Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 77


__ADS_3

Aku menatap penuh tanda tanya pada Pak Satrio yang sedang berdiri di depanku. Sementara aku duduk di tepi ranjang, memandang dengan menengadahkan wajahku menatap beliau yang tampak berdiri dengan gagah. Tidak berani ku buka map ini, hanya memandanginya. Pak Satrio beranjak dan duduk di sampingku, merekatkan tanpa jarak diantara kami. Mengambil dan membuka Map yang berada di tanganku.


," Aku sudah resmi bercerai dengan Asri. Sudah cukup yang dia perbuat untukku dan keluargaku," ucap Pak Satrio wajah beliau mengarah padaku


" Selama ini aku selalu merasa bersalah karena mengambil masa remajanya, sekarang tidak lagi. "


" Aku sudah sampai di titik sangat membencinya. tidak bisa mencintainya lagi." ucap beliau meneruskan kata - kata beliau sendiri.


Aku hanya terdiam memandangi isi dari map tersebut. Ada nama Pak Satrio dan mbak Asri tertera disana, tertulis dengan jelas menggunakan tinta hitam yang tebal. Seumur hidupku baru kali ini aku melihat akta cerai asli. Dulu ketika menikah dengan Pak Satrio hanya lembaran fotocopy saja.


" Apa mas tidak akan menyesal ?" kenapa aku bisa bertanya seperti itu pada Pak Satrio.


Kenapa bukan pertanyaan lain ? Aku terlalu naif atau bodoh ? Aku sendiri tidak tahu, tiba - tiba kalimat itu muncul di benakku. Aku memang takut Pak Satrio hanya sesaat saja seperti sebelumnya. Cerai dan menikah lagi dengan Mbak Asri. Aku tidak ingin berharap terlalu tinggi, aku sudah berkali - kali berharap pada beliau, pada pernikahan ini. Dan sakit hatiku masih belum sembuh, masih mengangah lebar.


" Tidak akan pernah," jawab pak Satrio tegas.


" Apa kau takut aku akan kembali pada Asri ? Tidak akan pernah, walau aku tidak bersamamu saat ini, aku tidak akan kembali pada Asri,"


" Aku laki - laki. Sudah berkali - kali aku dikhianati, Tidak akan aku biarkan pengkhianatan ini berterus dan berlangsung di depanku."


" Apa tidak menyakiti Adrian dan Adry ?"


" Sebelum menceraikan mama mereka, aku sudah bicara dengan Adrian dan Adry. Mereka menyerahkan semua keputusan padaku, karena aku yang menjalani dan yang merasakan sakit hati."


" Aku tadi bertemu dengan Asri di pengadilan dan menyerahkan uang di depan Hakim sejumlah ..........( Pak Satrio menyebutkan nominal angka yang menurutku fantastis )."


Karena kaget aku terbelalak dan berseru tanpa aku sadari. Beliau meraih tanganku.


," Apa kau marah aku bertemu dengan Asri ?"

__ADS_1


Aku menggeleng pelan dan tersenyum tipis pada beliau.


," Maaf. Tadi pagi, sebelum surat cerai ini ada di tanganku, aku masih suami Asri. Setelah surat ini aku terima, aku bukan lagi suaminya. Aku sudah lepas tanggung jawab dari dia. " Beliau terdiam dan berdiri. " Coba kau bayangkan di persidangan dia mengaku kalau sudah menikah siri dengan selingkuhannya selama tujuh bulan. Apa itu bisa di terima ? " sambung beliau dengan geram.


Tangan beliau mengepal, seakan amarah masih tersimpan di hati beliau. Aku tak ingin memberikan komentarku tentang perceraian dan masalah beliau dengan Mbak Asri. Tapi jika dilihat di hatiku yang dalam, yang terdalam, yang paling dalam dan yang tak terlihat. Aku berharap ini menjadi tolak awal hubunganku dengan Pak Satrio bisa melangkah dengan baik. Aku tidak munafik, di manapun di dunia ini tidak ada satupun perempuan yang ingin diduakan.


Nada dering berbunyi di HP beliau. Dengan cepat beliau mengambil HP di saku celana beliau. Kemudian menunjukkan padaku layar HP beliau. Ada nama Mbak Asri tertera di sana.


" Apa kau ingin aku menerima panggilannya atau mengabaikannya ?" tanya beliau padaku. Pertanyaan yang membuat aku juga bingung. Kenapa bertanya padaku ? Bukankah itu HP beliau sendiri ? Bukankah yang menelepon Mbak Asri ?


," Tentukan ! Kau istriku dan aku sepenuhnya suamimu sekarang ! Di terima atau diabaikan ?" Tanya beliau setengah mendesak padaku. Aku tidak tahu apa maksud beliau meminta persetujuan dariku.


Aku tersenyum samar menanggapi permintaan beliau. Aku bangkit dari dudukku di tepi ranjang ini. Untuk apa aku jawab pertanyaan beliau ? Apakah menjamin beliau tetap tidak menerima panggilan atau pesan dari Mbak Asri kalau aku tidak di samping beliau ? Aku masih tersenyum sambil melirik beliau ketika melewati beliau melangkah keluar kamar. Tangan beliau meraih lenganku, kemudian memelukku dari belakang.


" Jangan samakan aku dengan yang dulu. Bahkan tadi pagipun aku masih suaminya, tapi sekarang tidak lagi. Sudah terputus tanggung jawabku padanya."


HP Beliau masih terus berbunyi seakan memaksa sang empunya telepon harus menerima panggilan.


" Ayo mas ke rumah ibu, saya sungguh ingin bertemu anak - anak." pintaku lagi pada beliau.


" Ya baiklah." jawab beliau sambil memasukkan kembali HP di saku beliau dan melepas pelukannya.


Selama Di perjalanan HP berbunyi lagi. Beliau melirik ke arahku, hanya aku diamkan saja. Lama - lama aku gerah juga karena bunyi HP yang terus berbunyi.


" Apa mas tidak capek mendengar suara panggilan terus ? Lebih baik mas terima panggilan Mbak Asri. Mungkin Mbak Asri butuh sesuatu. " ucapku menyerah kalah karena suara HP yang terus berbunyi.


" Kau tak marah ?" Aku mengikutimu, apapun keinginanmu."


" Terima saja, saya khawatir Mbak Asri sakit."

__ADS_1


Tangan Pak Satrio memijit tombol hijau tanda menerima panggilan, kemudian memijit tanda speaker.


" Mas.....kenapa lama sekali diterimanya ? " suara manja Mbak Asri terdengar jelas di HP milik Pak Satrio.


" Aku perlu minta ijin istriku untuk menerima panggilanmu," jawab Pak Satrio dingin pada Mbak Asri.


" Apa mas bohong ? Bukankah mas janji makan siang bersama setelah pulang dari pengadilan ? Aku sudah di ..............( Mbak Asri menyebut nama cafe di pusat kota )."


" Aku minta ijin istriku dulu." suara dingin dan tak acuh kembali Pak Satrio lontarkan menjawab permintaan Mbak Asri.


Pak Satrio menutup telepon dan menoleh sekilas padaku. Aku berpaling kearah jendela ketika Pak Satrio menoleh padaku.


Aku tidak tahu harus menjawab apa ? Bukankah kehidupan ini seperti lelucon untukku ? seperti siang dan malam yang berganti dengan cepat. Aku tidak pernah tahu dalam hati Pak Satrio bersandiwara di depanku ? Atau bersungguh-sungguh dengan ucapannya ? Sekarang semuanya beliau ingin meminta ijinku untuk yang berkaitan dengan Mbak Asri.


" Aku memang menjanjikan dia makan siang di.......( Pak Satrio bercerita Cafe itu di pusat kota dan biasa mereka datangi bersama dengan Adrian dan Adry atau berdua saja ). Dia bilang sebagai tanda perpisahan denganku." penjelasan Pak Satrio padaku.


" Terserah mas mau menemui Mbak Asri atau tidak. Bukan urusan saya. Tapi tolong antarkan saya dulu ke rumah ibu ! Atau saya turun disini dan naik angkot saja ? "


" Tidak....kita langsung ke rumah ibu," jawab Pak Satrio melajukan mobil lebih cepat dari sebelumnya.


HP beliau bersinar lagi dibarengi dengan tanda pesan di Wastapp masuk sesaat kemudian nada panggilan berbunyi. Kembali beliau melirik padaku.


" Kenapa tidak di silent kalau tidak mau menerima panggilan Mbak Asri ? "


" Ya akan aku lakukan setelah sampai rumah ibu, "


HP berbunyi lagi......terabaikan. Berbunyi .......terabaikan.


Bersambung..................

__ADS_1


__ADS_2