
Henry
( Aku tidak masuk kerja Mbak, mama sakit )
Aku
( Bu Mery sakit apa ? )
Henry
( Penyakit lama mama kambuh lagi. )
Aku langsung teringat, Bu Merry mempunyai riwayat sakit jantung. Apa ini karena Henry ? Apa ini karena masalah yang berkaitan denganku. Ya Allah apa yang harus aku lakukan. Aku tidak ingin membuat masalah. Kembali aku mengetik membalas pesan wa untuk Hendry.
aku
( Kenapa bisa kambuh ? Apa ada yang tidak berkenan di hati beliau ? )
Henry
( Aku hanya mencoba untuk jujur pada mama. )
aku
( Maksudnya ? )
Henry
( Aku cerita ke mama kalau aku sudah melakukan perbuatan tidak terpuji pada seorang gadis. )
Aku
( Apa Bu Merry marah ? )
Henry
( Tidak marah hanya menangis, tadi pagi mengeluh jantungnya terasa sakit. )
Aku
( Henry, maafkan aku. )
Henry
( Aku yang bersalah sama Mbak. Aku tetap akan bertanggung jawab atas perbuatanku pada Mbak Arin )
Henry
( Makan siang Mbak Arin sudah aku pesankan jam istirahat nanti dikirim. Untuk bapak dan Jhoji aku minta maaf tidak bisa mengantar sendiri. )
aku
( Kenapa masih memikirkan kami ? Kamu fokus saja dengan kesehatan bu Merry. )
Henry
( Tidak apa-apa aku masih bisa mengatasi. )
aku.
( Semangat Henry )
Henry
( Mbak. Kalau ada orang dari kebun bilang saja langsung ke rumah sakit................ )
__ADS_1
aku
( Iya siap )
Henry memang mempunyai usaha lain di bidang agribisnis dan agrowisata yang dia kelola dengan sahabatnya Javier. Tanaman yang dia kelola sangat beragam mulai sayuran dan buah. kemudian dia pasok ke beberapa departemen store. Saat ini dia mulai menanam bunga hias. Begitulah, sosok Henry seorang pekerja keras. Pemuda yang pintar mencari peluang bisnis. Tapi dia juga sosok pemuda yang tidak bisa diam. Henry sering ikut terjun langsung dengan para pekerja untuk memupuk dan menanam di lahan. Yang paling aku sukai dari sosok Henry dia tidak hanya memandang bisnis saja tapi juga peduli sesama. Dia selalu menggunakan sistem padat karya untuk mengolah lahannya daripada menggunakan mesin. Ketika aku tanya kenapa tidak menggunakan traktor saja untuk membajak sawah Henry dengan lugas menjawab. "Kasian buruh tani kalau pakai traktor". dalam mengolah lahannya, Henry menerapkan dua sistem pekerja. Pekerja tetap yang dia kerjakan setiap hari dan pekerja lepas yang dia panggil pada saat penting - penting saja seperti musim tanam dan panen.
Henry
( Terima kasih banyak Mbak )
..................
Sudah dua hari Henry tidak masuk kantor. Tapi tetap dengan rutin mengirim makanan untuk aku dan Dita. Demikian juga dengan makanan kami dirumah. Hari ini aku datang agak pagi karena Henry mengatakan akan mengajak aku berkunjung ke cabang toko yang lain. Ketika aku sampai, Henry sudah datang berdiri menghadap ke jendela kaca yang besar dengan kedua tangan yang masuk ke saku celananya. Menggunakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda dengan garis putih dan celana putih membuat dia semakin terlihat tampan. Aku lama berdiri di pintu untuk memandanginya dari belakang. Agak lama aku memandanginya. Benarkah laki - laki ini yang beberapa saat lalu bersamaku ? Benarkah laki - laki ini yang setiap hari datang ke rumahku ?. Henry menoleh ke arahku kemudian memberikan senyuman sehingga terlihat jelas gigi putihnya yang berjajar rapi.
" Hai....... sudah siap ? "
" Iya.... Dita belum datang".
" Aku sudah pesan ke Dita untuk jaga kantor. kita cuma berdua saja mbak."
" oh.........."
" Aku sudah pesankan makanan untuk bapak dan Jhoji. Kemarin aku Wastapp Jhoji. Dia ingin makan Pizza."
" Iya trims banyak. Kenapa harus setiap hari kamu antar makanan ke rumah ?"
"Mbak sudah jadi tanggung jawabku sejak peristiwa itu. Aku tidak mau Mbak Arin sakit kerena kecapekan."
" Tapi kebutuhan rumah kenapa kamu belikan juga. Tidak ada hubungannya sama capek,"
" Aku tidak mau habis kerja Mbak Arin mampir ke toko. Lebih baik langsung pulang istirahat".
....................
Sudah menjelang sore ketika kami selesai melakukan kunjungan di cabang toko terakhir dan ini toko yang terletak di luar kota.
" Aku mampir lahan sebentar. Ada panen bunga melati sekarang,"
Agak lama berkendara kira - kira satu jam menuju daerah pegunungan aku memasuki kawasan yang sangat bagus. Sepanjang jalan ada pohon tabebuya berwarna merah muda yang sedang mekar dan dibawahnya ada bunga kanna yang berwarna warni.
" Waaaaaaahhhhhh......... Aku ingin foto disini, aku mau turun."
" Suka ?"
" Iyaa " Jawabku dengan perasaan senang.
aku selalu tersenyum sampai memajukan badan dan wajahku ke depan mendekati kaca. karena sangat kagum. Apalagi saat bunga tabebuya berguguran dan banyak menimpa kaca mobil Henry.
" Waaaaaaahhhhhh seperti di Jepang, ayo turun."
Perlahan Henry menghentikan mobilnya. sejenak aku meminta Henry mengambil fotoku yang berpose di tengah jalan.Tanpa segan Henry meminjam sepeda kumbang milik petani yang lewat. Kami menyempatkan berfoto bersama dengan pose mengendarai sepeda kumbang tersebut, dengan meminta tolong petani tersebut.
" Selamat datang di taman agrowisata" Tulisan itu terpampang jelas membentang di gapura.
" waaaaaaahhhhhh,"
Kembali aku terkagum - kagum dengan tempat ini. Ketika kami masuk ada banyak tanaman hias.
" Ini punyamu ?" tanyaku polos karena kagum dengan tempat ini.
" No. join sama Javier. Kami membelinya dari pemilik lama karena dia mengalami masa pailit. kemudian kami kembangkan seperti ini ".
" Apa Javier tinggal disini juga ?"
" Sepenuhnya aku yang mengelola. Javier datang kesini kalau pulang saja. Dia tinggal di Norwegia dengan istrinya".
__ADS_1
" Oooohhhhh,"
Aku semakin terkagum - kagum dengan tempat ini melihat para pekerja memetik bunga melati yang masih kuncup untuk dibekukan dan digunakan untuk hiasan pengantin. Tempat ini sangat indah dibagi menjadi beberapa kawasan dengan tanaman bunga, buah dan sayuran.
" Henry, kau seorang pekerja keras ."
" Aku semakin giat bekerja karena Mbak Arin tanggung jawabku juga."
Sehabis magrib kami memutuskan untuk pulang. Aku sudah menelepon adikku meminta menjemput Jhoji karena masih belum bisa pulang. Jhoji bagiku seperti anak sendiri, jika aku pergi seperti ini aku selalu ingat Jhoji
Saat kami akan melintas di sebuah lapangan suatu desa, ada pasar malam yang ramai. Aku meminta Henry untuk mampir sebentar. Henry setuju dengan keinginanku. Memarkirkan mobil di lahan yang kosong, agak jauh memang dari pusat keramaian. Kami berjalan kaki, aku seperti seorang anak kecil yang digandeng ayahnya karena perbedaan tinggi badan kami. Banyak yang melihat ke arah Henry karena ketinggiannya dan ketampanannya.
Dan seperti anak kecil juga aku membeli banyak makanan dan minuman.
" Aku ingin makan kolak ronde,"
Henry hanya mengikutiku dan ikut menyeruput kolak rondeku
Kami berjalan lagi, kembali aku menunjuk
" Aku mau itu......mau itu......." sambil menunjuk - nunjuk sebuah gerobak yang menjual es limun dengan berbagai macam rasa.
" Pak es limunnya rasa salak ya......."
kali ini Henry menolak tawaranku untuk merasakan es limun rasa salak kesukaanku ketika aku kecil dulu. Aku dan Henry masih berjalan berkeliling melihat pasar malam. Henry hanya tersenyum melihat tingkahku seperti anak kecil.
" Aku masih ingin beli kue lupis dan cenil, boleh ?"
" Sama keranjang dan tampahnya juga boleh."
Aku berusaha mencubit perut Henry yang kerasa keras karena lemaknya sedikit. Henry memegangi tanganku mencegahku untuk tidak mencubitnya. Sulit sekali ketika akan mencubit Henry, ototnya sangat keras karena rajin berolahraga. Henry hanya tertawa melihat tingkahku.
" Aku masih mau beli - beli lagi tapi takut uangmu habis. Aku mau kacang rebus, Arum manis, teng teng kacang gula jawa ( ada juga yang menyebut makanan ini kue ampyang kacang ) dan kue rangin untuk makan dijalan dan dibawa pulang."
" He.....he..... boleh. Cuma aku kuatir apa perut Mbak Arin muat ?"
" Muat........ boleh ya.......Ya......... boleh ........ya........."
" Iya boleh........"
Henry menggeleng - gelengankan kepala karena kaget melihat permintaanku yang begitu banyak.
" Horeeee" sorak ku setengah berlari menuju penjual tadi yang aku sebut dan meninggalkan Henry yang masih tertegun denganku.
" Bu kacang rebus ya dua contoh ya."
" Pak, kue rangin nya dua puluh ribu."
" Pak, Arum manisnya satu."
" Bu, tenteng kacangnya lima" cerocosku pada keempat penjual di depanku. Sementara Henry di belakangku hanya mengawasi saja dengan tersenyum.
" Oya pak ada yang jual gulali merah yang di cetak boneka atau lainnya ? tanyaku pada penjual di depanku.
" Ada Mbak disebelah sana, " jawab pedagang kacang rebus dengan menunjuk ke arah yang tidak jauh dari kami. Setelah semua pesanan kami terima aku berlari lagi menuju penjual gulali tradisional.
" Pak gulalinya satu,"
" Dibentuk apa tidak mbak ?"
" Dibentuk Pak. Bentuk boneka ya,"
Sambil menunggu pesanan karena banyak yang membeli aku duduk di kursi kayu kecil ( kalau di tempatku, kami menyebutnya dingklik ). Aku mengajak Henry untuk duduk di kursi yang kosong. Bisa dibayangkan bagaimana kesulitannya Henry dengan kaki yang panjang dia harus duduk di kursi kecil yang tidak tinggi. Dia terlihat seperti orang yang sedang berjongkok. Apalagi celana yang Henry gunakan berwarna putih membuatnya salah tingkah antara menuruti keinginanku dan mengingat warna celananya.
Puas rasanya aku berkeliling dan membeli makanan. Aku mengajak Henry untuk pulang.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Henry memaksaku berhenti di sebuah Resto untuk makan.
bersambung..................