
Aku menggeliat merasakan tulang - tulang badanku seperti akan patah semua. Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Kenapa aku kesiangan ? Aaaaah ya....... Tangguh semalam sangat rewel dan tidak mau melepas ASI. Hari ini aku ingin ijin datang siang ke kantor, karena mengajukan gugatan cerai pada Pak Satrio. Tangguh masih terlelap dengan nyenyak. Ku buka pintu kamar. Bau harum masakan tercium.
Pak Satrio tersenyum melihat aku keluar kamar
" Masih mengantuk ? Tidur saja dulu. Atau mau sarapan ? Semur dagingnya sudah siap," sapa Beliau seolah - olah tidak terjadi pertengkaran sengit tadi malam.
" Semua aku masak sendiri. Mulai dari pasar sampai mengolah bumbu,"
" Aku mandi dulu," jawabku asal pada beliau.
Selepas mandi Aku menata berkas yang akan aku ajukan untuk perceraian. Kumasukkan dalam tas siap berangkat. Tangguh sudah aku mandikan. Sengaja tidak aku siapkan bekal baju dan perlengkapan lainnya karena ada Pak Satrio. Aku yakin Pak Satrio ingin bermain dengan Tangguh. Nanti di sela - sela istirahat siang aku akan pulang melihat Tangguh.
Kata bapak, Jhoji keponakanku sudah berangkat sekolah diantar Pak Satrio.
Dimeja makan sudah tersedia sarapan yang ditata rapi oleh Pak Satrio. dua cangkir kopi dan teh hangat untukku.
" Mau aku antar ? tawar Pak Satrio ketika kami sarapan bersama. Bapak masih duduk di kursi makan menemani kami walau sudah sarapan.
" Tidak, saya berangkat sendiri," tanpa melihat Pak Satrio aku menjawab singkat.
" Ke Tempat kerja atau ke pengadilan agama untuk gugatan cerai ?"
Aku terdiam. Melirik sebentar pada bapak karena aku tidak ingin bapak tahu pertengkaran kami. Bapak hanya diam melanjutkan meminum kopi yang disuguhkan Pak Satrio.
" Bukan urusan mas," jawabku pendek.
"Dimusyawarahkan dulu Rin, jangan terburu - buru mengambil sikap," Bapak memberi nasehat padaku. Aku hanya terdiam mendengarkan.
" Saya ingin bercerai pak. Saya sudah tidak kuat," adu ku pada Bapak dengan mata memerah menahan tangisan yang mau pecah.
," Yang sabar nduk....Dimana saja ujian rumah tangga itu ada. Kalau bukan masalah harta ya masalah orang ketiga,"
Aku tertunduk diam demikian juga Pak Satrio terdiam tanpa berkomentar. Arah Netra beliau memandangku seakan bangga karena pembelaan bapak.
" Kalau kita yang gak kuat. Ya akan cerai. Apa kamu gak kasihan Tangguh ?"
" Saya kepingin cerai pak.....Cuma itu jalan satu - satunya."
," Kalau kamu sudah mantap, bapak tidak bisa melarang. Yang penting kamu senang, sehat selamat. Itu harapan orang tua," lanjut bapak memberikan nasehat.
," Mau aku bantu menyiapkan berkas - berkasnya ?" tanya Pak Satrio seperti pahlawan kesiangan yang menawarkan bantuan.
" Tidak perlu, saya bisa sendiri,"
," Sungguh tidak mau di bantu ?" tanya beliau kurang yakin dengan jawabanku. "Aku sudah pernah bercerai, jadi tahu prosedur dan syarat - syaratnya."
__ADS_1
," Saya bisa sendiri."
," Aku antar ?
," Tidak, Saya bisa berangkat sendiri."
," Nanti sampai pengadilan kau bingung. Mau diserahkan ke siapa berkasnya. Kalau dengan aku. Aku sudah tahu," ucap beliau tanpa malu walau ada bapakku.
Aku tidak bisa menolak keinginan Pak Satrio. Mungkin karena ada bapak. Aku tidak ingin banyak berdebat dengan Pak Satrio di depan bapak. Aku mengiyakan saja bantuan dari Pak Satrio mengantarkan aku ke pengadilan agama.
Sebelum ke Pangadilan agama. Aku ke rumah adikku Arsita terlebih dahulu untuk menitipkan Tangguh.
" Anak papa.....gak boleh rewel ya. Baik - baik sama Tante Arsita...," pamit Pak Satrio pada Tangguh dirumah adikku.
" Titip Tangguh ya dik, " pinta beliau pada adikku Arsita.
................
" Berkasnya sudah lengkap semua ?" tanya beliau lagi.
" Sudah.....,"
" Ada yang perlu aku tanda tangani ?"
" Gak ada. Sebentar.......kenapa lewat jalan ini ? Ini bukan jalan ke pengadilan agama. Kita mau kemana ?"
" Belok.....belok.....kita mau kemana,?"
" Dilarang bicara sama sopir,"
" Belok....."
" Kau paham gak sih peringatan Polisi. Dilarang bicara sama sopir. Aku ingin konsentrasi menyetir. Lihat .... jalannya. Di bawah tebing semua."
"Jalan ini, jalan menuju puncak. Kenapa lewat jalan ini ? Kita mau kemana ? "
" check in," jawab beliau lugas dan seakan tanpa beban.
" Aku mau ke pengadilan agama. Aku mau cerai,"
," Setelah pulang bulan madu. Ah....sudahlah dilarang bicara sama sopir. Nanti saja bicaranya kalau sampai hotel,"
," Saya mau turun, berhenti......., Saya mau cerai."
" Sebentar lagi juga turun,"
__ADS_1
Aku lelah berdebat dengan beliau yang selalu unggul dalam segala hal. Mobil ini terus melaju melewati jalan memutar mengikuti pengunungan menuju puncak. Di puncak sana ada hotel, kolam renang, tempat wisata dan Agrowisata. Tempat ini mengingatkan aku pada Henry. Tempat ini, sisi lain yang aku kunjungi dengan Henry. Bagaimana kabar Henry sekarang, Sehatkah ? Masih ingat aku kah ? ku coba menghilangkan perasaan ini. Aku harus sadar. Aku yang memilih meninggalkan Henry dan menikah dengan Pak Satrio. Walau rumah tanggaku tidak sesuai harapanku. Tapi ini jalan yang aku ambil untuk kebaikan kami. Aku dan Henry.
Kami memasuki area parkir yang cukup luas. Suasana alam dengan kabut terlihat jelas. Pohon - pohon Pinus menghiasi area ini.
" Katanya mau turun ? Ayo turun ? Atau kau lebih suka kita melakukan disini ?
Aku terbelalak lebar dengan kata - kata Pak Satrio. Aku mengerti maksud beliau dengan melakukan disini. Cekatan aku mengambil tas dan turun dari mobil. Aku mengikuti beliau berjalan di belakang. Baru kali ini aku menginjakkan kakiku di sebuah hotel. Dan ini hotel yang sangat bagus dengan pemandangan yang indah. Tapi aku datang kesini diwaktu yang tidak tepat.
" Kenapa ? Takut kena razia ? Kita kan suami istri. Apalagi sekarang kamu bawa buku nikah."
bisik Pak Satrio seperti mengejekku dengan lelucon beliau.
Aku palingkan badanku berpura - pura tidak mendengar apa yang beliau katakan. Duduk di kursi loby hotel. Menunggu Pak Satrio mengurus administrasi check in.
Setelah selesai beliau menghampiriku. Menggandeng tanganku.
" Lepas..." seruku pelan pada beliau. Aku tidak berani berbicara terlalu kencang karena suasana di hotel ini sangat tenang. Kita berbicara agak keras sedikit saja, seperti menggaung di ruangan ini.
Pak Satrio tidak menghiraukan permintaanku. Beliau tetap saja menggandengku dengan erat.
" Lepas " pintaku lagi. " Apa bapak tidak sadar kalau kita sedang bertikai ?"
" Bertikai di ranjang maksudmu "
Aku tidak melanjutkan kata - kataku. Kalau aku lanjutkan akan semakin menjadi arah bicara yang beliau inginkan.
" Saya belum ijin ke Ko Dion ."
" Sudah aku ijinkan."
," Saya belum pamit bapak kalau menginap di sini."
," Sudah aku pamitkan."
," Saya belum bilang Dik Arsita kalau menitipkan Tangguh sampai malam ."
," Sudah aku telepon tadi pagi. Dan sudah aku beri uang untuk keperluan dan popok Tangguh."
" Oh....Jhoji belum saya beri uang saku untuk besuk."
" Sudah aku beri seratus ribu untuk dua hari. Kurang ? "
" Saya mau pulang...... saya tidak tahan cuaca dingin."
" Ada mesin pemanas ruangan. Selimut kain banyak......Selimut hidup juga ada," seringai Pak Satrio sambil menatapku dengan tersenyum. " Apa lagi alasanmu....? Belum lapor RT RW kalau mau nginap di sini ?"
__ADS_1
Aaaaah apalagi alasanku sudah tidak ada. Ku lihat Pak Satrio tersenyum. Ya tersenyum tanda kemenangan beliau sudah bisa mempermainkan aku dengan mudah.