Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 44


__ADS_3

Assalamualaikum............


Maaf baru up. Selamat membaca.


*


*


*


*


*


Aku kembali keruangan kamarku. Dita pulang ketika melihatku baik dan sehat. Walau aku terlihat sehat tapi aku sangat sakit dalam hatiku. Mbak Ayunda menemaniku di rumah sakit yang mengurusku sampai hari ketiga di hari ini. Untuk urusan rumah semua dikerjakan adikku Arsita. kadang aku sendirian dirumah sakit ini karena mbak Ayunda pulang untuk melihat anak - anaknya.


Disaat sendiri dan hanya berdua dengan anakku, aku merasa sangat memelas. Bayi ini nanti malam berumur tiga hari tapi sampai detik ini Pak Satrio tidak bertanya bagaimana keadaanku dan bayiku.


Aku coba tersenyum dan bertahan seolah - olah aku baik - baik saja. Walau dalam dan sangat dalam hancurnya hatiku. Aku sudah tidak ingin mengemis perhatian lagi pada beliau. sudah cukup bagiku. Aku sudah mengambil jalanku sendiri. Aku ingin merawat bayi ini sendiri tanpa atau dengan kehadiran beliau. Tanpa atau dengan biaya dari beliau. Aku kuatkan tanganku untuk tidak tergerak menelepon atau memberi pesan WA pada beliau.


Tangguh kecil menangis sangat kuat dalam gendonganku. Ya bayi kecilku ku beri nama Tangguh. Sudah dapat ditebak makna dari nama tersebut. Aku ingin bayi ini tangguh dalam segala hal. Dia juga sudah tangguh mulai dari awal dia ada di dalam tubuhku. Kakakku sudah pulang ke rumahnya di desa ketika aku boleh diijinkan pulang oleh dokter.


Aku mengambil cuti memang diakhir masa kehamilanku agar aku bisa bersama anakku selama tiga bulan penuh.


Jika wanita lain selepas melahirkan di manja oleh suami dan keluarganya tidak denganku. Semua sudah harus aku kerjakan sendiri. Mulai dari mencuci pakaian, setrika dan memasak. Aku harus kuat dan sehat demi anakku dan keluargaku. Untuk mencari seorang asisten rumah tangga bagiku hal yang tidak mungkin. Karena keadaan kami, bukan kurang tapi cukup tidak lebih. Jadi aku harus menghemat, perjalan baru di mulai. Demi masa depan anakku. Perasaan mencintai seorang ibu mulai tumbuh di hatiku. Seolah hilang begitu saja rasa sesal benci yang dulu pernah singgah di hatiku mengingat bagaimana kehadiran Tangguh dalam hidupku. Walau ayah biologisnya tidak pernah mau mendengar kabar tentang Tangguh. Aku harus bisa menjadi ibu dan juga ayah baginya. Harus bisa dan akan bisa dan tetap bisa.


Jika ada yang bertanya apakah keluarga ku tahu tentang keadaanku dan Pak Satrio yang jauh dari kata harmonis. Ya mereka semua tahu, tapi mereka menyerahkan semua padaku. Tidak pernah bertanya kapan Pak Satrio datang untuk melihat Tangguh putra beliau. Atau sekedar bertanya apa beliau menelepon ku bertanya kabar tentang aku dan putra kami.

__ADS_1


Aku memang harus kuat dengan semua tapi tidak bolehkah aku sedikit terisak dengan keadaanku. Bukan mengeluh hanya sekedar mencurahkan cerita saja. Jika siang hari tidak begitu sesak di dadaku. Tapi jika malam yang mulai datang, aku merasa sangat sendiri merawat Tangguh. Jika ibu muda lainnya menjaga bayinya menangis di tengah malam di temani suami atau ibundanya, tidak dengan aku. Sering aku menangis ketika Tangguh terjaga tengah malam. Aku sendiri ya aku merasa sendiri membesarkan bayi ini.


Pagi ini seperti biasa selepas sholat subuh aku memasak. Tangguh masih tidur dengan pulas. Tidak terasa bagi yang melihat tapi bagiku sangat berat. Hari ini genap tiga bulan usia Tangguh. Begitu selesai memasak aku meletakkan semua di meja. Aku mengambil handuk dan hendak mandi. Netra hitam ku terbelalak seketika ketika aku melihat sesosok pria dewasa yang aku nantikan selama berbulan - bulan. Bibirku bergetar dengan tangis keras yang pecah di keheningan pagi ini. Aku tidak bisa menahan perasaan bahagia dan terharu ini. Ya sosok ayah dari Tangguh anakku. Hingga aku tidak menghiraukan suara Jhoji yang berteriak - teriak.


" Te........Om Satrio datang............"


" Te .......Om Satrio datang...........".


Netra ku seakan sudah terarah pada pria dewasa di depanku. Aku sendiri tidak tahu rasa benci, rasa tak ingin bertemu lagi, rasa kecewa, rasa dendam, rasa ingin menghilangkan beliau dari pikiranku hilang begitu saja ketika aku melihat beliau datang di depanku. Serta Merta aku berlari menuju beliau yang berdiri mematung di hadapanku. Aku memeluk tubuh pria di hadapan ku. Aku memeluk dengan erat dan tangis membuncah pria yang menjadi suami dan ayah dari anakku. Aku tidak kuasa dengan serpihan rasa sayang yang masih ada di hatiku. Serpihan rasa ini ternyata bisa memporak porandakan semua rasa benci dan dendam pada beliau. Jangan ditanya kenapa aku seperti itu, karena aku juga tidak tahu. Kenapa bisa hilang rasa egoku yang dulu pernah berkata tidak ingin memelas mencari perhatian beliau. Rasa yang pernah bilang tidak ingin bertemu ataupun memberi kabar pada beliau. Aku masih menangis dan menangis dalam dekapan beliau. Seakan dada ini bisa bernafas lagi. Berkali - kali beliau mengusap rambutku dan berkata lirih.


" Maaf.....maafkan aku yang baru bisa datang berkunjung"


Aku mengangguk dengan menengadahkan wajah ku pada beliau.


" Ada beribu maaf untuk mas........."


Dekapan beliau semakin erat seakan tidak ingin melepaskan aku. Bapak dan Jhoji hanya terdiam melihat kami berdua. Aku yang masih terus saja menangis dituntun beliau duduk di kursi. Kemudian beliau menyapa dan menjabat tangan ayahku


Tidak ada pertanyaan dari ayahku kenapa beliau baru datang. Biarlah kami menyimpan masalah ini dalam diam dan termaafkan juga terhapus dengan kehadiran beliau saat ini. Suasana kikuk berubah setelah tangisan Tangguh terdengar nyaring. Aku bergegas melangkah ke kamar diikuti oleh beliau.


" Dia sangat tampan .......," seru Pak Satrio pelan dengan memandangi wajah Tangguh.


" Tangguh......aku memanggilnya Tangguh,"


kuucapkan kalimat itu tanpa pertanyaan dari beliau.


" Nama yang bagus......"

__ADS_1


" Nama panjangnya ? "


tanya beliau lagi dengan cermat.


Aku menggeleng.


" Saya belum memberikan nama panjang. hanya Tangguh saja. Akte dan kenal lahir pun sengaja tidak saya urus."


" Kenapa.....? tanya Pak Satrio dengan mengerutkan kening.


" Karena saya yakin mas datang dan memberinya nama," jawabku pelan dengan mata yang tetap melihat pada Tangguh yang mulai terlelap lagi.


" Bagaimana kalau Tangguh Adi Panengah ?usul beliau padaku.


Aku tersenyum tanda setuju.


" Ya.....nama yang bagus."


Pak Satrio juga tersenyum karena aku setuju dengan usul beliau.


" Aku ingin mencium dan memeluk Tangguh, tapi aku ingin mandi dulu".


sambil berjalan ke arah Almari beliau membuka almari pakaian.


" Bajuku masih ada kan ?" tanya beliau seakan ingin tahu.


" aaaahhhhh masih lengkap dan tertata rapi," lanjut beliau menjawab sendiri pertanyaan yang beliau ajukan tadi. Ya aku memang tetap menata rapi pakaian - pakaian beliau di almari. Sengaja tidak aku kemas dan tetap di tempatnya. Karena dalam dasar hatiku......inilah yang ingin terjadi. Aku tetap mengharap beliau datang dan kembali padaku walau beribu - ribu lapis aku tutupi dengan tegar dan kokoh kalau aku sudah tidak membutuhkan beliau lagi.

__ADS_1


__ADS_2