Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Episode Spesial 3


__ADS_3

" Siang Henry ....." sapa Pak Satrio pada Henry yang tidak menyadari kehadiran kami. Henry terkejut dengan kehadiran kami hingga dia berdiri dari tempat duduknya


" Mbak Arin...... Pak Satrio," Sambutnya pada kami dan suara yang terkejut


"Boleh kami duduk disini ?" pinta Pak Satrio tapi tanpa diberi ijin oleh Henry, Pak Satrio menarik kursi dan memberi isyarat agar aku duduk. Kemudian menarik kursi lagi untuk dirinya sendiri. Kursi di meja ini ada empat yang memutari meja segi empat.


" Ya silahkan aku juga sendiri," jawab Henry tenang pada Pak Satrio sambil tersenyum.


" Sendiri ? Apa kau sakit ? " tanya Pak Satrio dan aku hanya terdiam melihat mereka berdua berbincang. Kekhawatiran semakin lama semakin merajut di hatiku, membentuk sebuah syal panjang penuh warna dan rasa yang menandakan hatiku bergejolak dan berkecamuk. Ternyata degup jantung ini menandakan aku masih memiliki perasaan pada Henry.


" Mama. Kami sebenarnya hanya untuk transit dan melanjutkan perjalanan, tapi rasa nyeri mama tidak tertahan jadi kami langsung kemari," cerita Henry pada Pak Satrio.


Henry tak menoleh padaku pandanganya lurus pada Pak Satrio yang duduk berada di depannya. Hatiku saat ini, jika tubuhku transparan terlihat sudah tidak berbentuk seperti yang terpampang di gambar buku pelajaran, mungkin sudah tercabik-cabik atau bahkan sudah luruh entah hilang dimana ? Aku berusaha untuk bersikap tenang tapi tidak bisa. Aku berusaha untuk tidak gundah tapi semakin berapi - api kegundahan dan kegelisahan ini. Mencolok yang berlebih - lebih hingga menjadikan aku salah tingkah.


Aku kuatkan untuk bertanya pada Henry walau dengan suara tertahan," Apa Bu Merry sakit ? "


" Iya sakit jantungnya kambuh," jawabnya singkat tanpa memandang padaku.


" Apa kami boleh membesuk beliau ? tanyaku lagi pada Henry.


" Tidak bisa dijenguk Mbak, mama di ruangan ICU. " jawab Henry penuh sesalan yang mendalam dan rasa sakit karena keadaan ibundanya.


Thavisa yang semula tertidur lelap merasa tidak nyaman dengan gendongan Pak Satrio yang sedang duduk. Pak Satrio berdiri dan berusaha menenangkan Thavisa.


" Sayang, kau makanlah dulu ! Thavisa sangat rewel kalau aku duduk. " nasehat Pak yang melihat karyawan cafetaria mengantarkan makanan untukku.


" Mas Satrio hanya pesan untuk saya saja ? Mas Satrio tidak makan ? " tanyaku keheranan karena melihat makanan yang datang hanya seporsi kwetiau dan teh hangat.


" Kau makanlah dulu ! Aku akan menelepon Bayu." jawab Pak Satrio sambil agak menjauh dari kami.


Aku menoleh tidak percaya pada Pak Satrio. Aku khawatir semua hanya manis karena ada Henry di depan kami. Aku menghela nafas panjang menandakan aku tidak baik - baik saja.

__ADS_1


" Mbak Arin sakit ? Mbak Arin sangat pucat. " Henry memulai pembicaraan denganku.


Aku menggeleng pelan dan menjawab pertanyaan Henry," Tidak hanya kelelahan saja, Thavisa sedang sakit."


" Owh syukurlah. Apa Mbak Arin sudah cek buku rekening gaji Mbak Arin ? Awal bulan ini aku dapat tender besar. Aku membaginya dengan Mbak Arin. "


" Henry......aku sudah cukup mendapatkan dari Pak Satrio. Pendapatanmu bisa kau tabung untuk istrimu kelak."


" Selama memoriku masih bisa mengingat Mbak Arin dengan baik dan rasa berdosaku tetap ada, itu bentuk tanggung jawabku terhadap Mbak Arin. Tolong Mbak Arin terima, digunakan atau tidak terserah Mbak Arin. Tapi tolong, kurangi rasa berdosaku dengan menerima semua pemberianku. Aku tidak bermaksud membeli Mbak Arin hanya wujud tanggung jawabku."


Aku tidak bisa menjawab atau membantah kembali pernyataan Henry karena Pak Satrio berjalan ke arah kami.


" Kenapa makanannya masih banyak ? " tanya Pak Satrio tetap dengan berdiri dengan arah pandangan ke makanan yang berada di depanku.


" Saya tidak enak makan mas ? " elakku memberi alasan dan sejujurnya itulah yang terjadi, rasa takutku di hati mengalahkan rasa lapar di perutku. Sulit sekali rasanya menerima makanan untuk masuk dan kukunya dengan baik walau makanan ini sangat menarik untuk dimakan.


" Apa bisa kita pulang sekarang ? tanya Pak Satrio padaku.


" Iya mas......saya sudah selesai." aku langsung berdiri dengan ajakan Pak Satrio yang meminta untuk pulang.


"Terima kasih banyak Pak Satrio, kami ada satu unit apartemen disini untuk singgah kalau kami lelah dalam perjalanan. Dan sepertinya aku tidak bisa keluar karena harus stay menjaga mama," tolak Henry halus pada Pak Satrio.


" Iya baiklah kami pamit dulu. Mudah-mudahan mama anda diberi kesembuhan dan kita bisa bertemu dalam suasana penuh suka cita," pamit Pak Satrio mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Henry. Henry berdiri dan menyambut uluran tangan Pak Satrio dengan tersenyum. Mengangguk padaku tanpa menjabat tanganku, memberikan senyuman kemudian memberi isyarat dengan tangannya kalau mempersilahkan kami berlalu pergi.


" Sayang kau tidurlah ! Sepertinya kau kelelahan. " Usul Pak Satrio ketika kami sudah sampai dirumah dan di dalam kamar.


" Tapi mas Satrio belum makan siang. Mau saya siapkan ? "


" Iya sayang, sekalian aku minta tolong kau menyuapi aku ! Bisa ? "


Aku terbelalak dengan permintaan Pak Satrio yang tidak seperti biasanya. Pak Satrio juga memandang padaku dengan senyum tipis mengembang. Wajahnya sangat tampan seolah bersinar walau disiang hari.

__ADS_1


" Maksudnya mas meminta saya menyuapi makan ? " tanyaku keheranan masih tidak percaya permintaan anehnya.


" Kau tak lihat, kedua tanganku menggendong Thavisa. " rajuknya lagi.


" Tadi aku tidak ingin memperlihatkan kemesraan kita di depan Henry. Kalau di rumah aku bebas kan ? " ulangnya lagi.


Sesaat aku kembali ke kamar membawa makanan untuk Pak Satrio dan menyuapinya.


" Mas tidak marah kita bertemu Henry ? tanyaku yang terkesan langsung pada Pada Pak Satrio.


" Tidak."


" Sungguh ? "


" Untuk apa aku marah, buang energi saja,"


" Benar ? "


" Bukankah dia hanya masa lalumu ?"


" Iya hanya masa laluku," jawabku datar.


Pak Satrio menarikku dengan satu tangannya, merekatkan pada tubuhnya.


" Tidak adil jika hanya kau yang bisa menerima masa laluku. Aku juga bisa menerima masa lalumu.Saat ini yang terpenting adalah kau istriku, ibu dari anak - anakku. "


" Maaasss......," aku memeluk Pak Satrio dengan kedua tanganku sangat erat. Seketika hilang rasa takut berlebihan yang ada dalam hatiku. Aku seperti menemukan terang saat matahari sinarnya hilang karena tertutup awan hitam. Aku seperti mata air kering yang memiliki air lagi untuk kehidupan.


" Sayang ! Tolong jangan kau lupa ! Kau sedang menyuapiku sekarang. Aku tidak berbohong berkata, saat ini aku sungguh sedang lapar dan butuh kau suapi," pinta Pak Satrio yang mengingatkan kalau aku sedang menyuapi Pak Satrio untuk makan siang.


" Iya mas maaf......," ucapku berusaha menjinjit untuk mencium pipi Pak Satrio, mengetahui aku berusaha menggapai pipinya. Pak Satrio mencondongkan wajahnya padaku.

__ADS_1


Bersambung.......


Semoga suka dengan novel Author. Mohon vote, like, komentarnya.


__ADS_2