
( Assalamualaikum ) dibarengi emoticon tangan menagkup.
Aku tidak segera membalas pesan Wastapp tersebut karena takut dari mas Ravi. Bukan untuk pertama kalinya mas Ravi menyapaku dan mengirim Wastapp dengan nomor yang berganti - ganti.
Aku masih menyelesaikan mengetik laporan yang diberikan Henry padaku. Henry memang membuat rencana baru lagi. karyawannya sudah banyak, membuatnya berpikir untuk membentuk simpan pinjam khusus untuk karyawan.
" Kasian kalau harus mencari pinjaman keluar. Pinjaman paling besar sesuai gajinya. Dicicil separuh dari gajinya tidak boleh lebih. Lama pinjaman tiga tahun"
Aku dan Dita hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Tanpa mengerti apa maksud dari Henry.
" Mbak .......Mbak Arin. Pak Satrio kirim pesan melalui WhatsApp mbak. sudah dijawab ? Seru Dita padaku
" Oh nomornya 08xxxxxxxxxx ?" tanyaku pada Dita, meyakinkan diriku sendiri bukan nomor Wastapp mas Ravi.
" Iya sebentar. Selesaikan tugas dari bos kecil dulu,"
" kasian mbak. Cepat jawab .....orangnya baik kok. Mantan istrinya saja yang tidak tahu diri lari sama brondong"
" Iya sebentar," sejujurnya aku malas berkenalan dengannya tapi tidak ada pilihan lain.
Beberapa hari ini aku terus merenungkan diriku. Apa mungkin aku dengan Henry dengan semua perbedaan diantara kami ? Status sosial, agama, usia. Aku sungguh tidak mau berharap lagi pada sesuatu yang tidak pasti. Usiaku sudah tidak muda lagi, bukan waktunya bagiku untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti. Menunggu yang akan membuang waktuku lagi dan yang pasti, aku takut ketika aku menunggu akan sia - sia kembali seperti dengan mas Ravi. Aku harus tegar dan kuat apapun yang terjadi.
Kenapa aku mau berkenalan dengan pak Satrio, karena banyak alasan. Dari usia aku merasa jarak usia yang jauh akan meminimalisir pertengkaran karena dia jauh lebih tua, tentu akan banyak mengalah. Dari segi ekonomi, aku merasa dia sudah cukup mapan dengan usaha yang dia kelola saat ini. Kalau masalah perasaan aku berharap dia tidak akan menyakiti aku karena sudah dikhianati.
Notif HP ku berbunyi lagi tanda pesan Wastapp masuk. Kembali dari nomor yang sama dengan ucapan " Assalamualaikum " dan emoticon tangan menangkup. Aku membiarkannya dengan terus mengerjakan tugas dari Henry.
" Makan siang datang....." Henry menjinjing makanan cepat saji untuk kami berdua. Dita dan aku.
" Oh......Koko Henry yang tampan dan baik hati terima kasih, mudah - mudahan cepat dapat jodoh yang cantik," seru Dita dengan senang hati menerima makanan dan susu hangat dari Henry.
" Akhir - akhir ini bos kecil kenapa baik sekali ya mbak? Selalu bawa makan siang. Aku tidak perlu menunggu gajian untuk makan enak. Kemarin gurami saos tiram, kemarinnya lagi Yakiniku, sekarang KFC. Tambah kerasan aku kerja disini Mbak,"
" Lagi banyak duit mungkin," jawabku pura - pura tidak tahu menahu tentang Henry. Seandainya Dita tahu, setiap akan istirahat makan siang Henry selalu mengirimkan pesan padaku seperti hari ini.
Henry
( KFC sama susu hangat ? mau ? )
Aku
( Terserah yang penting kenyang. )
Henry
( Mbak Arin harus sehat dan kuat. Aku tidak mau lihat mbak Arin sakit seperti kemarin. Aku jadi bingung kalau mbak Arin sakit. )
Henry
( Ini aku dirumah mbak Arin. antar makan siang buat bapak dan Jhoji. )
Aku
( Aku sudah masak sayur asem. Lauk pepes tongkol dan tempe goreng. )
Henry
( Sudah habis, aku makan semua. )
Aku
( Apa ? )
__ADS_1
( Habis? )
( Itu buat makan sehari )
Henry
( Masakan mbak Arin enak, jadi aku habiskan. Mama jarang masak gitu. Aku ganti dech. Nanti pulang kerja makan malam yuk, ajak Jhoji. sekalian lihat toko di kota sebelah )
Aku
( Lihat saja nanti. )
Henry
( Tidak ada lihat nanti, harus iya )
Aku
( Iya )
Henry
( Jangan iya saja, Harus iya sayang. )
Menghadapi Henry, membuat aku harus banyak bersabar karena tingkahnya yang kadang - kadang seperti anak kecil. Seperti hari ini, dia menghabiskan enam bungkus pepes tongkol dan tempe goreng yang aku beli dua ribu rupiah. Memang tidak terlalu banyak kalau dihitung secara materi. Tapi, aku harus banyak berhemat karena keadaan ekonomi keluargaku. Aku masih harus membantu keluarga mbak Ayunda kakakku.
Seperti kemarin, Henry dengan lahap makan siang di rumahku dengan sayur santan, ikan pindang dan sambal. Atau dua hari yang lalu, sepulang kerja dia dengan manja meminta dibuatkan sambal mangga muda, ikan asin, dan tumis kangkung. Sementara itu, dia membawa pizza dan iga bakar untuk kami.
..........
Sudah tiga hari aku tidak juga membalas pesan Wastapp dari pak Satrio. Hari ini beliau mengirim pesan Wastapp lagi padaku dan menurutku sedikit aneh.
Pak Satrio
Aku
( Maaf bapak saya tidak pernah kirim pesan apa - apa )
Pak Satrio
( Oya Berarti saya yang salah baca. Ini saya sudah didepan rumah Mbak. )
Aku langsung berdiri dan menghampiri Dita. Dita sepertinya sudah tahu dengan rencana pak Satrio sahabat pamannya itu.
" Dit........" Seruku setengah berteriak pada Dita.
" Iya om Satrio ke rumah Mbak Arin kan ? Sama om Rudi. Kasian Mbak tujuh jam perjalanan lho untuk sampai kesini,"
Sekarang masih jam tiga Dit......Masih satu jam lagi mau pulang,"
" Mbak pulang saja. Bos kecil lagi keluar, katanya mau cek barang di toko cabang. Nanti aku yang cari alasan Mbak,"
" Makasih ya Dit....."
Aku segera mengemasi barang - barang ku, menuju tempat parkir. menstater dan mengendarai motor matic ku.
Ketika sampai rumah aku lewat pintu belakang. Berganti baju dan merapikan diriku. Bapakku sudah berbincang - bincang dengan Om Rudi. Aku menyibak tirai pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga. Tersenyum dan duduk di samping bapak.
" Ini teman Om Rudi Dik Rin, ......Namanya Pak Satrio," Om Rudi memperkenalkan Pak Satrio padaku.
" Iya om. Saya Arin teman Dita," Balasku dengan tersenyum pada Pak Satrio dan Om Rudi.
__ADS_1
" Apa Dita sudah banyak bercerita ? " tanya Om Rudi padaku.
" iya om,"
Laki - laki berumur yang bernama Satrio itu memberikan senyuman dan mengangguk padaku sebagai tanda perkenalan.
Aku tidak banyak bicara. Bapak, Om Rudi dan Pak Satrio yang berbincang lebih tepatnya aku kelompok pendengar saja.
Dita
( Gimana Mbak ? Sudah ketemu ? )
Aku membaca pesan Wastapp dari Dita. Tanpa memperdulikan mereka aku lebih memilih untuk membalas pesan Wastapp dari Dita.
Aku
( Sudah )
Dita
( Bagaimana ganteng kan ? )
Aku
( Ganteng....
Ganteng darimana ? Minus kali kamu )
Dita
( Asli mbak. Om Satrio itu ganteng banget dimasanya mbak. )
aku
( Ngaco kamu. Ogah aku gak mau Dit. )
Dita
Mengirim gambar foto Pak Satrio masih muda.
( Ganteng kan? )
Aku
( Iya dulu Sekarang tidak )
Dita
( Uang bisa dicari mbak. Gen tidak bisa dibeli.
Aku jamin dech anak - anak Mbak Arin besuk cakep - cakep mirip Om Satrio. Kenalan dulu aja Mbak )
Aku
( Iya aku coba dech. Tapi kok penampilannya gak terawat ya Dit......)
Dita
( Dulu rapi mbak, Sejak istrinya selingkuh dan cerai jadi gitu dech. )
Aku memang sedikit tidak suka dengan penampilan pak Satrio terlalu dewasa menurutku. ( Memang sudah berumur dengan usia empat delapan tahun ). Bukan bermaksud tidak sopan atau merendahkan beliau. Tapi aku yang sudah terbiasa melihat penampilan Henry yang selalu tampak rapi dan stylish mulai membandingkan dengan penampilan pak Satrio yang sangat jauh berbeda. Atau dengan mas Ravi yang selalu rapi dengan baju kantornya. Sedang beliau hanya menggunakan celana jeans hitam dan kaos berkerah walau yang beliau pakai terlihat berkelas.
__ADS_1
bersambung.........