
" Walau Pak Raharjo ( mungkin nama lawyer Pak Satrio untuk menangani kasus ini, aku juga tidak pasti. ) mengatakan aku bisa menang dalam kasus ini, tetap menjadi buah pikiran dalam otakku. Ada banyak hal yang membuat aku menang. Di perusahaan ini sahamku hanya sepuluh persen, walaupun kedudukanku sebagai komisaris, jabatan komisaris ini atas nama papa selaku pemegang saham terbanyak di PT .......( Perusahaan rekanan ). Dan di PT .......( milik Pak Satrio pribadi ) aku hanya sebagai direksi ada papa sebagai komisaris. Sahamku hanya dua puluh persen, saham papa enam puluh persen sisanya dimiliki pemilik saham lainnya. Asri tidak bisa menuntutku meminta pembagian saham tersebut karena saham yang aku peroleh bukan hasil pembelian selama menikah dengannya. Saham itu murni dari papa yang diberikan sebelum aku menikah dengannya, demikian juga rumah yang ditempati Adrian. Dalam hal ini Asri akan kalah telak."
Pak Satrio mengalihkan pandangnya pada pemandangan di luar gedung ini. Melihat mobil yang lalu lalang. Kemudian melanjutkan ceritanya lagi," Untuk surat kuasa Adrian dan Adry menjadi penerusku sebagai direksi atau komisaris di perusahaan ini atau di perusahaan ..........( milik keluarga Pak Satrio ) yang sudah aku tanda tangani, perjanjian itu cacat secara hukum karena penandatanganan tidak di depan petugas hukum dan pengacara sebagai saksi. Surat perjanjian itu hanya dilakukan oleh aku dan Asri saja." Pak Satrio terhenti bercerita seolah mengambil nafas untuk berjeda karena cerita panjang beliau.
" Selama aku menikah dengan Asri aku hanya membeli tanah yang aku buat ruko untuk disewakan di kawasan .......... , dan itupun sudah aku hitung pembagiannya atas petunjuk dari Pak Raharjo. Aku sudah membayar Asri dengan uang pembagian hak gono gini atas aset tersebut selain uang mut' ah yang aku berikan padanya. Waktu itu sudah dijelaskan oleh hakim ketua kalau pembagian gono gini berupa uang," Pak Satrio menghela nafas panjang.
" Semua jalan damai sudah aku lakukan. Mungkin dia terlalu sakit hati karena aku menceraikannya dan menghabisi rambut hitamnya," urai Pak Satrio dengan pandangan kosong menatap ke arah luar jendela dan beralih menatap ke arahku.
" Aku hanya memikirkan Adrian dan Adry, akibat perceraian kami dan perselisihan yang tidak ada habisnya. Sampai detik ini Adrian menyalahkan aku atas kecelakaan yang menimpa mamanya. Adrian mengatakan Asri tertekan secara psikologis karena bertengkar denganku yang mengakibatkan dia tidak bisa konsentrasi dalam mengemudi sepulang dari rumah........( rumah Pak Satrio yang di tempati oleh Adrian dan Adry ). Itulah alasannya kenapa aku membiayai semua perawatan Asri, aku tidak ingin Adrian dan Adry semakin membenciku karena masalah ini,"
Aku berdiri dari dudukku bergegas ke arah pak Satrio yang duduk di kursinya. Tangannya berpangku memegang ( maaf kepala).
" Mas......maaf.......aku tidak pernah tahu masalah yang mas hadapi," seruku pada Pak Satrio kembali ku peluk laki- laki berkulit putih kemerahan yang berada di depanku.
" Tapi kenapa mas selalu mengaitkan mbak Asri kalau kita membahas sesuatu ? tanyaku manja duduk dalam pangkuan Pak Satrio yang juga memelukku erat.
" Karena kau selalu menyinggung namanya setiap kita membahas masalah apapun. Mulai detik ini jangan libatkan nama orang lain dalam pembahasan kita. Hanya kita berdua, Satrio dan Arina." jawabnya lembut dan tersenyum padaku.
Aku dekatkan wajahku pada pak Satrio, menciumnya dengan lembut pada bibir Pak Satrio. Sambutan hangat diberikannya padaku, bibirnya tersenyum lebar hingga gigi - gigi putihnya yang berjajar rapi terlihat dengan gusi kemerahan.
" Jangan disini terlihat jelas dari gedung lain," ucap Pak Satrio parau di telingaku.
" Bagaimana mas tahu ? Apa juga sering melakukan dengan Mbak Asri ? " tanyaku kesal.
__ADS_1
" Jangan mengulang pertanyaan seperti itu lagi ! Kita tidak akan pernah berhenti bertikai kalau kau berkali - kali bertanya masa laluku. " pinta Pak Satrio sambil menggendongku menuju sofa ruangan ini.
"Iya.....saya tidak akan bertanya lagi. Tapi.......uang belanja bulanan, kenapa mas tidak pernah memberi ?" tanyaku mengikuti perintah dan saran dari Tian.
Pak Satrio tertawa kecil dan bertanya," Apa ini juga yang diajarkan Sebastian padamu ? " tangannya masih mengekplorasi semua yang ada pada diriku. menganggat wajahnya persis di atas wajahku, kembali Pak Satrio tertawa kecil.
" Benar - benar bocah tengil itu. Akan ku cabik dia ketika ada rapat dan presentasi. Kau berguru pada pemain ulung yang menjadi incaran banyak gadis karena dia salah satu direksi muda berbakat dengan banyak prestasi. Termasuk juga prestasi mengencani banyak gadis," tawa Pak Satrio semakin lebar. "
" Iya.....itu kesalahan terbesarku padamu. Pikirkanku hanya terfokus pada pekerjaan dan masalah yang bertubi-tubi karena ulah Asri. Aku sampai lupa tidak memberimu uang belanja. Tapi sungguh sudah aku siapkan, hanya saja lupa memberikannya padamu. Setiap sampai rumah aku hanya ingat bermain dengan Tangguh dan Thavisa setelah itu istirahat." sesalnya padaku
" Aaah kita selesaikan ini dulu setelahnya kita bahas masalah uang belanja," selorohnya dengan tersenyum.
Pak Satrio merapikan baju yang dikenakan kemudian berjalan menuju lemari di kantor ini. Membukanya dan membuka lagi almari kecil dengan kode yang tidak aku ketahui. Mengambil kotak perhiasan berwarna biru navy, kemudian berpaling ke arahku, mendekat dan membuka kotak tersebut. Pak Satrio tersenyum dan menatapku sambil berkata," Perhiasan ini sudah satu bulan lebih tersimpan di brankas tapi aku selalu lupa memberikannya padamu dan aku juga mencari waktu yang tepat untuk
Aku terbelalak melihatnya ada satu set perhiasan kalung, cincin, gelang dan anting - anting.
" Ini untukku ? " tanyaku tidak percaya pada Pak Satrio.
" Iya aku membelikan untukmu."
" Mas sendiri yang membeli ? "
Pak Satrio memandang gugup padaku seperti salah tingkah.
__ADS_1
" Bukan Bayu yang membelinya tapi aku yang memilih lewat katalog. Aku berjanji lain waktu aku sendiri yang akan membelinya untukmu," janji Pak Satrio padaku dengan wajah yang masih kikuk memandang padaku.
" Ini baru awalnya setelahnya aku ingin banyak memberi padamu dan anak - anak kita," jawabnya.
Kemudian Pak Satrio juga memberiku dua buah buku rekening. Aku buka lembar pertama buku tersebut ada nama Tangguh QQ Satrio Adi Panengah tertera disana. Pak Satrio menuntunku membuka lembar kedua Ada nominal disana.
" Aku sudah menyiapkan semua untuk Tangguh dan Thavisa atas nama mereka sendiri. Simpanlah ini, Setiap ada pendapatan aku selalu mentransfer sebagian pada rekening mereka,"
" Mas.........," seruku berbinar pada Pak Satrio.
" Dan adek.....akan dibuatkan setelah kau lahir," ucap Pak Satrio sambil mengusap perutku.
" Mas.........,"
" Iya sayang......aku banyak berterima kasih padamu, kau sudah membuat aku kuat dengan semua masalah yang aku hadapi. Kau selalu ikhlas dengan semua ketidakstabilan emosiku, kau tidak pernah menuntut apa - apa padaku walau kau tahu aku bisa memberikan padamu. Aku bersyukur mendapatkanmu sebagai istriku," ucap beliau lagi.
" Uang belanja sudah aku siapkan di Kartu debit dan kredit yang aku letakkan di loker meja riasmu dalam amplop putih. Yah....itu tadi aku selalu lupa setiap kali ingin memberikan padamu," ucapnya lagi.......
Bersambung....
Mohon like dan dukungannya.
Dear pembaca novel Author yang baik.
__ADS_1
Mungkin ada yang bertanya kok Pak Satrio sudah tua ya ? Usia Pak Satrio di penghujung empat puluhan dan awal lima puluhan. itu karena author menyesuaikan dengan jabatan yang Pak Satrio pegang yaitu sebagai komisaris sebuah perusahaan. Jika Sebastian sebagai direksi/ direktur atau yang lebih di kenal dengan istilah CEO ( Chief executive Officee ). Kedudukan Pak Satrio diatas Sebastian. Tergantung perusahaan memakai jabatan komisaris, tapi umumnya perusahaan besar ada dewan komisaris untuk memantau dan memberikan masukan pada dewan direksi apalagi menyangkut masalah keputusan perusahaan. Jarang sekali komisaris sebuah perusahaan dipegang seseorang di usia muda kebanyakan memang di usia matang ( tidak semua ). Jika jabatan direktur atau CEO masih ada peluang seseorang yang berusia muda menduduki jabatan tersebut. Karena perusahaan tempat Pak Satrio dan Sebastian perusahaan rekanan mereka mempunyai dewan komisaris yang bertugas sebagai pemantau jalannya perusahaan yang di pegang sepenuhnya oleh direksi atau CEO. Semoga pembaca mengerti dengan cerita yang Author tuliskan.