
Flash black
" Iya saya ke lahan sebentar lagi, jangan ada kekerasan biarkan mereka ber-alibi terlebih dahulu ! "perintah Pak Satrio pada seseorang dari sambungan telepon.
" Dik Rin kita tidak jadi pulang sekarang. Nanti aku kabari seletah masalahnya selesai. Kau sarapan dulu, sudah aku siapkan roti bakar dan susu hangat untukmu. Maaf tidak bisa membuat yang lebih dari itu. Saya terburu - buru," pamit Pak Satrio sambil berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman depan rumahku.
Wajah tegang dan berkerut serta langkah yang tergesa-gesa tidak bisa aku ikuti untuk sejajar dengan Pak Satrio.
" Ahhhh tolong clutch bag ku ada di atas nakas !" Pinta Pak Satrio panik padaku. Pak Satrio sudah berada di belakang kemudi. Aku cepat berjalan dan mengambil clutch bag milik Pak Satrio.
" Apa masalahnya sangat berat ?" tanyaku ikut panik melihat Pak Satrio seperti panik yang mendalam. Pak Satrio turun dari mobil.
" Ada pembabatan lahan kopi yang lumayan banyak, ini baru kali pertama terjadi di lahan kami . Aku tidak tahu permasalahannya apa ? " Suara Pak Satrio terdengar tidak stabil.
( Pak Satrio memiliki lahan yang beliau kelola sendiri dan ada juga yang dikelola bersama rekannya. Pembabatan lahan ini, terjadi di lahan yang dikelolah bersama dengan rekan - rekannya. )
" Tidak apa.....kau istirahat dulu. Jaga anak kita, dia mungkin masih ingin rebahan di tempat tidur milik mamanya. Nanti kalau masalahnya sudah selesai, aku beri tahu," jawab Pak Satrio kemudian mencium puncak kepalaku dan keningku.
Tidak terucap dariku aku kangen Tangguh dan Thavisa. Kapan bisa bertemu Tangguh dan Thavisa kalau diundur terus. Tapi wajah panik Pak Satrio tak mampu membuat aku bertanya pada beliau karena takut menambah beban Pak Satrio
Flash off
Henry tetap santai duduk di kursi ruang tamu tanpa merasa canggung.
" Henry ......."
" Oh tenang saja, aku bertamu bukan ke Mbak Arin tapi ke Bapak. Jadi tidak perlu cemas," seloroh Henry memangkas kalimatku.
" Tapi Henry.......aku.......,"
" Apa Mbak Arin sangat mencintai suami Mbak sampai panik begitu ? " tanya Henry seolah ingin menguji kesabaranku.
__ADS_1
" Bukan itu masalahnya hanya saja.....,"
" Hanya saja....... Mbak Arin sudah menikah dan tidak ingin bertengkar dengan suami Mbak." usikan Henry sengaja membuatku marah.
Diam sejenak
" Aku tahu itu, Mbak Arin tidak perlu berburuk sangka padaku. Aku tahu batasan norma. Tolong ! aku kesini karena selalu merasa bersalah pada Mbak Arin. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, semampuku aku akan menanggung semua biaya keluarga Mbak termasuk bapak dan Jhoji keponakan Mbak. "
" Henry tolong........aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Aku tidak sanggup melihatmu menderita karena aku. Kau juga berhak bahagia. Kau juga berhak memiliki pasangan, jangan karena aku langkahmu terhenti. Dulu kita melakukanya karena kita sama-sama menginginkannya bukan karena paksaan darimu saja." air mataku menetes bertubi - tubi seakan melambangkan awan yang mengalami presipitasi.
" Aku.... tidak tahu dengan diriku sendiri. Aku begitu kehilangan ketika Mbak Arin meninggalkan aku. Selama aku menjauh dari Mbak Arin ternyata yang aku rindukan adalah berbincang - bincang seperti ini dengan Mbak Arin," luruh suara Henry berusaha menyediakan kembali rasa di hatiku yang telah aku pendam sangat dalam di hatiku.
" Aku yang berterima kasih pada Mbak Arin. Karena Mbak lah aku sering berdiskusi dengan Tuhan, meminjam nama Mbak Arin sebagai materi inti dalam paragraf permohonan ku. Tapi aku sadar, aku salah. Aku berdoa untuk bisa bersama dengan Mbak Arin. Tapi doa Mbak Arin dan doaku tidak sama. Mbak Arin ingin tetap dengan suami Mbak dan suami Mbak juga berdoa untuk tetap bersama dengan Mbak Arin. Doaku yang kalah........," kembali kalimat Henry memporak porandakan lumbung air mataku yang sudah ku tutup rapat dengan berbagai pintu dan jendela hingga tak bercela sekecil apapun.
" Maaf.......Henry......kau menjadi terluka karena aku. Tapi...... berusahalah untuk sembuh. Aku tidak rela melihatmu menderita karena aku, tapi aku juga tidak bisa menyembuhkan lukamu," ucapku sendu
" Jangan khawatir aku sudah sembuh dari luka, aku bisa menerima kenyataan kalau Mbak Arin sudah menikah. Tapi aku tidak bisa lari dari tanggung jawabku terhadap Mbak Arin,"
" Tanggung jawab bagaimana ? Henry......kita melakukan atas dasar saling suka. Dan aku yang meninggalkanmu menikah dengan pria lain. " uraiku menjelaskan pada Henry
" Tapi......aku sekarang sudah mencintai beliau. Perasaanku padamu sudah memudar, aku menganggapmu sebagai teman dan saudara,"
Kami terdiam, Henry memandangku tanpa memberi jeda dengan mengedipkan kelopak matanya. Sorot matanya tajam berkilau seperti belati yang sudah tajam karena diasah. Aku menghindar dari tatapan matanya dengan memalingkan wajahku ke arah halaman.
" Tidak ada kesan dengan kenangan kita ? " tanya Henry suaranya nyaris hilang karena berintonasi sangat rendah.
" Henry............jangan membuat kita sakit hati dengan masa lalu. Tanpa kuucap pun kau tahu semua isi hatiku. Sekarang aku sudah ada Tangguh, Thavisa dan bayi yang sedang aku kandung, semua milik Pak Satrio," Suara tangisku kembali merajai ruangan ini.
Langkah kaki terdengar dari dalam dengan pelan dan menggapai pundakku perlahan lembut.
" Ini namanya ujian hidup untuk kalian, kadang apa yang kita harapkan memang tidak sesuai dengan kenyataan. Bapak yakin ini yang terbaik," nasehat bapak kemudian duduk bersama kami.
__ADS_1
" Bapak tetap menganggap Henry sebagai anak bapak, bapak tidak akan melarang Henry datang kemari," sambung bapak lagi.
Henry tersenyum manis ke arahku matanya menyipit mengikuti dia tersenyum. Duduknya tambah terlihat lebih nyaman bersandar jauh lebih rileks dari yang tadi berbincang denganku.
" Mbak Arin dengar sendiri, bapak sudah mengaggap aku putra beliau juga. Aku kesini juga ingin membujuk bapak untuk berhenti bekerja di toko karena usia beliau sudah lanjut," jelas Henry padaku.
" Tapi bapak masih ingin bekerja," sahut bapak menyela.
" Pekerjaan Bapak sekarang adalah bahagia untuk anak dan cucu bapak ! " pinta Henry dengan nada yang tenang dan senyum mengembang di bibirnya.
" Aku dan mas Satrio juga menginginkan bapak berhenti bekerja, jadi tidak ada alasan lagi bapak bekerja," sahutku mendukung usul Henry.
" Iya benar.......nanti malam bapak tidak perlu datang, aku sudah dapatkan pengganti bapak sebagai penjaga malam untuk toko," Henry semakin antusias berbicara.
" Apa bapak diberhentikan ? tanya bapak masam pada Henry.
" Iya tentu.......besuk saya bawakan uang pesangon bapak," jawab Henry dengan tertawa menggoda bapak.
Wajah bapak berbinar terharu antara sedih dan senang.
" Bapak jangan khawatir Aku akan sering datang menjenguk bapak," ucap Henry memberitahu bapak.
" Bukankah setiap hari kau datang kemari ? Baru tiga hari ini tidak datang karena ku beritahu Arin akan datang dengan suaminya," celetuk bapak.
Aku membelalak tidak percaya menatap Henry. Ternyata dia begitu perhatian pada keluargaku bukan hanya kepadaku saja. Hatinya tulus ingin membantu keluargaku dengan kelembutannya. Semakin sakit di dadaku menerima perlakuan Henry yang sangat baik pada keluargaku. Semakin aku merasa bersalah telah meninggalkannya untuk menikah dengan Pak Satrio.
Rasa cintaku untuk Henry sudah kuletakkan pada susunan hatiku yang paling dalam jika aku umpamakan, mungkin susunan lapisan tanah Plestocen bawah, sudah sangat dalam. Tapi ? bukankah lapisan tanah ini mengandung fosil yang dapat terangkat kembali dengan adanya tenaga endogen dan eksogen ?
Tidak aku harus kuat, aku sudah bahagia memiliki Tangguh, Thavisa dan bayi dalam kandunganku. Jika aku jujur, Pak Satrio orang yang baik. Jika istri lain yang membuatkan sarapan dan minuman untuk suaminya, Pak Satrio lah yang sering melakukan itu untukku. Aku hanya duduk manis menunggu masakan yang beliau buat, atau jika Pak Satrio tidak sempat memasak, beliau langsung membeli dan menata untukku. Semua beliau lakukan sendiri tanpa aku minta, sampai mencuci piring beliau kerjakan sendiri.
Aku hanya ingin melihat sisi baik Pak Satrio untukku agar aku kuat dengan sikap yang terlalu baik dari Henry. Jika aku boleh jujur, Henry pun memperlakukan aku juga sangat baik. Semua dia perhitungan agar aku tidak lelah dalam berpikir dan dalam tindakan. Dari hal kecil seperti sabun mandi, tisu di rumah kami dia belikan, sampai membetulkan aliran listrik yang rusak di rumah kami, dia kerjakan dengan ikhlas.
__ADS_1
Henry........ bagiku sebuah nama yang mengandung banyak cerita dan kenangan. Mungkin sudah takdir aku dan Henry tidak berjodoh. Kami hanya bisa seperti ini, dalam balutan kata persaudaraan dan pertemanan saja.
Bersambung........