalamualaikum Wr Wb.


Seharusnya narasi - narasi diatas adalah masuk dalam paragraf bab - bab yang terdahulu. Tapi maaf ternyata author tidak handal dalam membuat komedi. Jadi saya sendirikan dalam satu bab. Mudah-mudahan bisa menghibur pembaca setia novel " Hanya Sebuah Pernikahan ".

__ADS_1


Jangan lupa beri masukan kritik dan saran agar Author terus semangat untuk berkarya.


Salam untuk orang - orang tercinta anda.


__ADS_2