Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 8


__ADS_3

Lebih dari tiga hari, setelah tujuh hari meninggalnya ibu. Aku bekerja seperti biasanya menghitung keluar masuknya barang di gudang. Hari ini akan pulang lebih awal karena mas Ravi ingin bertemu denganku. Mas Ravi mengatakan baru datang dari kota asalnya dan mulai kerja.


flash black


Mas Ravi


( Assalamualaikum. Arin besuk aku sudah datang dan mulai kerja. Jam makan siang aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin membicarakan hal yang serius.)


Aku.


( Sekarang ? kenapa mas....... Apa ada hal yang sangat penting ? )


Mas Ravi


( Sulit Rin, kalau dijelaskan lewat Wastapp. )


Aku


( Tidak apa apa mas, aku bisa terima. )


Mas Ravi


( Tidak kita bertemu saja. Aku tidak mau ada salah paham diantara kita. Aku akan cerita dari awal agar kamu bisa memahami keadaanku. )


Aku


( Arin akan selalu memahami mas Ravi apapun yang terjadi, karena Arin sekarang hanya berharap pada mas Ravi. )


Mas Ravi


( Iya Rin, kamu harus memahami ku. )


Aku

__ADS_1


( Iya mas Arin janji. )


Setelah mengetik jawaban pesan Wastapp dari mas Ravi. Aku mengistirahatkan tubuhku dari semua kegiatan hari itu. Berusaha mencari mimpi untuk bertemu ibuku. Aku sangat ingin bertemu ibuku. Bercerita apa saja seperti saat ibu masih ada.


Flash off.


" Henry, boleh aku pamit dulu ? Aku ada urusan yang sangat penting. " Ijinku pada Henry ketika hendak pulang.


" Ada masalah mbak ?" kening Henry berkerut dan memandangku.


Aku tidak pandai berbohong. Aku menjawabnya dengan jujur


" Tidak ada, cuma mau ketemu sama teman."


" Apa sepenting itu teman mbak. Sampai ijin kerja ?" pertanyaan dari Henry menciutkan nyali ku.


Betapa bodohnya aku. Kenapa terlalu jujur ? Bukankah aku bisa memberi alasan lain, seperti mau ke dokter gigi atau apalah ? Tapi kenapa yang keluar dari mulutku aku mau bertemu dengan teman ?


" Maaf, kalau tidak boleh. Aku akan melanjutkan pekerjaan," sambil menunduk aku berbalik arah kembali ke mejaku. Sementara bunyi tanda panggilan masuk tidak henti - hentinya berdering, seakan mau mengajak bertengkar.


" Ha....ha.... mbak, aku gak akan menghalangi usaha mbak cari suami."


Dengan gerakkan wajar Henry memutarkan tubuhku. Sehingga berhadapan dengannya. Tubuhku yang kecil dan pendek tentu saja dengan mudah mengikutinya. Tak berhenti tersenyum Henry berkata dengan lembut dan sangat membuat aku senang.


" Itu HP nya bunyi terus. Mbak pergi saja ! Aku takut malah teman mbak yang datang kemari, marah - marah karena aku tidak mengijinkan mbak Arin keluar."


Aku menengadahkan wajahku menatap Henry yang lumayan aaah bukan hanya lumayan tinggi, tapi memang sangat tinggi. laki - laki tampan ini. berwajah seperti oppa - oppa Korea dan memiliki tinggi badan 187 cm. Sangat tinggi bukan ? Sementara aku hanya 145 cm.


" Semangat......... besuk cerita ya. " seru Henry dengan mengepalkan tangannya.


Aku tersenyum dan bergegas melangkah keluar. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih dengan ijin yang Henry berikan. Aku menoleh lagi ke belakang mengarah pada Henry. Henry masih melihatku dengan senyumannya dan aku tersenyum juga padanya. Terima kasih koko kecilku yang tampan kamu selalu mengerti aku.


Aku melajukan motor matic ku dengan perlahan 40 / perjam menuju cafe yang dimaksud oleh mas Ravi. Agak jauh dari kota bahkan menuju ke arah perbatasan kota. Sampai di depan cafe aku mengurangi kecepatan membelokkan ke arah masuk. Cafenya sangat bagus dengan banyak gazebo yang terbuat dari bambu yang di pernis. Menambah cantik suasana karena banyak tanaman bunga - bunga, sepanjang jalan menuju gazebo satu dengan gazebo yang lain. Sementara jalannya ditata dengan rapi dengan batu - batu pualam putih. Disisi kanan kiri ada taman dan kolam berisi ikan koi yang besar. Aaaaahhhhh tempat yang tepat untuk makan dengan keluarga atau dengan orang - orang tercinta.

__ADS_1


Mas Ravi melambaikan tangannya memberi tanda padaku karena aku terlihat celingukan ke kanan dan ke kiri. Aku tersenyum dan berjalan ke tempat mas Ravi.


Suapan tanganku terhenti ketika hendak masuk ke dalam mulutku. Aku meletakkan begitu saja di piring makan. Saat mas Ravi berkata kalau dia sudah menikah. Pernikahannya berlangsung ketika cuti dan pulang ke kota asalnya kemarin. Jantungku langsung berdetak sangat kencang dan air mataku langsung tumpah tanpa komando dari otakku. Terasa aku sangat limbung, aku tidak bisa berkata apa - apa hanya tatapan mata yang aku berikan pada mas Ravi.


Tujuh tahun ini, aku menunggu dan setia padanya. Tujuh tahun ini, aku membuang waktuku sia - sia. Tujuh tahun ini, aku melewati masa mudaku sampai umur tiga puluh dua tahun. Hanya untuk mendengarnya kalau dia sudah menikah dengan pilihan orang tuanya. Tujuh tahun ini, aku setia pada laki - laki yang ternyata jodoh perempuan lain. Tujuh tahun ini, aku bersabar dengan kata " Kapan kita menikah ?, Kapan mas akan melamar ku ?, Kapan kita ke KUA ?" Tujuh tahun ini, terasa terlewati begitu saja baginya. Tidak tahukah mas Ravi, aku menjadi perawan yang seharusnya sudah mempunyai anak dua hanya karena menunggunya ? Tidak melihat kah mas Ravi, tujuh tahun bukan waktu singkat ?


Aku menundukkan wajahku memandang jari - jari kakiku, yang memang aku sedang duduk bersila.


" Rin, aku tidak bisa menolak permintaan ibu. Keluarga kami banyak hutang Budi pada keluarga Hanin," Mas Ravi terdiam sesaat. Pandangan matanya masih mengarah padaku. Menghela nafas seolah berfikir.


" Rin, Hanin hamil dia harus menikah dan ayah dari bayinya meninggal karena kecelakaan. Keluarga Hanin meminta tolong pada keluargaku. Aku satu - satunya anak laki - laki ibu," sambung Mas Ravi melanjutkan ceritanya tentang Pernikahannya padaku.


Aku hanya diam mendengarkan saja apa yang mas Ravi ceritakan. Aku tidak bisa menatap laki - laki di depanku karena sudah menjadi suami orang.


" Rin, kita sudah sepakat kalau anak Hanin lahir kita cerai. Aku minta kamu bersabar tidak sampai satu tahun. Aku akan menikahimu. " Suara mas Ravi tegas tapi lembut mengharapkan pengertian dariku.


" Rin, percayalah padaku......"


Tangan mas Ravi berusaha menggapai tanganku. Aku yang masih gemetar dengan cerita mas Ravi, ternyata masih mampu menepis tangan mas Ravi. Mas Ravi membiarkan saja aku menepis tangannya mungkin dia merasa bersalah.


" Rin, hanya ini yang bisa keluargaku korbankan untuk membalas budi keluarga Hanin. Aku janji Rin, aku akan menjagamu sampai kapanpun, seperti permintaan ibumu. Ibumu sudah berpesan padaku sebelum beliau meninggal,"


Mas Ravi menatap seolah - olah memohon padaku agar aku percaya pada ucapan janjinya.


" Jangan bawa - bawa ibuku dalam masalah ini. Ini masalah kita sendiri, tidak ada kaitannya dengan ibuku" dengan bergetar aku berusaha berbicara lantang dan tegas pada mas Ravi. Menekan rasa marahku, menekan rasa sakit ku, menekan rasa kecewaku. Aku sangat sakit...... ya Allah........ Kenapa cobaan ini tidak terhenti sampai ibu meninggal ? Kenapa ditambah dengan berita mas Ravi menikah.?


" Rin, tapi ibumu memintaku menjagamu. Tunggu aku satu tahun lagi, kita tidak putus. Kita seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa - apa padaku," Mas Ravi masih berusaha menyakinkan aku dengan janjinya pada ibuku.


" Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku sudah tiga puluh dua tahun, aku wanita dewasa," aku menolak lagi tawaran dari mas Ravi dengan keras.


Aku sangat kecewa dengan mas Ravi yang dengan terang - terangan ingin mengajakku berselingkuh. Tidak......... aku tidak sehina itu. Walau usiaku sudah awal di tiga puluhan, aku tidak ingin mengambil yang bukan milikku. Aku yakin akan bertemu dengan laki - laki lain yang Allah persiapkan untukku.


Bersambung...........

__ADS_1


mohon like dan vote nya.


__ADS_2